“Have you found him?” Seorang pria paruh baya bertubuh tegap bertanya dengan suara lantang penuh penekanan. Ada isyarat tidak sabar dari nadanya.
“Yes, Sir. Dia ada di North Island, Seychelles,” jawab seorang wanita berambut panjang sepunggung dengan lantang. Tidak terdengar ragu.
“Cepat bawa dia kemari sebelum yang lain membawanya. Aku memerintahkan kalian berdua untuk tugas ini.”
“Yes, Sir!” Wanita itu mengucapkan bersamaan dengan pria di sampingnya.
Tidak lama kemudian pria paruh baya itu melangkah pergi, meninggalkan dua agen CIA yang bersiap mengurus hal yang telah di perintahkan pada mereka.
Wanita itu mengambil berkas yang tergeletak di atas mejanya. Dia mengamati foto yang tercetak berikut semua penjelasan mengenai sosok tersebut.
“Kita harus bergerak lebih cepat kali ini.”
“Ya, it's time to pick him up.”
“Ken, semua yang kau butuhkan ada dalam berkas itu. Jangan kaget ketika kau membacanya. Aku memberikan info mengenai semua orang terdekat Ezra. Ada dua orang yang paling dekat dengannya yaitu; Lily dan Keanu.” Zayden menaruh sebuah amplop coklat di atas meja kerja Ken. Kebetulan dia datang pada malam hari, jadi tidak perlu mengganggu pekerjaan sepupunya.
Zayden duduk di atas sofa yang berada di sudut ruang kerja Ken. Manik coklat miliknya tidak beralih karena ingin tahu bagaimana reaksi Ken setelah melihat semua informasi yang dia dapatkan berdasarkan bantuan temannya.
Ken mengambil berkas yang tersimpan di dalam amplop. Matanya mengamati tiap kata, kalimat, penjabaran dan tulisan yang tertera pada kertasnya. Sesekali pupil matanya melebar mendapatkan sesuatu yang membuatnya tidak percaya. Ketidakpercayaannya memaksa Ken membaca ulang semua berkas dari awal.
“Kau tidak percaya bukan? Aku pun begitu,” kata Zayden setelah menyadari Ken mengulang apa yang dia baca.
Ken menaruh berkasnya. Dia menatap Zayden dengan sorot mata meminta penjelasan yang sudah dapat di mengerti oleh sepupunya.
“Lily Walton sepupu Ezra dulunya bekerja sebagai salah satu anggota tim S.W.A.T. Dia salah satu sniper terbaik sampai lima tahun yang lalu dia memutuskan behenti dari sana dan sekarang pekerjaannya tidak di ketahui. Dari yang aku dengar desas-desusnya dia menjadi pembunuh bayaran termahal dan paling berbahaya. Lily menguasai semua ilmu beladiri pada tingkat tertingginya, menguasai dua puluh bahasa, menguasai segala jenis s*****a dan hebat dalam pertarungan one on one. Kau tidak percaya bukan wanita secantik itu memiliki skill yang luar biasa?" Zayden mengulang apa yang tertulis dari informasi yang dia dapatkan. Itu hanya sebagian, dia tidak bisa menyebutkan semuanya karena terlalu banyak.
“Keanu Milburn, kepercayaan Ezra. Dulunya dia bekerja untuk S.W.A.T berada dalam tim yang sama dengan Lily. Sayang sembilan tahun lalu dia memilih keluar karena jatuh cinta dengan Lily. Dalam satu tim mereka tidak boleh berpacaran sehingga Keanu berhenti dan akhirnya menjadi pengawal pribadi Ezra. Dia juga menguasai semua ilmu beladiri dengan tingkat tertingginya. Aku tidak bisa menyebutkan semua kelebihannya, terlalu banyak,” tambah Zayden.
Ken tidak bisa berkata-kata. Pikirannya berusaha mencerna semua yang Zayden katakan dan berkas yang dia baca.
“Dari semua hal mengejutkan yang kau baca, lihat catatan kelahiran Lily. Kau akan menemukan kejutan lainnya,” suruh Zayden.
Ken langsung mencari catatan kelahiran Lily dan menemukan kejutan yang sepupunya maksud. “Lily anaknya Tiffany Cooper? Ibunya Samara? Lantas siapa ayahnya?”
“Baca lagi baik-baik, Ken. Lily anak angkat Wyle dan Kathlyn Walton,” jelas Zayden. Belum sempat Ken menyela, Zayden kembali melanjutkan. “Lily Walton alias Chloe Ackles adalah anak kandung Tiffany Cooper dan Eric Ackles. Uncle kita sepintar itu menyembunyikan fakta mengenai putrinya.”
“What??!”
Ezra mengusap kepala Julie yang sudah tertidur pulas. Iris mata birunya menatap hangat sang istri.
“Sleep well, Wife.” Kecupan pada kening Julie mendarat sebagai akhir dari kegiatannya memandangi sang istri.
Sesudah Ezra keluar dari kamar Julie, dia segera masuk ke dalam kamar yang bersebelahan dengan wanita itu. Setelah menginjakkan kaki di kamar, dia segera duduk lalu menyandarkan kepalanya pada puncak kepala sofa. Matanya sedikit terpejam mengingat kejadian sewaktu di Paris. Tepatnya ketika Dimitri nyaris membunuhnya.
- - - - - -
“Selamat tinggal, Mr. Walton,” ucap Dimitri yang kemudian menarik pelatuk dengan senyum penuh kemenangan.
Bola mata biru milik Ezra melebar. Dia tidak bisa memprediksi kemana arah peluru tersebut. Dengan angin yang terasa, kemungkinan peluru tersebut mengenainya bisa saja terjadi. Apalagi peluru tidak bisa melambat, lajunya cepat hanya dalam hitungan detik. Ezra melepas satu tangannya, dan mencoba menghindari peluru yang tidak dapat terlihat dengan jelas lajunya yang secepat kilat.
Keberuntungan berpihak pada Ezra. Peluru tidak mengenainya, dan peluru tersebut berhenti pada tembok yang menyebabkan sedikit keretakan.
Dimitri berdecak kesal. Dia kembali mengarahkan pistolnya pada Ezra yang sedang bersusah payah meraih pegangannya. Beruntung kehadiran Keanu, menghentikan Dimitri. Tanpa belas kasih, Keanu menembaki tempat Dimitri berada. Pria itu menghindar, namun ada satu selongsong peluru yang mengenai bahu bagian kanannya. Ringisan dapat terdengar. Dimitri membalas Keanu, menembaki pria yang tengah bersembunyi di balik tembok. Sampai akhirnya Dimitri hilang entah kemana, melarikan diri dari sana sebelum dirinya tewas.
“Tuan!” Keanu segera berlari, mencari cara supaya naik ke atas sanggahan papan kayu untuk menarik tubuh Ezra yang menggantung.
“Hurry up, Keanu!” teriak Ezra dengan nada parau. Kedua tangannya sudah tidak mampu menahan bobot tubuhnya. Telapak tangannya juga berkeringat.
Hanya butuh waktu beberapa menit, akhirnya Keanu sampai tepat di depan Ezra. Dia segera mengulurkan tangannya yang kemudian di sambut oleh Ezra dengan baik. Setelah itu Keanu langsung menarik Ezra agar tubuhnya naik, dan berhasil.
Ezra mengatur napasnya. Keringat membasahi seluruh pelipis Ezra. Urat pada seluruh tangan terlihat akibat menahan bobot tubuh di atas ketinggian yang bisa saja membunuhnya jika jatuh. Akhirnya mereka berdua turun.
“Tuan, anda baik-baik saja?” tanya Andres yang baru saja tiba.
“Iya. Tolong kalian pergi ke North Island, katakan pada Tim untuk mengatakan pada Lily dan Julie bahwa aku dan Keanu tidak selamat. Masih ada urusan yang perlu di selesaikan. Berikan juga cincinnya pada Julie,” perintah Ezra seraya memberikan cincin pernikahan yang baru saja dia lepas. Dengan anggukan mantap Andres segera menjalankan apa yang Ezra perintahkan bersama satu pengawal lainnya. Mereka berdua pergi berlalu.
Baru saja kedua pengawalnya keluar, bunyi letupan pistol kembali terdengar. Tubuh Ezra mendadak jatuh menghantam lantai.
“Tuan Ezra?!” Keanu langsung memgambil ancang-ancang, memegang pistolnya, mengedarkan pandangan guna mencari letak keberadaan penembaknya.
Namun sekali lagi bunyi letupan dari pistol terdengar dan pelurunya mengenai tubuh Keanu. Pria itu pun ikut tumbang.
Langkah sepatu yang menapak pada lantai, terdengar jelas bersama pintu yang terbuka. Entah pintu bagian mana yang pasti penembaknya telah keluar. Tidak ada lagi bunyi letupan pistol.
Hening. Sunyi. Kedua pria itu nampak tergeletak lemah di atas lantai yang kotor.
Beberapa menit kemudian, Ezra mengambil napas dalam-dalam. Dia langsung merobek kemejanya dan melihat peluru yang mengenai rompi anti peluru yang dia kenakan.
“s**t! Dimitri s****n!” keluh Ezra seraya menarik pelurunya dari rompi yang dia kenakan. Rasanya sakit. Seperti tertembak menembus tubuh.
Keanu turut membuka tiap kancing kemejanya. Khusus hari ini dia sengaja mengenakan rompi anti peluru. Ezra yang menyuruhnya. Benar saja, kalau tidak mengenakan mungkin nyawanya sudah hilang sejak tadi. Dia pun menarik peluru yang bersarang pada rompinya. Ringisan pun keluar begitu saja.
“Keanu, setelah ini kita harus menemukan siapa yang mengutus Dimitri.”
- - - - - -
Ezra masih memejamkan matanya, mengulang kembali adegan yang telah terjadi seminggu lalu. Setelah merasa cukup, dia membuka kelopak mata kemudian menatap langit-langit kamar. Sekelibat bayangan Violet kembali muncul seperti biasa. Kepalanya terasa sakit mengingat sepintas kecelakaan yang terjadi. Tanpa sadar, sudut matanya meneteskan air mata. Perih dan luka yang bercampur seakan tersalurkan oleh air mata yang jatuh.
Nama Violet masih menjadi sosok yang Ezra gilai, sampai detik ini. Wanita yang mengubah dinginnya hati menjadi bunga mekar yang indah. Setetes air mata berubah menjadi tangisan histeris yang menyakitkan. Tangannya mengambil sebuah plastik kecil berisi cincin yang selalu dia bawa kemana saja di dalam saku celananya. Dia menggenggam cincin tersebut dengan plastik yang masih membungkusnya. Cincin itu adalah cincin pertunangannya dengan Violet. Cincin yang sama seperti cincin pernikahan yang dia berikan pada Julie, bahkan ukiran kalimatnya sama, hanya nama yang berbeda.
Akhirnya Ezra memilih memejamkan matanya kembali, berusaha menghilangkan kesedihan yang tidak bisa lepas dengan cara tidur. Butuh waktu yang cukup lama setelah memejamkan mata untuk benar-benar tertidur lelap. Dalam tidurnya, Ezra masih menggenggam cincin Violet dan membiarkan air mata yang jatuh kering begitu saja.