Kepulan asap dari kopi hangat yang dibuatkan oleh pelayan mansion, sudah siap untuk di minum sedikit demi sedikit. Ken duduk menunggu kedatangan Zayden, sepupu yang paling dekat dengannya. Dia menunggu di ruangan khusus kedap suara. Dia sengaja memilih di sana supaya obrolannya tidak terdengar. Meski hanya ada pelayan dan pengawal, tetapi dia tidak mau pembicaraannya tersebar kecuali dia yang memberitahu.
Pikiran Ken sedang kalut bercampur bimbang. Dia kembali memikirkan Julie. Dia tidak bisa tenang setelah semua informasi yang dia baca terakhir kali.
Sudah hampir setengah jam menunggu, Zayden pun akhirnya tiba. Pria itu tersenyum sesaat memasuki mansion milik Ken yang mewah. Setelah berjalan sedikit akhirnya Zayden tiba di ruangan yang sudah dia ketahui letaknya. Beruntung pintu tidak terkunci sehingga dia bisa melesat masuk begitu saja tanpa permisi dan langsung duduk di hadapan Ken.
“Jadi ada pembahasan apa kali ini? Tumben kita berbincang di sini?” tanya Zayden dengan senyum yang mengembang.
“Lihat sendiri. Aku kesal sampai rasanya ingin membunuh manusia itu.” Ken menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat pada Zayden.
Zayden menaikkan satu alisnya. Manusia itu? Siapa?
Tidak mau menerka-nerka, Zayden mengambil amplopnya. Setelahnya dia mengeluarkan kertas yang ada. Dia membaca perlahan. Pupil matanya melebar sempurna. Karena tidak percaya, dia kembali mengulang apa yang dia baca karena dapat terlihat dari gerak bola matanya.
“Kau pasti tidak percaya kan? Bagaimana denganku. s**l! Ezra b******k! Aku ingin membunuhnya!” geram Ken sambil menggebrak meja karena tidak bisa menahan emosi.
“Jadi selama ini... kita semua telah tertipu olehnya? Damn! Ezra memang diam-diam menghanyutkan!” seru Zayden tak kalah tidak percaya.
“Maka dari itu, aku ingin kau membantuku Zayden.”
“Kau ingin aku melakukan apa? Katakan saja.”
“Tolong cari tahu kebenaran atas informasi dari semua yang tertulis di kertas tersebut. Sedetail mungkin. Aku tidak mau ada yang terlewat. Kau paling mahir dalam urusan ini, Zayden. Tidak ada lagi yang bisa aku andalkan selain dirimu.”
Zayden Ackles bekerja untuk sebuah badan intelijen baru yang ada di kota kelahirannya. Sebuah badan intelijen berbasis tentang pertahanan dan informasi rahasia yaitu, SIAD (Security Information and Defense). Jabatannya sangat rahasia, Ken bahkan tidak tahu, hanya sebatas mengetahui di mana dia bekerja. Mencari informasi yang Ken berikan padanya bukan perkara sulit.
Zayden menyisipkan senyum miring penuh percaya diri. “Hal yang mudah. Percayakan padaku. Aku akan mencari semua yang kau butuhkan, Ken. Secepatnya aku akan memberitahumu.”
Ken bernapas lega. Dalam keadaan genting begini hanya Zayden yang dapat dia andalkan.
“Thank you, Zayd.”
“Tidak perlu, Ken. Sudah sepantasnya keluarga saling membantu dan mendukung. Oh ya, apa Julie sudah mengetahui semuanya? Maksudku informasi ini.”
Ken mengangkat bahunya. Dia ragu. Kalau seandainya Julie sudah tahu, bukannya wanita itu sudah memberitahunya? Karena tidak ada hal yang Julie sembunyikan. Wanita itu selalu menceritakan tentang kehidupannya bersama Ezra, termasuk sikap Ezra yang menyebalkan.
“Sepertinya belum. Julie hilang tanpa kabar lagi, Zayd. Terakhir kali dia datang namun pagi harinya dia sudah menghilang. Ezra pasti membawanya pergi ke suatu tempat. Selama empat tahun kemarin saja, mereka hilang. Tidak ada yang tahu ke mana mereka pergi termasuk Aunty Daisy.” Ada helaan napas kesal yang terdengar pada akhir kalimatnya. Ken mengusap wajahnya kasar. “Kalau tahu akhirnya Ezra akan merebut Julie dariku, seharusnya aku tidak pergi ke luar kota waktu itu. Aku bodoh... aku kehilangannya.”
Zayden menjadi saksi bisu perjalanan kisah cinta Ken dan Julie. Dua insan yang selalu terlihat mesra meski hubungan mereka juga ada pasang surutnya. Dia tahu seberapa besar cinta Ken pada wanita yang menjadi cinta pertamanya. Dia mungkin bukan Ken, namun dia dapat merasakan frustasi, kesal, marah dan semua hal yang selama ini Ken pendam dapat terpancar dari sorot matanya.
“Ken... sudahlah. Tidak ada yang tahu kalau Ezra akan memaksa Julie. Kau pun tahu seberapa besar cintanya Ezra pada Violet. Anehnya mengapa wanita kalian berdua harus semirip itu? Aku masih tidak tahu mengapa Tuhan menciptakan wanita yang mirip untuk kalian berdua.”
“Entahlah. Aku tidak mengerti.”
Zayden berusaha menghibur Ken dalam kepedihan kisah cintanya. Masih ada kesedihan yang amat dalam yang sepupunya rasakan dan pendam. Tidak mungkin semudah itu Ken melupakan Julie, wanita yang sukses merebut perhatian dan hatinya setelah sekian banyak wanita mengejar. Zayden sendiri tahu bagaimana sikap Ken pada Lana. Cinta dan perhatian sepupunya pada Julie tidak mungkin hilang walau waktu telah berlalu beberapa tahun lamanya.
“Ken, jika kau memang rumahnya Julie maka sesulit apapun rintangan kalian maka dia akan tetap kembali. Kalau dia tidak kembali dan melupakanmu, maka kau bukan rumahnya. Kau hanya persinggahan sementara yang dia datangi. Aku yakin, dalam hal ini Julie akan kembali. Entah kapan. Tetapi yang aku tahu, cinta Julie padamu tidak mudah hilang begitu saja. Aku akan selalu mendukung kalian berdua. Tetap semangat, Ken!”
Ken menarik senyum tipis. Ucapan Zayden cukup menghiburnya walaupun benar apa kata Zayden, entah kapan Julie akan kembali kalau memang dia rumah bagi wanita itu. Yang pasti, Ken akan terus mencintai Julie walau mungkin akan ada cerita sedih lainnya yang datang.
Julie telah mempersiapkan diri. Entah mengapa kesedihan terus menyelimuti. Walau dia tahu perasaannya bukan untuk Ezra, tetapi rasa sedih yang mendera terus menghantui. Entah apa maksudnya. Yang pasti, dia ingin pria itu kembali. Pulang dan menyapanya.
Pakaian serba hitam menjadi dresscode-nya pagi ini. Lily yang telah siap menemaninya sudah berdiri di ambang pintu sejak Julie menyisir rambutnya.
“Kau yakin Julie? Kalau memang–”
“Ya, aku yakin. Bisakah kita pergi sekarang?” potong Julie dengan semua keberaniannya untuk melihat wujud sang suami di Paris. Dia ingin memastikan Ezra benar-benar telah tiada kalau memang suaminya meninggal.
Lily mengangguk dengan senyum tipis yang terlihat. “Bisa. Ayo, kita pergi sekarang.”
Julie bangkit dari tempat duduknya. Dia menghampiri Lily. Setelah itu, mereka pergi berjalan keluar penginapan bersama Tim yang mengikuti mereka dari belakang.
Langkah demi langkah, mereka melewati tiap jalan yang ada. Keindahan di sana tetap pada tempatnya, tidak berpindah meski mereka pergi. Hanya tinggal beberapa langkah lagi, mereka terpaksa berhenti. Bukan karena kelupaan sesuatu tetapi karena terdapat dua pria bertubuh kekar berdiri tegap di depan sana.
Air mata Julie langsung mengembang setelah dirinya menyadari salah satu sosok yang hadir. Ada bekas luka pada bagian pelipis dan tulang pipi yang tercetak dengan jelas pada wajah pria yang sedang dia pandangi sekarang.
Ezra Walton.
Pria itu nampak menarik senyum tipis ketika Julie menatapnya dengan tatapan nanar.
“I'm back, Julie.”
Tanpa menjawab, Julie langsung berlari menghampiri suaminya. Ezra sempat terkesiap ketika Julie memeluknya tanpa aba-aba. Dia merasakan wanita itu memeluknya dengan sangat erat. Senyum langsung tersisip selama pelukan tidak terduga itu berlangsung.
“I'm coming back to you. Do you miss me, Mrs. Walton?”
“I hate you! Bastard! Jerk...” Dan semua sumpah serapah Julie terucap begitu saja. Bahkan sumpahan menggunakan bahasa Spanyol yang Julie kuasai turut terdengar.
Ezra tidak bisa menutupi rasa senangnya ketika Julie memeluk dan menyumpah. Mungkin terdengar aneh, tetapi dengan begitu dia tahu Julie menginginkan dirinya kembali.
“I know you hate me. I missed you, Julie.”
“Ceritakan padaku apa yang terjadi...” Kali ini Julie mendongak, menatap Ezra dengan tatapan memohon.
“Lain kali aku akan menceritakan padamu, Julie. Tidak sekarang. Yang penting, aku telah kembali,” ucap Ezra seraya membelai rambut istrinya dan menunjukkan tatapan hangat setelah menghilang tanpa kabar.
Kau tidak perlu tahu apa yang telah aku lalui, Julie. Aku tidak ingin kau tahu. batin Ezra. Setelah bersusah payah kembali, akhirnya Ezra dapat melihat wajah Julie. Dia mengusahakan segala cara untuk pulang.
Tidak ada jawaban lagi dari Julie. Wanita itu kembali menangis, menenggelamkan wajahnya pada d**a bidang Ezra. Tangan kokoh Ezra mengusap kepala Julie dan sesekali mengecup puncak kepalanya.
“I'm sorry, Julie…”
Di belakang sana Lily menangis. Dia pikir Ezra akan benar-benar meninggalkannya, ternyata sepupunya telah kembali. Mungkin ada cerita di balik kembalinya Ezra setelah informasi menyedihkan yang Tim berikan.
Di balik kebersamaan antara Julie dan Ezra, ada hal lain yang turut mengisi rasa haru yang mendera.
Keanu berjalan melewati tuannya dan menghampiri sesosok wanita yang tengah menantinya, Lily.
Tanpa kata, keduanya berpelukan. Melepas rindu serta perasaan bahagia bahwa ternyata mereka masih diberikan kesempatan untuk saling memiliki karena maut belum benar-benar memisahkan.
Tidak lama, mereka menarik diri. Keanu memegang kedua sisi wajah Lily, menempelkan hidung mereka dan menatap dalam kedua bola mata yang saling mengunci satu sama lain. Setelahnya Keanu mendaratkan kecupan pada kening Lily, memejamkan mata sebagai kesungguhan yang tersirat darinya. Terlepas dari kecupan itu, Lily menatap Keanu dengan sorot mata kerinduan yang tertahan.
“Seperti janjiku, aku tidak akan terbunuh begitu saja. Akhirnya aku dapat melihat wajahmu, tempat aku kembali seutuhnya. Aku merindukanmu, Lily,” ucap Keanu dengan suara baritonnya.
Tangis Lily pecah. Air mata yang jatuh terhapus oleh ibu jari Keanu yang sigap melakukannya.
“Welcome home, My Love,” balas Lily dengan suara serak yang tercekat akibat isakan tangisnya.
Tidak banyak yang tahu Lily dan Keanu adalah sepasang kekasih. Dua sejoli yang memadu kasih selama hampir tujuh tahun bersama. Berawal dari pekerjaan yang sama dulunya lalu berakhir menjadi kekasih yang saling mencintai, menjaga dan mengasihi.
Tidak ada yang dapat merasakan kerapuhan yang selama ini terpendam pada diri Lily kecuali Keanu. Tidak ada yang bisa melihat betapa terlukanya Lily akan realita hidupnya kecuali Keanu. Bersama Keanu, Lily menunjukkan hal yang tidak dapat orang lain lihat.
Tim menarik senyum menyaksikan kedua pasangan yang saling merindu. Tangis menjadi jawaban, menyalurkan rindu dan keterkejutan yang terasa.
Ide untuk membuat drama kehilangan adalah ide Ezra. Semua pria itu lakukan guna menghilang dari peredaran untuk sementara waktu. Menghilang agar terkesan dirinya telah tiada. Bukan dari Julie, tetapi musuh yang selama ini mengejarnya.
Pada akhirnya 'kembali' menjadi jalan yang mereka tuju. Bukan kembali pada jalan yang telah di tentukan, tetapi kembali pada rumah yang sebenarnya...
.... pasangan mereka.