“Ryvero Walton?” Suara tersebut hadir bersama tubuh seorang wanita dan seorang pria menghadang Ryvero yang hendak masuk ke dalam mobilnya.
Ryvero mengerutkan dahinya dan bertanya, “Yes, it's me.”
“We need to talk. It's about Terry Connor.”
“Who is that? Aku tidak mengenalnya.”
“Terry Connor alias Ezra Walton,” lanjut wanita itu sambil mengambil lencana miliknya.
“What? Aku tidak mengerti maksudmu.” Ryvero tidak paham. Mengapa ada nama alias segala dari yang wanita itu sebutkan mengenai kakaknya?
“That's why we need to talk,” tambah seorang pria yang berada di sebelah wanita yang sempat menjelaskan keperluan mereka pada Ryvero.
“I beg you pardon, who are you?” Ryvero mulai bertanya-tanya.
“CIA. Agent Miller.” Seorang wanita berparas cantik itu menunjukkan lencananya.
“Agent Rodriguez,” sambung seorang pria berwajah rupawan dengan brewok pada sekitar dagunya. Pria itu juga menunjukkan lencananya pada Ryvero.
“Wait–CIA?” Ryvero semakin bingung. Mengapa agent CIA mempertanyakan kakaknya?
“Ya, CIA.” Agent Miller mempertegas bersama sorot mata tegas miliknya. Tidak ada keraguan.
Ryvero memutar otak. Dia mengetahui kakaknya memang bukan berkewarganegaraan Inggris, melainkan Amerika. Semenjak bangku Sekolah Menengah Pertama, kakaknya menetap di rumah Uncle-nya, Wyle. Maka dari itu, Ezra sangat dekat dengan Lily, mengingat mereka tinggal bersama. Sebelum akhirnya Ezra memutuskan tinggal sendiri setelah bekerja. Tetap tinggal di Amerika, kecuali bagian di mana saat Ezra mengajak Violet pulang ke Inggris dan kejadiaan naas itu terjadi. Sampai detik ini pun, Ezra masih warga negara Amerika bukan Inggris seperti dirinya.
Ada masalah apa kakaknya sehingga CIA mempertanyakan? Apalagi dengan nama Terry siapa tadi yang dia dengar. Dengan sedikit ragu bercampur rasa penasaran, Ryvero mengangguk, bermaksud bersedia menuruti permintaan kedua agen federal Amerika Serikat itu.
Ken mendatangi sebuah bar, tempat dia bertemu dengan Julie. Dia duduk di depan meja bar sambil meneguk minumannya. Matanya berkeliling sementara tubuhnya mematung pada satu tempat.
“Rosie?” panggil Ken setelah melihat seorang wanita berambut blonde melewati tubuhnya.
Wanita itu menoleh ke samping kiri, nampak terkejut atas kehadiran Ken. “Kennedy?”
Wanita cantik bermata hazel itu mengerutkan dahinya merasa heran, nyaris mempertemukan alis tipisnya setelah menyadari sosok Ken. Tentu dia mengenal Ken, mantan tunangan sahabatnya–Julie.
“Apa yang kau lakukan di sini? Sudah lama tidak bertemu denganmu,” tanya Rosie setelah menghentikan langkahnya.
“Aku ingin menanyakan sesuatu. Apa kau sibuk? Boleh bicara sebentar?” jawab Ken lalu bertanya balik.
“Tidak. Kebetulan aku hendak ke luar untuk istirahat. Menanyakan tentang apa? Julie?” tebak Rosie seiring senyum yang terukir sempurna.
Ken mengangguk. Ternyata wanita itu sudah tahu maksud kedatangannya.
“Kita bisa bicara di sini atau... kau mau pergi ke tempat lain?”
“Di luar saja. Di sini terlalu bising.”
“Baiklah, ayo kita pergi.”
Tidak lama setelahnya Ken berjalan berdampingan dengan Rosie, pergi dari sana menuju tempat lain yang akan menjadi tempat persinggahan mereka.
“Dimana Dimitri? Kau sudah tahu keberadaannya?” Seorang pria bersetelan jas serba hitam bertanya pada salah satu kepercayaannya–Rim.
“Dia sedang mengejar Ezra, Tuan,” jawab Rim sambil menunduk sedikit, tidak berani menatap mata bosnya.
“Mengapa Ezra belum mati sampai detik ini?! Dimitri payah sekali!”
Gebrakan pada meja tidak terhindarkan. Suaranya sangat keras akibat tangan yang mengepal sempurna.
“Ada pembunuh bayaran yang membantu Ezra, Tuan. Namanya Lily,” jelas Rim.
“s**l! Kalau begitu aku ingin pembunuh bayaran terhebat ikut serta dalam memusnahkan Ezra! Cari pembunuh bayaran termahal, terhebat dan paling handal! Kalau perlu yang mampu mengalahkan Lily juga!” Pria itu membersihkan seluruh barang yang ada pada meja, menjatuhkannya hingga menimbulkan bunyi 'prang!'.
Rim mundur selangkah ketika semua barang pecah belah hancur menyentuh lantai. Dia tetap menunduk sampai beberapa menit setelahnya baru berani menaikkan sedikit wajahnya. Dia menatap ngeri bercampur takut.
“Tuan, saya mengenal dua pembunuh bayaran yang anda inginkan. Saya jamin mereka mampu mengalahkan Ezra maupun Lily. Salah satunya pernah hampir membunuh Lily.”
“Kalau begitu tunggu apalagi?! Cepat pekerjakan mereka berdua dan suruh musnahkan Ezra secepatnya!!”
“Baik, Tuan. Saya laksanakan sekarang juga.”
Rim mundur lagi. Kali ini untuk pergi meninggalkan bosnya yang masih mengamuk tidak jelas. Mengomel sendiri dengan raut wajah yang menyeramkan. Tangannya sesuka hati melempar barang, tidak peduli mahal, pecah belah atau apapun itu.
“Aku akan membuatmu mati secepatnya, Ezra!”
Sudah seharian penuh Ezra menemani Julie tanpa beranjak dari kamar walau sedetik saja. Dia tidak henti-hentinya menaruh punggung tangan pada kening Julie, memastikan istrinya sudah membaik. Mengusap, mengecup lalu menggenggam tangan Julie menjadi kegiatan yang sedang Ezra lakukan seharian ini. Biasanya wajah itu menunjukkan raut dingin, datar dan terlihat tak berperasaan. Semua mendadak berubah. Sekarang rautnya khawatir dan tidak tenang. Termasuk perasaannya.
“Di-di-dingin...” racau Julie samar-samar. Ezra tidak bisa menangkap maksud yang Julie katakan.
“Dingin...” Julie mengatakan dengan jelas untuk kedua kalinya.
“Dingin? Kau kedinginan?”
Tidak ada pendingin ruangan. Pintu menuju pantai juga tertutup rapat. Kening Julie mengeluarkan peluh yang deras. Wanita itu sedang mengalami panas dingin. Ezra menghapus peluh pada kening Julie dengan tisu yang sudah Lily sediakan sebelumnya.
“Tunggu sebentar ya, aku akan mengambilkan jaket dan selimut lebih banyak lagi untukmu.” Ezra mengusap kepala Julie sebentar sebelum akhirnya beranjak pergi mengambilkan barang yang dia sebutkan.
Dengan langkah setengah berlari, Ezra pergi ke luar kamar Julie mengambil jaket sekaligus selimut yang ada dalam kamarnya. Sesudahnya dia segera memakaikan pada Julie.
Ezra menyelipkan tangannya pada bagian punggung Julie, berusaha menarik tubuh wanita itu pelan-pelan agar setengah duduk. Setelahnya dia memakaikan jaket yang dia punya pada Julie dan memasukkan kedua tangan istrinya pada jaket yang kebesaran. Selimutnya membalut seluruh tubuh Julie sehingga wanita itu terlihat seperti roti gulung. Kemudian Ezra merebahkan kembali tubuh Julie yang masih begitu lemah.
Jaket dan selimut yang tebal, tak cukup menghilangkan rasa dingin yang Julie rasakan. Ezra semakin khawatir. Kalau begini terus, esok hari dia harus membawanya ke rumah sakit. Apalagi Julie belum makan seharian ini karena wanita itu menolaknya.
Secepat kilat, Ezra merangkak naik ke atas tempat tidur. Dia kembali menarik tubuh Julie agar terduduk dengan cara yang halus. Dia melepas seluruh selimut lalu menarik tubuh Julie, memeluk dalam dekapannya.
Konon katanya jika seseorang kedinginan maka hal pertama yang dilakukan adalah memeluk. Karena hal itu dapat menghangatkan jantung orang tersebut.
Ezra menumpuk bantal yang ada, menyandarkan tubuhnya sambil memeluk Julie dalam dekapannya. Dari jarak sedekat ini, Ezra dapat merasakan deru napas Julie, detak jantungnya, suhu tubuh yang panas bercampur gemetar karena kedinginan. Semua terasa begitu aneh. Ini pertama kalinya dia mengkhawatirkan Julie sampai hatinya tidak tenang.
Ezra tidak tinggal diam hanya memeluk Julie untuk lebih menghangatkan tubuh wanita itu. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan Julie. Tangannya bergerak, menyentuh kepala Julie lalu mengusapnya sambil berbisik dengan nada menenangkan, “Bertahanlah, Sayang. Everything is gonna be alright. Aku ada di sini untukmu.”
Dalam keadaan sadar, Ezra mengeratkan pelukannya pada Julie. Pelan-pelan, tubuh Julie mulai menghangat bersama pelukan yang Ezra berikan.