Pagi itu, suasana kantor Cakra Group tampak seperti biasa sibuk, disiplin, dan menegangkan. Namun bagi Gracia Rhenata, langkah menuju lantai dua puluh lima terasa jauh lebih berat daripada biasanya.
Di dalam tasnya, ada selembar amplop putih yang terus ia genggam erat sejak subuh.
Surat pengunduran diri.
Kalimat-kalimat di dalamnya ia tulis dengan air mata dan perasaan campur aduk — kecewa, lelah, tapi juga sedikit lega.
Ia berdiri lama di depan pintu kaca berlapis logo “R.C.” inisial sang CEO yang kini menghantui hampir setiap mimpinya.
Jantungnya berdetak cepat.
“Kamu cuma pegawai kecil, Cia. Dia bahkan nggak akan peduli.”
Ia menarik napas dalam, lalu mengetuk perlahan.
“Masuk,” suara itu dalam, seperti biasa.
Cia melangkah pelan. Risang sedang menatap layar laptop dengan wajah tegas, jas hitamnya tampak sempurna tanpa satu pun kerutan.
Ia tidak langsung menoleh ketika Cia mendekat.
“Laporan klien sudah selesai?”
“S-sudah, Pak,” jawab Cia pelan. “Dan... saya juga ingin menyerahkan ini.”
Ia meletakkan amplop putih itu di atas meja. Tangannya gemetar.
Risang baru mengangkat kepala. Tatapan matanya menelusuri amplop itu sebelum berpindah ke wajah Cia yang menunduk.
“Apa ini?” suaranya datar.
Cia menelan ludah. “Surat pengunduran diri saya, Pak.”
Hening.
Hening yang begitu panjang hingga suara jarum jam di dinding terdengar jelas.
Risang memandangnya lama lebih lama daripada yang seharusnya.
Cia tidak berani mengangkat wajah. Ia hanya bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang terasa begitu keras di telinga.
“Jelaskan!” akhirnya Risang bertanya, tenang tapi tegas.
“Saya… saya rasa saya tidak cocok bekerja di sini, Pak. Saya sering melakukan kesalahan, dan… saya tidak ingin menjadi beban tim.”
Nada suaranya lembut, hampir memohon pengertian.
Risang menatap gadis itu tanpa berkata apa pun. Ada sesuatu yang berubah di sorot matanya bukan lagi kemarahan, tapi semacam kebingungan.
“Tidak cocok?” Ia mengulang perlahan. “Atau tidak tahan?”
Cia terdiam. Pertanyaan itu menembus tepat di dadanya.
“Kalau semua orang menyerah setiap kali berbuat salah,” lanjut Risang, suaranya menurun, lebih tenang dari biasanya, “tidak akan ada satu pun orang yang belajar apa-apa di dunia ini.”
Cia menggigit bibir, berusaha menahan air mata. “Tapi saya sudah berusaha, Pak. Saya selalu berusaha.”
“Saya tahu,” balas Risang cepat terlalu cepat, seolah refleks.
Cia terangkat sedikit kepalanya, terkejut.
Untuk pertama kalinya, nada itu… bukan nada menghukum.
Risang menyadari ucapannya sendiri, lalu menunduk pelan.
Ia mengambil amplop itu, membuka, dan membaca dengan seksama. Baris demi baris, kata demi kata, ditelannya dalam diam.
Tangan kirinya mengepal tanpa sadar di atas meja.
“Terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan. Saya belajar banyak, meski saya belum mampu memenuhi ekspektasi Bapak.”
Kalimat itu terasa seperti pukulan bagi Risang.
Belum mampu memenuhi ekspektasi Bapak.
Ia tidak tahu kenapa d**a kirinya terasa sesak membaca kata-kata itu.
Setelah beberapa saat, ia menutup surat itu, lalu menatap Cia dalam.
“Jadi ini caramu menyelesaikan sesuatu? Pergi begitu saja?”
Cia terdiam.
“Saya hanya ingin… menghindari kesalahan yang lebih besar, Pak.”
Risang berdiri dari kursinya, berjalan pelan ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan Jakarta pagi itu.
Udara lembap setelah hujan, sinar matahari menembus awan. Ia menatap ke luar, tapi pikirannya tidak di luar sana melainkan pada gadis mungil di belakangnya yang kini sedang menunduk pasrah.
Ia mengingat semua momen: ketika Cia ceroboh menumpahkan kopi, ketika ia memarahi gadis itu karena kesalahan kecil, ketika ia melihat Cia menangis diam-diam di pantry.
Dan yang paling ia benci setiap kali ia marah, ada bagian kecil dalam dirinya yang justru merasa bersalah.
“Aku keras padanya karena dia ceroboh,” pikirnya.
“Tapi kenapa setiap kali dia menangis… aku malah merasa seperti b******k?”
Risang berbalik perlahan.
“Cia,” panggilnya.
Gadis itu terlonjak kecil. “Y-ya, Pak?”
“Kalau kamu mau pergi, pastikan alasannya bukan karena aku.”
Nada suaranya dalam, tapi kali ini lembut.
Cia terdiam, menatapnya dengan mata berkaca.
“Bagaimana bisa, Pak? Bapak sendiri yang membuat saya merasa tidak cukup baik.”
Kata-kata itu keluar tanpa bisa ia tahan. Lembut tapi jujur.
Risang terdiam. Napasnya tertahan.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Lalu ia berjalan kembali ke meja, mengambil surat itu, dan merobeknya pelan, lembar demi lembar, hingga hanya serpihan kertas yang tersisa.
“Surat ini tidak pernah ada.”
Cia terperanjat. “P-Pak?”
“Mulai besok,” katanya pelan, “kamu tidak lagi di bawah supervisorku langsung. Tapi kamu tetap di sini. Di tim utama.”
Ia menatapnya dalam. “Aku tidak mau kehilangan pegawai yang bisa belajar sekeras kamu.”
Kata-kata itu sederhana, tapi membuat Cia membeku di tempat.
Ada kehangatan aneh di dadanya, yang membuat matanya panas dan bibirnya bergetar.
“Terima kasih, Pak,” suaranya pelan, nyaris seperti bisikan.
Risang menatapnya sekali lagi lama, terlalu lama untuk sekadar tatapan profesional.
Ada sesuatu di sana: rasa lega, rasa bersalah, dan sesuatu yang bahkan ia sendiri belum berani akui.
Ia akhirnya berdeham kecil, memalingkan wajah. “Kembali bekerja.”
“Baik, Pak.”
Cia melangkah pergi, tapi senyum kecil terselip di ujung bibirnya senyum yang bahkan ia sendiri tidak sadari.
Begitu pintu tertutup, Risang menatap ke arah serpihan surat di meja.
Tangannya menggenggam satu potongan kecil yang masih utuh bagian akhir surat itu:
“Saya berterima kasih karena telah diajarkan arti tanggung jawab, meski lewat cara yang menyakitkan.”
Risang menatap kalimat itu lama, lalu tersenyum samar senyum yang jarang, bahkan hampir tak pernah muncul di wajahnya.
“Gadis bodoh,” gumamnya pelan. “Kamu tidak tahu betapa kamu sudah membuat kantor ini… terasa berbeda.”
Di luar, sinar matahari menembus kaca besar ruangannya.
Untuk pertama kali, cahaya itu terasa hangat tidak lagi dingin seperti biasanya.
Setelah Jam Istirahat
Cia berdiri di depan ruang CEO, lagi-lagi dengan jantung berdetak cepat.
Ia mengetuk perlahan.
“Masuk.”
Risang duduk dengan ekspresi dingin. Tangannya mengetuk meja perlahan.
“Saya dengar kamu makan siang bersama Martin dari divisi desain.”
Cia menelan ludah. “I-iya, Pak. Kami cuma makan, kebetulan ketemu di kantin …”
“Cuma makan?” suaranya tajam, memotong.
Cia mengerjap bingung. “Apa ada yang salah, Pak?”
Risang menatapnya tajam. “Saya tidak melarang siapa pun berinteraksi, tapi saya tidak suka pegawai saya menjadi bahan gosip di kantor. Apalagi setelah insiden kamu minggu lalu.”
Nada itu menusuk. Cia menunduk, merasa dadanya panas.
“Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud …”
“Cukup.”
Risang menatapnya lama. Ada sesuatu di sorot matanya yang lebih kompleks dari sekadar marah seperti ada api kecil yang ia coba sembunyikan di balik ketenangan.
“Mulai besok, kamu tidak usah makan di kantin. Ambil waktu istirahatmu di ruang tim saja.”
Cia tercengang. “Tapi, Pak …”
“Sudah. Keluar.”
Cia menggigit bibir. Ia ingin protes, tapi kata-kata itu terasa sia-sia. Ia hanya menunduk, membungkuk kecil, lalu keluar.
Begitu pintu tertutup, Risang memejamkan mata.
Ia tahu tindakannya berlebihan. Ia tahu itu bukan tentang disiplin.
Tapi bayangan Cia tertawa dengan pria lain entah kenapa membuat dadanya terasa sesak.
Ia berdiri, berjalan ke jendela. Jakarta sore tampak berkilau oleh pantulan cahaya gedung-gedung tinggi.
Namun di hatinya, ada badai kecil yang ia tak bisa namai.
“Kenapa aku marah?” gumamnya pelan.
“Padahal dia hanya makan siang.”
Di luar sana, Cia berjalan menuju ruang kerjanya dengan langkah berat.
Tapi entah kenapa, di balik kecewa dan sedihnya, ada denyut kecil di d**a yang bergetar tanpa ia pahami.
Sebuah detak asing samar, tapi nyata.