Mentari menyapa pagi yang cerah. Julie membuka kelopak matanya secara perlahan. Matanya disuguhkan oleh keindahan wajah tampan sang suami. Entah sejak kapan tangannya melingkar pada tubuh Ezra, memeluk pria itu. Dia juga merasakan tangan Ezra yang memeluk tubuhnya. Aneh rasanya ketika dia merasakan kehangatan dari seorang Ezra Walton. Semua urutan kejadian mulai dari minum obat sampai tubuhnya menggigil, dia ingat Ezra melakukan apa saja untuknya. Matanya memang tidak sanggup terbuka, tetapi tubuhnya merasakan.
Julie menarik tangannya pelan-pelan, dia tidak mau membangunkan Ezra yang masih tertidur. Bola matanya bergerak, memerhatikan wajah Ezra yang menyimpan segudang rahasia. Banyak cerita yang tidak dia ketahui tentang suaminya. Namun dalam keadaan dia sakit, ternyata Ezra bisa menjadi sosok baik hati dan hangat.
Kalau di perhatikan, Ezra memang tampan. komentar Julie dalam hatinya mengakui. Sayang sikapnya menyebalkan.
Brewok yang tumbuh rapi, hidung mancung, alis tebal, bibir tipis, semua menjadi ciri khas seorang Ezra. Jemari Julie bergerak ingin menyentuh wajah Ezra namun akhirnya dia urungkan niat itu, takut Ezra terbangun. Dia memilih diam dan menikmati ketampanan wajah Ezra dengan bola matanya saja.
Semenit, dua menit, tiga menit, lama-lama menit itu berlalu menjadi lima belas menit. Selama itu Julie hanya memerhatikan wajah Ezra tanpa mau membangunkan suaminya. Telinganya yang bersandar pada d**a bidang Ezra dapat mendengar detak jantung suaminya.
Tidak lama kemudian, Ezra membuka kelopak matanya. Dia menyadari Julie tengah memerhatikannya. Dia tidak mengatakan apa-apa, tangannya langsung menyentuh kening Julie untuk memastikan bagaimana kondisi istrinya hari ini.
“Demam mu sudah turun. Tunggu ya, aku akan membawakan makanan sebentar. Mungkin pihak penginapan sudah membuatkannya,” kata Ezra seraya menarik tangannya.
“Jangan kemana-mana. Aku takut ...” Julie melarang.
“Takut? Kenapa? Tidak ada apa-apa di sini, Julie.”
“Semalam aku mimpi buruk. Aku jadi merasa takut. Pokoknya jangan kemana-mana dulu, temani aku di sini.” Suara Julie terdengar merengek dan sorot matanya terkesan memohon supaya Ezra mengabulkan permintaannya. Semalam dia bermimpi dirinya mati tertembak. Biasanya tidak pernah bermimpi seburuk itu.
“Baiklah, aku akan menemanimu. Aku akan meminta Lily membawakan makanan.” Ezra mengusap kepala Julie, wanita itu mendongak dengan anggukan yang dia tunjukkan. Baru kali ini Ezra melihat Julie begitu manja.
Tiba-tiba, Ezra tersenyum ketika tangannya masih mengusap kepala sang istri. “Tidak perlu takut, mimpi hanya sebatas mimpi. Aku ada di sini, Julie."”
Julie tertegun sejenak melihat senyum menawan yang Ezra tawarkan. Anehnya hati dia menghangat selama pria itu mengusap dan memberikan kehangatan dengan caranya sendiri. Yang tidak dia mengerti ketika tangannya justru mengeratkan pelukannya pada tubuh Ezra.
Ezra meraih ponselnya yang berada di atas nakas, mengirim pesan pada Lily untuk membawakannya makanan. Dia membiarkan Julie memeluk sebelum makanannya tiba. Setelah selesai, dia menaruh kembali ponselnya di atas nakas lalu mengusap kepala Julie yang nampak tertidur lagi.
Ezra merapikan rambut panjang Julie yang terurai berantakan. Merapikan dan menyisipkan beberapa helai rambutnya yang mengganggu mata untuk memandangi keindahan wajahnya.
“Cepatlah sembuh, karena aku ingin mengajakmu pergi ke Portland seperti janjiku sebelumnya,” bisik Ezra. Sedetik kemudian Julie merespons, “Ada apa di Portland?”
Julie berusaha tidur kembali namun usahanya gagal karena Ezra menyebutkan liburan.
“Ada banyak hal. Kalau kau mau tahu, makan dan minum obat supaya lekas sembuh,” jawab Ezra. Biasanya nada bicara itu terdengar dingin, namun kali ini lebih hangat.
“Bukannya Portland tempat syuting film Fifty Shade of Freed? Kalau pergi ke tempat yang menjadi lokasi syuting Mr. Grey, aku mau kesana.” Kelopak mata Julie terbuka, dia mendongak sedikit melihat Ezra yang juga melihatnya.
“Kau menyukai film seperti itu?”
“Sedikit. Mr. Grey definisi pria seksi yang mampu membangkitkan gairah siapa saja. Aku yakin semua wanita di luar sana menyukainya.”
Ezra tertawa menarik kedua sudut bibirnya menciptakan senyum penuh rahasia. Padahal kemarin Julie terlihat lemah dan tidak banyak bicara. Ketika sudah membaik justru semakin cerewet. Baru kali ini dia membahas perbincangan yang menurutnya tidak terlalu penting.
“Kenapa kau tersenyum? Kau baik-baik saja, Mr. Walton?”
“Aku baik-baik saja. Aku minta maaf.”
“Minta maaf untuk apa?” Julie menatap bingung.
“Maaf tidak bisa menjagamu tetap sehat. Kau jadi sakit dan terbaring lemah seperti ini.” Ezra mengusap pipi Julie dengan ibu jarinya. Lembut. Hangat.
Sorot mata meneduhkan yang tidak pernah Ezra tunjukkan, sekarang bisa Julie lihat dengan matanya. Dia tertegun nyaris menganga merasakan semua kehangatan yang Ezra berikan padanya.
“Kau mau kan memaafkan aku?”
“Tidak sebelum kau memberitahuku mengapa kita menetap di sini, mengapa ada baku tembak selama aku bersama Lily dan masih banyak hal yang belum kau ceritakan. Aku menginginkan jawaban itu.”
Ezra menarik senyum tipis. Sangat tipis seolah tidak menunjukkan. “Ada saatnya aku memberitahumu, Julie. Jangan terlalu memikirkan banyak hal sekarang, kau harus sembuh lebih dulu. Portland menunggumu, Mrs. Walton. Istirahatlah.” Cubitan pelan pada hidung Julie mengakhiri kalimatnya.
Semua yang Ezra tunjukkan, tidak henti-hentinya meninggalkan keheranan pada Julie. Hari ini, Ezra bersikap selayaknya seorang suami untuknya. Berbincang membahas hal lain yang tak pernah mereka lakukan selama enam tahun. Pria berambut kecoklatan itu menunjukkan sisi lain yang tidak pernah Julie dapatkan darinya.
Ezra mengambil ponselnya kembali sementara Julie masih memandanginya tanpa berkedip karena masih merasa aneh.
“Ez?” panggil Julie berusaha mengusik kegiatan Ezra yang sedang mengetik entah pesan singkat atau apa itu.
“Hm? Kenapa belum tidur?” Ezra melirik Julie sedikit lalu kembali melihat layar ponselnya. Sementara tangan satunya tetap melingkar pada tubuh sang istri.
“Apakah aku benar-benar mirip dengan Violet? I mean... mungkin seperti anak kembar?”
Pertanyaan itu sukses mengalihkan pandangan Ezra dari ponselnya untuk waktu yang lebih lama. “Tidurlah. Tidak usah mempertanyakan hal semacam itu. Kesehatanmu lebih penting dan kau harus istirahat.”
Dalam keadaan sakit, pikiran Julie justru tertuju ke sana. Memikirkan bagaimana rupa Violet yang membuat Ezra nyaris gila. Ah, tetapi dia harus menghentikan sebelum Ezra mengamuk dan menerkamnya seperti waktu kemarin.
“Baiklah.”
Akhirnya Julie terdiam. Sedangkan Ezra kembali menatap layar ponsel, mengetik sesuatu yang dia kirimkan pada temannya di luar sana.
Kau tidak perlu tahu apapun, Julie.
Fajar turun, munculah rembulan yang menerangi. Gemerlap bintang sedikit memancarkan keindahannya di atas sana. Julie turun dari tempat tidurnya. Demamnya mulai membaik meski tubuhnya masih sangat lemah. Kepalanya masih sakit, hanya saja dia ingin keluar kamar, bosan tiduran sepanjang hari.
Sebelumnya Ezra pamit untuk mandi sebentar. Pria itu menyuapi dan menemani sepanjang hari. Dia sempat menolak minum obat, tetapi Ezra tetap memaksa sampai akhirnya dia bersedia meminumnya. Reaksi obat itu berhasil untuk sekarang, tidak tahu kalau hari semakin malam.
Niat Julie melangkah lebih jauh, menuju ruang tamu, sayang kakinya berhenti di depan kamar suaminya. Dia sedikit mengintip ketika melihat pintunya terbuka. Kesempatan emas ini dia gunakan untuk memasuki kamar suaminya. Julie semakin berjalan masuk. Dia melangkah lebih jauh sampai kakinya berhenti di depan tempat tidur.
Bunyi pintu terbuka terdengar dan Julie refleks melihat ke arahnya.
Keindahan duniawi ada di hadapannya. Ezra keluar bertelanjang d**a mengenakan handuk yang melingkar pada sekitar pinggangnya. Perut six pack bagai bongkahan coklat terbentuk sempurna. Pada bagian dadanya juga membentuk keindahan yang menggiurkan. Sisa air yang berjatuhan karena rambut basahnya menambah kesan seksi yang luar biasa. Wajah dingin penuh ketegasan itu menatap Julie seraya berjalan mendekat.
Walau tubuh Ezra tidak segagah dan ototnya tidak sekekar milik Ken, tetapi bisa dikatakan Ezra punya daya tarik tersendiri. Siapa saja yang melihat tatapan Julie ketika menatap tubuh suaminya akan mengatakan bahwa wanita itu mengagumi keindahan yang tersuguhkan.
“Kenapa kau tidak tidur? Sudah aku katakan tubuhmu butuh istirahat.” Ezra mengeringkan rambutnya, menunjukkan ketiak yang menumbuhkan bulu-bulu kecil namun tidak terlalu lebat.
Ezra kelihatan seksi. Ya ampun…. jerit Julie dalam hatinya.
“Aku tidak mau tidur. Aku butuh udara segar. Kepalaku pusing kalau tidur terus.”
“Teori darimana? Kau tetap harus istirahat, Julie. Tidak ada alasan.”
Ezra melempar handuk kecil yang dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya ke atas tempat tidur. Secara tiba-tiba, dia menggendong tubuh Julie yang menimbulkan pekikan kecil dari istrinya.
Julie refleks mengalungkan tangannya pada sekitaran leher Ezra. Dia menatap Ezra yang terlihat tidak peduli seandainya dia protes. Nyatanya dia tidak melakukan hal tersebut dan mengikuti keinginan suaminya. Dalam dekapan suaminya, Julie bisa mencium aroma wangi tubuh Ezra yang menyeruak. Wangi maskulin yang menggoda.
Tidak lama setelah berjalan keluar, Ezra kembali merebahkan tubuh Julie di atas tempat tidurnya. “Jangan turun dari tempat tidur dulu. Kondisimu belum membaik, Julie.”
Julie mengerucutkan bibirnya. Terpaksa dia menarik selimut dan memunggungi Ezra yang sudah pergi keluar dari kamarnya.
Beberapa menit kemudian, Ezra kembali lagi ke kamar Julie, sudah mengenakan pakaian lengkap. Dia melihat Julie gerasak-gerusuk di atas tempat tidur. Bolak-balik tampak tidak tenang.
“Aku bosan!” keluh Julie kesal. Dia menepuk tempat tidur dengan kasar.
Entah sudah berapa kali Ezra tersenyum hari ini karena Julie, yang pasti dia tersenyum lagi sekarang. Dia merangkak naik ke atas tempat tidur, ikut tiduran di samping Julie lalu menarik pinggang istrinya.
“Apa yang kau lakukan?” Julie berusaha melepas tangan Ezra dari pinggangnya.
“Menemani dan mendengarkan semua ceritamu. Ceritakan tentang apa yang kau suka agar aku mengetahuinya.”
“Aku ingin menonton, tidak mau bercerita,” tolak Julie masih dengan wajah cemberutnya.
“Nanti kepalamu sakit kalau menonton terlalu lama. Lebih baik ceritakan tentang dirimu. Makanan, warna, bunga, semua kesukaanmu. aku ingin tahu lebih banyak tentangmu, Istriku.”
Belaian demi belaian mampir pada kepala Julie. Wanita itu tertegun memandangi Ezra yang begitu berbeda sejak pagi tadi. Julie juga merinding mendengar Ezra menyebut 'istriku'. Pertama kalinya pria itu berkata begitu. Dia menaruh punggung tangannya pada kening Ezra, memastikan apakah pria itu sakit atau dirinya yang sedang bermimpi. Ezra baik-baik saja atau jangan-jangan aku yang sedang bermimpi? Masa mimpinya tentang manusia berhati baja ini?
“Aku baik-baik saja, Julie. Apakah salah kalau seorang suami ingin mengetahui banyak hal tentang istrinya? Selama enam tahun aku tidak tahu tentangmu. Aku bahkan tidak tahu warna kesukaanmu.” Ezra menarik tangan Julie dari keningnya lalu mengunci tubuh Julie semakin erat dalam dekapannya. Dia menunduk sedikit ketika Julie mendongak melihatnya. “Mulai sekarang aku akan lebih banyak membahas tentang kita. Aku ingin mengenal lebih jauh tentang istriku, kalau perlu melebihi Ken.”
Julie melongo mendengar perkataan terakhir suaminya. Oke, sepertinya dia benar-benar bermimpi. Tidak biasanya Ezra bersikap seperti sekarang. Kehangatan, perhatian, semuanya masih terasa asing untuknya.
“Jangan mengatakan apa-apa lagi. Aku ingin tidur saja.” Julie buru-buru memejamkan matanya. Siapa tahu dengan tidur, dia bisa melihat Ezra yang bersikap seperti biasanya. Bukan Ezra versi baru dengan penuh kehangatan.
“Ya, kalau begitu tidurlah. Aku ada di sini bersamamu,” bisik Ezra yang kemudian sedikit melonggarkan pelukannya pada Julie. “Sleep well, Julie.”
Julie tidak terkejut atas kalimat selamat tidur itu, dia lebih terkejut ketika Ezra mendaratkan kecupan pada puncak kepalanya. Meski tidak melihat secara langsung tetapi dia dapat merasakannya. Anehnya dia tidak mau protes. Dia justru membiarkan. Julie memaksakan diri untuk tidur agar besoknya dia tahu bahwa semua hanya sebatas mimpi yang tidak terduga. Ezra turut ikut memejamkan matanya.
Lily yang baru akan memasuki kamar Julie langsung mengurungkan niatnya. Saat dia mengintip, dia melihat dua orang itu sedang berpelukan di atas tempat tidur dengan mata terpejam. Pemandangan langka yang Lily baru lihat setelah sekian lama. Lily langsung beranjak pergi sambil tersenyum senang.