Sejak pagi, suasana kantor Cakra Corp terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena AC, tapi karena berita yang sudah menyebar diam-diam:
“Pegawai baru bikin laptop Pak Risang rusak.”
“Katanya dia udah kena semprot habis-habisan.”
“Tapi anehnya, belum dipecat.”
Cia tahu semua bisikan itu mengarah padanya, tapi ia hanya bisa menunduk sambil pura-pura sibuk menata dokumen. Pipinya panas setiap kali seseorang menatap atau berbisik pelan di belakangnya.
Pagi itu, Bu Wina datang membawa pesan singkat dari sang CEO.
“Cia, Pak Risang minta kamu ke ruangannya sekarang.”
Cia hampir menjatuhkan pulpen dari tangannya. “S-sekarang, Bu?”
“Iya. Katanya penting.”
Degup jantungnya seketika melonjak. Ia menarik napas panjang, merapikan kemejanya, lalu berjalan menuju ruang besar di ujung lorong. Setiap langkah terasa seperti menuju ruang interogasi.
Ruang CEO
Risang duduk di balik meja kerjanya yang baru laptop lamanya sudah diganti dengan yang lebih canggih. Wajahnya tetap serius, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda: ketenangan yang berbahaya.
“Duduk.”
Cia menuruti, berusaha tersenyum sopan. “Selamat pagi, Pak…”
Risang mengangkat alis tipis. “Pagi? Entah kenapa aku belum yakin pagi ini akan berjalan baik.”
Cia langsung menunduk. “Saya… saya benar-benar minta maaf soal kemarin, Pak. Saya sudah ganti air minum di meja Bapak, saya juga bantu IT untuk nyelametin data laptop Bapak, dan …”
Risang mengangkat tangan, menghentikannya.
“Aku tahu. Tapi maafmu nggak akan cukup.”
Cia terdiam.
Hening beberapa detik sebelum Risang berkata dengan nada datar tapi tegas,
“Mulai hari ini, kamu kerja langsung di bawah pengawasanku.”
Cia sontak mendongak. “A-apaa? Maksudnya, saya pindah ke tim Bapak?”
“Bukan pindah. Kamu tetap di divisi administrasi, tapi semua pekerjaanmu akan aku kontrol langsung. Setiap laporan, jadwal meeting, dan file masuk lewat aku dulu.”
Cia menelan ludah. “Tapi Pak, itu berarti… saya kerja di ruang ini?”
“Ya. Meja tambahan akan dipasang di sini siang nanti.”
Cia hampir kehilangan kata-kata.
Kerja di ruangan yang sama dengan CEO paling ditakuti se-kantor? Setiap jam? Setiap hari?
Itu bukan cuma hukuman, itu neraka berpendingin ruangan.
“Tapi, Pak, saya takut saya malah ganggu pekerjaan Bapak …”
“Tenang saja,” potong Risang datar. “Aku sudah cukup kebal sama gangguan.”
Nada suaranya tenang, tapi tajam.
Cia tak bisa membalas. Ia hanya bisa mengangguk dengan ekspresi seperti anak sekolah yang ketahuan mencontek.
Siang hari
Meja kecil ditempatkan di sisi kanan ruang kerja CEO. Di atasnya, Cia menata laptop, beberapa map, dan mug putih bergambar bunga matahari satu-satunya hal ceria di ruangan abu-abu itu.
Risang tampak sibuk membaca laporan di seberang ruangan. Suara ketikan keyboard dan detik jam dinding menjadi satu-satunya musik latar.
Cia berusaha fokus, tapi setiap kali mendengar suara kursi Risang bergeser atau napasnya terdengar lebih dekat, tubuhnya langsung kaku.
“Kenapa kamu berhenti ngetik?” tanya Risang tanpa menoleh.
“E-eh, nggak, Pak. Laptopnya agak nge-lag aja!” jawab Cia cepat.
“Laptop-mu masih baru. Yang lag itu kamu, bukan mesinnya.”
Cia mengerucutkan bibir, tapi tak berani membantah.
Beberapa menit berlalu dalam hening yang aneh. Cia mencoba membaca laporan klien, tapi matanya tak bisa fokus. Ia sesekali melirik ke arah bosnya yang duduk tegap dengan jas hitam dan ekspresi datar terlalu tenang untuk manusia biasa.
Entah kenapa, Cia justru semakin gugup.
Risang tampak seperti pria yang dibuat dari ketegasan dan disiplin. Semua yang ia lakukan presisi, rapi, nyaris sempurna. Dan di tengah semua itu… Cia merasa dirinya seperti noda kecil yang tak sengaja menempel di kemeja putih.
Sekitar pukul dua siang, Risang berdiri dan berjalan ke mejanya.
“Cia, aku butuh kamu buat rekap data penjualan minggu lalu. Ada di server internal, folder ‘Finance-Q3’. Kirim ke aku sore ini.”
Cia mengangguk cepat. “Siap, Pak!”
Ia segera mengetik, mencari file yang dimaksud. Tapi begitu file terbuka, matanya melebar.
“Lho… kok angkanya aneh, ya?”
Risang yang sudah berjalan ke arah jendela menoleh. “Aneh bagaimana?”
“Ini, Pak. Di kolom total penjualan, malah muncul angka minus. Padahal seharusnya positif.”
Risang menghampiri, berdiri di belakang kursinya.
Cia bisa merasakan kehadirannya begitu dekat. Bau parfumnya samar, segar, tapi membuat jantung Cia berdetak tidak karuan.
“Geser sedikit,” katanya singkat.
Cia bergeser, tapi terlalu cepat kursinya hampir menabrak kaki Risang.
Refleks, Cia menoleh dan .. brakk!, kepalanya menabrak dagu Risang.
Keduanya serentak mundur.
“Aduh!” seru Cia sambil memegangi kepala.
Risang menahan rahang, menatapnya tajam. “Kamu ini… manusia atau magnet masalah?”
“Maaf, Pak! Saya nggak sengaja, sumpah nggak sengaja!” Cia panik, wajahnya memerah seperti tomat rebus.
Risang menghela napas panjang, lalu menatap layar lagi. “Duduk. Jangan bergerak dulu sebelum bumi tenang.”
Cia menurut, menunduk malu sambil menahan tawa kecil bukan karena lucu, tapi karena ia tak tahu harus bersikap bagaimana lagi.
Risang memperhatikan sekilas, lalu kembali ke laptopnya. Ada sesuatu dalam cara gadis itu menatap layar dengan alis berkerut, serius tapi kikuk, yang entah kenapa membuat sudut bibirnya hampir terangkat. Hampir.
Sore hari, ketika kantor mulai sepi, Cia masih di ruangan itu. Ia ingin memastikan semua pekerjaannya rapi. Aldric masih di tempatnya juga entah sedang menulis laporan atau membaca ulang sesuatu, tapi suasananya berbeda dari pagi tadi.
“Pak,” panggil Cia hati-hati. “Data penjualan sudah saya rekap. Mau saya kirim lewat email atau print?”
“Email saja,” jawabnya tanpa menoleh. “Dan pastikan kamu double-check semua angka. Aku nggak mau kejadian salah cetak terulang.”
“Iya, Pak.”
Beberapa menit hening.
Lalu tiba-tiba Risang berkata pelan, nada suaranya tidak setegang biasanya.
“Cia.”
Cia menoleh cepat. “Ya, Pak?”
“Kenapa kamu tetap mau kerja di sini? Setelah dua hari penuh bencana, aku yakin sebagian orang sudah menyerah.”
Cia menatapnya, terkejut dengan pertanyaan itu. Ia menunduk sebentar, lalu menjawab lirih,
“Karena… saya pengin belajar, Pak. Saya tahu saya bodoh, ceroboh, dan bikin repot. Tapi saya nggak mau berhenti cuma karena gagal di awal.”
Risang menatapnya lama. Tidak ada nada dramatis, tidak ada musik romantis di latar hanya tatapan yang tenang tapi dalam, seolah sedang menimbang sesuatu yang baru ia lihat dari gadis itu.
Akhirnya, ia berkata singkat, “Baik. Buktikan!”
“Buktikan?”
“Kalau kamu bukan bencana permanen,” ujarnya datar, tapi kali ini ada sedikit nada samar di ujung kalimatnya antara ketegasan dan… sesuatu yang mirip ketertarikan.
Cia tersenyum kecil. “Baik, Pak. Tantangan diterima.”
Ketika malam turun, Cia menutup laptopnya dan bersiap pulang. Di luar, hujan turun pelan, menimbulkan pantulan cahaya lampu kota di jendela. Ia sempat menoleh sebentar Risang masih di meja kerjanya, tampak fokus seperti biasa.
Namun sebelum ia benar-benar keluar, Risang berkata pelan tanpa menatapnya,
“Cia.”
“Ya, Pak?”
“Jangan ulangi insiden seperti kemarin. Aku butuh asisten, bukan badai.”
Cia terkekeh kecil. “Baik, Pak. Tapi kalaupun saya badai, semoga cuma bikin sejuk, bukan hancur total.”
Risang menahan diri untuk tidak tersenyum.
Begitu pintu menutup, ia menatap layar lagi, tapi pikirannya tak benar-benar di sana.
Entah sejak kapan, ruang kantornya yang biasanya terasa sunyi kini terasa sedikit… hidup.