Ezra memeluk Julie, menenggelamkan kepala sang istri pada dadanya ketika ledakan itu terdengar. Dia sudah lebih dulu menggendong Julie keluar dari penginapan setelah mendengar bunyi mencurigakan. Kini mereka berada di tepi pantai. Baru akan memberitahu yang lain, tiba-tiba ledakan terdengar. Setidaknya dia bisa menyelamatkan Julie bersamanya. Keyakinannya pada Tim dan Keanu yang mungkin sudah menyelamatkan diri bersama Lily sangat tinggi, sehingga tidak perlu khawatir.
Julie melepas pelukan Ezra padanya. Detik berikutnya, Julie memukul d**a bidang suaminya bertubi-tubi. u*****n demi u*****n terdengar dan Ezra membiarkannya.
“Jelaskan padaku sebenarnya ada apa, Ezra? Lily tergeletak dengan tubuh penuh luka, lantas ledakan itu? Apa maksud semuanya? Sebenarnya ada apa? Tolong jelaskan padaku!” tanya Julie dengan tatapan nanar.
Ezra tidak tahu menahu mengenai ledakan tersebut. Tetapi dia kenal siapa pria yang telah melukai Lily. Kenal. Sangat mengenalnya. Dia tidak mungkin memberitahu semua rahasianya pada Julie. Tidak. Wanita itu tidak boleh tahu.
Beruntung ada dua boat yang mendekat. Ezra memicingkan matanya. Ternyata boat itu berisi keempat bodyguard yang dia perintahkan untuk berjaga-jaga di sekitaran North Island. Memantau siapa saja yang mendekati pulau yang menjadi penginapan sementara. Sepertinya tugas mudah seperti itu telah luput dari pandangan mereka karena ada orang lain yang berhasil mengetahui keberadaannya.
Ezra diam sebentar, memberi jeda beberapa menit sampai para pengawal tiba di hadapannya.
Keempat pengawalnya segera turun, mematikan mesin boat lalu menghadap Ezra yang sudah memasang wajah siap mengeluarkan kalimat menyakitkan.
“Apa kalian memantau dengan benar? Ada orang lain yang mengetahui tempat ini dan dia melukai Lily!! Apa perintahku terlalu sulit untuk kalian jalankan?! Begitu saja, kalian sudah gagal! Bodoh sekali!!” maki Ezra dengan nada lantang.
Julie yang berada di sana sampai kaget mendengar nada bicara tinggi yang keluar dari mulut Ezra. Pria itu terlihat menakutkan. Sorot matanya memancarkan banyak kengerian yang bisa saja terjadi kalau ada yang membantah.
“Jaga Julie di sini. Kalau dia terluka, nyawa kalian taruhannya!” Ezra mengancam dengan galak seiring kilatan mata serius atas ucapannya.
Keempat pengawalnya nampak menunduk takut. Mereka tidak berani melawan dan menyahuti dengan segan kalimat bosnya.
Ezra berbalik badan menghampiri Julie di belakang sana yang terdiam ngeri.
“Julie, tunggu sebentar di sini. Aku akan memastikan keberadaan Lily serta yang lain. Jangan kabur. Aku serius. Tunggu di sini.” Ezra mengingatkan. Julie mendengarkan secara seksama dan terpaksa setuju daripada harus berdebat dalam keadaan genting begini.
Beberapa menit kemudian Ezra berlari pergi mencari tahu keberadaan sepupu dan kedua pengawalnya. Dia harap ketiganya baik-baik saja dan sempat kabur sebelum ledakan terjadi. Setelah berkeliling, akhirnya dia menemukan ketiganya. Tim yang sudah berada di atas lantai sedang mengulurkan kedua tangannya, bersiap meraih Lily yang berada dalam gendongan Keanu di dalam kolam renang. Ezra bernapas lega. Ternyata semuanya selamat.
Usut punya usut, setelah mendengar suara itu Keanu berlari secepat mungkin bersama Lily dalam dekapannya. Begitu pula Tim. Beruntungnya kamar Lily menghadap kolam renang, sehingga sebelum benar-benar meledak mereka menjatuhkan diri ke dalam air kolam renang dan menahan diri beberapa saat di sana sebelum akhirnya ledakan terjadi. Lily yang pingsan mendapat bantuan napas dari sang kekasih melalui ciuman.
“Bagaimana keadaan Lily?” tanya Ezra sambil berjalan mendekat. “Apa ada luka yang parah?”
“Lily sudah terbangun tadi, tetapi sepertinya luka pada bagian lengannya menyebabkan dia kesulitan untuk bergerak, Tuan,” Tim menjawab. Dia mewakili Keanu yang tampak gelisah memandangi kekasihnya. Sahabat karibnya itu menaruh Lily di atas kursi berjemur karena sibuk mencari baju yang mungkin masih utuh untuk menutupi luka pada lengan Lily. Kalau dibiarkan lebih lama lagi bisa infeksi.
Ezra mengangkat tubuh Lily dalam dekapannya. “Keanu, tidak perlu mencari kain atau pakaian karena pengawal yang lain sudah datang. Lebih baik kita ke sana sekarang supaya lebih cepat mengobati Lily.”
Keanu menghentikan kegiatannya. Dia lihat Ezra sudah melangkah pergi sambil menggendong Lily yang tidak berdaya. Tanpa mau berlama-lama dia menyusul Ezra bersama Tim.
Ezra melirik Lily yang ternyata sudah membuka matanya. Mata ceria itu berubah menjadi tatapan sendu yang lemah. Air mata jatuh dari pelupuk matanya. Tidak perlu bertanya untuk memahami maksud tangis sepupunya. Bukan menangis karena terluka, tapi karena kehadiran pria itu.
“Bertahanlah. Aku tahu kau menangis bukan karena luka pada tubuhmu. Kau wanita kuat, Lily. Aku tahu itu,” ucap Ezra pelan. Dia semakin mempererat rengkuhannya pada Lily.
“Dia ingin membunuh kita,” ucap Lily lirih. Suaranya nyaris tidak terdengar saking lemahnya.
“Tidak akan ada yang mampu membunuh kita berdua. Tidak usah khawatir semua akan baik-baik saja, Lily.” Ezra berusaha menenangkan. Padahal dalam hatinya dia was-was. Takut Julie terkena imbasnya.
Lily kemudian diam tanpa suara. Tangisnya terus turun seolah semua yang telah terlewati kembali mengingatkannya pada masa kelam yang berat. Beruntung jarak Ezra dengan Keanu dan Tim sedikit jauh, sehingga mereka berdua tidak perlu mendengar perbincangannya dengan Lily.
Semua sudah berada dalam pesawat pribadi milik Ezra. Sejak keempat pengawalnya kecolongan pria yang ternyata mantan tunangan Lily, mereka telah menyiapkan semua yang di perlukan dengan baik.
Ezra menemani Lily yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Jangan tanyakan bagaimana rupa pesawat pribadi keluarga Walton, karena pesawat itu menyuguhkan banyak kemewahan. Sofa empuk, kamar berisi tempat tidur lengkap dengan rak buku, serta kursi empuk dan ada televisi juga.
Lily tertidur setelah Tim mengobati lukanya. Ezra menyilangkan kakinya ketika duduk di atas sofa yang ada di dalam kamar. Dia membiarkan Julie sendirian di kamar satunya karena istrinya perlu beristirahat. Keanu sendiri duduk di pinggir tempat tidur, mendampingi Lily.
“Pria itu mantan tunangan Lily. Namanya Ryan,” ucap Ezra memecah keheningan yang terasa.
Semuanya langsung menoleh, termasuk Keanu. Dari raut wajahnya Ezra dapat menebak bahwa Lily belum menceritakan apa-apa pada Keanu.
“Sewaktu Lily baru bergabung dalam tim S.W.A.T dulu, Ryan mendekatinya. Kedekatan itu berakhir menjadi pertunangan bahagia. Suatu malam ketika Lily tidur, pria itu mencoba membunuhnya. Beruntung Lily siaga sehingga dia bergelut dengan pria itu. Selidik punya selidik, Ryan adalah pembunuh bayaran yang di perintahkan untuk membunuh Lily. Dia tahu Lily tidak mudah terbunuh dan caranya mendekati Lily sampai satu tahun itu berhasil membuat Lily terbuai. Alhasil hubungan cinta itu berujung pada pesta penuh darah dalam sehari. Aku tidak tahu penyebab orang lain ingin membunuh Lily. Oh, sebenarnya Lily sudah melukai Ryan, tapi tidak tahu kalau ternyata pria itu tidak meninggal. Tadi Lily mengatakan padaku kalau Ryan ingin membunuhku dan Lily.” Ezra menjelaskan. Dia kembali mengingat masa dulu, saat Lily menangis terisak-isak saat mengetahui Ryan tidak tulus mencintainya.
Mengapa Lily tidak pernah menceritakannya padaku? batin Keanu. Dia menatap Lily yang tertidur pulas. Banyak pertanyaan yang perlu Keanu tanyakan pada Lily setelah penjelasan panjang lebar dari Ezra.
“Sepertinya Lily tidak mau menceritakan padamu karena dia takut mengingat trauma itu lagi. Sejak kejadian itu dia tidak pernah dekat dengan pria mana saja sampai akhirnya kau mendekatinya. Aku harap kau mengerti. Lily telah melalui banyak hal dalam hidupnya yang mungkin belum sepenuhnya kau ketahui,” kata Ezra lagi. Keanu baru akan berbicara namun Ezra buru-buru melanjutkan kalimatnya, “Aku harap kau akan selalu mendampinginya dalam keadaan apa pun. Aku mengatakan ini bukan sebagai bosmu tapi sebagai sepupunya Lily.”
Setelah kalimatnya, Ezra bangkit dari tempat duduknya. “Aku akan kembali ke kamar. Jagalah Lily. Urusan menjagaku, biar pengawal lain saja. See you.” Langkah kaki Ezra berlalu cepat sebelum Keanu sempat mengatakan terima kasih.
Julie tidak berdiam diri di kamarnya. Dia menguping semua ucapan yang Ezra lontarkan. Tangannya menutup mulut saking tidak percaya. Pria yang melukai Lily adalah pembunuh bayaran? Dia ingin membunuh Ezra dan Lily? Semua semakin membingungkan bagi Julie. Sampai detik ini, dia tidak mengetahui apa pun seperti orang bodoh. Sebelum ketahuan, dia segera pergi dari sana.
Ezra memasuki kamar Julie. Istrinya nampak memunggungi pintu kamar. Dia segera menghampirinya dan duduk di samping wanita itu. “Mengapa kau belum tidur? Perjalanan kita masih panjang.”
“Jelaskan padaku, sebenarnya apa pekerjaanmu Ezra? Aku baru tahu Lily bergabung menjadi anggota tim S.W.A.T. Pantas saja dia tangguh. Kenapa ada pembunuh bayaran yang ingin membunuhmu dan Lily? Kenapa kau tidak mau memberitahu apapun padaku?!” tanya Julie setengah berteriak.
Ezra diam sebentar. Julie kembali melanjutkan, “Aku menikah denganmu tapi aku tidak mengetahui semua hal tentang suamiku. Ada cerita apa di balik semua yang telah terjadi? Tidak bisakah kau memberitahuku?”
Lebih dari satu menit Ezra diam membisu. Pandangan pria itu melihat arah lain, tidak berani menatap Julie. Karenanya, Julie menarik wajah Ezra hingga tatapan itu beralih padanya.
“Setidaknya beritahu aku satu alasan kenapa kau tidak mau memberitahu semua yang terjadi padaku.”
“Jangan bahas ini sekarang. Kau belum sembuh Julie. Lebih baik–”
“Kau selalu mengatakan aku belum sembuh. Padahal aku sudah sembuh! Kau mengatakan itu hanya untuk mengalihkan pembicaraan kita kan? Supaya aku lupa akan pertanyaanku, iya kan? Apa susahnya menjawab satu pertanyaanku supaya aku tidak seperti orang bodoh!” potong Julie.
“Baiklah, aku akan menjawab satu pertanyaanmu. Aku menjabat sebagai CEO perusahaan yang ayahku berikan. Kau tahu itu. Pesaingku banyak. Kebanyakan dari mereka menginginkanku mati supaya tidak ada saingan sehebat aku,” jawab Ezra. Semua yang dia ucapkan tidak sepenuhnya benar. Ada yang benar dan ada yang ditambahkan. Tetap pada pemikirannya, Julie tidak boleh tahu walau sedikit saja.
“Steve juga CEO tapi tidak ada yang mau membunuhnya. Adrien juga anak dari putri kerajaan tapi tidak ada yang mencelakainya. Lantas apa yang membedakanmu dari mereka? Ku rasa–”
“Julie, tolonglah... berhenti bicara. Aku sudah menjawab satu pertanyaanmu. Sekarang saatnya kau tidur. Please?” Ezra memotong kalimat Julie yang belum selesai. Dia menatap penuh memohon. Dia berharap wanita itu mau menurutinya, seperti yang dulu biasa Julie lakukan.
“Tidak mau. Lebih baik kau keluar. Aku ingin sendirian.” Julie merangkak naik ke tengah tempat tidur. Dia menunjukkan wajah cemberutnya.
Ezra turut naik ke atas tempat tidur, mendekati Julie yang berusaha membatasi Ezra dengan melebarkan tangannya agar tidak mendekat. Sayang usaha Julie dapat Ezra hentikan. Mau tidak mau Julie bergeser menjauh saat Ezra semakin mendekat.
“Kenapa kau makin menjauh? Aku tidak akan memperkosamu. Tidurlah, aku akan menemani di sini,” kata Ezra sambil menepuk ruang kosong di sampingnya. Julie menggeleng tanpa suara.
Tidak ada cara lain selain menarik paksa Julie agar berdekatan dengannya. Setelah sudah berdekatan, Ezra langsung mengunci tubuh Julie dalam pelukan.
“Jangan nakal. Kau selalu membantah akhir-akhir ini,” bisik Ezra.
“Untuk apa menuruti manusia sepertimu? Lebih baik aku menuruti Ken–” Julie buru-buru mengatup mulutnya ketika menyebutkan nama Ken. Dalam sekejap ekspresi Ezra berubah.
“Selalu saja Ken. Apa hebatnya? Seleramu jelek,” cibir Ezra seraya melepas pelukannya. Dia langsung turun dari tempat tidur. Ada rasa kesal yang muncul setiap istrinya membahas Ken. Rasanya dia perlu membunuh sepupunya itu.
“Seleraku bagus! Keturunan Ackles adalah yang terbaik! Daripada dirimu, seperti patung berjalan! Tanpa ekspresi dan kalau bicara datar!” ejek Julie sekenanya.
Ezra semakin kesal dibuatnya. Dia memilih pergi keluar dari kamar ketimbang berdebat dengan Julie yang tidak akan ada habisnya.
“Lihat kan, kau memang patung berjalan!” teriak Julie sambil melempar bantal mengarah pada Ezra. Sialnya bantal itu meleset dan jatuh lebih dulu sebelum mengenai sasaran.
“Terserah,” sahut Ezra singkat.
Setelah keluar dari kamar, Ezra mengerutkan dahinya. Mengapa dia harus bersikap seperti tadi? Kenapa dia tidak suka Julie menyebutkan nama Ken? Padahal dulu biasa saja, tidak seperti ini. Sebenarnya ada apa dengannya?
Portland, Oregon
Setelah perjalanan panjang dan melelahkan, akhirnya Ezra tiba di salah satu kota yang sempat dia tanyakan pada Julie untuk pergi ke sini bersamanya. Tidak lama setelah mendarat, dia pergi menuju penginapan yang bukan menjadi bagian dari properti keluarganya. Dia memilih tinggal di salah satu hotel berbintang, memesan kamar dengan nama salah satu pengawal pribadinya supaya tidak ketahuan keberadaannya.
Ezra menggendong Julie yang tertidur pulas. Wanita itu terlihat kelelahan dan tubuhnya belum sembuh total, jadi wajar kalau belum bangun walau sudah tiba di hotel. Dengan bantuan pengawal yang membukakan pintu kamar, akhirnya Ezra merebahkan tubuh sang istri. Dia menyelimuti Julie sampai batas dadanya.
"Sleep well, Julie. Have a nice dream."
Terakhir sebelum bangkit dari tempat duduknya, Ezra menghela napas kasar. Akibat dirinya, Julie ikut masuk dalam masalah yang bukan urusan wanita itu sama sekali. Dia merasa bersalah. Berpindah-pindah tempat, melewati berbagai kejadian, seharusnya Julie tidak merasakan kesengsaraan itu.
“Setelah semua berakhir, kita akan hidup tenang, Julie. I promise it to you.”