Pagi mengusir sebagian ketakutan, tetapi tidak rasa penasaran. Maya tahu ia tidak bisa terus hidup dalam teror sambil berpura-pura semua normal. Ia harus mengerti. Dari mana boneka itu datang? Siapa Ratih? Apa yang terjadi pada bibinya?
Ia mulai dari kotak-kotak surat lama di gudang.
Berjam-jam ia membongkar, memilah, membaca. Sebagian besar surat biasa—tagihan, kartu lebaran, korespondensi pelanggan jahit. Tapi di dasar sebuah kotak kayu yang dikunci (kuncinya ia temukan di laci meja jahit), ada setumpuk surat yang diikat pita hitam.
Surat-surat itu tua, kertasnya rapuh dan kuning. Pengirimnya selalu sama: seseorang bernama "S." Penerima: Bibi Sari. Tanggalnya berkisar tahun 1987 hingga 1990.
Maya membaca yang paling atas.
"Sari, kamu harus berhenti menyimpannya. Ratih sudah pergi. Apa yang ada di boneka itu bukan dia. Aku tahu kamu rindu, tapi ini salah. Boneka itu lapar, Sari. Ia selalu lapar. Ingat apa kata Mbah Wira: ia butuh ditemani, dan kalau yang menemani lengah, ia akan mencari pengganti. — S."
Tangan Maya gemetar. Ia mengambil surat berikutnya.
"Aku sudah peringatkan kamu. Sekarang Bu Yanti meninggal. Jatuh di tangga, katanya. Tapi kamu dan aku tahu itu bukan kebetulan. Bu Yanti yang terakhir menyentuh boneka itu sebelum kamu. Pola ini akan terus berulang, Sari. Siapa pun yang memiliki boneka itu, suatu hari akan jadi tumbal. Dan sebelum itu, orang-orang di sekitarnya akan jatuh satu per satu. Buang dia. Atau kembalikan ke tempat asalnya di Desa Sukowati. — S."
Maya menurunkan surat itu. Napasnya pendek. Desa Sukowati. Mbah Wira. Bu Yanti yang jatuh di tangga. Pola ini akan terus berulang.
Ia teringat kata-kata Pak Hartono: Bu Yanti, bukan—tidak, Bibi Sari, ditemukan duduk di kursi, wajahnya ketakutan. Pemilik terakhir. Tumbal.
Dan sekarang, boneka itu miliknya.
Surat ketiga, yang terakhir bertanggal, membuat Maya benar-benar membeku.
"Sari, ini surat terakhirku. Aku akan pindah jauh, mengganti nama, karena aku tidak mau jadi yang berikutnya hanya karena dulu pernah memegangnya. Aku cuma minta satu: kalau kamu mati, jangan biarkan boneka itu jatuh ke tangan keluarga. Darah memanggil darah. Boneka itu suka darah keluarga—ikatannya lebih kuat, lebih cepat. Jangan wariskan ke siapa pun yang sedarah denganmu. Sumpah, Sari, jangan. — S."
Darah memanggil darah.
Maya adalah keponakannya. Keponakan kandung. Sedarah.
Dan Bibi Sari mewariskan rumah ini—dengan boneka di dalamnya—padanya.
Di luar, langit yang tadinya cerah tiba-tiba mendung. Dari dalam rumah, terdengar suara rak kaca berderit. Lalu sebuah benda kecil jatuh ke lantai dengan bunyi gemerincing yang nyaring.
Maya berlari ke ruang kerja.
Rak kaca kosong. Boneka itu tidak ada di sana.
Ia ada di kursi Bibi Sari. Kursi tempat bibinya mati. Duduk tegak, menghadap jendela, persis seperti yang diceritakan notaris.
Dan di lantai, tergeletak pita merah boneka itu—satu-satunya benda yang tadi jatuh.