Esoknya, Maya bertekad bersikap rasional. Ia membaca artikel tentang rumah tua, tentang pergeseran lantai, tentang sugesti yang membuat otak melihat pola di tempat yang tidak ada pola. Ia menulis ulang setiap kejadian aneh dengan penjelasan logis. Itu membantu—sampai siang, ketika ia bertemu Bilqis.
Bilqis adalah anak perempuan berusia enam tahun, tetangga depan, putri pasangan muda Pak Reza dan Bu Lina. Maya menemukannya jongkok di pagar, menatap rumah Nomor 17 dengan rasa ingin tahu polos seorang anak.
"Kakak yang tinggal di rumah Nenek Sari, ya?" tanya Bilqis.
"Iya. Aku Maya. Kamu siapa?"
"Bilqis." Anak itu tersenyum, lalu wajahnya berubah serius. "Kakak punya teman baru juga?"
Maya mengernyit. "Teman baru?"
"Aku punya teman baru sekarang." Bilqis berbisik, seolah membagi rahasia besar. "Dia tinggal di rumah Kakak. Tapi malam-malam dia main ke kamarku. Dia bilang dia kesepian."
Bulu kuduk Maya meremang. "Siapa namanya, temanmu itu?"
Bilqis memiringkan kepala, berpikir. "Dia nggak mau kasih tahu namanya. Katanya kalau aku tahu namanya, aku harus gantian sama dia."
"Gantian apa?"
Tapi Bu Lina sudah memanggil dari teras, suaranya tegang. "Bilqis! Masuk, Nak! Sudah sore!" Ia menatap Maya dengan senyum kaku, lalu menyeret putrinya masuk dengan tergesa.
Malam itu Maya tidak bisa tidur. Kata-kata Bilqis berputar di kepalanya. Teman baru. Tinggal di rumahmu. Kesepian. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya imajinasi anak kecil—anak seusia Bilqis sering punya teman khayalan. Tapi kombinasi itu dengan boneka yang berpindah, dengan peringatan Bu Tari, terlalu banyak untuk diabaikan.
Pukul dua dini hari, ia mendengarnya.
Suara nyanyian.
Pelan, nyaris tak terdengar, melayang dari arah ruang kerja. Suara anak perempuan, menyenandungkan lagu yang tidak Maya kenal—melodi tua, dalam bahasa yang terdengar Jawa kuno. Maya membeku di tempat tidur, jantungnya menggedor. Ia menarik selimut hingga dagu, menutup mata, berdoa suara itu hanya khayalan.
Tapi suara itu makin jelas. Makin dekat.
Lalu berhenti.
Hening total. Bahkan jangkrik di luar berhenti berbunyi.
Maya membuka mata.
Di celah bawah pintu kamarnya, cahaya lorong terhalang. Dua bayangan kecil. Seperti dua kaki, berdiri tepat di luar pintu.
"Si-siapa di situ?" suara Maya pecah.
Tidak ada jawaban. Bayangan itu tidak bergerak.
Dengan keberanian yang ia tidak tahu dari mana datangnya, Maya melompat dari tempat tidur dan membuka pintu lebar-lebar.
Lorong kosong. Gelap. Tidak ada siapa-siapa.
Tapi di ujung lorong, pintu ruang kerja terbuka. Dan di dalamnya, di lantai, boneka porselen itu duduk menghadap kamarnya. Pita merahnya tampak basah, seakan baru ditangisi. Dan di lantai kayu, membentang dari ruang kerja menuju kamar Maya, ada jejak-jejak kecil.
Jejak kaki telanjang. Berdebu.
Sebesar telapak kaki anak-anak.