Selesai berfoto, Julie segera mengambil ponselnya dari pengunjung yang sudah membantu mereka. Ezra menunggu istrinya kembali namun tiba-tiba matanya menangkap ada seorang pria mendekati Julie. Pria berwajah tampan tampak tersenyum pada Julie dan memberikan ponselnya. Ada rasa kesal bercampur aduk bersama rasa cemburunya. Secepat kilat Ezra menghampiri Julie yang baru saja memegang ponsel pria itu.
Ezra langsung mengamit tangan Julie. “Kita pergi sekarang.”
“Eh–dia minta tolong padaku untuk memotretnya sebentar,” jawab Julie berusaha melepaskan tangan Ezra. Pasalnya dia masih memegang ponsel pria yang terlihat kebingungan itu.
“Kembalikan ponselnya. Tidak usah membantunya,” suruh Ezra tegas.
“Kau gila ya? Tadi kita minta tolong sama orang lain, sekarang kita harus membantu orang lain juga. Dasar egois!” Julie langsung melepas paksa tangan Ezra padanya. Dia tersenyum pada pria tersebut
Pria itu mendengarkan perdebatan kecil mereka. Saat dia akan meminta ponselnya balik, Julie justru memberi kode untuk mengambil posisi. Tak lama dia menurutinya, dan berpose bersama sang kekasih.
Tatapan tajam Ezra berubah sedikit demi sedikit setelah melihat pose yang pria itu tunjukkan. Terutama kekasihnya yang notebene seorang pria juga.
“Thank you for your help,” ucap pria itu sambil mengambil ponsel yang Julie sodorkan.
“You are welcome,” balas Julie.
Kepergian dua pria itu membuat Julie mendelik tajam pada suaminya. “Syukur dia minta tolong padaku, kalau padamu mungkin sudah kau tolak mentah-mentah. Dasar egois!” Belum ada jawaban apa-apa dari Ezra, dia sudah beranjak pergi meninggalkan suaminya.
“Hey–Juliana!” Secepat mungkin Ezra mengejar langkah sang istri yang sudah melesat cukup jauh.
Setelah mampu menyamai langkah istrinya, Ezra langsung mengamit tangan Julie. Dia menyatukan sela-sela jemari Julie dengan miliknya.
“Jangan jalan sendirian, kau sudah bersuami.”
Julie memutar bola matanya jengah. Bersuami? Sejak kapan Ezra peduli soal hal itu? Biasanya juga mereka berpegangan tangan pada saat tertentu saja–acara pesta sebagai contohnya.
“Tadi kau terlihat kesal karena aku akan membantu yang lain. Sekarang aku tidak boleh jalan sendirian.”
“Aku tidak suka kau membantu pria lain. Biarkan saja dia memotret dirinya sendiri. Tangannya ada dua, selfie juga bisa. Tapi...”
“Tapi dia gay! Kau pikir aku akan tertarik padanya hanya karena membantu? Sungguh pemikiran gila! Aku tidak mungkin tertarik sama pria sembarangan. Eh–apakah itu tandanya kau cemburu?”
Ezra menghentikan langkahnya sehingga memaksa Julie melakukan hal yang sama. Dia memutar tubuhnya ke samping hingga menghadap Julie. Wanita itu hanya melirik sedikit, sementara tubuhnya mematung.
“Iya, aku cemburu. Kalau ada yang mendekatimu lagi, aku jamin dalam hitungan menit nyawanya hilang,” tegas Ezra penuh penekanan. Ada kesan posesif dan cemburu.
Julie tertawa nyaring. “Nyawanya hilang? Kau pikir kau siapa? Ghost Rider? Superman? Hulk? Hahaha...”
Tawa Julie begitu mendominasi sehingga terkesan meremehkan kalimatnya barusan. Apa tidak bisa sekali saja wanita ini tidak meremehkanku? Benar-benar!
“Sudah ah, aku ingin makan. Aku lapar. Omonganmu tidak masuk akal!”
Seperti sebelumnya, Julie berhasil melepas paksa tangan Ezra dari genggamannya. Dia kembali jalan duluan meninggalkan suaminya.
Sejak kemarin Ezra sudah merasakan perasaan campur aduk setiap bersama Julie. Sekarang juga begitu. Dia mulai menunjukkan sikap-sikap yang dia rasa hanya Violet yang pernah mengetahuinya.
Tetapi... kenapa semakin dia merasakan kenyamanan, semakin dia tidak senang jika Julie pergi kemana-mana tanpanya? Seperti contohnya tadi—jalan sendirian tanpa menunggunya.
Apa mungkin...?
Lelah berkeliling, keduanya pergi menuju tempat lain. Ezra mengajak Julie ke salah satu restoran yang menyuguhkan panorama indah. Restoran tersebut berada di lantai 15 sebuah hotel.
Semua terbukti ketika Julie menganga saat matanya menatap keindahan gedung-gedung pencakar langit yang terbentang luas. Semua panorama itu dapat terlihat dari jendela besar yang ada tepat di belakang tempat duduknya.
Perhatian Julie tersita beberapa menit sebelum akhirnya dia kembali melihat Ezra yang duduk di seberangnya.
“By the way, kenapa tidak ada satu orang pun di sini? Kita pelanggan pertamanya?” tanya Julie heran.
“Aku tidak mau ada kebisingan saat berdua bersamamu,” jawab Ezra.
Julie sudah mengerti maksud Ezra. Secara tidak langsung pria itu menyebutkan kalau seluruh restoran sudah dia pesan. Memang dasar anak orang kaya, mau berbuat apa saja terasa mudah. Sungguh hidup tak adil bagi yang tidak berkesempatan merasakan hidup seperti mereka. batin Julie.
“Lain kali makan di kamar hotel saja kalau kau tidak mau bising. Masih banyak di luar sana yang butuh makanan, dan kau menghamburkan uangmu hanya untuk memesan satu restoran. Aku saja kalau pergi dengan Ken tidak–” Detik itu juga Julie mengatup mulutnya. Dia kelepasan menyebutkan nama Ken. Tatapan santai Ezra yang menatap buku menu berubah menjadi tajam ketika mata itu ikut menatapnya.
“Maksudku kalau aku pergi dengan Rosie sahabatku, kita biasa makan di tempat murah. Berbaur dengan pengunjung lain,” ralat Julie buru-buru. Sengaja dia menyisipkan senyum agar suaminya tidak marah.
“Rosie? Aku tidak tahu kau punya sahabat,” tanya Ezra. Beruntung pembahasan soal sahabat Julie lebih menarik ketimbang nama yang sempat membuatnya kesal.
“Kau tidak tahu karena kau selalu mengurungku di dalam istana fantasimu. Kalau tidak, aku dapat mengenalkan Rosie padamu. Hampir tiga tahun aku tidak menghubunginya setelah kita tinggal di pulau asing waktu itu. Ah, aku jadi rindu padanya...” cerita Julie.
“Bagaimana kau mengenal Rosie?” tanya Ezra lagi. Dia jadi ingin tahu lebih banyak mengenai Julie, temannya atau semua tentang istrinya itu.
“Aku dan Rosie tinggal di Whitby. Salah satu kota yang populasinya tidak banyak. Kalau kau tidak tahu dimana Whitby, silahkan cari di google atau sekolah lagi supaya kau tahu.” Julie memberi penjelasan awal lalu menghentikan kalimatnya setelah menyadari mimik wajah Ezra berubah saat mendengar kata 'Whitby'. Dia yakin suaminya tidak pernah ke sana.
“Rosie tetangga sebelah rumahku. Setelah orangtuaku meninggal, aku tinggal bersamanya. Sampai akhirnya dia mengajakku pergi ke London dan bekerja di sana. Yah, akhirnya aku mengikuti jejaknya. Selama di London aku tinggal dengannya di sebuah flat sederhana. Aku menjalani hariku, bekerja dan menemukan pria baik–”
“Iya, pria itu Ken. Aku tahu,” potong Ezra menyela.
Julie nyengir. Dia jadi terbayang lagi pertemuan awalnya bersama Ken. Kalau mengingat hal itu rasanya dia ingin kembali pada masa-masa tidak bertemu dengan Ezra dan mungkin hidupnya sudah tenang sekarang.
“Jangan membayangkan Ken terus, lanjutkan ceritamu,” usik Ezra yang menyadari Julie senyam-senyum sendiri di seberang sana. Tanpa bertanya, dia yakin istrinya membayangkan wajah Ken yang sempurna itu.
Julie mencibir, Kau mengganggu bayanganku saja! Ceritanya selesai, aku ingin makan.”
Ezra tidak bisa memaksa. Dia memanggil pelayan kemudian memesan makanan terbaik yang restoran itu sajikan. Berhubung Julie tidak dapat memutuskan ingin makan apa, dia mengikuti pesanan suaminya.
Julie kembali melihat pemandangan, sedangkan Ezra memerhatikan sosok itu sambil bertanya-tanya. Mengapa Julie begitu sering menyebutkan Ken, membandingkannya dengan pria yang sudah memiliki kekasih baru. Hatinya jadi tidak karuan. Kesal, cemburu, tidak suka, semua menjadi satu.
Selama memerhatikan Julie, diam-diam Ezra memotret wanita itu. Bagusnya dia sudah mematikan suara ponselnya. Dia tersenyum senang saat memandangi foto Julie yang baru saja dia ambil. Kemudian dia menggeser foto lainnya, menampilkan foto dia berduaan dengan sang istri dalam satu frame. Pelan-pelan ibu jarinya menekan semua fotonya bersama Julie lalu menyimpannya dalam satu folder baru bernama: Our Memories.
Kesibukan mereka masing-masing harus terhenti akibat makanan yang sudah tiba setelah hampir dua puluh menit berlalu. Mereka langsung menyantap makanannya. Julie nampak begitu lahap. Wanita itu seperti tidak makan tiga hari.
Biasanya Ezra akan marah kalau Julie bersikap tidak lembut, berantakan, sesuka hatinya. Sekarang dia membiarkan semua hal itu. Sosok wanita itu sudah lama dia jadikan boneka, memaksanya untuk menurut dan mengikuti apa yang dia mau. Namun kini, boneka itu telah berubah–menjadi dirinya sendiri.
“Ada sisa makanan di atas bibirmu, Julie.” Ezra memberitahu sambil menunjuk bagian yang dia maksud. Wanita itu mengikuti instruksinya namun jari telunjuknya salah arah.
Sekali lagi Ezra memberitahu, namun lagi-lagi Julie salah. Akhirnya Ezra memilih bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan beberapa langkah menghampiri sang istri. Ezra sedikit mencondongkan tubuhnya pada Julie yang terduduk. Wanita itu menoleh lalu mendongak padanya.
“Yang aku maksud di sini.” Ezra menghapus sisa bumbu dari steak menggunakan ibu jarinya.
Julie terpaku merasakan sentuhan Ezra mendarat pada bibirnya. Permukaan jari itu terasa lembut.
Sesudah itu, Ezra mengambil alih piring milik Julie. Sebelumnya dia sempat melihat Julie kesulitan memotong daging. “Aku bantu kau memotongnya.”
“Terima kasih, Sayang,” ucap Julie pelan. Nada kerasnya berubah lembut.
“Tidak perlu berterima kasih. Sudah sepantasnya aku melakukan ini untuk istriku.”
Wajah Julie bersemu merah. Dia tidak tahu kenapa, tetapi yang pasti panggilan 'istriku' telah membuatnya tersipu malu. Mungkin Ezra dapat melihat wajah malu-malunya itu.
“Selamat makan, Sayang,” kata Ezra akhirnya setelah dia selesai memotong dagingnya.
Julie kehabisan kata-kata. Tumben sekali Ezra mengucapkan selamat makan. Selama enam tahun, kalimat itu baru terdengar hari ini.
Tidak lama kemudian Ezra kembali duduk. Dia menarik senyum saat Julie masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Entah sudah berapa kali Ezra tersenyum saat bersama Julie. Perasaan senang, tenang, bahagia, semua bercampur menjadi satu. Dia juga merasa kesal, cemburu dan marah setiap Julie membahas Ken atau dekat dengan pria lain.
Dari semua hal yang datang secara tiba-tiba, dia mulai menyadari satu hal yang menyebabkannya merasakan semua itu. Sepertinya, dia mulai jatuh cinta.