Lily menatap air terjun Multnomah yang menjadi destinasi terkenal di sana. Keanu membawa Lily ke sana berkat saran dan persetujuan Ezra untuk mengelilingi Portland.
Dia sudah membaik, namun bekas lukanya belum hilang, terutama beberapa lebam pada wajah serta jahitan pada lengannya. Semenjak kejadian di North Island beberapa waktu lalu, Lily jadi lebih banyak diam. Keanu sendiri berusaha mengajak bicara namun Lily jarang menyahuti seperti biasa.
“Lil, apa yang kau pikirkan? Aku merasa akhir-akhir ini kau sering diam. Aku bicara saja kau jarang menanggapi. Ada apa?” tanya Keanu. Dia melirik Lily yang bersebelahan dengannya. Wanita itu nampak tenang mendongakkan kepala melihat air terjun yang menjulang tinggi.
Semenit berlalu dan Lily tidak kunjung merespons.
“Apa semua ini karena Ryan mantanmu? Aku tidak pernah tahu kau punya mantan tunangan kalau Ezra tidak memberitahuku.”
Masih tetap sama, Lily diam membisu. Terpaksa, Keanu menggunakan cara lain. Dia memutar tubuh Lily hingga menghadapnya lalu mengamit satu tangan wanita itu.
“Menikahlah denganku, Lily Walton,” ucap Keanu pelan. Ada keseriusan yang tersirat, terutama ketika matanya berbicara seolah menunjukkan kesungguhan atas ajakan tersebut.
Lily menggerakkan bibirnya hendak merespons, tiba-tiba mendadak terhenti akibat jari telunjuk dan ibu jari Keanu memegang cincin bermata berlian yang Keanu tunjukkan tepat di depan wajahnya.
“Aku mungkin belum bisa memberikanmu cincin yang mahal atau kemewahan seperti yang kedua orangtuamu berikan. Tetapi aku bisa memberikan dan mengusahakan kebahagiaan selama bersamaku. Maukah kau hidup sederhana, menghadapi cobaan dan saling mencintai sampai ajal memisahkan kita? Menikahlah denganku, Lily Walton. Aku bukan lagi berharap, tetapi sangat berharap kau menjadi Mrs. Milburn.” Keanu mengajak, tatapannya begitu tulus.
Pelupuk mata Lily meneteskan air mata. Dia diam bukan karena enggan bicara dengan Keanu, melainkan karena dia memikirkan bagaimana cara memusnahkan Ryan yang jahat itu.
“Aku bisa memberimu waktu untuk menjawab tapi jangan menangis. Hatiku sakit melihatmu menangis.” Satu tangan Keanu yang menggenggam tangan Lily terlepas, beralih pada wajah Lily untuk menghapus air matanya.
“I can't,” jawab Lily akhirnya.
“Kenapa? Apa aku tidak cukup baik untukmu?”
“Keanu, kau lebih baik dari semua pria yang aku kenal. Aku bukan memikirkan Ryan dalam arti masih mencintainya, bukan. Aku memikirkan bagaimana cara melenyapkannya. Kenapa aku tidak mengatakan soal Ryan, karena aku pikir dia sudah tiada sehingga kau tidak perlu mengetahuinya. Ternyata dia belum meninggal. Aku minta maaf tidak memberitahumu.” Lily kembali meneteskan air mata dan Keanu kembali menghapusnya.
“Lantas kenapa kau mengatakan tidak bisa menikah denganku? Berikan aku alasanmu, Lily.”
“Kita berdua tidak bisa menjalani hidup normal seperti orang lain, Keanu. Kau punya pekerjaan menjaga orang lain dengan nyawamu, dan aku mempertaruhkan nyawaku melawan saingan lain. Kehidupan normal seperti apa yang mau menyambut kita? Hidup kita tidak bisa tenang, Keanu.”
Keanu menarik senyum kemudian menyelipkan sisa rambut Lily pada daun telinganya.
“Aku akan berhenti dari pekerjaanku setelah kita menikah. Mencari pekerjaan yang lebih aman sehingga kau tidak perlu khawatir. Aku tidak memaksamu berhenti dari profesimu, tapi dengan senang hati aku akan menjagamu dari segala macam bahaya yang datang. Kita bisa menjalani hidup normal, Lily. Tergantung perspektif seperti apa yang kau gunakan untuk mengartikan maksudnya,” ujar Keanu. Ketulusan, kelembutan dan keyakinan menjadi satu ketika tatapan Keanu menunjukkan hal tersebut.
Tidak ada yang bisa meyakinkannya selain Keanu. Hatinya tergerak untuk mengiyakan namun bibirnya kesulitan untuk berucap.
Keanu bertekuk lutut di hadapan Lily, menyodorkan cincin yang dia beli dari hasil kerja kerasnya lalu mendongak sedikit untuk menatap wanita pujaannya.
“Dalam keadaan apa pun, aku akan selalu bersedia menjagamu dalam dekapanku. Aku akan membuatmu merasakan kebahagiaan sehingga kau lupa apa itu luka yang pernah ada dalam hatimu. Maukah kau menikah denganku, Lily Walton?”
Lily tidak bisa mengelak takdir yang sudah ada di depan mata. Membangun rumah tangga memang impiannya, namun ketakutan akan kehidupan penuh bahaya selalu membawanya mundur beberapa langkah. Tetapi Keanu berhasil meyakinkannya dengan cara lembut nan penuh keseriusan.
“Ya, aku bersedia. Bawa aku dalam pelukanmu dan yakinkan semua yang kita jalani akan berbuah baik.”
Keanu menarik senyum lebar. Dia langsung memakaikan cincin tersebut pada jari manis Lily. Setelahnya dia berdiri kemudian memeluk calon istrinya kelak.
“Semua akan baik-baik saja, Lily. Aku tidak akan membiarkan dirimu terluka lagi, dan aku akan selalu menjagamu dalam genggamanku,” bisik Keanu. Dia semakin mempererat pelukannya.
Dalam dekapan dan kalimat yang Keanu lontarkan, Lily merasakan apa arti ketulusan. Pria itu tak pernah lelah mendampingi dan meyakinkan semua hal buruk yang mungkin terjadi akan berubah baik.
“Aku mencintaimu, Keanu Milburn.”
Keanu tersenyum lebar. Dia melepas pelukannya kemudian menatap Lily penuh cinta.
“Aku lebih mencintaimu, Lily. Kau wanita terhebat yang pernah aku temui.”
Kalimat terakhir Keanu membawa wajahnya semakin dekat menuju bibir sang pujaan. Pelan tapi pasti, bibir mereka bertaut sempurna. Mereka saling mendekatkan diri hingga nyaris berpelukan dalam ciuman penuh cinta.
Julie merasa kepalanya pusing setelah makan tadi. Dia memiliki alergi akan daging domba. Kalau makan daging domba kepalanya akan pusing dan berujung pingsan. Tetapi daging yang dia makan adalah daging sapi. Apa jangan-jangan daging domba?
Ezra sedang berada di dalam kamar mandi. Julie ingin mengetuk pintu kamar mandi setelah bersusah payah berjalan sampai di depannya. Matanya kunang-kunang dan kepalanya berputar seolah-olah seisi kamar hampir runtuh. Tangannya sudah bersiap mengetuk, namun sayang tubuhnya lebih dulu tumbang.
Bagusnya ketika Julie tumbang, Ezra membuka pintu sehingga tangannya sigap menangkap tubuh istrinya.
“Julie? Julie?!” Ezra menepuk pelan pipi Julie, namun tak ada pergerakan dari istrinya.
Tanpa berlama-lama, Ezra segera menggendong tubuh Julie. Dia bergegas keluar dari kamar. Para pengawal yang berjaga di depan kamar langsung mengikuti Ezra dari belakang. Tim turut ikut bersamanya.
Ezra menunggu dokter keluar dari ruang kamar Julie. Tangannya basah karena resah menunggu dokter memberitahu apa yang terjadi.
“Mr. Walton, istri anda baik-baik saja. Istri anda hanya kelelahan. Dia butuh istirahat karena dia sedang hamil.”
Seketika d**a Ezra sesak. Dia kesulitan mengeluarkan kalimat yang sangat ingin dia pertanyakan.
“Hamil?”
“Iya, istri anda sedang mengandung Mr. Walton. Usia kandungannya baru tujuh minggu. Pastikan istri anda mendapat istirahat yang cukup.”
“Baik, dokter. Terima kasih atas informasinya.”
Dokter tersebut menarik senyum kemudian pamit untuk meninggalkannya. Mendadak lutut Ezra lemas. Dadanya sesak. Tenggorokkannya seakan tercekik.
Jadi Julie hamil? Ezra tidak perlu melanjutkan pertanyaan dalam benaknya. Dia sudah mengetahui siapa ayah dari janin yang Julie kandung–sepupunya. Dia mengusap wajahnya kasar. Kepalanya jadi ikut sakit mengetahui kebenaran yang menyakitkan. Baru saja dia ingin mencoba membangun kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya, kini dia harus mendengar berita pahit.
Kepergian mereka sejak meninggalkan mansion Ken memang sudah hampir dua bulan. Seharusnya dia tidak membiarkan Julie berduaan dengan Ken. s****n!
Ezra menghela napas berat sebelum akhirnya dia masuk ke dalam kamar inap Julie. Sesudah masuk, Ezra menarik kursi agar lebih dekat dengan istrinya. Kemudian dia duduk di sana sambil mengamit tangan Julie. Dia menggenggamnya lalu mencium punggung tangan itu cukup lama.
Ezra memandangi Julie yang terbaring lemah. Ternyata Julie lebih meledak-ledak karena hamil. Ezra benar-benar tidak menyangka kabar buruk seperti ini akan datang padanya. Julie memang istrinya, namun hamil anak pria lain yang notebene mantan tunangan Julie.
Untuk sekarang Ezra akan bersikap egois. Dia tidak peduli. Dia tidak ingin Julie kembali pada Ken. Tidak. Wanita itu harus tetap bersamanya.
Dengan caranya, dia tidak perlu memberitahu Julie soal kehamilannya. Cukup dia yang tahu. Lily, Keanu dan Tim juga perlu tahu guna menjaga Julie. Sisanya tidak boleh ada lagi yang mengetahui atas kabar itu, terutama Ken.
Ezra cukup menjaganya agar janin yang Julie kandung tidak keguguran. Tetapi wanita itu tidak perlu tahu, sama halnya dengan rahasia yang dia tutupi. Kalau Julie tanya kenapa dia di rumah sakit, dia akan menjawab wanita itu hanya kelelahan. Iya, begitu.
Semua akan berjalan sesuai keinginannya.