Ken sedang berkumpul bersama ketiga sepupu yang paling dekat dengannya yakni: Zayden, Rey dan Jason. Semua berkumpul karena Ken ingin mencurahkan isi hatinya. Begitu yang Jason tahu dari Zayden.
“Jadi apa yang kau ingin curahkan pada kami, Ken?” tanya Jason mulai membuka obrolan.
“Apa yang akan Ken bahas selain Julie? Tidak ada. Pasti soal Julie, iya kan?” sela Rey menebak.
“Ya memang Julie saja yang menjadi pembahasannya. Sepupu kita ini tidak bisa hidup tanpa Julie meski ada Lana di sampingnya.” Zayden menambahi.
Ken tidak menyangkal. Semua benar adanya.
“Ada apalagi dengan Julie?” tanya Jason. Ribuan curhatan Ken curahkan dan semua hanya tentang satu nama; Julie. Jason sampai bingung sendiri kenapa sepupunya itu tidak move on saja. Yah, sama halnya seperti Ezra juga, harusnya pria itu melakukan hal yang sama bukan merebut tunangan orang.
“Kemarin Julie menghubungiku, terus saat dia ingin memberitahu keberadaannya, Ezra malah mematikan sambungan. Manusia itu memang s****n!” cerita Ken dengan nada penuh emosi. Tangannya mengepal sempurna menggambarkan dia memang tidak pernah bisa akur dengan Ezra.
“Mungkin Ezra tidak mau kau mengganggu hubungannya dan Julie. Selama enam tahun kemarin dia membiarkan kalian berduaan. Ya, mungkin sekarang Ezra mulai peduli dengan Julie. Atau... jatuh cinta,” sahut Rey memberi pendapatnya. Kalimatnya sukses memancing tatapan tajam Ken seakan siap menelannya hidup-hidup.
“Harusnya Ezra mencari jodohnya sendiri! Kenapa harus merebut Julieku?”
“Satu mengatakan Julieku, satunya lagi Violetku. Kalian sama saja,” sambung Jason.
Zayden dan Rey terbahak. Kalimat Jason cukup menggelitik tetapi benar.
“Sudah aku katakan, Julie pasti akan kembali padamu. Kalau tidak ya sudah, ada kekasihmu yang kau jadikan pelampiasan itu. Toh, Ezra juga menjadikan Julie pelampiasannya,” timpal Zayden.
“Apa yang bukan milikmu tidak akan kembali, begitu pula sebaliknya. Contoh saja Jason. Dia mendekati Clara yang baru saja bercerai beberapa bulan. Kalau di pikir lagi, bisa saja Clara kembali pada mantan suaminya tetapi dia justru memilih Jason. Ajaib bukan?” sambung Rey setengah melirik Jason dengan nada meledek.
Jason menanggapi dengan santai, “Aku berusaha mendekati Clara dan semua ada hasilnya. Kalau Ken hanya mengeluh tanpa usaha, Julie tidak akan kembali. Tindakan lebih penting dari ucapan.”
Rey menjentikkan jarinya, lalu menimpali, “Nah... aku setuju dengan Jason. Kalau kau memang cinta dengan Julie, rebut saja. Terserah orang akan berkata kau perebut istri orang atau apalah itu, kau harus tetap maju tanpa menyerah. Lagi pula Ezra merebut apa yang menjadi milikmu bukan?”
“Ya itu karena Ezra lebih banyak bertindak daripada Ken. Wajar akhirnya dia kehilangan Julie,” tambah Zayden.
Ken terdiam mendengarnya. Dia memikirkan semua percakapan para sepupunya. Ya, memang sudah seharusnya dia bertindak seperti itu, tetapi apakah Ezra mau merelakan Julie untuk kembali padanya? Obsesi Ezra pada wajah Julie yang menyerupai calon istrinya itu sangat besar, sehingga tidaklah mudah untuknya merebut Julie begitu saja.
“Ingat Ken, kalau Ezra benar-benar jatuh cinta dengan Julie, kau tidak bisa lagi merebutnya. Ya mungkin sekarang hanya obsesi karena wajahnya mirip Violet, tetapi besok-besok bisa saja perasaan Ezra untuk Julie berubah. Obsesi yang akhirnya menjadi cinta sungguhan,” tambah Jason. Kalimat Jason membuat wajah Ken memucat seketika. Ketakutan itu terpancar dari raut wajahnya.
Pagi ini Julie sudah bangun dari tidurnya. Dia telah rapi mengenakan blouse biru dipadu dengan celana jeans. Julie segera menghampiri Ezra yang tertidur di atas sofa. Dengan jahilnya Julie menekan kedua sisi cuping hidung Ezra. Tindakannya berhasil membuat Ezra yang tertidur pulas nyaris kehabisan napas kalau pria itu tidak segera menyingkirkan tangan Julie. Tatapan tajam Ezra terlihat jelas, sementara Julie sudah menarik tangannya sambil nyengir.
Seandainya Julie tidak excited pergi keluar, mungkin dia akan melongo melihat d**a indah Ezra tanpa kaos selama tidur. Sayang bukan itu yang menjadi fokusnya sekarang karena dia ingin jalan-jalan!
“Ezra suamiku, ayo kita pergi berkeliling! Cuaca di luar sedang bagus dan aku sudah membuat list kemana saja kita hari ini,” ajak Julie penuh semangat. Tangannya menunjukkan catatan kecil yang berada dalam genggaman.
Ezra memutar tubuhnya menghadap badan sofa, memunggungi Julie. Dia masih ingin menikmati tidur karena semalaman tidak bisa tidur nyenyak. Ternyata tindakan Julie yang hampir membunuhnya memiliki alasan untuk mengajaknya pergi jalan-jalan. Benar-benar gila!
“Tunggu sampai malam saja, aku sedang tidak enak badan. Kau juga belum sembuh total, Julie. Istirahat saja,” alasan Ezra sambil menarik selimutnya.
“Kau menyebalkan!” sungut Julie kesal.
“Memang. Kau sudah mengucapkannya ratusan kali.”
Julie tidak suka Ezra memenjarakannya dalam hotel yang tidak ada hal bagus di dalamnya. Hanya televisi dan fasilitas biasa seperti hotel pada umumnya. Sudah tidak bersedia menceritakan apa yang terjadi, sekarang sikap Ezra sangat amat menyebalkan. Seperti biasa. Berbeda sekali sewaktu dia sedang sakit, perhatiannya luar biasa. Tetapi Julie tidak kehabisan akal. Wajah cemberut itu berubah menjadi senyum licik. Julie mempunyai segudang ide yang pastinya akan membuat Ezra setuju pergi bersamanya.
“Ya sudah kalau begitu aku akan suruh Ken menjemputku di sini,” ucap Julie. Kalimat ini menjadi ide yang mungkin saja membangkitkan kemarahan Ezra. Dia tahu Ezra kesal setengah mati saat kemarin dia membandingkannya dengan Ken.
“Silahkan saja. Kau tidak punya ponsel untuk menghubunginya,” sahut Ezra santai. Dia belum tertarik untuk membuka mata meski sang istri mencoba mengusik ketenangan dengan membawa nama 'Ken'. Dalam hati, dia masih kesal dengan Julie persoalan kemarin. Entahlah, perasaannya jadi berantakan setiap wanita itu membawa nama Ken.
“Aku memang tidak punya ponsel tapi kau punya, Mr. Walton.”
Mata Julie melihat ponsel Ezra tergeletak di atas nakas dan secepat kilat dia mengambilnya. Semoga saja trik yang dia lakukan sekarang akan membuahkan hasil. “Ya, halo Ken? Kau sedang sibuk? Bisakah kau menjemputku–”
Belum sempat Julie melanjutkan, Ezra sudah mengambil ponselnya. Usahanya berhasil! Ezra telah masuk dalam perangkapnya. Dasar, suami bodoh! Rasakan itu!
Ezra melihat layar ponselnya yang gelap. Dia lupa batre ponselnya mati dan belum sempat charger. Dia merasa bodoh sekarang. Mengapa jadi mudah di permainkan oleh seorang Julie? s**l!
“Jadi kau bersedia menemaniku kan, Mr. Walton? Atau... kau ingin Ken–”
“Iya-iya, aku akan menemanimu. Kau benar-benar menyusahkan,” potong Ezra cepat. Dia langsung beranjak pergi meninggalkan Julie yang tengah berlonjak kegirangan.
“Yes! Yes! Yeeeeeeessssss!!”
Julie tidak bisa menggambarkan betapa senangnya dia setelah akhirnya bisa menikmati keindahan air terjun Multnomah. Dia mendongak, menikmati keindahan seluruh air terjun yang mengalir deras di tengah jalanan jembatan yang di penuhi oleh pengunjung lain.
Ezra memakaikan jaket pada Julie supaya tidak kedinginan. Wanita itu tidak terusik dan berfokus pada panorama indah yang menyejukkan. Dua pengawal lainnya ikut pergi bersama, memantau sekitar demi keselamatan mereka.
“Ezra, ayolah! Senyum sedikit! Kau tidak tahu caranya menikmati keindahan dari Tuhan?” ujar Julie setelah berbalik melihat Ezra yang berdiri di belakangnya beberapa langkah.
“Kau saja yang menikmati keindahannya,” balas Ezra. Dia memilih diam berdiri di belakang Julie ketimbang melihat air terjun yang terhampar.
“Gosh! Kau memang tidak punya hati! Ayolah sini, jangan di belakang terus seperti anak ayam.” Julie berjalan beberapa langkah menghampiri sang suami, kemudian dia mengamit tangan Ezra dan menariknya agar mendekat.
Tidak ada penolakan dari Ezra. Dia mengikuti kemauan istrinya. Dengan tangan saling menggenggam, Julie berceloteh ria menjelaskan banyak hal tentang air terjun tersebut. Tidak Ezra sangka istrinya mengetahui tentang wisata yang sedang mereka kunjungi. Perlahan-lahan kedua sudut bibir Ezra tertarik sempurna, menciptakan senyum tipis yang tulus.
Julie yang kebetulan menoleh pada Ezra dapat menyaksikan senyum bersejarah yang Ezra perlihatkan. Mungkin bukan untuk pertama kalinya, namun senyum Ezra kali ini berbeda dari yang sebelumnya. Dia sulit menjelaskan apa yang berbeda, hanya saja dia dapat merasakan perbedaannya.
“Eh–akhirnya kau tersenyum! Sungguh keajaiban dapat melihat senyum langkamu itu, Mr. Walton!”
“Oh ya?” tanya Ezra datar. Senyum itu pelan-pelan memudar seiring kalimat Julie barusan.
“Iya! Akhirnya setelah sekian lama aku dapat menyaksikan peristiwa bersejarah darimu! Aku harus memberitahu semua pengawal kalau tuannya masih bisa menunjukkan senyum.” Julie berseru semangat. Suaranya agak mengganggu telinga dan beruntungnya pengunjung yang berdekatan dengan mereka tidak merasa risih mendengarnya.
“Perasaanmu saja,” sahut Ezra lagi. Dia mencoba berkilah namun sialnya Julie tadi sudah menangkap basah dia tersenyum secara terang-terangan.
“Ah, aku perlu mengatakan hal ini pada dunia kalau suamiku akhirnya tersenyum,” ledek Julie jahil. Menit berikutnya dia kembali melihat air terjun. Tangannya melepas genggaman pada Ezra untuk merapikan rambut yang berantakan tertiup angin.
Ezra yang kala itu kembali menarik senyum setelah Julie mengalihkan pandangannya, tiba-tiba memeluk Julie dari belakang. Tangan kokohnya melingkar pada seputaran perut sang istri dan mendaratkan dagunya pada pundak Julie. Hal tersebut mengejutkan Julie, kontan wanita itu sedikit menoleh ke belakang. Julie mencoba menyingkirkan tangan Ezra, namun usahanya gagal karena Ezra semakin mempererat pelukannya.
“Aku tidak tahu kau mulai memanggilku dengan sebutan suamiku sejak tadi pagi,” ledek Ezra. Baru akan Julie menyahuti, Ezra kembali melanjutkan. “Aneh rasanya ketika aku merasa nyaman berpergian denganmu.”
Julie menghentikan niat untuk menyingkirkan tangan Ezra darinya. Dia tertegun dan mendengarkan seksama kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut Ezra. Dia juga baru menyadari sejak tadi pagi sampai detik ini memanggil Ezra begitu.
“Selama di Portland, berjanjilah kau tidak akan membahas Ken. Kita benar-benar liburan di sini, menikmati semua keindahan berdua. Tanpa menyebut nama lain. Please?”
Kalimat itu mendengung di gendang telinga Julie. Dia kehabisan kata-kata. Ezra tidak mudah ditebak. Seperti sekarang contohnya, karena sikap Ezra tak pernah menetap, berubah-ubah. Manusia bunglon!
“Sikapmu membingungkan. Kau mengatakan ini karena tidak suka aku membandingkan atau memang kau mulai berubah hangat? Aneh!” balas Julie terheran-heran.
“Aku mengatakannya karena aku...” Ezra menggantung kalimatnya. Beberapa detik kemudian dia melanjutkan. “... aku cemburu.”