Lily menyandarkan tubuhnya di salah satu kursi yang ada di dalam kamar. Dia meregangkan otot sebelum tidur. Pikirannya melayang jauh memikirkan sesuatu.
“Hey, kau belum tidur?” Suara yang terdengar dari ambang pintu memaksa Lily melihat ke arahnya. Dari suaranya dia sudah mengetahui kalau yang menyapanya adalah sang kekasih.
Sejurus kemudian senyum Lily mengembang sebagai reaksi alami ketika menatap sang kekasih yang mulai berjalan masuk ke dalam kamarnya.
“Memikirkan sesuatu?” tanya Keanu yang sudah terduduk di sampingnya. Sorot mata hangat nan meneduhkan selalu terlihat tiap memandangi sang pujaan hati.
“Tidak,” jawab Lily singkat.
Lily bisa menyembunyikan banyak hal dari orang lain, tetapi tidak dengan Keanu. Dari sorot mata wanita itu, dia dapat menangkap ada sesuatu yang sedang Lily pikirkan.
“Kau merindukan orangtua kandungmu?” tebak Keanu sekenanya.
Tidak ada yang dapat menebak atau menerka dengan baik selain Keanu. Memang kekasihnya itu yang paling tahu perasaan dan mimik wajahnya.
“Mungkin.”
“Come here, let me hug you.” Keanu menarik tubuh langsing Lily dalam dekapannya. Seperti biasa, dia memberikan pelukan hangat yang tidak hanya memberi kenyamanan namun keamanan seutuhnya.
Sekali kedip, Lily meneteskan air mata yang sudah tertahan sejak tadi. Tangannya semakin mengerat sesaat memeluk Keanu.
“Jangan terlalu memikirkannya, Lily. Aku tahu kau merindukan mereka. Enam bulan bukan waktu sebentar dan kau akan menemui mereka,” bisik Keanu berusaha menyemangati.
“I know.” Lily menarik diri. Namun dia sudah lebih dulu menghapus air matanya sebelum melihat Keanu.
Keanu dapat menangkap luka dan kesedihan yang amat dalam dari iris hijau milik Lily. Kekasihnya bisa membohongi semua orang karena sudah bersusah payah menutupi luka dan rasa sakit yang melekat, namun tidak dengannya. Keanu selalu menjadi orang yang tahu akan semua rasa yang Lily pendam dalam hati yang terluka, memerlukan kasih sayang seutuhnya dari orangtua kandung.
Keanu memegang kedua sisi wajah Lily sambil menatap lembut.
“Lily, My Love, kau adalah wanita hebat, sabar, kuat, dan masih banyak hal baik pada dirimu yang tidak bisa aku jabarkan. Kau wanita luar biasa yang pernah aku temui, Lily. Tidak ada yang bisa menjalani kehidupan seperti yang telah kau lalui selama ini. Perlu kau tahu, kehidupanmu sangat berarti. Terutama untukku. Aku akan selalu berada di sisimu dan akan selalu begitu selamanya. Aku mencintaimu, Lily Walton.”
Tidak ada pria sebaik Keanu yang dapat memahami, mengerti dan selalu menyemangatinya dalam perasaan sedih yang selalu menjeratnya. Lily mengapai tangan Keanu pada wajahnya lalu menggenggam erat. Tatapan lembut Keanu tidak pernah gagal menggetarkan hatinya. Dia membalas tatapan itu dengan sorot mata penuh binar cinta.
“Aku lebih mencintaimu, Keanu. Lebih dari aku mencintai diriku sendiri. Aku beruntung memilikimu.”
“Justru aku yang seharusnya mengatakan beruntung. Tidak pernah sekali saja kau mengeluhkan semua hidup yang kau jalani pada orangtua kandungmu. Bukannya hebat? Kau selalu tersenyum seolah-olah tidak ada hal yang terjadi. Aku sangat beruntung bersanding dengan wanita luar biasa seperti dirimu, Lily.” Keanu mendaratkan kecupan pada kening Lily, memberikan ciuman hangat yang semakin mempererat ikatan batin mereka.
Lily memejamkan matanya sebentar, merasakan betapa dia merasa aman dan nyaman bersama Keanu. Semua hal yang pria itu tawarkan tiada duanya.
Keanu mengecup hidung Lily sampai akhirnya turun pada bibir sang kekasih. Sementara tangan Keanu masih berada memegang kedua sisi wajahnya, Lily menyentuh d**a bidang Keanu. Ciuman mereka tidak berlangsung lama karena Lily menarik diri lebih dulu akibat mendengar suara teriakan.
“Kau mendengar teriakan itu? Sepertinya Julie berteriak.”
Keanu mengerutkan keningnya. “Teriakan? Aku tidak mendengarnya.”
“Sebentar, di sebelah kamarku kamarnya Ezra kan? Kalau Julie teriak, apakah Ezra melakukan sesuatu? Atau–”
“Biasanya kalau bertengkar, Julie akan berteriak pada Ezra,” potong Keanu.
“Aku takut ada sesuatu. Aku ingin mengeceknya sebentar.”
Tanpa berbicara lagi, Lily segera beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar. Mau tidak mau Keanu mengikutinya dari belakang.
Seketika itu pula Ezra membuka mata, menatap leher Julie yang penuh bercak kemerahan, tubuh bagian atasnya telah terekspos, kancing putus yang berserakan serta tangis yang mengalir membuatnya yakin apa yang telah dia lakukan sebelumnya.
“Julie, i'm sorry...”
Nyaris saja Ezra memaksa Julie b********h dengannya. Untungnya, tangis wanita itu menyadarkan. Ezra menarik diri, dia segera turun dari tempat tidur untuk menjauh. Detik berikutnya tangan dia mengambil kaos lalu segera memakainya.
Ezra mengusap wajahnya kasar. Perasaan bersalah melekat pada saat matanya menatap Julie menangis tanpa jeda. Wanita itu tampak ketakutan, tubuhnya gemetar dalam keadaan berantakan. Karena tidak tega melihat Julie, dia memberanikan diri mengambil jaket miliknya yang tergeletak di atas sofa lalu berusaha menutup tubuh istrinya.
Julie justru menolaknya dan bangkit dari tempat tidur masih dengan tangis yang tak kunjung berhenti.
“Julie, i'm sorry... aku tidak bermaksud...” Ezra mengulurkan tangannya hendak memeluk Julie.
Wanita itu menampar dan mendorongnya. “Don't touch me...” Tangan Julie menarik kemeja yang dia pakai untuk menutupi bagian dadanya.
“Aku minta maaf...”
“Julie, Ezra ada–” Tanpa permisi, Lily segera masuk ke dalam kamar Ezra yang pintunya tidak terkunci. Dia menangkap dua orang berhadapan namun dengan sorot mata penuh kebencian dari salah satunya. Tentu sorot mata itu berasal dari Julie.
Lily tidak tahu apa yang telah terjadi, tetapi sepertinya hal yang sangat tidak biasa telah terjadi di antara keduanya. Terlebih saat matanya menangkap rambut Julie yang berantakan.
“Tolong bawa Julie keluar dari sini Lily,” pinta Ezra setelah menyadari kehadiran sepupunya. Bola matanya hanya melihat Lily, tidak mampu lagi melihat Julie dalam keadaan yang membuatnya bersalah.
Tanpa bertanya lebih jauh, Lily langsung mendekati Julie lalu merangkul wanita yang masih terus menangis sambil menutupi tubuhnya. Air mata baru membasahi air mata yang telah mengering. Tidak lama kemudian keduanya keluar dari kamar Ezra, meninggalkan sang empunya kamar menyesali kebodohannya.
Setelah kepergian Julie bersama Lily, tubuh Ezra merosot jatuh ke lantai lalu memukul lantai berkali-kali dengan kepalannya yang kuat.
Keanu tidak berani bertanya pada Ezra. Dia memilih berdiam diri di ambang pintu sambil memandangi tuannya yang masih melampiaskan kekesalannya.
Andai saja Julie tahu sesuatu tentang Ezra, mungkin wanita itu akan lebih memahami sedikit. Ya, mungkin. pikir Keanu dalam hatinya.
Mentari pagi telah menggantikan malam kelam yang menyebabkan kegundahan pada diri Ezra. Dia tidak bisa tidur nyenyak semalaman perihal kejadian yang masih melekat dalam bayang-bayangnya. Dia masih terbayang Julie yang menangis dengan bagian leher yang memerah akibat ulahnya.
Julie tidak terlihat menampakkan wajahnya ketika semua telah hadir untuk menyantap sarapan. Baik Tim atau Keanu sudah mengetuk pintu kamarnya namun wanita itu menolak untuk keluar. Katanya masih ingin beristirahat.
“Sebenarnya apa yang terjadi semalam, Ez?” tanya Lily ingin tahu. Setelah mengantar Julie, wanita itu bungkam dan hanya menangis. Dia tidak berani bertanya lebih dalam, tetapi matanya tidak mungkin tidak menyadari bekas kemerahan akibat suatu kegiatan yang tercetak pada leher wanita itu.
“Aku hilang kendali semalam,” jawab Ezra. Kalimatnya terhenti hanya sampai di situ.
Tidak perlu cerita mendetail untuk mengetahui maksud kalimat sepupunya. Lily sudah paham.
“Sudah aku katakan padamu, jangan meneguk wine terlalu banyak. Kau lemah jika menyangkut minuman semacam itu.”
Ezra menghela napas kasar bersama anggukan kepala berulang kali. Iya, memang sudah seharusnya dia berhenti meminum minuman beralkohol.
“Sekarang lebih baik kau hampiri Julie dan minta maaf. Dia terpukul sekali semalam,” kata Lily.
Ezra segera pergi berlalu tanpa permisi. Dengan langkah sedikit ragu dan gugup, akhirnya dia tiba di depan kamar Julie. Tangannya menggantung ketika akan mengetuk pintu kamar.
Beberapa menit Ezra diam di tempat. Sampai akhirnya dia mencoba mengetuk pintu kamar Julie.
“Julie, buka pintunya. Kita perlu bicara sebentar.”
Tidak ada jawaban. Padahal Ezra sudah mengetuk dan berteriak dengan keras.
“Kalau kau tidak mau membukanya, aku akan mendobrak pintumu, Julie!” Tidak tahu mengapa kalimat itu lolos begitu saja. “Maksudku kalau kau tidak membukanya, tidak apa-apa. Kita bisa bicara setelah kau bersedia keluar kamar,” ralat Ezra.
Ezra baru akan melangkah pergi, namun suara pintu yang terbuka menggagalkan niatnya. Dia segera berbalik badan dan melihat Julie menunjukkan wajahnya. Perasaan bersalah semakin mendera ketika melihat Julie mengenakan baju yang menutupi lehernya.
“Ada apa?” tanya Julie dingin. Sorot matanya tidak menunjukkan kehangatan.
“Aku ingin minta maaf soal kemarin. Aku benar-benar menyesal Julie,” jawab Ezra. Nadanya melembut bersama tatapan penuh rasa bersalah.
“Tidak perlu membahasnya. Lupakan saja.”
Julie segera menutup pintunya, namun Ezra buru-buru menahannya sehingga Julie tidak jadi menutupnya.
“Aku tidak bisa melupakan begitu saja. Tolong maafkan aku, Julie.”
“Aku sudah biasa mendengar kau menganggapku Violet. Aku hanya bayangan calon istrimu. Apalagi yang harus aku elak dari semua itu? Tidak ada. Jadi kau tak perlu minta maaf.” Nada Julie semakin dingin. Ada getar yang tidak dapat Ezra artikan.
“Tapi kemarin aku benar-benar kelewatan. Aku–”
“Iya, kau memang kelewatan. Menganggap dan memanggilku dengan sebutan Violet. Memaksaku menikah denganmu karena kau tidak ingin sosok Violet pergi dari hidupmu. Secara tidak langsung aku memang bayangan dan mainanmu, Mr. Walton. Aku harus menerima semua itu sejak enam tahun lalu. Sekarang, aku tetap akan memaklumi semua hal yang kau lakukan dengan mengatasnamakan mantanmu itu.”
Ezra tidak pernah melihat Julie sedingin ini. Tidak. Sekali saja tidak pernah dalam enam tahun. Wanita itu penurut dan tidak pernah bersikap begini.
“Julie, aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya dan berhenti memanggilmu begitu. Aku janji–”
“Berhenti? Kau tidak akan pernah berhenti memanggilku begitu. Apa kau memikirkan perasaanku selama ini? Aku kesepian dan selalu sedih. Apa kau tahu hal itu? Apa kau tahu bahwa aku hidup tersiksa dalam fantasi gilamu? Apa kau memikirkan perasaan Ken? Kau tidak memikirkan perasaan semua orang dan mengapa baru akan berhenti sekarang? Lagi pula kau tidak akan pernah berhenti, aku tahu. Sudahlah, kau dan aku tahu obsesimu pada Violet sebesar lautan. Aku memahaminya.” Ada getar kesal bercampur marah dari suaranya.
“Kau marah? Aku menyesal. Aku benar-benar minta maaf, Julie.” Sekali lagi Ezra mencoba membujuk.
“Aku sangat marah dengan semua yang terjadi akibat ulahmu. Seharusnya aku sudah bahagia bersama Ken dan menikmati indahnya mentari pagi bersamanya. Tetapi apa yang aku dapat? Aku hidup dengan pria tak berperasaan yang masih terobsesi dengan calon istrinya yang telah tiada. Aku sudah marah sejak awal kau memaksaku! Aku sudah membenci semua kehidupanku sejak kita menikah! Dan aku sudah membencimu sejak lama! Aku tidak pernah menginginkan kehidupan buruk seperti ini, aku tidak ingin semuanya!"
Semua yang Julie pendam sejak semalam lolos dari mulutnya. Nadanya meninggi dan sorot tajam matanya menandakan keseriusannya.
Ezra diam mematung mendengar semua keluhan Julie. Istrinya sudah sering mengatakannya, namun kalimat kali ini terasa lebih menusuk ke dalam relung hatinya.
“Jangan ganggu aku lagi. Aku butuh istirahat karena hidup denganmu sangat melelahkan!”
Detik itu juga Julie menutup pintunya. Ezra tidak lagi menahannya karena masih terkejut akan semua sikap dan kalimat yang Julie keluarkan. Istrinya begitu meledak-ledak dan sangat emosional sekarang. Tidak seperti biasanya.
Dari jauh Lily menyaksikan kejadian itu. Tangan Keanu menyentuh pundaknya.
“I think you need to tell her.”
“Iya, sepertinya harus. Aku akan memberitahukan padanya nanti.”