Lily menatap pria yang pelan-pelan berjalan mendekatinya. Membunuhku dan Ezra? Itu artinya...
“Bagaimana...” Lily masih tidak percaya. Dia kesulitan mengucapkan kalimat berikutnya.
“Bagaimana aku bisa mengetahui keberadaanmu? Tentu aku punya alat canggih untuk melacak keberadaan kalian. Aku merindukanmu, Sayang.”
Semakin pria itu mendekat, semakin Lily kesulitan bergerak. Tubuhnya diam mematung. Bibirnya bergerak namun tidak mengucapkan apa-apa. Wajah Lily meredup.
Pria itu telah berdiri di depan Lily, menyentuh pipi Lily menggunakan punggung tangannya. “Kau tidak merindukanku, Sayang?”
“Don't touch me.”
“Aku tahu kau punya kekasih baru. Karenanya kau tidak bersedia aku sentuh? Kau tidak ingat kita menghabiskan banyak waktu bersama, Sayang?" Pria itu mendekati wajah Lily. Bibir bagian atasnya telah menyentuh bagian atas bibir Lily.
Diam-diam Lily sudah menggenggam pisau lipat yang dia ambil dari saku celananya ketika pria itu berjalan mendekat. Tangannya gemetaran. Biasanya dia tidak takut atau gemetaran menghadapi siapa saja. Tetapi tidak di depan pria yang pernah memiliki sejarah masa lalu buruk sewaktu bersamanya.
Satu kecupan singkat mendarat begitu saja pada bibir Lily yang diam mematung tanpa memberi penolakan. Tanpa sadar sudut mata bagian kanannya meneteskan air mata. Lily tidak mau melakukan apa-apa sekarang karena ada saatnya nanti.
“Rasa bibirmu masih sama.” Pria itu tersenyum miring sambil menghapus air mata yang menetap pada pipi Lily.
“Bagaimana mungkin...” Lily menggantung kalimatnya. Sungguh, Lily masih tidak menyangka atas kehadiran pria tersebut.
“Bagaimana mungkin aku hidup setelah kau bersusah payah berbalik membunuhku? Tentu aku masih hidup berkat tusukan yang kau berikan, Sayang. Tusukanmu meleset. Tidak mengenai bagian vitalku.” Suara itu mendadak berubah tegas bersama raut wajah yang turut berubah menjadi s***s.
Meleset? Tidak mungkin. Aku jelas-jelas mengenai bagian jantungnya. Dia bohong kan? Lily bertanya-tanya pada dirinya.
“Aku masih mencintaimu, Lily. Sayang, uang miliaran dollar lebih menggiurkan ketimbang merebutmu dari sisi kekasihmu.” Senyum jahat penuh teka-teki terukir pada wajahnya. “Aku jamin kau tidak akan mampu melukaiku lagi, Lily!” Suara yang semakin meninggi berakhir bersama tangan yang bergerak berusaha mengambil pisau yang Lily genggam sejak tadi. Tentu saja matanya tidak melewatkan apa yang Lily ambil dari sakunya.
Beruntung Lily lebih cepat sedetik dari pria itu. Dia sudah lebih dulu mundur beberapa langkah dan memegang pisaunya di udara, berancang-ancang siap menusuk pria dari masa lalunya. “Kau tidak akan berhasil membunuhku. Aku akan mendahului sebelum kau melakukannya.”
Pria itu tertawa meledek. “Dulu aku gagal membunuhmu, sekarang tidak akan. Kau tidak mungkin membunuhku, Sayang. Jauh dalam lubuk hatimu, aku masih pria yang kau cinta. Iya kan?”
“In your dream, jerk.” Lily mulai bersikap seperti biasa. Walau dia masih tidak mempercayai kehadiran yang tak terduga, tetapi dia tidak boleh lengah atau mengalah. Pria itu berbahaya. Sangat berbahaya sampai dulu nyaris membunuhnya.
Senyum atau tawa pria itu mendadak pudar. Kini tergantikan oleh wajah serius dan tatapan memburu yang siap membunuh tanpa ampun. Pria itu melempar pisau lipat yang tersimpan dalam sakunya menuju Lily yang berseberangan dengannya. Lily menghindar ketika matanya menangkap gerakan pisau yang mengarah padanya.
Satu pisau meleset, namun ada gerakan cepat sehingga pisau kedua yang terlempar dapat menggores lengan Lily yang terlambat menghindar. Darah langsung menetes keluar dari lengan Lily.
“See? Aku bisa membunuhmu dengan cepat sekarang, Sayang,” ledek pria itu sambil tersenyum miring.
Lily sudah cukup kesal mendengarnya. Dia melempar pisau lipatnya mengarah pada wajah pria itu yang menyebabkannya menoleh untuk menghindar. Kesempatan itu Lily gunakan untuk berjalan maju dan melancarkan serangan menggunakan tangan kosong yang sudah terkepal dari kuda-kuda salah satu ilmu beladiri yang dia kuasai. Sayang pria itu sudah dapat menebak siasat Lily sehingga tangan Lily dapat ditangkis dengan mudah. Ketika mata itu menatap Lily, dia menarik senyum miring. Lily masih tidak percaya siasatnya gagal dan sialnya tidak menyadari kalau pria itu melancarkan pukulan pada perutnya.
Tubuh Lily merosot jatuh ke lantai merasakan pukulan keras. Pria itu langsung menarik rambut Lily agar wanita itu kembali berdiri. Lily menahan dua rasa sakit yang dia rasakan. Dia mengikuti kemauan pria itu yang menariknya agar berdiri. Setelah itu, pria itu mengunci leher Lily menggunakan kedua lengan kokohnya, berusaha menjerat dengan erat. Lily nyaris kehabisan oksigen ketika jeratan itu semakin kuat. Sekuat tenaga Lily mencoba menyikut perut pria itu, usahanya selalu gagal. Akibat kegagalannya, pria itu semakin mengeratkan jeratan yang terasa semakin menyiksa Lily.
Lily tidak kehabisan akal. Segala cara akan dia lakukan supaya terlepas dari pria itu. Termasuk saat tangannya berhasil meraih pisau dari saku lainnya dan mulai menggoreskan pada lengannya. Hal itu berhasil melonggarkan jeratannya dan Lily langsung menusuk lengan pria itu dengan pisaunya. Berkat pisau yang tertanam sempurna pada lengannya, pria itu melepas jeratannya karena kesakitan.
“Siapa yang akan mati sekarang? Kau atau aku?” ledek Lily yang sudah berdiri menjauh dari pria berpakaian rapi itu. Kedua tangannya mengepal dengan kuda-kudanya. Darah tak berhenti mengalir dari lengannya.
Pria itu nampak kesal. Dia menarik pisau yang tertancap pada lengannya dan melempar sembarangan. Lily menangkap kekesalan pria itu dari sorot mata yang membenci kekalahan.
“Kau akan kalah, Lily!”
“Katakan itu pada dirimu!”
Pria itu berlari mendekati Lily sambil melancarkan serangan dari kepalan tangannya. Dia melancarkan pukulan namun gagal mengenai wajah Lily karena wanita itu berhasil menangkisnya. Gantian Lily melancarkan pukulan dan pukulannya mengenai wajah pria itu yang kemudian membalasnya namun meleset.
Mereka saling melancarkan pukulan. Tidak ada yang mau mengalah. Keduanya adu kehebatan ilmu beladiri yang mereka kuasai. Beberapa kali Lily terkena pukulan pada beberapa bagian wajahnya dan beberapa kali pula Lily mengenai wajah pria itu dengan serangan baliknya.
Wajah mereka memar, bahkan mengeluarkan darah dari beberapa bagian. Pria itu semakin kesal Lily masih mampu melawan balik. Pria itu menendang kaki Lily sehingga wanita itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Ketika kaki pria itu akan menginjak bagian perut Lily, dia berguling dengan cepat menghindarinya.
Lily langsung berdiri. Napasnya tersenggal-senggal menandakan kelelahan. Tanpa takut Lily berusaha menendang pria itu namun gagal karena pria itu menghindar. Tidak menyerah begitu saja, Lily kembali maju melancarkan tendangan darinya namun pria itu kembali menghindar. Dan ketika tubuh Lily berputar, pria itu menangkap tubuhnya yang membuat Lily menjepit bagian lehernya sehingga mampu merobohkan pertahanan tubuh pria itu hingga jatuh tersungkur ke lantai.
Pria itu tampak tergeletak lemah di lantai. Bodohnya Lily, dia mendekati guna memastikan bahwa pria itu pingsan atau sudah menyerah. Sayangnya ketika kepala pria itu terangkat, ada senyum licik yang tercipta pada wajahnya. Tangannya bergerak cepat menarik kaki Lily hingga tubuhnya jatuh ke belakang.
Pria itu langsung berdiri. Dia menggunakan kesempatan ini untuk menarik kedua kaki Lily yang belum sempat bangun. Wanita itu kalah cepat darinya. Dengan tubuh besar yang masih memiliki banyak tenaga meski lengannya bercucuran darah, dia menyatukan kedua kaki Lily, setelahnya dia mengangkat kaki itu yang kemudian melempar tubuh mungil Lily menuju lemari kaca yang akhirnya terhantam oleh tubuh Lily dengan keras.
Lily tergeletak tak berdaya di atas lantai setelah menghantam lemari serba kaca. Serpihan kaca berjatuhan dari sisa-sisa yang terhantam. Sebagian tubuh Lily berdarah terkena kacanya.
Bunyi pecahan kaca yang jelas itu membuat Tim dan Keanu langsung berlari masuk ke dalam. Mereka sudah lama menunggu Lily, lantas suara pecahan itu membuat mereka berpikir yang tidak-tidak. Ezra yang berada di kamar sebelah langsung berlari keluar mencari tahu penyebab pecahan kaca itu.
Pria itu sudah mengambil pisau dari selipan sepatunya. Dia bersiap menusuk Lily yang sedang bersusah payah mengambil salah satu pecahan kaca di dekatnya. Sayang aksinya harus terhenti karena Keanu, Tim dan Ezra memasuki kamar Lily yang tidak terkunci. Kontan kehadiran ketiganya membuat pria itu langsung berlari keluar melalui pintu balkon. Tim yang membawa pistolnya langsung menembakkan pelurunya berkali-kali sambil berjalan maju mengejar pria itu.
Saat Tim mengikuti jejaknya, Keanu dan Ezra mendekati Lily yang terluka. Julie yang kebetulan penasaran, melihat Lily terbaring tak berdaya dengan penuh luka di sekujur tubuhnya.
“Oh My God!” pekik Julie seraya menutup mulutnya setelah melihat keadaan Lily.
“Julie?” Ezra langsung menghampiri istrinya. “Kau tidak boleh berada di sini. Ayo kita istirahat.” Ezra buru-buru merangkul pinggang istrinya, mengajak wanita itu menjauh dari sana.
Tim akhirnya kembali setelah beberapa menit berkeliaran keluar mencari pelakunya. “Aku kehilangan jejaknya, Keanu. Siapa pria itu? Tega sekali berbuat begini pada Lily.”
“Aku tidak tahu.” Keanu terlihat begitu khawatir. Tangannya menyingkirkan beberapa pecahan kaca dari bagian rambut Lily. Dia langsung menggendong tubuh kekasihnya yang sudah pingsan lalu berjalan menuju tempat tidur.
“Aku akan mencari obat-obatan.” Tim menggeledah isi tas Lily yang berada di pojok kamar dekat pintu balkon.
“Tim, kau dengar itu?” Keanu menghentikan langkahnya ketika mendengar suara bunyi. Dia pernah mendengarnya ketika berada dalam pelatihan S.W.A.T.
Tim yang menyadarinya langsung berteriak sekeras mungkin. “Ruunnnnnn!!!!!”
Dalam sekejap kamar Lily meledak setelah bunyi yang ternyata berasal dari bom waktu yang tengah menghitung mundur. Kepulan asap menjadi sentuhan akhir setelah ledakan.