Lily dan Ezra duduk berhadapan. Mereka menikmati suguhan kopi hangat di salah satu cafe dekat rumah sakit, membiarkan Keanu dan Tim menjaga Julie. Sudah hampir setengah jam Ezra terlihat resah dan gelisah. Tidak biasanya Lily melihat sepupunya seperti itu. Setelah cukup lama diam dalam hening, akhirnya bibir Ezra mulai bergerak.
“Julie hamil. Dia hamil anaknya Ken. Padahal aku...” Ezra tidak sanggup melanjutkan. Dadanya terasa sesak.
Lily tidak terkejut. Mengingat bagaimana Ezra membebaskan Julie bersama Ken dan menghabiskan waktu dengan keturunan Ackles itu bahkan sampai menginap pun boleh.
“Aku tahu kau mulai mencintainya. Iya kan?” tebak Lily sekenanya. Dengan cepat Ezra menganggukan kepalanya.
“Dulu aku pernah mengatakan padamu, jangan menjadikan Julie pelampiasan atau pengganti Violet. Itu salahmu membiarkannya bersama Ken selama kalian bersama. Aku tidak bisa menyalahkan Ken dan Julie dalam hal ini. Mereka saling mencintai. Sementara dirimu? Akhirnya sadar bukan bahwa kau dapat melupakan Violet? Sedari awal kau menikahinya, harusnya kau tiduri saja. Untuk apa hanya menjadikan dia mainan sementara dia tidur dengan mantan tunangannya. Kau bodoh dan aku tidak akan menyalahkan mereka,” cerocos Lily dengan nada agak kesal.
Iya, Lily kesal dengan semua kebodohan Ezra yang hanya mementingkan Violet sampai pria itu lupa kalau cinta baru sudah menyapa maka akan melupakan yang telah hilang sebelumnya.
Dalam posisi seperti ini, Ezra yang salah. Sedari awal sepupunya itu sudah salah langkah, membiarkan istrinya berdua dengan pria lain. Andai saja Ezra bukan sepupunya mungkin Lily sudah memaki kasar sejak dulu. Kalau perlu memukul kepalanya supaya sadar.
“Aku tidak tahu Julie akan hamil.”
“Hanya sekadar tidur biasa tanpa bersentuhan? Ayolah Ezra, kau bukan anak kecil lagi. Mereka juga sudah dewasa. Saling mencintai, berduaan, pasti ada hasrat yang perlu mereka penuhi.”
“Aku juga tidak tahu semua akan menjadi begini, Lily.”
“Iya, kau tidak tahu pada akhirnya cinta akan menghampirimu lagi. Hubungan macam apa yang tidak ada cinta di dalamnya? Bahkan pernikahan atas dasar perjodohan yang awalnya tidak ada perasaan dapat berubah menjadi cinta yang dalam. Obsesimu pada Violet benar-benar menutup keterbukaanmu, Ezra. Kalau sudah begini, semua jadi runyam. Cepat atau lambat setelah perut Julie membesar, kau harus mengatakan yang sejujurnya.”
Ezra tidak menjawab lagi. Dia menundukkan kepalanya, mengusap kasar wajah penuh penyesalan.
“Aku tidak bisa berkomentar apa-apa lagi. Sedari awal kau sudah salah membiarkan mereka sering bertemu. Jangan sampai anak Julie dan Ken merasakan apa yang aku rasakan. Setidaknya beritahu Julie ketika perutnya semakin membesar. Urusan Julie memilih menetap padamu atau kembali pada Ken, serahkan padanya.”
“Aku tidak mau kehilangan dia, Lily. Tidak bisa. Tidak boleh ada yang memilikinya selain aku.”
“Kalau begitu buatlah dia jatuh cinta padamu. Sehingga dia bisa memutuskan. Bersamamu atau kembali pada Ken.” Lily mempertegas kalimatnya.
Kalimat Lily semakin menguatkan tekat Ezra untuk mengikat Julie untuk terus bersamanya. Seperti enam tahun sebelumnya, dia menyimpan Julie baik-baik dalam genggaman. Begitu pula sekarang, akan tetap sama. Julie tidak akan pergi kemanapun. Selain hidup bersamanya.
London, Inggris
Ken baru saja pulang dari tempatnya bekerja. Dia lebih dulu mampir ke rumah Lana sebelum pulang.
Sekarang wanita yang menjadi kekasihnya sedang menyiapkan teh hangat untuknya. Kebetulan udara di luar cukup dingin. Ken duduk manis memerhatikan Lana yang masih mengenakan seragam kepolisian sedang mengaduk gula yang menumpuk pada bagian bawah cangkir.
“Bagaimana kabar Julie?” tanya Lana tiba-tiba. Ekspresi Ken yang awalnya biasa saja langsung menjadi penuh kerutan pada dahinya.
“Aku tidak tahu,” jawab Ken jujur. Dia bersusah payah mencari tahu keberadaan Julie tetapi hasilnya nihil. Dia mencoba melacak ponsel Ezra namun nomornya tidak terdaftar.
Lana melangkahkan kakinya mendekati Ken yang menunggu suguhan teh darinya. Dia tersenyum sambil menaruh secangkir teh tersebut di atas meja makan berbahan kayu.
“Kau merindukannya?” tanya Lana tanpa memudarkan senyum.
“I don't know,” jawab Ken rancu. Jelas kalimat itu membuat Lana menarik kursinya agar lebih dekat dengan sang kekasih.
Lana menarik senyum tipis. Dia mendaratkan tangannya pada pipi sang kekasih lalu membelainya sambil menatap hangat.
“Kita tahu, hubungan ini terjalin karena kita berdua sama-sama ingin melupakan masa lalu. Kau melupakan Julie, aku melupakan Adam. Tidak ada yang melarang hubungan tanpa cinta yang kita jalani sekarang.” Sentuhan lembut tangan Lana terasa hangat. Tatapan lembut nan menenangkan itu menunjukkan banyak kesabaran.
“Apa maksud di balik ucapanmu, Lana? Ada apa?” Ken menggenggam tangan Lana yang masih mampir pada pipinya.
“Kalau kau ingin mengejar Julie, aku rela...” Lana cukup berat mengatakan kalimat itu apalagi dia mulai jatuh dalam pesona kekasihnya. Meski tidak dapat berbohong dalam hatinya masih ada sosok Adam–mantan suaminya.
Ken mengerutkan dahi, menunjukkan keterkejutannya atas kalimat yang lolos dari mulut Lana.
“Kejarlah wanita yang dapat membuatmu bahagia, Ken. Cinta tidak dapat memaksakan apa yang bukan menjadi milik mereka. Begitu pula denganmu. Aku rela kalau seandainya Julie menjadi kebahagiaanmu. Aku yakin Julie masih mencintaimu, seperti kau mencintainya sampai detik ini.” Lana melebarkan senyumnya. “Aku rela Ken...”