Pagi itu, suasana lantai dua puluh lima kantor Cakra Group terasa lebih tegang dari biasanya. Langkah-langkah karyawan terdengar terburu-buru, nada suara mereka mengecil setiap kali mendengar pintu ruang kerja Risang Cakradinata terbuka. Semua tahu: hari ini, sang CEO sedang dalam suasana hati yang buruk.
Cia baru saja menyalakan komputernya ketika notifikasi email masuk dengan suara khas
Ting!
Dari: risang.cakradinata@cakragroup.com
Subjek: REVISI PRESENTASI – DEADLINE 09.30
Ia menatap jam di pojok kanan layar: 08.47.
Itu artinya ia hanya punya empat puluh tiga menit untuk memperbaiki slide presentasi berisi seratus halaman data keuangan dan proyeksi bisnis.
“Ya Tuhan…” desahnya lirih, menggigit bibir.
Tapi belum sempat membuka file, suara berat dan dingin itu terdengar dari belakangnya.
“Empat puluh tiga menit cukup untukmu, kan, Nona Rhenata?”
Cia hampir menjatuhkan mouse-nya. Ia berbalik cepat Risang berdiri di sana, bersedekap, dengan wajah tanpa ekspresi namun matanya tajam seperti mata elang. Dasi abu-abu gelapnya terpasang rapi, aroma parfum maskulin khasnya mengisi udara di sekitar mereka.
“P-pak Risang…” Cia menelan ludah. “Saya baru saja menerima emailnya, dan saya akan segera …”
“Tak perlu alasan.” Potongnya dingin. “Saya hanya ingin tahu apakah kamu benar-benar pantas duduk di sini. Atau kamu hanya beruntung karena HRD salah rekrut.”
Kata-kata itu menampar harga diri Rhea lebih keras daripada bentakan mana pun. Ia menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas.
“T-tidak, Pak. Saya akan berusaha.”
“Bukan berusaha, Cia,” suaranya turun satu oktaf, dalam dan mengintimidasi, “tapi selesai tepat waktu dan sempurna. Di dunia kerja, usaha saja tidak cukup.”
Risang menatapnya sejenak sebelum berbalik menuju ruangannya. Tapi sebelum pintu kaca tertutup, ia menambahkan dengan nada sarkastik,
“Oh, dan tolong pastikan file-nya tidak lagi berantakan seperti kemarin. Saya tidak punya waktu membaca kekacauan yang dibungkus niat baik.”
Pintu menutup. Suara klik! dari kunci pintu kaca seolah mengunci juga semangat Cia di dalam dadanya.
Empat puluh tiga menit kemudian.
Cia mengetik cepat, matanya menatap layar tanpa jeda. Setiap grafik ia rapikan, setiap angka ia periksa. Jarum jam seolah bergerak dua kali lebih cepat dari biasanya. Napasnya memburu, telapak tangannya basah.
Ketika jam menunjukkan pukul 09.28, ia menekan tombol send.
“Ya! Selesai!” katanya pelan, hampir tidak percaya.
Namun dua menit kemudian, suara interkom di mejanya berbunyi.
“Nona Gracia Rhenata, ke ruang saya sekarang.”
Nada datar itu membuat perutnya berputar.
Cia berjalan dengan langkah pelan tapi mantap. Mengetuk pintu sekali, lalu masuk.
Risang duduk di belakang meja kerjanya, layar laptop terbuka menampilkan file yang baru saja ia kirim.
“Duduk.” Suaranya tak memberi ruang untuk penolakan.
Cia duduk hati-hati. Tangannya gemetar sedikit di pangkuan.
Risang menggulir presentasi itu dengan ekspresi datar. Lalu berhenti di satu slide.
“Bagus. Ini tampak lebih rapi dari sebelumnya.”
Cia hampir menghela napas lega sampai kalimat berikutnya keluar.
“Tapi angka di halaman 67 salah. Margin kotor tidak bisa 38 persen kalau beban operasional naik lima belas. Ini logika dasar, Cia.”
Wajah Cia langsung memucat.
“S-saya mohon maaf, Pak. Saya akan segera …”
“Tidak perlu maaf. Kesalahan tidak bisa dihapus dengan permintaan maaf. Hanya bisa ditebus dengan kerja lebih keras.”
Ia berdiri, berjalan mengitari meja, lalu berhenti tepat di samping Cia. Wangi cologne-nya menusuk hidung Cia, membuat jantungnya berdetak cepat tanpa alasan yang bisa ia pahami.
“Mulai hari ini,” katanya pelan tapi tajam, “kamu akan duduk di meja luar ruanganku. Semua laporan, semua revisi, semua catatan rapat—langsung lewat aku. Tidak lagi lewat supervisor.”
Cia menatapnya, terkejut.
“Itu artinya saya…”
“Diawasi langsung oleh saya, ya,” potongnya dingin. “Anggap saja hukuman. Tapi juga… kesempatan untuk belajar.”
Hari-hari berikutnya menjadi ujian berat.
Risang bukan hanya perfeksionis ia obsesif terhadap ketepatan.
Titik koma yang salah? Teguran.
Laporan tanpa lampiran? Dingin tanpa ampun.
Datang satu menit terlambat? Tatapan tajam yang cukup membuat seluruh kantor terdiam.
Cia mencoba bertahan. Ia bangun pukul lima pagi, datang sebelum jam delapan, lembur sampai malam. Tapi semakin ia berusaha sempurna, semakin banyak kesalahan kecil yang ditemukan Risang.
Suatu sore, setelah rapat panjang yang membuat semua staf tegang, Cia tanpa sengaja menumpahkan kopi di atas dokumen penting laporan klien besar yang baru saja ditandatangani.
Tetesan kopi itu menyebar seperti noda keputusasaan.
Cia menatapnya dengan wajah membeku.
“Tidak… tidak, ini tidak mungkin…” bisiknya panik sambil mencari tisu.
Tapi suara langkah itu datang lagi. Berat, teratur, dan berhenti tepat di belakangnya.
Risang menatap meja itu lama.
“Ini… laporan senilai dua puluh miliar, Cia.”
Suaranya datar, tapi nada dinginnya membuat udara sekitar membeku.
“S-saya tidak sengaja, Pak… saya akan …”
“Kamu pikir dunia peduli apa kamu sengaja atau tidak?” potongnya cepat. “Yang penting hasilnya. Dan hasilmu, Cia, lagi-lagi, berantakan.”
Air mata mulai menggenang di mata Rhea, tapi ia menunduk dalam-dalam. Ia tidak ingin memberinya kepuasan melihat dirinya hancur.
“Baik, Pak,” suaranya bergetar, “saya akan memperbaikinya.”
Risang menatap gadis itu cukup lama. Ada sesuatu di tatapan matanya campuran kesal, lelah, tapi juga… bingung.
Ia berbalik sebelum emosinya mengkhianati logika.
“Pergi. Bersihkan itu. Dan jangan biarkan saya lihat kesalahan bodoh seperti ini lagi.”
Malamnya, Cia duduk di meja kost-nya, menatap laptop yang sudah panas karena terlalu lama dinyalakan.
Matanya merah, kelopak matanya berat.
Dalam folder bernama Pekerjaan, ia menulis surat pengunduran diri.
Tangannya gemetar ketika mengetik:
“Terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan. Saya menyadari bahwa saya belum mampu memenuhi ekspektasi perusahaan. Dengan berat hati, saya menyatakan mengundurkan diri per tanggal…”
Ia berhenti.
Air matanya jatuh di atas keyboard.
“Aku sudah berusaha, tapi tetap salah di matanya…” bisiknya parau.
Namun di dalam hatinya, ada sesuatu yang lain perasaan aneh yang tidak bisa ia definisikan. Setiap kali ia menatap mata Risang, ada getaran samar. Bukan hanya takut. Tapi juga… rasa ingin tahu.
Tentang pria dingin itu. Tentang alasan di balik tatapan tajamnya. Tentang kenapa, meski sering menyakitinya dengan kata-kata, Rhea masih tidak bisa benar-benar membencinya.
Ia menatap layar kosong di depannya.
Kursor berkedip-kedip, menunggu keputusan.
“Haruskah aku menyerah?” gumamnya.
Atau… tetap bertahan sedikit lebih lama, meski rasanya hampir tidak sanggup?
Di sisi lain, di ruang penthouse-nya yang sepi, Risang menatap dokumen yang sudah dibersihkan dari noda kopi.
Tapi pikirannya justru melayang pada wajah gadis itu, mata yang selalu menatap dengan ketulusan bodoh yang sama, bahkan ketika ia dimarahi.
Ia mengembuskan napas berat.
“Kenapa aku… terus memikirkan pegawai ceroboh itu?” bisiknya lirih, hampir tidak percaya pada dirinya sendiri._