Hujan turun deras malam itu. Gedung tinggi tempat Cia bekerja tampak berkilau disinari lampu-lampu kota Jakarta yang menembus tirai air. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, namun layar komputer di meja Cia masih menyala terang. Ia menatap spreadsheet yang terasa tak berujung, matanya mulai perih karena terlalu lama menatap layar.
Sejak “hukuman” Risang menjadikannya asisten langsung di bawah pengawasannya, hidup Cia berubah total. Tak ada lagi waktu santai makan siang, tak ada obrolan santai di pantry, bahkan napasnya pun terasa diawasi.
Setiap laporan harus sempurna. Setiap kata di email harus sesuai format. Setiap kesalahan sekecil apapun akan diingat, dianalisis, lalu dikoreksi langsung oleh suara dingin pria yang nyaris tak pernah menatapnya penuh — kecuali saat marah.
Namun malam itu, Cia lembur sendirian. Semua pegawai sudah pulang. Risang sempat keluar ruangan sejak dua jam lalu untuk menghadiri rapat dengan klien besar.
Ia menutup laptopnya pelan, lalu meregangkan tubuh. Hujan semakin deras, dan suara guntur menggelegar di kejauhan.
“Duh, gimana nih, aku nggak bawa payung…” gumamnya pelan.
Ia menatap ponselnya, berharap notifikasi ojol muncul. Tapi sinyal sedang bermasalah. Tak ada satu pun driver yang menerima pesanannya.
Ketika ia hendak mencoba lagi, suara seseorang memanggil pelan dari belakang.
“Cia?”
Cia menoleh. Sosok Arnold berdiri di ambang pintu, masih mengenakan jas abu-abu muda dan kemeja biru muda yang sedikit kusut. Ia tersenyum, menenteng tas kerja di bahu.
“Kamu belum pulang juga?” tanyanya sambil melangkah masuk.
Cia tersenyum lelah. “Masih ngerjain revisi laporan buat besok pagi. Tapi udah selesai, kok.”
Arnold menatap layar yang baru saja dimatikan, lalu menatap ke luar jendela yang buram oleh hujan. “Kamu pesan ojek?”
“Udah, tapi belum ada yang respon.”
“Jam segini susah,” katanya sambil melihat arlojinya. “Kalau mau, aku antar. Mobilku di basement.”
Cia sempat menolak, tapi Arnold tersenyum menenangkan. “Serius, aku searah kok. Lagian, hujan gini bisa-bisa kamu sakit kalau maksa naik ojek.”
Cia akhirnya mengangguk ragu. “Makasih ya, Pak Arnold.”
Mereka berjalan beriringan menuruni lift. Arnold terlihat santai, sesekali bercanda ringan untuk mencairkan suasana. Cia tertawa kecil, merasa nyaman — sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan sejak bekerja di bawah bayang-bayang Risang yang perfeksionis.
Mobil Arnold berwarna hitam mengilap. Begitu pintu tertutup dan mesin dinyalakan, udara hangat memenuhi kabin. Aroma kayu manis dari pengharum mobilnya membuat Cia perlahan rileks.
Mereka berbincang ringan di perjalanan: tentang pekerjaan, tentang cuaca, bahkan tentang makanan favorit. Pak Arnold bercerita dengan gaya yang ringan dan bersahabat.
“Kamu tahu nggak, aku dulu juga hampir resign minggu kedua kerja di sini,” katanya sambil tertawa.
“Serius?” Cia menatapnya heran.
“Iya, gara-gara dimarahi Pak Risang. Waktu itu aku salah input data client besar. Kupikir karierku tamat. Tapi ternyata beliau cuma… tegas.”
Cia menunduk, mengulum senyum getir. “Tegasnya itu luar biasa sih, Pak.”
Arnold meliriknya sekilas. “Kamu kelihatan stres banget. Dia keras, iya. Tapi kadang, di balik itu, dia juga manusia, Cia.”
Kalimat itu menggantung di udara. Cia hanya tersenyum samar, tak yakin harus membalas apa.
Ketika mobil berhenti di depan kos sederhana tempat Cia tinggal, hujan masih belum reda. Arnold menoleh ke arahnya.
“Sudah sampai. Eh, kamu yakin nggak apa-apa tinggal di sini sendirian?”
“Iya, aman kok. Terima kasih ya, Pak Arnold. Aku nggak tahu gimana kalau tadi kamu nggak nawarin tumpangan.”
Arnold tersenyum hangat. “Kapan-kapan aku ajak kamu makan siang bareng, ya. Biar nggak stres terus.”
Cia sempat ingin menolak secara sopan, tapi ada sesuatu di matanya yang membuat Cia mengangguk. “Oke, asal bukan di jam kerja,” ujarnya bercanda.
Keduanya tertawa.
Namun tak mereka sadari, di kejauhan, seseorang sedang memperhatikan dari balik kaca mobil hitam lain yang berhenti di seberang jalan.
Risang.
Ia baru saja turun dari mobil kantornya setelah meninjau rapat eksternal. Mobilnya kebetulan melintas di depan kost Cia ketika ia melihat sosok familiar itu turun dari mobil pria lain. Arnold.
Cia tampak tertawa — tawa kecil yang jarang ia tunjukkan di kantor. Tawa yang entah kenapa menimbulkan sensasi aneh di d**a Risang.
Tatapan matanya mengeras. Tangannya mengepal di sisi kursi.
“Jadi, begini caranya dia menghabiskan malam setelah lembur?” gumamnya dingin.
Sopirnya menoleh ragu. “Pak, kita langsung ke apartemen, atau—”
“Ke kantor,” potong Risang datar. “Saya lupa ada berkas yang perlu diperiksa malam ini.”
Namun dalam hatinya, Risang tahu itu hanya alasan. Ia kembali ke kantor bukan karena berkas, tapi karena rasa tak nyaman yang tak bisa ia jelaskan.
Sepanjang perjalanan, bayangan tawa Cia di bawah hujan terus berputar di pikirannya. Sesuatu di dalam dirinya terus berdebat:
Kenapa aku peduli?
Dia hanya staf magang. Tidak penting.
Tapi kenapa rasanya seperti—
Ia menepis pikirannya sendiri. Menatap keluar jendela, menahan debar yang bahkan tak mau ia akui ada.
Di kamar kost-nya, Cia menggantung jaket yang masih basah. Ia menatap keluar jendela — hujan masih belum berhenti. Dalam hati ia bersyukur atas kebaikan Pak Arnold, tapi juga merasa sedikit canggung.
Entah kenapa, ada rasa takut aneh di dalam dadanya, seolah sesuatu buruk akan terjadi.
Ia tak tahu bahwa malam itu, namanya kembali menjadi topik di ruang kerja tertutup di lantai 20 — di balik pintu kaca bening yang menahan hawa dingin, dan di balik tatapan seseorang yang belum tahu caranya mengakui rasa yang mulai tumbuh tanpa izin.
Risang menatap layar laptopnya lama-lama, tapi pikirannya sama sekali tak bisa fokus.
Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa terganggu — bukan oleh laporan yang salah, tapi oleh seseorang yang justru mulai mengguncang ritme hidupnya yang selalu teratur.
Dan malam itu, entah karena amarah, cemburu, atau rasa yang tak bernama, Risang mengetik satu pesan singkat ke Cia di tengah malam:
“Besok pagi, saya ingin Anda sudah di kantor sebelum jam tujuh. Kita perlu bicara.”
Cia yang baru hendak memejamkan mata menatap layar ponselnya dengan mata membesar.
Detak jantungnya langsung berpacu cepat.
Ia tak tahu apa yang menunggunya besok pagi — tapi satu hal pasti: mulai malam itu, hidupnya tidak akan sama lagi.