Tidak terasa hari sudah kembali pagi. Seperti biasa, Julie bangun lebih awal. Dia turun dari tempat tidur. Baru akan memasuki kamar mandi, matanya menangkap Ezra tertidur di atas sofa seperti kemarin.
Kalau dia pikir lagi, Julie merasa kasihan sama suaminya. Tidur di atas sofa dengan kaki menekuk karena panjang sofanya lebih pendek dari kaki sang suami. Pasti sakit tidur dengan tubuh melengkung begitu. pikir Julie.
Perlahan, Julie mendekati lalu menepuk lengan Ezra. Dia mencoba membangunkan Ezra supaya pindah ke atas tempat tidur. Khusus hari ini, dia tidak menginginkan jalan-jalan, karena dia ingin menjenguk Lily yang berada di kamar sebelah.
“Ezra, bangun. Pindah ke atas tempat tidur,” ucap Julie sambil terus menepuk lengan suaminya. Ezra tidak bergeming. Tak ada respons.
“Ezra…” Julie kembali membangunkan suaminya. Kali ini dia menyentuh pipi Ezra, membelainya dengan lembut.
Tetap tidak ada respons. Nampaknya pria itu masih menjelajahi dunia mimpi.
“Ya ampun... kenapa manusia ini tidurnya lelap sekali? Apa pingsan?” Julie menaruh jari telunjuknya pada philtrum Ezra, memastikan masih bernapas atau tidak.
“Astaga!!” pekik Julie ketika tubuhnya jatuh menindih tubuh Ezra yang ada di bawahnya berkat ulah pria itu yang menariknya. Ezra membuka mata sambil mengeratkan pelukan pada pinggang Julie.
“Good morning, Wife,” sapa Ezra dengan senyumnya.
Hal yang jarang Julie lihat selama enam tahun bersama Ezra, yaitu: menyapa dan tersenyum padanya. Perlu di garis bawahi, EZRA TERSENYUM!
Julie pikir keanehan itu akan terlihat beberapa kali saja, ternyata tidak. Ezra sosok yang moody. Setiap pagi tidak akan tersenyum kalau mood-nya tidak bagus-bagus amat. Apa mungkin mood-nya sedang baik?
“Good morning, Mr. Unpredictable.”
“Mau pergi ke mana hari ini?”
“Aku ingin menjenguk Lily saja. Oh ya, lebih baik kau tidur di atas tempat tidur, jangan di sini. Kasihan tubuhmu pasti sakit,” jawab Julie. Dia mencoba melepas pelukan Ezra namun pria itu semakin mendekatkan tubuh mereka.
Alhasil Julie dapat merasakan tubuh Ezra yang sulit dia jelaskan. Perut kotak-kotak ala bongkahan coklat itu dapat Julie rasakan pula.
“Kau yakin tidak ingin jalan-jalan setelah menjenguk Lily?”
Julie memutar bola matanya. “Iya. Aku ingin menemani sepupumu. Jangan bertanya lagi, cepat lepaskan tanganmu!”
Ezra semakin mempererat pelukannya lalu berguling ke samping. Mau tidak mau, tubuh Julie mengikutinya. Beruntung sofa yang mereka tempati cukup besar sehingga tidak membuat mereka jatuh.
“Ezra cepat lepaskan pelukanmu! Aku ingin pergi mandi! Jangan berbuat seenaknya ya, kau tidak boleh memelukku!” Julie mengomel. Tangannya bergerak memukul tangan Ezra yang melingkar pada bagian perutnya.
“Aku sebagai suamimu boleh memeluk tetapi Ken yang bukan siapa-siapa boleh melakukannya?”
“Iya! Cepat lepaskan!”
Efek sudah terlalu sering mendengar nama Ken jadinya sekarang Ezra tidak mudah kesal. Anggap saja semua yang Julie katakan mengenai Ken hanya angin lalu. Karena tidak mau melepaskan pelukan, Ezra semakin mempereratnya.
“Lima menit saja, setelah itu kau boleh pergi,” bisik Ezra lembut.
Seketika Julie menghentikan usaha penolakannya. Pada akhirnya dia mengikuti kemauan sang suami. “Ya sudah.”
Julie tidak jadi menjenguk Lily karena ternyata sedang pergi ke luar bersama Keanu. Katanya keadaan Lily sudah membaik. Julie tidak akan heran kalau Lily pulih secepat itu.
Sebagai gantinya, Ezra mengajak Julie ke Washington Park Gardens, tepatnya mendatangi International Rose Test Garden. Ezra belum tahu apakah Julie menyukai bunga mawar atau tidak, yang pasti senyum wanita itu mengembang setelah mereka tiba.
Julie terkagum-kagum ketika mata menangkap keindahan bunga mawar bermekaran. Banyak pengunjung yang berdatangan. Suasana hati Julie langsung berubah drastis menjadi senang tidak karuan. Hampir tujuh ribu semak yang mencakup lebih dari 550 varietas mawar yang berbeda tumbuh di sana. Setiap varietas diberi label untuk memudahkan pengunjung mengetahui jenisnya.
“Mr. Walton, bolehkah aku meminjam ponselmu?” Julie tersenyum manis sambil mengedipkan matanya berkali-kali berusaha merayu sang suami.
“Untuk apa?”
“Ya memotret keindahan mawarnya, sayang. Untuk apalagi? Memotret dirimu? Lebih baik juga memotret bunga mawarnya.”
“Silahkan foto mawarnya sesukamu.”
Julie tidak menjawab lagi setelah Ezra memberikan ponselnya. Wanita itu berlari kecil menghampiri beberapa bunga mawar merah yang tumbuh. Dia memotretnya sambil tersenyum kegirangan.
Semakin ke sini, Ezra merasa nyaman setiap bersama Julie. Tidak ada lagi bayangan Violet. Kebersamaannya dengan Julie seolah menggantikan semua kenangannya. Dulu dia sering menangisi Violet, namun sekarang kegiatan rutin itu sudah tidak ada lagi.
“Mr. Walton, bolehkah aku meminta tolong? Aku ingin kau memotretku menggunakan kamera ponselmu. Boleh kan?” Julie sudah kembali menghampiri Ezra dan wajah memohon itu terlihat jelas.
“Please?” Julie menampilkan puppy eyes-nya. Seperti anak kecil meminta mainan, begitulah ekspresi Julie sekarang.
“Iya,” jawab Ezra yang kemudian mengambil alih ponsel yang sudah Julie sodorkan sedari tadi. Wanita itu semakin girang sambil menarik lengan Ezra menuju titik terbaik untuk berpose.
Tanpa menolak, Ezra mengikuti Julie sampai langkah istrinya berhenti. Mereka berhenti tepat di depan undakan tangga. Di sana bunga mawarnya dapat terlihat jelas meskipun tidak semua. Julie sengaja memilih spot itu agar dia bisa berdiri di tengah jalan menuju tangga serta memamerkan keindahan bunga pada sekelilingnya.
“Tolong foto aku ya! Aku akan mengambil posisi sekarang.” Julie berlari meninggalkan Ezra yang berjarak beberapa langkah dari tempat yang sudah dia pijaki sekarang.
Julie memasang senyum lebar terbaiknya sambil kedua tangan melebar seperti kepakan sayap burung. Ezra memegang ponselnya secara horizontal. Dia memastikan potret yang dia ambil bagus, sehingga perlu waktu beberapa menit sampai akhirnya dia mendapatkan hasil terbaik.
“Sudah belum?” teriak Julie dari seberang sana. Ezra mengacungkan ibu jarinya sebagai jawaban.
“Sekali lagi, Mr. Walton!” teriak Julie lagi. Dia tidak peduli orang akan mengatakan norak atau apa, yang penting dia bisa menikmati liburannya kali ini. Tidak seperti di North Island kemarin, berenang atau berjemur saja tidak!
Ezra kembali memotret Julie yang sudah berganti pose. Kali ini pose wanita itu menunjukkan wajah duck face yang cukup menggemaskan. Berkat posenya itu Ezra jadi senyam-senyum memperhatikannya.
She's so beautiful.
“Sudah kan?” Julie kembali bertanya sambil berjalan mendekat. Lagi-lagi Ezra hanya mengacungkan ibu jarinya sebagai jawaban.
“Lihat saja dulu hasilnya. Kalau kurang bagus, aku akan mengambilnya lagi untukmu,” kata Ezra sambil menyerahkan ponselnya pada Julie.
Dengan cepat Julie melihat hasil potret yang Ezra ambil. Sedikit mengejutkan ketika melihat hasilnya. Bukan jelek, melainkan sangat bagus. Fokus kamera Ezra pada wajah dan panorama sekitar sangat luar biasa. Mungkin selain karena kamera ponsel Ezra yang harganya fantastis luar biasa bagus, pria itu juga pintar mengambil gambar dengan baik.
“Hasilnya bagus. Kenapa kau tidak buka jasa jadi fotografer saja? Pasti banyak yang memakai jasamu,” celoteh Julie. Tidak berhenti sampai di situ saja, Julie mengeluarkan banyak kalimat yang menunjukkan kecerewetannya.
Ezra hanya mendengarkan tanpa merespons. Dia lebih senang mendengar kecerewetan Julie. Padahal dulu kalau bersama Violet dia akan menimpali tiap ucapannya. Tetapi berbeda ketika bersama Julie. Dia lebih senang menjadi pendengar yang baik dan memerhatikan ekspresi yang Julie tunjukkan selama berbicara. Jangan lupakan ketika Julie menampilkan senyum, Ezra merasa lebih senang. Hatinya menghangat setiap Julie menampilkan senyumnya.
“Ah iya, aku tidak pernah foto denganmu. Ayo kita foto berdua!” Belum sempat Ezra menyetujui, Julie sudah mengamit tangan Ezra lalu menariknya hingga menuju tempat berfoto sebelumnya.
Dengan berani, Julie meminta tolong pada salah satu pengunjung yang kebetulan melintas di depannya. Akibat terlalu girang dan mood Julie melonjak drastis, dia tidak menyadari tangannya melingkar pada pinggang Ezra. Tubuh mereka semakin berdekatan. Senyum menawan milik Julie turut terselip sempurna.
Mata Ezra mengarah pada tangan Julie yang memeluk pinggangnya. Secara perlahan Ezra ikut melingkarkan tangannya pada seputaran pinggang ramping Julie.
Orang yang bersedia memotret mereka memberi kode pada Julie karena Ezra tidak tersenyum.
Melihat kode itu Julie langsung melihat pada Ezra lalu mendongak sedikit karena Ezra lebih tinggi darinya. “Smile, Mr. Walton.” Kalimat itu berakhir dengan senyum Julie yang terlihat mengembang ketika menatap Ezra.
Detik berikutnya Julie kembali melihat orang asing yang sudah memberi kode akan bersiap memotret mereka. Ketika Julie menatap lurus, Ezra justru tetap melihat sang istri. Dan, kedua sudut bibir itu tertarik sempurna menciptakan senyum senang ketika menatap Julie.
Orang yang membantu mereka ikut tersenyum melihat indahnya potret yang dia dapatkan. Seorang suami yang menatap sang istri dengan senyum bahagia, sementara sang istri tetap tersenyum menatap kamera tanpa menyadari pose yang suaminya tunjukkan.
Your smile is so precious, Juliana.