Gelapnya malam telah tergantikan oleh keindahan pagi. Deburan ombak laut terdengar dan lautan biru terhampar bersama udara sejuk yang menyertai. Pandangan Ezra pada Julie tidak bisa luput karena wanita itu terlihat tidak suka dengan sarapannya.
“Kenapa kau tidak makan, Julie?”
“Aku tidak nafsu makan. Aku ingin tidur.”
“Seminggu kemarin Julie hanya makan sedikit, Ez. Sekarang pun begitu, padahal kau telah kembali,” sela Lily membeberkan yang menyebabkan Julie memelototinya.
“Kau ingin aku menyuapimu atau kau makan sendiri sampai habis?”
Julie mendengus kesal. Dia terpaksa memberi jawaban terakhir, “Aku akan makan sendiri sampai habis, tidak perlu kau suapi.”
“Kalau begitu habiskan.” Nada dingin Ezra masih terasa seperti biasa.
Julie sampai heran, padahal kemarin ketika pria itu tiba, sikapnya hangat dan baik. Sekarang sudah sedingin es batu lagi. Dasar, makhluk itu memang paling aneh! Tidak tertebak!
Ketika malam kembali menyapa dan makan malam telah usai, Ezra memilih berdiri di balkon kamarnya, meneguk sebotol wine sedikit demi sedikit sampai tidak terasa kalau dia sudah menghabiskan sebotol penuh.
Bukan kebiasaan Ezra meneguk wine sebanyak sekarang. Malam ini dia ingin melepas penat sesaat apalagi pikirannya masih bercampur aduk. Antara memikirkan siapa yang mengutus Dimitri dan kepergian Violet. Padahal dua gelas wine saja sudah membuatnya mabuk, sekarang dia meneguk sebotol. Dengan cara mabuk mungkin kepenatannya akan hilang sebentar.
Dalam diamnya, sekelibat kenangannya dengan Violet kembali muncul, mengingat bagaimana dirinya dan Violet bertemu untuk pertama kali.
- - - - -
Ezra mengikuti sang ibu–Daisy yang memintanya untuk menemani berbelanja di supermarket.
Sejak ibunya datang ke Amerika untuk melihatnya, wanita paruh baya itu memaksa ingin membuatkan makanan kesukaannya. Dengan berat hati dia setuju menemani mencari bahan yang ibunya butuhkan. Sekarang dia sudah berada di tempat yang menurutnya membosankan.
Ibunya sedang berkeliling mencari sesuatu dan dia ditugaskan untuk mencari yang namanya lada. Dia tahu apa lada tetapi harus membeli lada yang mana? Beragam macam lada di botol yang berbeda membuatnya kesulitan memilih.
“Lada macam apa yang Mom butuhkan? Apa semua lada sama?”
“Tentu saja berbeda. Mereknya pun berbeda. Untuk memasak makanan, ibumu pasti membutuhkan lada ini. Mereknya adalah yang terbaik. Ibumu pasti suka.” Sebotol lada terulur pada Ezra, kontan pria itu menoleh setelah mendengarkan celotehan seorang wanita.
Ezra melihat sosok cantik dan tinggi. Senyum indahnya menjadi nilai tambahan. Mendadak jantungnya berdebar dan semakin menjadi ketika senyum wanita itu melebar.
“Kau tidak mau mengambilnya? Tentu kau yang bayar, bukan aku,” kekeh wanita itu dengan ramahnya.
Sekali ini Ezra baru merasakan debaran yang nyata. Biasanya dia biasa saja meski ada wanita yang mengajaknya berbincang.
“Oh, thank you atas informasimu,” kata Ezra akhirnya seraya mengambil botol tersebut.
“You are welcome. Ah, iya, namaku Violet. Siapa namamu?”
Violet? Namanya seindah senyum yang wanita itu tawarkan padanya. Hatinya kembali bergetar, terutama setelah wanita itu mengulurkan tangannya.
Setelah diam beberapa menit karena terpaku, akhirnya Ezra menyambut tangan dan membalasnya, “Ezra.”
- - - - - -
Ezra senyam-senyum sendiri membayangkannya. Tidak terpikirkan olehnya akan berkenalan di supermarket. Berawal dari ketidaktahuannya akan lada, Violet justru memberitahu. Sebelum pulang dari supermarket, dia menanyakan nomor ponsel wanita itu. Tentu tidak langsung Violet berikan karena wanita itu memintanya untuk bertemu sekali lagi dan berbincang.
Dia kembali memejamkan mata, merasakan hembusan angina yang menyentuh kulit. Violet mungkin sudah pergi, tetapi dia masih dapat merasakan kehadirannya.
“Ezra, apa kau ada di dalam?” Julie menyapa sembari mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka. Mungkin suaranya terlalu kecil, sehingga dia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar suaminya.
Ezra baru saja masuk dan mengunci pintu balkon. Dia ingin tidur karena kepalanya mulai pusing. Efek samping alkohol yang dia teguk mulai bereaksi. Wajahnya merah dan terasa panas. Pandangannya mulai kabur sedikit demi sedikit. Tetapi dia masih bisa melihat dengan jelas wanita yang memasuki kamarnya.
“Violet?”
“Aku Julie, bukan Violet. Aku ingin minta tolong–”
Suara Julie tertahan karena Ezra sudah berhambur memeluknya. Erat.
“Aku merindukanmu, Violet,” bisik Ezra lirih.
Julie memilih diam. Dia membiarkan Ezra menganggapnya Violet karena pelukan yang sedang berlangsung mewakili betapa terlukanya pria itu.
“Aku sangat amat merindukanmu, Violet .” Ezra menarik diri. Matanya menatap intens warna hijau yang menyuguhkan sejuta keindahan dalam iris mata Julie.
Ezra memegang kedua sisi wajah Julie lalu mencium bibir berlipstick pink muda itu. Julie terbelalak ketika Ezra menciumnya. Julie berusaha mendorong tubuh Ezra, sayangnya pria itu semakin menciumnya lebih dalam lagi. Ketika Julie tidak mau membuka mulutnya, Ezra menggigit bibir bawahnya sehingga dia dapat leluasa mencumbu bibir Julie dan melumatnya kasar.
Julie memukul d**a Ezra dengan keras dan ketika suaminya tidak terusik oleh pukulannya, dia beralih memukul lengannya. Ciuman yang Ezra berikan padanya bukan sekadar ciuman biasa, penuh rindu bercampur hasrat yang membuat Ezra menggendong tubuh Julie ala bridal style dengan paksa.
Ezra lalu menjatuhkan tubuh Julie di atas tempat tidur. Kedua kakinya berada di antara kedua kaki Julie yang terhimpit olehnya. Dia membuka kaosnya, memperlihatkan perut six pack yang terbentuk sempurna.
Julie baru menyadari aroma alkohol yang tercium dari mulut Ezra menguar kuat. Entah sudah berapa botol, yang pasti Julie harus pergi dari sana sebelum pria itu berbuat yang tidak-tidak.
“Aku menginginkanmu malam ini, Violet.” Seringaian tercetak pada wajah Ezra. Sorot matanya bukan lagi sorot mata dari seorang Ezra karena sudah tergantikan oleh pengaruh alkohol yang berhasil menguasainya.
“Ezra, please... i'm not Violet. I'm Julie!” sanggah Julie seraya menahan tubuh Ezra yang semakin turun, bersiap menghimpitnya.
Sayangnya ucapan Julie bagai angin lalu. Ezra tidak menggubrisnya karena pria itu sedang sibuk mencium bagian leher Julie. Hal itu membuat Julie memukul punggung Ezra dengan kasar. Kakinya mencoba bergerak berusaha menendang bagian vital Ezra, sayangnya tertahan oleh kaki Ezra sehingga dia tidak dapat melakukan apa-apa.
“Ezra... i'm not Violet. Aku Julie. Sadarlah!” teriak Julie masih berupaya memukul punggung Ezra yang sedang sibuk meninggalkan bekas kemerahan pada bagian lehernya.
Bukannya menggubris, Ezra justru menarik diri. Dia menunjukkan seringaian yang tidak pernah Julie lihat sebelumnya.
“You are mine and always be mine, Violet. Aku sangat menginginkanmu sekarang.”
Kalimat itu menjadi awal Ezra menarik paksa kemeja yang Julie kenakan. Semua kancing terlepas sampai menampilkan d**a Julie yang terbalut oleh b*a renda warna hitam. Ezra menyeringai, tangannya bergerak, bersiap menyentuh bagian d**a Julie.
Julie sigap menutup dadanya. “Ezra sadar! Aku bukan Violetmu! Tolong jangan lakukan ini.”
Ketika Ezra semakin menurunkan tubuhnya, Julie mengambil kesempatan ini untuk menampar pria itu. Bukannya sadar, Ezra justru menahan kedua tangan Julie yang berontak, mengaitkan pada sela jemarinya dan menggenggam erat. Sementara bibirnya kembali turun, menyentuh tiap kulit Julie yang eksotis.
“Please... stop...” Air mata Julie jatuh, seluruh tubuhnya terkunci oleh suaminya. Hanya bibir yang terbebas dari bungkaman Ezra.
Tangisnya semakin pecah ketika Ezra telah menyentuh bagian punggungnya, mencoba membuka pengait b*a. Julie berusaha berontak namun kedua tangannya tertahan.
“Ezra, please don't ...”
Pengait b*a Julie telah terlepas. Ezra menarik kasar sampai dua gundukan berukuran lumayan besar dapat terlihat oleh matanya. Tak ada yang bisa Julie lakukan selain menangis.
Ezra menarik tangannya, kemudian beralih untuk menyentuh dua gundukan itu. Sebelum terlaksana, Julie mengambil kesempatan ini untuk menampar wajah Ezra sekali lagi.
“Tolong sadar, Ezra... aku bukan Violet...” Tangan Julie langsung menutup bagian dadanya, sementara Ezra yang berada di atasnya dapat melihat sorot mata sedih penuh harap agar dia sadar.
Daun telinga Ezra menangkap isakan istrinya lalu menatap Julie yang menangis sedih. “Julie?”
Tangisan Julie berhasil menyadarkannya. Ezra memegangi kepalanya yang sakit, memejamkan sedikit matanya berusaha menyadarkan diri dari kuasa alkohol.
“Please... stop it ...” rengek Julie masih dengan tangisnya.