“Aku rela Ken...”
Ken menggelengkan kepala. Dia mencium telapak tangan Lana yang tergenggam. Walau besar keinginannya untuk mengatakan dia ingin mengejar Julie, namun rasanya itu sangat tidak adil. Mungkin dia belum bisa mencintai Lana, tetapi setidaknya dia tidak boleh memberi jawaban menyakitkan. Lagi pula... dia perlu melupakan. Iya, mungkin sudah saatnya dia melupakan Julie. Perasaanya mengatakan Julie bahagia bersama Ezra. Hati pujaannya pasti sudah pindah ke sisi suaminya.
“Jangan mengatakan apa-apa lagi. Tidak perlu membahas hal itu.” Ken menarik tubuh Lana, mendekat kemudian memeluk sangat erat. Kecupan pada puncak kepala menjadi tambahan lain darinya.
Selama Ken memeluknya, Lana ikut membalas. Di sana dia baru berani meneteskan air mata. Dia berpura-pura tegar dan kuat, padahal hatinya terlalu rapuh untuk merelakan pria yang ada bersamanya.
“Jangan bahas mengenai Julie lagi. Lebih baik kita mengurus hubungan yang sudah ada,” bisik Ken lirih.
Kalimat akhir Ken semakin menjatuhkan air mata Lana. Dia menahan diri untuk tidak terisak. Sebelumnya dia sudah menyiapkan mental ketika Ken akan mengatakan hal terburuk, namun kenyataannya pria itu justru menyatakan hal lain.
“Aku mencintaimu, Ken.”
Ezra terduduk sambil memerhatikan Julie. Dia tidak bisa tidur tenang akibat kabar yang masih terngiang di kepalanya. Ibu jarinya mengirim pesan pada seseorang, tidak lama kemudian dia mendengar Julie meracau.
“Ken... aku ingin pulang bersamamu...”
Dada Ezra seketika sesak. Baru kali ini dia mendengar Julie mengigau, menyebutkan nama pria lain yang menjadi ayah dari janinnya. Dari racauannya, dia dapat menyimpulkan istrinya masih mencintai Ken. Padahal waktu sudah berjalan selama enam tahun lamanya namun perasaan itu tak kunjung hilang dan masih melekat pada hati yang sama. Sementara dirinya? Perlahan-lahan mulai melupakan Violet, hatinya memilih berpaling pada Julie, wanita yang masih mencintai mantan tunangannya.
“Ken... tolong jangan pergi...”
Ezra mengalihkan pandangannya. Dia segera bangkit dari tempat duduk dan hendak menjauh. Belum ada semenit, dia kembali duduk. Rasanya tidak tega meninggalkan Julie hanya karena wanita itu menyebutkan nama sepupunya. Dia mengamit tangan Julie lalu menggenggamnya erat. Setelah itu dia mengusap punggung tangannya dengan ekspresi pusing bercampur bimbang.
“Seharusnya aku memikirkan apa yang akan terjadi setelah pernikahan. Aku terlalu memikirkan Violet sampai aku lupa kehadiranmu begitu berarti, Julie.”
Ezra tidak tahu bahwa cinta akan serumit ini. Apa karena dulu ketika mendapatkan Violet dia tidak punya saingan? Sementara ketika hatinya baru berpijak pada Julie, dia punya saingan lain yakni sepupunya sendiri?
Dia sudah pernah kehilangan wanita yang dia cintai untuk selamanya. Sekarang, dia tidak mau kehilangan Julie. Tidak bisa. Dia harus tetap menjaga wanita itu agar tetap bersamanya.
Ezra tidak bisa tidur semalaman. Dia terjaga menjaga Julie. Tangannya tak berhenti menggenggam tangan sang istri yang belum bangun dari tidurnya. Dia kepikiran kata-kata Lily kemarin. Dia takut Julie akan meninggalkannya.
Dalam lamunannya, Ezra kembali terbayang akan pertemuannya dengan Julie.
- - - - -
Suara bising terdengar jelas mengisi seluruh ruangan ballroom Hotel. Di tengah keramaian yang tidak begitu Ezra sukai, dia melihat sekelilingnya. Setelah kepergian Violet, dia semakin menutup diri dan menjauhi semua kegiatan yang keluarganya selenggarakan. Berhubung dia cukup dekat dengan Steve, dia bersedia datang pada acara ulang tahun Kimberly hari ini.
Mata Ezra bergerak sementara tubuhnya mematung. Ketika matanya berkeliling, dia terkejut mendapati sesosok wanita cantik yang tengah tersenyum. Ezra menyipitkan matanya berusaha memperjelas penglihatannya yang masih baik-baik saja.
Sosok wanita itu sangat mirip dengan Violet. Wajah, senyum, tawa, semua seperti pahatan sempurna dari duplikat calon istrinya yang telah tiada. Kemudian dia melihat sesosok pria di sampingnya yang merangkul pinggang ramping wanita itu, Kennedy Ackles. Sepupunya dari pihak keluarga ibunya. Pasangan itu memiliki dagu terbelah yang sama sehingga terlihat sangat cocok.
Ezra terus memerhatikan. Cara wanita itu bergelayut manja pada lengan Ken begitu mesra. Mereka potret pasangan sempurna dari cara tatapan penuh cinta yang keduanya daratkan pada diri masing-masing.
Selama memerhatikan ternyata Ken menangkap basah dirinya. Sepupunya itu kemudian berjalan menghampiri sambil menggenggam tangan wanita yang mirip dengan Violet-nya.
“Hi, Ezra. Aku pikir kau tidak akan datang. Bagaimana kabarmu?” tanya Ken ramah.
“Baik. Kau sendiri?” jawab Ezra sambil bertanya balik.
“Aku juga baik. Oh ya, perkenalkan, calon istriku–Juliana Hemsworth.” Ken menyentuh pundak sang tunangan sambil tersenyum manis. Detik berikutnya Ken kembali melanjutkan, “Jules, ini Ezra Walton sepupuku dari pihak ayahku. Ibunya sepupu ayahku.”
Wanita bernama Juliana itu tersenyum, tidak mengulurkan tangannya sama sekali. Begitu pula dengan Ezra. Saling tersenyum rasanya sudah cukup bagi mereka.
“Kalau begitu aku permisi ya Ezra. Aku ingin menghampiri Steve. Sampai ketemu lagi,” pamit Ken yang kemudian disambut oleh anggukan kepala Ezra.
Pasangan yang tengah berbahagia itu meninggalkan Ezra sendirian. Dalam kesendiriannya Ezra bertekat akan merebut Violet-nya kembali.
Dia–Violetku. Bukan Julianamu. batin Ezra penuh tekat.
- - - - -
Ezra mengusap wajahnya kasar. Sedari awal dia sudah salah. Merebut, merampas dan memisahkan pasangan yang tengah berbahagia. Kepergian Violet benar-benar membutakan segalanya. Dia sampai tidak peduli kalau Julie akan menikahi sepupunya. Awal hubungannya dengan Ken yang baik-baik saja mendadak berubah menjadi permusuhan yang tak kunjung mencapai titik baik sampai sekarang.
Dia jadi mengingat perkataan adiknya–Ryvero, ketika mengatakan Julie bukanlah Violetnya. “Tolonglah Ezra kau sadar, Julie bukanlah milikmu. Dia calon istrinya Ken! Violet dan Julie berwajah mirip tapi mereka bukan orang yang sama! For God's Sake! Aku akan membencimu kalau kau merebut yang bukan menjadi milikmu!”
Dia melakukan hal yang paling adiknya benci. Sejak dirinya menikah diam-diam dengan Julie, adiknya tak lagi menyapa. Kedua orangtuanya masih menyapa namun nampaknya mereka menyerah untuk memberi pengertian.
Sekarang... dia tidak tahu apakah Julie akan mencintainya juga atau tidak karena sampai detik ini pun wanita itu masih terus terbayang-bayang oleh Ken. Begitu pula Ken yang masih sering mengangkat panggilan istrinya seperti tempo hari.
Perasaan cinta dalam dirinya muncul untuk Julie. Dia hadir di tengah cinta yang masih kokoh.
“Aku mencintaimu, Julie.”