Maya tidak bisa tidur di rumah itu malam itu. Ia menginap di losmen kecil dekat komplek, membawa serta boneka porselen di dalam tas, dibungkus kain tebal. Ia tidak tahu kenapa membawanya—mungkin karena meninggalkannya sendiri di rumah terasa lebih menakutkan daripada membawanya. Atau mungkin, pikir Maya dengan ngeri, karena boneka itu yang ingin dibawa.
Di bawah lampu kamar losmen yang terang, Maya akhirnya bisa membaca ukiran di alas kaki boneka.
Angka pertama: 1923. Tahun pembuatan, mungkin.
Lalu nama, dalam huruf kecil yang nyaris terhapus: "Nawang."
Bukan Ratih. Nawang.
Maya mencatat semuanya. Nawang. 1923. Desa Sukowati. Mbah Wira. Bu Yanti. Ratih. Dan kini, Sari. Nama-nama berserakan, dan ia harus merangkainya menjadi satu cerita.
Ia membuka laptop, mencari "Desa Sukowati boneka". Sebagian besar hasil tidak relevan. Tapi satu, sebuah blog lama tentang folklor Jawa, menyebut sesuatu yang membuat Maya menahan napas:
"Di Sukowati, dahulu dikenal tradisi 'nyawan'—membuat boneka untuk menampung roh anak yang meninggal sebelum waktunya, agar arwahnya tidak gentayangan dan tetap 'menemani' keluarga. Tradisi ini dilarang sejak peristiwa tahun 1923, ketika seorang gadis bernama Nawang meninggal, dan boneka yang dibuat untuknya dipercaya 'tidak mau berhenti mencari teman'. Sejak itu, beberapa kematian beruntun dikaitkan dengan boneka tersebut. Mbah dukun setempat, yang dikenal sebagai Mbah Wira, dikatakan telah 'menyegel' boneka itu—tetapi segel bisa lemah jika boneka berpindah pemilik tanpa ritual yang benar."
Maya mengerti sekarang—setidaknya sebagian. Boneka itu menampung sesuatu. Roh Nawang, atau sesuatu yang mengaku Nawang. Dan benda itu lapar. Mencari teman. Mencari pengganti.
Ia menatap boneka di atas meja losmen. Untuk pertama kalinya, ia bicara langsung padanya.
"Nawang," bisik Maya. "Itu namamu, kan?"
Lampu kamar berkedip sekali.
Maya menelan ludah, jantungnya berdebar. Ia tahu ini bodoh, tapi ia melanjutkan. "Kamu nggak harus melukai siapa-siapa. Aku bisa bawa kamu pulang. Ke Sukowati."
Boneka itu diam. Tentu saja. Tapi Maya merasa udara di kamar menebal, dingin, seperti ada yang menahan napas bersamanya.
Ia memejamkan mata, lelah. Saat membukanya kembali beberapa detik kemudian, ia menjerit.
Kepala boneka itu sudah menoleh. Menatap Maya. Dan mulut porselennya, yang tadinya tersenyum manis tertutup, kini sedikit terbuka.
Seakan ia baru saja menjawab.
Maya mundur hingga punggungnya menempel dinding. Tangannya meraba ponsel. Ia harus bicara dengan seseorang yang tahu—Bu Tari. Atau menemukan "S", penulis surat-surat itu.
Saat itu ponselnya bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal.
"Berhenti bertanya. Kembalikan dia sebelum dia mengambil yang kamu sayang. — S."
Jari Maya gemetar saat membalas: "Siapa Anda? Bagaimana Anda tahu nomor saya?"
Balasan datang hampir seketika, dan membuat darah Maya membeku.
"Aku mengawasi rumah itu sejak Sari mati. Aku tahu kamu sudah baca suratku. Tapi sudah terlambat. Bilqis sudah dipilih. Selamatkan dia dulu, baru kita bicara."
Bilqis.
Maya menyambar kunci mobil dan berlari keluar, meninggalkan boneka di atas meja losmen.
Atau begitu yang ia kira—sampai ia sampai di mobil, dan menemukan boneka itu sudah duduk manis di kursi penumpang, menatapnya, tersenyum.