Hari kedua kerja.
Dan Cia sudah merasa seperti narapidana yang menunggu sidang hukuman.
Semalam, ia hampir tidak bisa tidur mengingat wajah dingin sang CEO, suaranya yang berat, dan kata-katanya yang menohok:
“Takut adalah awal dari disiplin.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya, sampai-sampai Cia bermimpi mengepel lantai kantor sambil menangis.
Pagi ini, ia tiba tiga puluh menit lebih awal. Rambut sudah diikat rapi, kemeja putih disetrika, dan sepatu disemir berkilat. Ia bahkan menyiapkan dua pulpen cadangan dan tisu antikeringat.
“Pokoknya hari ini aku nggak boleh bikin masalah. Titik.”
Itu mantra yang ia ulang-ulang seperti doa.
Begitu jam delapan lewat lima, sekretaris Pak Risang, Bu Wina datang menghampiri meja Cia.
“Cia, Pak Risang minta kamu bantu siapkan laporan meeting pagi ini. File-nya di drive ‘CEO/Client Report’. Copy dan print 10 eksemplar ya, sebelum jam sembilan.”
“Baik, Bu!” jawab Cia penuh semangat.
Akhirnya, ada tugas yang bisa ia kerjakan dengan sempurna.
Ia segera membuka komputer, menyalin file yang dimaksud, lalu menekan Print. Suara printer berdengung pelan, dan kertas demi kertas keluar dengan rapi.
Sambil menunggu, Cia menyesap kopi instan yang baru ia buat. Pagi yang baik, pikirnya.
Sampai tiba-tiba, layar komputer menampilkan pop-up notifikasi besar:
“CONFIDENTIAL: DO NOT SHARE – Internal Staff Evaluation (Private by Risang Cakradinata)”
Cia mematung.
File yang ia cetak… bukan laporan klien.
Melainkan file pribadi evaluasi karyawan yang berisi penilaian rahasia Pak Risang terhadap semua staf.
Wajah Cia langsung memucat.
“Ya Tuhan, aku salah folder!”
Printer masih bekerja, dan di kertas pertama sudah jelas tertulis:
‘Maya : Terlalu sering menunda pekerjaan, mudah terdistraksi.’
‘Wina : Kompeten tapi terlalu banyak bicara di jam kerja.’
‘Arnold : Potensi tinggi, tapi attitude buruk.’
“ASTAGA!” jerit Cia lirih sambil mencabut colokan printer dengan panik. Tapi printer itu justru mengeluarkan bunyi berisik, lalu macet, lalu mengeluarkan selembar kertas terakhir… yang bertuliskan:
‘Gracia Rhenata : Masih belum dinilai. Tapi potensi masalah besar.’
Cia menutup wajahnya dengan tangan.
“Dia udah nulis aku masalah besar?! Di hari pertama pula?! Ya ampun…”
Sayangnya, belum sempat ia membereskan kekacauan itu, pintu ruang meeting terbuka.
Bu Wina muncul sambil berkata, “Cia, rapat dimulai lima menit lagi. Laporannya udah siap?”
Cia membeku. “Eeeh… iya, Bu! Siap! Ini lagi aku ambil!”
Dengan panik, ia menyusun semua kertas tanpa sadar bahwa sebagian besar yang ia ambil adalah hasil cetakan file rahasia tadi, bukan laporan klien.
Lima menit kemudian
Cia berdiri di ruang meeting besar, membawa tumpukan berkas dan wajah penuh senyum palsu. Di sekelilingnya, para manajer duduk rapi, dan di ujung meja seperti biasa duduk sang CEO, Risang Cakrawinata, dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak.
“Silakan bagikan laporannya,” katanya singkat.
“Baik, Pak!” Cia bergerak cepat, membagikan dokumen satu per satu.
Setelah selesai, ia berdiri di pojok ruangan, berharap tak ada yang memperhatikan keberadaannya.
Beberapa detik berlalu dengan tenang.
Lalu, tiba-tiba…
“Ini apa?” suara Pak Arnold memecah keheningan.
Semua kepala menoleh. Pak Risang menatap kertas di tangannya, lalu membaca pelan,
“‘Wina : Kompeten tapi terlalu banyak bicara di jam kerja’? … Ini laporan apa?”
Ruangan hening. Hanya suara detik jam terdengar.
Cia merasa darahnya turun ke kaki.
Ia ingin pingsan. Atau menguap dari dunia ini.
Risang menatap Rhea perlahan.
Tatapan itu begitu tajam, dingin, dan menusuk seperti peluru.
“Gracia Rhenata.” Suaranya datar, tapi tegas. “Kamu mencetak file ini?”
Cia menelan ludah. “S-saya… iya, Pak. Tapi saya salah folder. Saya pikir ini file laporan klien, ternyata …”
“Terus kamu bagikan ke semua manajer di ruangan ini?”
“Eeh… iya, Pak. Tapi saya nggak tahu isinya rahasia…”
Suasana jadi beku. Wina menatapnya ngeri, sementara Arnold mencoba menahan tawa karena di kertasnya tertulis “attitude buruk”.
Risang berdiri perlahan. Ia tidak marah dengan suara keras, justru sebaliknya, suaranya pelan, tapi mengandung tekanan yang lebih menakutkan.
“Cia, kamu sadar nggak… kamu baru saja membagikan catatan pribadi CEO kepada seluruh kepala divisi perusahaan ini?”
Cia mengangguk lemah. “I-iya, Pak…”
“Dan kamu sadar nggak kalau beberapa catatan itu bisa bikin mereka saling benci satu sama lain?”
“Iya, Pak…”
“Dan kamu sadar nggak kalau kamu baru saja membuat pagi saya menjadi mimpi buruk?”
“I-iya, Pak…”
“Bagus.”
Risang memejamkan mata sebentar, menarik napas panjang, lalu berkata dengan nada yang datar tapi berbahaya:
“Setelah rapat ini selesai, saya ingin kamu di ruanganku. Jangan kabur.”
Cia hampir menangis. “B-baik, Pak…”
Setelah rapat selesai (yang berlangsung sangat canggung karena semua orang kini tahu siapa yang dikritik di balik layar), Cia melangkah pelan menuju ruang CEO.
Pintu tertutup rapat. Ia mengetuk perlahan.
“Permisi, Pak… boleh masuk?”
“Masuk.”
Nada suaranya pendek.
Cia melangkah masuk dan berdiri di depan meja besar itu. Risang menatap layar laptopnya sebentar, lalu mengangkat kepala.
“Cia, kamu tahu kenapa aku belum pecat kamu?”
Cia menggeleng cepat. “Nggak, Pak.”
“Karena aku ingin lihat seberapa jauh keberuntunganmu bertahan di sini,” katanya tenang. “Kamu baru dua hari kerja, dan kamu sudah berhasil membuat dua bencana besar.”
Cia menunduk, menatap lantai. “Saya bener-bener minta maaf, Pak. Saya janji bakal hati-hati mulai sekarang.”
Risang bersandar, menyilangkan tangan. Tatapannya sedikit melembut entah karena kasihan, atau karena Cia terlihat seperti anak ayam kehujanan.
“Kamu selalu bilang ‘saya janji’, tapi entah kenapa, setiap janji kamu malah jadi masalah baru.”
Cia nyaris menangis, tapi tiba-tiba terdengar bunyi krak! suaranya sepatu haknya patah sebelah.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan, dan sebelum ia sadar, ia terjatuh ke depan menubruk meja kerja Risang, menjatuhkan tumpukan berkas, pena, dan… segelas air mineral tepat ke laptop sang bos.
Semua terjadi dalam satu detik.
Hening.
Lalu suara BZZZT… puff! dari laptop yang langsung mati total.
Cia mematung.
Risang juga.
Cia menatap laptop itu seperti menatap bom waktu. “A… aku bisa jelasin, Pak …”
Risang berdiri perlahan.
“Cia.”
“Ya, Pak?”
“Pergi dari ruangan ini… sebelum aku benar-benar menyesal kenapa kamu belum aku pecat.”
Cia buru-buru memunguti berkas, tersandung lagi, lalu hampir menabrak pintu sebelum akhirnya berhasil keluar dengan wajah memerah sekujur tubuh.
Begitu pintu tertutup, Risang mengembuskan napas berat, menatap laptopnya yang basah, lalu berkata lirih,
“Perempuan itu… bencana berjalan.”
Tapi anehnya, untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir, sudut bibirnya sedikit terangkat seperti seseorang yang baru saja dibuat kesal tapi diam-diam… terhibur.