Secerah mentari pagi seperti raut wajah Ezra sekarang. Pagi ini, dia membuka mata dengan senyum lebar yang tertarik sempurna. Mata biru Ezra memandangi Julie yang tertidur sambil memeluk tubuhnya.
Biasanya setiap malam Ezra akan mengalami mimpi buruk, mengingat tiap kecelakaan yang terjadi bersama Violet. Anehnya dua hari ini tidak. Semua bayangan akan Violet seolah hilang. Dia melihat Julie bagai utusan Violet yang sudah hilang bersama debu. Wajah mereka yang mirip itu seringkali mengingatkan Ezra pada Violet.
Dua wanita itu memang sama secara fisik, namun ada hal dalam diri mereka yang memiliki kesan tersendiri sebagai nama yang berbeda. Violet yang lemah lembut, pandai bernyanyi, dewasa, pengertian, berbanding terbalik dengan Julie yang lebih keras kepala, agak manja, suka marah, dan suaranya nyaris mendekati kata 'nyaring'.
Tangan Ezra membelai wajah Julie. “Mengapa kalian berdua begitu mirip?”
Ezra terdiam sebentar. Selang semenit, dia mempererat pelukannya.
Dalam dekapan Ezra, wanita itu sudah terbangun. Niat untuk membuka kelopak mata dia urungkan setelah Ezra menyebutkan kata ‘kalian’. Dia segera mengetahui maksud suaminya. Siapa lagi yang mirip selain dirinya dengan calon istri Ezra yang telah tiada? Tidak ada.
Apakah Ezra segila itu mencintai Violetnya?
Julie terduduk di atas tempat tidur. Ezra melarangnya menonton dan tidak boleh turun dari tempat tidur. Semua terkesan tidak baik untuknya. Katanya semua Ezra lakukan supaya dia cepat pulih. Pada akhirnya dia jadi bosan.
Ezra sedang pergi keluar. Yang pasti ini menjadi kesempatan emas untuk Julie. Matanya melirik ponsel Ezra tergeletak di atas nakas. Julie langsung mengambilnya. Dia ingin menghubungi Ken, bercerita pada pria itu tentang Ezra yang sikapnya seperti bunglon. Sebentar dingin, sebentar hangat, sebentar mengingat Violet, sebentar lagi tidak. Julie tidak dapat menebak Ezra. Sikap pria itu bagaikan hembusan angin yang tidak dapat dia prediksi.
Julie membuka ponsel Ezra yang tidak terkunci oleh enskripsi apapun. Mungkin terkesan lancang, tetapi Julie tidak peduli. Toh, Ezra suaminya. Dia melihat galeri Ezra untuk mencari tahu seperti apa wajah gadis yang suaminya cintai. Dia menemukan satu galeri bertuliskan 'My Violet'. Ada sekitar lima ribu foto di sana.
Ketika membuka galeri itu, Julie terperangah. Dia melihat wajah cantik bernama Violet sungguh mirip dengannya. Perbedaan terletak pada warna mata dan bentuk hidung mereka. Bagaimana bisa rupa wanita yang akan Ezra nikahi dulu begitu mirip dengannya? Bagai anak kembar identik. Dia seperti kembaranku.
Julie menekan tombol play pada salah satu video yang ada di antara banyaknya foto. Dia melihat Violet menoleh ke belakang, tersenyum dan sesekali memanggil Ezra. Suaranya selembut sapaan bidadari dan terpancar jelas wanita itu lemah lembut. Setidaknya ada perbedaan dari kami berdua yang terlihat jelas di sini. Dia begitu anggun dan lemah lembut.
Julie langsung mengeluarkan semuanya. Dia tidak mau melihat lagi. Pantas Ezra selalu menganggapnya Violet karena wajah mereka memang benar-benar mirip layaknya anak kembar.
Dia memutuskan menekan nomor Ken yang ternyata tidak Ezra simpan. Setelah menunggu akhirnya Ken mengangkat ponselnya. Suara parau dari pria itu terdengar menyapa.
“Ya, halo? Siapa ini?”
Dan ternyata Ken juga tidak menyimpan nomor Ezra. Dua manusia itu sering berseteru dan tidak pernah akur.
“Ken... ini aku, Julie. Aku menghubungimu lewat ponsel Ezra. Dia membuang ponselku sebelum kita bertemu waktu itu,” kata Julie mulai bicara.
“Julie? Apa kau baik-baik saja? Dimana kau sekarang? Aku akan menjemputmu tapi katakan padaku kau ada di mana. Ada yang ingin aku sampaikan padamu.” Suara parau Ken seperti habis bangun tidur itu mendadak berubah menjadi keterkejutan dan penuh kekhawatiran.
“Menyampaikan apa? Aku berada–”
Kalimat Julie terhenti karena ada yang merampas ponselnya. Siapa lagi kalau bukan Ezra.
“Jangan ganggu istriku lagi.” Ezra mengatakan pada Ken sebelum akhirnya mematikan sambungan.
“Mengapa kau menghubungi Ken? Kau selalu menghubunginya. Apa tidak cukup waktu itu kau berduaan dengannya? Tidak cukup aku selalu membiarkanmu ikut dengannya setiap keluarga Ackles ada acara? Kenapa sekarang tidak berhenti?” Nada bicara Ezra terdengar sangat dingin dan lidah tajamnya kembali beraksi.
Lihat kan, Ezra seperti bunglon. Kemarin bicaranya hangat dan manis, sekarang dingin dan tajam. Dia akan memanggil pria itu bunglon!
“Memangnya kenapa? Kau saja masih menganggapku Violet! Tadi pagi aku mendengar kau menyamakanku dengan Violet! Aku berhak menghubungi Ken karena dia–”
“Karena dia calon suamimu dulu. Itu dulu, Julie! Sekarang kau istriku!”
“Lantas bagaimana denganku yang hanya menjadi bayangan Violetmu? Kau masih menyimpan foto Violet dalam ponselmu. Kau saja berhak melakukan itu, aku pun berhak menghubungi Ken sesuka hatiku!” Julie tidak mau kalah. Suaranya naik satu oktaf dari biasanya.
“Kau melihat galeri ponselku?” Ezra menarik napas lalu mengembuskan perlahan, mengatur diri supaya tidak meledak-ledak nantinya. “Kalau begitu aku akan menghapusnya di depanmu.”
Ezra menekan pilihan hapus pada galeri yang Julie maksud. Selama menekan, dia menunjukkan semuanya di depan mata Julie agar wanita itu dapat melihatnya.
“Sudah aku hapus. Jangan lagi menghubungi Ken. Aku tidak suka istriku dekat dengan pria lain,” tegas Ezra penuh penekanan.
“Aku tidak suka ketika kau menganggapku orang lain. Terserah kau masih cinta padanya atau tidak, tetapi jangan panggil aku Violet apalagi menganggapku Violet!” Semakin meninggi suara Julie semakin sakit pula kepalanya.
“Apa aku memanggilmu Violet? Tidak. Aku memanggilmu Julie,” kilah Ezra merasa benar.
“Iya sudah tidak, tapi nanti? Kau selalu begitu. Sebentar baik, sebentar dingin, sebentar menganggap Violet, sebentar minta maaf, kau seperti bunglon! Sekarang kau memanggilku Julie, tapi jika kegilaanmu kambuh, kau memanggilku Violet!” Julie bagai ledakan bom waktu. Dia kembali meledak-ledak meluapkan seluruh kekesalannya. Waktu Ezra nyaris menyetubuhinya, dia juga meledak-ledak namun belum semuanya dia keluarkan.
Julie yang berada di atas tempat tidur, setengah berdiri dengan tumpuan lututnya jadi sempoyongan. Kepalanya terasa sakit. Tangannya memegang bagian yang dia rasa sakit. Ezra sigap menahan tubuh yang nyaris jatuh ke samping itu.
“Lebih baik kau istirahat. Kita tidak perlu membahas apa-apa lagi.” Ezra menarik dua bantal lalu menumpuknya jadi satu. Dia membantu Julie merebahkan tubuhnya.
Julie diam tidak merespons. Wanita itu sedang menahan sakit yang mendera.
“Maaf. Mulai sekarang aku tidak akan memanggilmu Violet. Kalau aku seperti itu lagi, kau boleh meminta apapun padaku.” Ezra mengusap kepala Julie yang kemudian wanita itu tepis.
“Kalau kau memanggilku Violet, kembalikan aku pada Ken,” ujar Julie seraya membalik badan, memunggungi Ezra yang berada di sampingnya.
Ezra kesal mendengar jawaban Julie. Bagaimana bisa wanita itu begitu egois? Dia tidak boleh membahas Violet sementara istrinya? Dia menarik tubuh Julie agar menghadapnya. Tatapan tajam siap menghunus siapa saja yang menentang perkataannya dapat terlihat dengan jelas dari kilatan matanya.
“Kenapa kau egois? Kau tidak suka aku menganggapmu Violet. Aku pun kesal kau selalu menyangkutpautkan Ken dalam permasalahan kita. Tidak bisakah kau melupakan wajah plastik itu?” Ezra mengunci tubuh Julie. Dia berada di atas tubuh istrinya, menahan bobot tubuh dengan menaruh kedua tangan pada tiap sisi tubuh Julie agar tidak menindihnya.
Julie mengerutkan dahi, nyaris mempertemukan alis tebalnya. “Wajah plastik?”
“Iya, idamanmu itu wajahnya seperti plastik. Terlalu halus dan seperti boneka Barbie versi prianya. Sama seperti semua bodyguard pilihan dia,” jelas Ezra. Ada getar kesal yang terselip dalam tiap kalimatnya.
Bukannya kesal karena Ezra menghina Ken, dia justru tertawa keras. Ya Tuhan... Ezra mulutnya memang kurang ajar! Tapi... lucu juga. Wajah plastik…
“Tidak ada yang lucu, Julie. Aku sedang serius.”
Sakit kepala Julie masih mendera, namun dia tidak sadar Ezra sudah berada di atasnya. Sorot mata tajam Ezra menghiasi wajah manly-nya itu. Julie ngeri sendiri. Dia meneguk ludah, menghentikan kegiatan tawanya, takut Ezra semakin menyeramkan.
“Kalau aku memanggilmu Violet, kau boleh minta apa saja asal jangan minta kembali pada Ken. Aku tidak bersedia mengembalikanmu pada Ken.”
“Kau aneh! Waktu itu kau bilang ingin mengembalikanku pada Ken kalau kau tidak kembali. Sekarang, kau tidak ingin aku kembali pada Ken. Aku akan memanggilmu bunglon dari sekarang!”
“Waktu itu ya waktu itu. Sekarang aku tidak mau. Jangan membantahku. Kau tahu aku tidak suka kau membantah.”
Julie mendelik tajam menatap Ezra yang tak kalah menunjukkan betapa tajamnya tatapan itu. Andai saja tatapan Ezra bisa membunuh, mungkin Julie sudah mati berdarah-darah.
“Oh, seperti Violet yang tidak pernah membantahmu? Dia wanita penurut yang bisa kau atur seenaknya bukan? Dia begitu karena memang tipe wanita idamanmu, tuan bunglon!” cibir Julie mengejek.
Ezra mengepal tangannya. Dia semakin kesal dibuatnya. “Julie... jangan sampai aku…”
“Apa? Kau ingin menamparku? Memukul? Atau–”
Keceriwisan Julie terhenti karena Ezra menciumnya. Bibir mungil itu menyatu dalam lahapan bibir tegas milik Ezra yang mendominasi. Julie terbelalak. Sialnya tangan dia tak mampu bergerak walau dia berkeinginan menghentikan ciuman yang Ezra berikan.
Ciuman itu bukan ciuman penuh nafsu. Ciuman sekadar membungkam, namun pelan-pelan berubah menjadi ciuman saling membalas. Julie seolah turut masuk dalam permainan bibir Ezra yang menyebabkannya membalas sentuhan demi sentuhan bibir Ezra yang melumatnya. Julie rasa sakit yang dia alami, membuatnya kehilangan pikiran jernih.
Sialan! Mengapa mau membalas ciuman Ezra bunglon itu?!
Akhirnya setelah semenit berlalu, ciuman itu berakhir. Keduanya saling menarik diri. Ezra mengalihkan pandangannya melihat arah lain, berusaha menghindari tatapan Julie. Dia tidak percaya akan mencium istrinya hanya karena kesal. Dulu kalau dia kesal karena Julie membantah, dia tidak pernah melakukan hal semacam ini. Mengapa sekarang seperti orang hilang akal sehat? Kontrol dirinya belum hilang kan?
Wajah Julie mendadak panas. Dia juga ikut mengalihkan pandangannya. Oke, apa yang terjadi barusan adalah kesalahan. Karena dia sakit, dia jadi ikut dalam arus s****n Ezra. Lupakan, lupakan!
Beberapa menit saling menghindar dan setelah merasa sudah kembali dalam pikiran masing-masing, keduanya kembali melihat secara bersamaan. Entah kebetulan atau tidak, yang pasti dua wajah itu menampilkan kebingungan yang dalam.
“Pokoknya jangan membahas Ken. Aku tidak suka dan tidak akan pernah menyukai hal itu. Kau istriku dan Ken hanya orang asing. Aku tidak akan membahas Violet lagi.” Ezra menarik diri. Dia segera turun dari tempat tidur, merapikan kemejanya yang sedikit berantakan.
Julie tidak menjawab. Dalam hatinya dia sedang menggerutu kesal akibat setiap kalimat yang suaminya katakan. “Aku tidak akan membahas Violet lagi.” Mulutnya spontan melontarkan kalimat meledek, mengikuti cara bicara Ezra yang paling dia hafal.
“Aku mendengarmu, Julie. Lebih baik kau tidur. Jangan sampai kepalamu semakin sakit.” Nada bicara Ezra kembali dingin.
Dasar manusia berhati baja, wajah sedatar jalanan, dan bicara sepedas cabai! Menyebalkan! gerutu Julie dalam hatinya penuh kekesalan.
“Aku akan mengambilkan makanan untukmu. Istirahatlah.”
Setelah Ezra keluar kamar, Julie menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya sampai batas kepala. Dia terlihat seperti mayat yang tertutup oleh kain putih.
“Dasar manusia gila! Bunglon! Dingin! Apa maksud cium orang sembarangan tadi? Mengapa seenaknya saja? Dan... mengapa aku setuju saja? Dasar bodoh!” Julie berdialog sendiri menggerutu kesal atas kejadian sebelumnya. Dia memukul tempat tidur berkali-kali dengan kaki yang menendang-nendang tidak jelas.
Dari luar, Ezra mendengarnya. Dia belum pergi, masih berdiri di depan pintu yang dia tutup sedikit. Dia sendiri tidak mengerti atas kejadian yang telah terjadi. Rasanya semua itu berlangsung cepat dan... entahlah.
Lily memasuki kamarnya. Ada benda kesayangannya yang tertinggal di sana. Keanu dan Tim sudah menunggunya di luar penginapan karena mereka akan mengelilingi laut yang terbentang luas. Ezra yang mengizinkan karena sepupunya sibuk menjaga Julie.
Baru membuka pintu, pupil Lily melebar.
“Hi, ex fiance. Kau mencari kalung ini?”
Pria berwajah rupawan dengan bulu halus yang tumbuh di sekitaran dagunya mengangkat ke udara kalung berbentuk hati dalam genggamannya. Pria bertato pada bagian lengan sebelah kanannya bertuliskan bahasa Italia yang artinya kuat, menarik senyum miring.
Wajah Lily mendadak pucat. Suaranya tidak bisa keluar. Dadanya terasa sesak seketika. Oksigen yang begitu banyak terasa habis setelah matanya menangkap sosok yang tidak dia duga akan muncul.
“Apa yang kau lakukan disini?”
“Aku? Mencari Ezra dan dirimu, Sayang. Ada dua pekerjaan yang harus aku lakukan. Membunuh Ezra dan mantan tunanganku yaitu dirimu, Lily Walton.”