Julie duduk di atas pasir kering yang menghamparkan lautan luas. Sejak beberapa jam lalu, dia memilih berdiam diri di sana memandang langit yang mulai gelap karena malam sudah tiba.
Air mata mengalir begitu saja. Berulang kali menangis dan berulang kali pula alasannya hanya satu; dia membenci kehidupannya selama enam tahun belakang.
“Aku tahu bagaimana perasaanmu, Julie.” Lily duduk di samping Julie tanpa meminta persetujuannya.
Julie menoleh ke samping kanan dengan air mata yang belum terhapus. Tidak mungkin Lily tahu apa yang dia rasakan. Apalagi wanita itu terlihat baik-baik saja dalam hidupnya. Anak semata wayang dari keluarga Walton yang kaya raya, ceria, hebat, lantas bagaimana mungkin tahu apa yang dia rasakan?
“Kau tidak tahu. Hidupmu tidak seburuk hidupku. Aku tersiksa begini,” keluh Julie dalam ceritanya.
Lily menarik senyum pahit, seolah-olah senyum itu menjadi awal cerita dari kisah yang tidak semua orang tahu termasuk Julie.
“Tidak ada kehidupan yang mulus Julie. Semua ada celah cacatnya. Karena kesempurnaan pasti akan ada celah di mana kau merasa tidak bahagia.” Tanpa melihat Julie, pandangan Lily mengarah pada langit gelap di atas sana. Bintang tidak begitu terlihat, namun hatinya terasa begitu tenang walau hanya memandang langit.
Julie mulai menghapus air matanya.
“Dulu Ezra depresi berat karena kehilangan Violet. Dia sempat tidak mau bicara hampir sebulan. Dia juga hampir gila karena kepergiannya. Dokter mengharuskannya minum obat penenang setiap depresinya kambuh,” cerita Lily.
“Depresi? Hampir gila?”
“Iya, depresinya berlangsung lama sebelum akhirnya dia menemukanmu.”
Julie terperangah. Jadi ... aku sebagai pengganti obatnya? Setelah menemukanku apa Ezra berhenti meminum obatnya? Dia semakin menatap Lily penasaran.
“Apakah Ezra masih meminum obatnya?”
“Tidak. Dia sudah berhenti sejak melihatmu. Dia cerita padaku kalau sudah menemukan Violetnya,” jawab Lily. Belum sempat Julie bertanya, Lily kembali melanjutkan. “Cintanya pada Violet terlalu besar sehingga dia jadi terobsesi pada sosoknya. Maka dari itu, karena kau memiliki wajah yang mirip dengannya dia selalu menganggap begitu. Aku harap kau mengerti dan bersabar. Ada waktunya Ezra benar-benar berhenti menganggap kau Violetnya.”
Berhenti? Hal itu tidak mungkin terjadi. Ezra sudah kelewat obsesi dengan Violet. Mustahil pria itu akan berhenti. Sampai bumi terbelah pun, tidak akan terjadi. Hanya mukjizat yang mungkin dapat menyadarkan. Dia sangat yakin tentang hal itu.
“Enam tahun sudah berlalu, Lily. Aku membuang waktuku bersanding dengan Ezra. Semua tentangnya saja aku tidak tahu. Soal depresi, soal mengapa kita di sini, terlalu banyak rahasia yang tidak aku ketahui tentangnya. Aku menikahi pria asing yang tidak pernah membahas topik apa saja denganku. Penjelasanmu cukup membantu namun aku tetap menyesali keputusan bodohku bersedia menikah dengannya.” Nada Julie terdengar meninggi. Ada luapan dari kekesalan yang masih belum keluar sepenuhnya.
“Perlahan kau akan mengetahui semua tentang Ezra. Kalau kau menganggap hidupmu buruk, lantas bagaimana dengan seorang anak yang kehadirannya disembunyikan oleh orangtuanya? Bukannya hal itu lebih menyakitkan, Julie? Aku rasa banyak permasalahan yang lebih berat di luar sana dan mereka tetap menjalani semuanya dengan baik.”
Secara tidak langsung Lily membicarakan hidupnya sendiri. Dia hidup dalam kepalsuan sebagai identitas lain, bukan sebagai nama yang ibu kandungnya berikan. Juga, dia harus menjadi sosok lain yang semua orang kenal, bukan sebagai anak kandung orangtuanya. Sakit dan luka sudah menjadi makanan Lily selama tiga puluh tahun lamanya. Dua rasa itu tidak akan pergi sejak orangtua kandungnya meminta Wyle mengadopsinya. Tidak akan pernah dia lupakan sedikit saja dua bagian dalam hidupnya; ditinggalkan dan dibiarkan. Belajar dari luka yang tidak bisa hilang, dia berusaha menjadi sosok yang kuat. Dia menutupi semua itu dengan senyuman palsu dan mencari pekerjaan yang keras untuk meluapkan rasa sakit yang terpendam.
Lily tidak mau membeberkan kisahnya pada Julie. Karena biarlah semua ceritanya hanya Ezra, Keanu, ibunya dan pihak keluarga Ackles angkatan ayahnya saja yang tahu.
Julie bertanya-tanya bingung mengenai maksud ucapan Lily.
Tangan Lily menyentuh pundak Julie lalu mengusapnya pelan. “Bersabarlah Julie. Sepupuku pasti akan mengingatmu sebagai Julie, bukan Violet. Entah kapan, yang pasti hal itu akan terjadi. Percaya padaku.” Lily berdiri dan membersihkan sisa pasir yang menempel pada bagian belakang celananya. “Aku masuk ke dalam ya. Jangan terlalu lama di luar kau bisa sakit terkena angin laut,” tambahnya.
Kepergian Lily meninggalkan Julie sendirian di tengah gelapnya malam dan derasnya ombak laut. Julie tidak beranjak pergi, dia masih ingin menikmati angin sepoi yang menyapa.
Julie memejamkan matanya merasakan hembusan angin yang menusuk kulit. Tubuhnya merasakan sesuatu yang hangat. Kontan dia membuka mata, menyadari jaket berwarna hitam menutupi tubuh bagian sekitaran bahunya.
“Jangan terlalu lama di sini, Julie. Kau bisa sakit. Ayo kita masuk.”
Tanpa mau menoleh, Julie sudah mengetahui pemilik suara yang tidak lain adalah suaminya. Dia nampak tidak peduli.
“Kau masih marah padaku, Julie?”
Untuk kedua kalinya Julie tidak menjawab. Pandangannya tidak beralih menatap Ezra yang berdiri tepat di belakangnya.
“Aku tidak suka diabaikan.”
Tanpa aba-aba, Ezra melingkarkan tangannya pada sekitaran pinggang dan bagian belakang lutut Julie. Dia menggendong tubuh istrinya yang menyebabkan pekikan keras terdengar.
“Turunkan aku b******k!” Julie berontak, mendaratkan tamparan pada wajah suaminya berulang kali setelah Ezra membawanya pergi.
“Aku akan membawamu ke kamarku dan kita akan melakukan apa yang tertunda kemarin kalau kau masih berontak,” tegas Ezra. Sorot mata tajam turut mengisi ekspresi seriusnya.
Julie langsung diam. Dia menatap tajam Ezra dengan rasa bercampur aduk. Kesal, marah, benci, semua menjadi satu kesatuan yang sempurna.
“Mulai besok dan seterusnya kita tidur sekamar,” ucap Ezra yang menyebabkan Julie terbelalak kaget.
“Kau gila?! Aku tidak mau!” tolak Julie. Setelah enam tahun mereka tidur terpisah lantas mendadak Ezra ingin satu kamar dengannya? Apa karena kemarin sudah melihat tubuhnya lalu Ezra menginginkan hal yang lebih?
“Kau istriku dan sudah sepantasnya kita satu kamar. Tidak ada yang salah dengan hal itu, Mrs. Walton.”
Dalam hatinya Ezra sedang berdebat, mempertanyakan mengapa dia mengatakan kalimat yang tidak sepantasnya keluar. Bukan karena dia menginginkan tubuh Julie, bukan. Entah apa alasannya, Ezra sendiri kesulitan mencari tahu mengapa mulutnya berkata demikian.
“Aku tetap tidak bersedia!”
Ezra menghentikan langkahnya. Dia menatap Julie yang juga menatapnya. Kegigihan Julie patut dia beri nilai seratus. Tetapi, dorongan yang entah darimana tetap memaksanya untuk membuat Julie satu kamar dengannya.
“Kejadian kemarin karena pengaruh alkohol. Tidak perlu panik. Aku tidak akan menyentuhmu walau seinci saja. Tidak ada bantahan atau menolak.”
Julie rasa Ezra bukan hampir gila, tetapi memang gila! Sebelumnya Ezra minta maaf merasa bersalah, sekarang nadanya kembali tegas dan dingin seolah-olah tidak ada kejadian yang terjadi antara mereka. Sungguh, Ezra manusia paling rumit dengan pemikiran tidak tertebak yang pernah dia temui.
Ezra memang harus pergi mengecek kejiwaannya!
Julie masih meringkuk di atas tempat tidur. Dia malas untuk turun dari sana. Tubuhnya lemas dan mudah menggigil. Suhu tubuhnya terasa panas. Napas yang keluar ikut terasa panas. Matanya tidak sanggup terbuka walau sedikit saja.
“Julie, ayo kita makan. Suamimu sudah menunggu.” Lily sudah berada di dekat Julie. Dia masuk tanpa permisi karena pintu tidak terkunci.
“Aku malas,” sahut Julie parau.
“Malas? Julie kau tidak boleh–” Tangan Lily mendadak terhenti setelah merasakan suhu tubuh Julie terasa panas. Padahal niatnya untuk menarik selimut, ternyata mengetahui hal lain.
“Tim, tolong beritahu Ezra kalau Julie sakit.” Lily setengah berteriak memberitahu Tim yang berada di depan pintu kamarnya.
“Baik, Nona.”
Lily membenarkan tata letak selimutnya dan kembali menyentuh kening Julie. Panas sekali. Untuk pergi ke rumah sakit cukup jauh dari sini.
“Julie, aku akan membuatkanmu bubur ya. Tunggu sebentar disini.”
Bertepatan Lily yang akan meninggalkan Julie, sepupunya datang dengan langkah setengah berlari. Wajah Ezra terlihat khawatir.
“Julie sakit?” tanya Ezra pada Lily mencoba meyakinkan kabar yang Tim sampaikan padanya.
“Iya. Dia sakit. Sepertinya karena terlalu lama diam merasakan angin laut yang dingin. Aku akan membuatkan bubur. Kau tunggu di sini. Temani istrimu,” jawab Lily yang kemudian pergi berlalu melewati Ezra.
Ezra segera duduk di tepi tempat tidur. Dia menyentuh kening Julie untuk memastikan seberapa panas suhu tubuhnya.
“Tim, tolong ambilkan tempat dan isi dengan air dingin. Jangan lupa bawakan kain bersih,” pinta Ezra yang kemudian Tim segera menjalankan perintahnya.
Ezra menghela napas tidak tenang. Tangannya mengusap kepala Julie yang tampak begitu lemah. Bibirnya pucat, begitu pula wajahnya.
“Cepat sembuh, Julie.”
Ezra duduk terdiam beberapa menit sebelum akhirnya mencondongkan tubuh lalu mendekatkan wajahnya pada wajah lemah Julie.
Selanjutnya, apa yang terjadi hanyalah Ezra yang tahu.