“... aku cemburu.”
Kalimat langka yang tidak pernah Julie dengar justru menggelitik perutnya. Sontak gelak tawa Julie lolos begitu saja.
“Kau lucu sekali. Leluconmu memang luar biasa menggelitik!” Julie masih tertawa keras. Sementara Ezra mulai menarik diri dan memutar tubuh Julie agar menghadap padanya.
“Lelucon? Kalau ini juga lelucon?” Tanpa basa-basi, Ezra memegang kedua sisi wajah Julie lalu mencium bibirnya. Walau hanya sepersekian detik, tetapi berhasil membuat Julie mematung dengan pupil mata melebar.
Ezra tersenyum miring seolah menyimpan maksud tersembunyi yang tidak dapat Julie artikan. “Tidak ada lelucon dalam kamusku, Juliana. Berhenti menertawakan hal serius yang aku katakan kalau kau tidak mau aku menciummu lagi.”
Julie masih terbengong-bengong menatap Ezra yang belum beranjak pergi. Ekspresi kaget yang Julie tunjukkan menjadi reaksi alami setelah ciuman singkat itu.
“Kau m***m! Bilang saja ingin menciumku!” dengus Julie kesal setelah beberapa menit diam.
Ezra tetap menampilkan senyum miring itu lalu tangannya meraih tubuh Julie, melingkar pada putaran pinggang rampingnya. “Kalau aku m***m, kita sudah punya anak sejak lama Julie. Mungkin banyak karena setiap hari aku pasti akan minta padamu. Nyatanya kita belum melakukan hal yang mengarah ke sana kan?”
Bukan bengong lagi, Julie kehabisan kata-kata. Bulu kuduknya berdiri. Dia merinding mendengar kalimat Ezra yang terdengar santai namun ada unsur nakal dari tatap matanya. Oh, God... dia perlu memukul kepala Ezra. Mungkin otak pria itu sudah tidak berfungsi dengan baik.
“Kau gila!” Julie menepis tangan Ezra dari pinggangnya. Dia langsung berjalan pergi meninggalkan Ezra yang tertawa.
Para pengawal langsung mengejar Julie. Sementara Ezra masih tertawa puas mengingat ekspresi bengong sang istri. Dia sengaja mengatakan itu supaya Julie berhenti menertawakannya. Eh–tapi untuk apa dia membalas perbuatan Julie? Kenapa pula dia harus mengatakan cemburu?
Ezra menghentikan tawanya. Dia diam sebentar. Sebenarnya ada apa denganmu, Ez?
Julie tidak bersuara selama berada di dalam mobil menuju tujuan selanjutnya. Sesekali dia melirik Ezra, melihat pria yang dia curigai tubuhnya kerasukan oleh alien. Dia memilih duduk sedikit berjauhan, memberi jarak dengan sang suami.
“Kita mau kemana, Ez?” tanya Julie akhirnya tidak bisa diam. Dia sangat penasaran karena sedari tadi belum juga tiba. Padahal dari yang dia ketahui rute air terjun menuju destinasi yang dia inginkan selanjutnya tidak terlalu jauh.
“Kau lupa harus memanggilku apa,” jawab Ezra dingin.
Julie mendengus kasar. “Sayang, kita mau ke mana?” Embel-embel itu nampaknya sudah harus dia gunakan lagi semenjak Ezra mulai memintanya.
“Rahasia,” sahut Ezra. Singkat, padat dan jelas.
Julie mendelik tajam. Setelah dia memanggil 'sayang', jawabannya rahasia? Oh, sungguh rasanya dia ingin mencekik Ezra! Menyebalkan sekali manusia tidak jelas ini!
Julie langsung cemberut sambil melihat ke kiri, menatap jalanan bersih yang terhampar. Ezra yang sempat melihat Julie cemberut langsung senyam-senyum sendiri. Tim sebagai sopir mereka hari ini dapat melihat senyum Ezra dari kaca spion.
Tidak terlalu lama setelah Julie bertanya, akhirnya mereka tiba. Ezra turun lebih dulu, memutari mobil mewahnya untuk membukakan pintu sang istri. Setelah pintu terbuka, dia mengulurkan tangannya pada Julie yang baru akan keluar.
Julie menyambut tangan Ezra yang kemudian menggenggamnya. Dia tidak mau menolak karena takutnya pria itu akan mengomel. Iya, sikap menyebalkan Ezra suka tiba-tiba munculnya.
“Well, kita berada di mana? Landasan pribadi keluargamu lagi? Untuk apa? Pergi ke negara lain?” tanya Julie yang mulai menyadari keberadaannya.
“Rahasia. Kau akan menyukainya. Percayalah,” jawab Ezra masih menutup rapat ke mana arah tujuan mereka.
Julie memilih diam karena suaminya tak kunjung memberitahu. Dia mengikuti langkah Ezra dengan tangan yang tergenggam oleh suaminya. Langkah demi langkah akhirnya memandu mereka pada titik akhir. Sebuah helicopter dengan tulisan huruf 'W' pada bagian mendekati ekornya, berada di depan mata.
“Kau bilang ingin menikmati keindahan Portland bukan? Aku akan menunjukkan keindahan yang kau inginkan.”
“Kau serius?”
“Apa aku terlihat bercanda sekarang, Julie? Tentu aku serius. Ada tempat yang menyediakan helicopter untuk wisata melihat Portland dari atas langit, namun rasanya aku tidak nyaman dengan helicopter lain selain milik keluargaku.”
Julie menatap iris biru Ezra yang menunjukkan keseriusannya. Dia tidak boleh menolak kesempatan bagus. Selama enam tahun dia tidak pernah merasakan fasilitas milik keluarga Walton yang tidak kalah kaya raya dari keturunan Ackles.
“Ayolah, jangan kebanyakan berpikir. Lebih baik nikmati apa yang akan kau lihat nantinya.” Ezra mengamit tangan Julie kemudian menarik istrinya untuk segera memasuki helicopter.
Seorang pelayan yang berdiri di sana menunduk hormat dan seorang pilot telah bersiap membawa pasangan suami istri itu menikmati indahnya Portland.
Ezra memakaikan Julie sabuk pengaman, tidak lupa headphone demi keamanan dan kenyamanan. Setelah semua telah terpasang, giliran Ezra memakai miliknya.
Julie menarik ujung lengan kemeja yang Ezra pakai. “Aku takut... kalau terjadi seperti di film bagaimana? Hilang keseimbangan kemudian jatuh?”
Ezra tertawa pelan. Dia mengusap kepala Julie. Lembut dan pelan.
“Jangan kebanyakan menonton film, kau jadi sering berhalusinasi. Semua akan baik-baik saja. Ada aku, tenang saja.” Ada kesan melindungi yang terdengar dari suara Ezra. Dalam sekejap, Julie mulai percaya dan yakin akan kalimat suaminya.
Setelah itu helicopter mulai lepas landas dan terbang semakin tinggi. Ada sedikit guncangan yang cukup terasa. Seketika Julie langsung mencengkram kuat tempat duduknya. Ezra yang kebetulan melihatnya langsung mengamit tangan Julie lalu menyatukan jari jemari mereka dalam genggaman erat. Julie marasa aman ketika Ezra menggenggam tangannya.
Tidak perlu memerlukan waktu lama, helicopter yang mereka tumpangi sudah naik tinggi mencapai titik terbaik untuk menyaksikan indahnya kota Portland. Julie terkagum-kagum ketika matanya menangkap semua keindahan yang tersuguhkan.
Berhubung cuaca sangat cerah, Julie dapat melihat semua dengan jelas.
“Oh my God! This is amazing!” gumam Julie merasa takjub. Dia dapat melihat gedung bertingkat, pepohonan, laut, semua yang ada menampakkan keindahan tersendiri yang membuat mood-nya melonjak bagus.
Ezra tidak perlu menikmati pemandangan Portland. Dia fokus melihat Julie yang sedang sibuk dengan kegiatannya. Dia hanya ingin membuat Julie senang setelah enam tahun bersamanya terasa menyiksa bagi wanita itu. Baru kali ini dia melihat Julie sebegitu senangnya. Dalam dirinya, ada perasaan senang tersendiri yang muncul saat matanya menyaksikan senyum yang Julie tampilkan. Selain itu, ada perasaan yang mulai muncul setiap dia menghabiskan waktu berdua dengan wanita berambut kecoklatan itu. Mengapa ketika aku bersamamu, perasaan nyaman ini muncul?
Tiga puluh lima menit menikmati keindahan Portland dari atas langit rasanya cukup memuaskan bagi Julie. Kini helicopter itu sudah mendarat seperti semula.
Ezra mengulurkan tangannya pada Julie, wanita itu tak berhenti melebarkan senyumnya karena masih terkagum-kagum dengan pesona Portland, Oregon.
“Thank you, Husband! Kau benar, aku sangat menyukainya. Sekali lagi terima kasih sudah membawaku mengelilingi Portland dengan helicopter,” ucap Julie sambil memeluk Ezra setelah turun. Nada bicaranya terdengar begitu ceria. Ezra sendiri cukup terkejut atas pelukan yang Julie berikan.
“Kau tidak perlu berterima kasih. Sudah sepantasnya seorang suami membahagiakan istrinya kan? Aku ingin menjadi suami yang seperti itu sekarang,” balas Ezra. Setiap kalimat yang dia lontarkan, bukan sesuai keinginannya. Entah darimana asalnya, kalimat manis itu lolos begitu saja.
“Benarkah? Tumben sekali. Apa jangan-jangan kepalamu terbentur ya saat berada dalam helicopter?” Julie melepas pelukannya lalu menatap Ezra dengan satu alis yang naik.
“Kenapa setiap aku bicara kau selalu bilang kepalaku terbentur? Apa seaneh itu?”
Julie mengangguk cepat. “Jelas aneh! Biasanya ucapanmu menyakitkan. Sekarang kau semakin mengutarakan kalimat yang tidak pernah terpikirkan olehku akan keluar dari mulutmu.”
“Kepalaku tidak terbentur dan aku mengatakan semuanya dalam keadaan sadar. Sudah aku katakan padamu sebelumnya, aku ingin menikmati liburan ini denganmu. Tolong jangan mulai perdebatan tidak penting.”
“Iya-iya. Maaf,” kata Julie akhirnya memilih mengiyakan. “Kalau begitu ayo kita pergi menuju destinasi selanjutnya!”
Jika Julie sudah berjalan mendekati mobil, maka Ezra sedang senyam-senyum seperti orang gila di belakang sana sambil mengikuti langkah istrinya.
She's cute.
Setelah selesai makan, mereka kembali menuju hotel. Julie langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia cukup lelah walau hanya jalan-jalan sebentar.
“Tubuhku pegal semua.” Julie berguling kesana kemari. Dia merasa perlu melakukan itu guna membuat tubuhnya lebih rileks.
“Duduklah, aku akan memijat bagian punggungmu.” Ezra mendekat lalu duduk di tepi tempat tidur.
Julie segera duduk. Dia memunggungi pintu dan membiarkan punggungnya menghadap Ezra. Semenit kemudian Ezra mendaratkan tangan kokohnya pada pundak Julie.
Memijat dan memberikan arti kata rileks yang Julie inginkan. Itulah yang Ezra lakukan sekarang. Julie begitu tenang sambil menutup mata merasakan betapa nikmatnya pijatan Ezra. Ya ampun... apa ada hal yang suaminya tidak bisa lakukan?
“Bagaimana? Sudah lebih baik, Julie?”
Julie mengangguk pelan. Pijatan Ezra pada pundak, punggung dan bagian tengkuk lehernya sangat menenangkan sekaligus nikmat. Saking nikmatnya pijatan itu, baru beberapa menit Ezra memijat, tubuh Julie terhuyung ke samping kanan. Ezra sigap menahan tubuh istrinya. Dia segera menarik tubuh Julie kemudian menidurkannya pada posisi yang lebih tepat.
Ezra membuka kaos kaki yang Julie pakai. Setelah itu dia menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya sampai batas d**a. Tangannya mengusap kepala sang istri sambil menatap wajah cantik yang tertidur pulas.
“Apakah salah kalau aku mulai menikmati kebersamaan kita?”