Setelah beberapa hari akhirnya Julie sudah bisa pulang. Seperti yang sudah Ezra tekatkan, dia tidak mengatakan apa-apa pada istrinya. Dia bilang Julie hanya kelelahan biasa. Tidak tahu kapan dia akan mengatakan kebenarannya, tetapi tidak untuk sekarang. Dia belum siap kalau seandainya Julie pergi dari sisinya. Dia masih ingin membuat Julie jatuh cinta padanya.
Padahal baru keluar dari rumah sakit, tetapi Julie memaksa Ezra untuk mengajaknya jalan-jalan santai menyusuri salah satu taman. Mau tidak mau Ezra melakukan apa yang istrinya inginkan. Anggap saja kesempatan agar mereka bisa berduaan.
Mereka mendatangi Harbour Drive, salah satu jalan Raya yang dieliminasi untuk dijadikan taman yang berada di tepi sungai Willamette. Tim dan satu pengawalnya mengikuti mereka dari belakang namun dengan jarak yang cukup jauh supaya tidak mengganggu kegiatan Ezra.
Dari belakang Ezra terus mengikuti langkah Julie yang asyik sendiri memandangi sekelilingnya. Penuh pepohonan nan asri serta beberapa orang yang melintas di sana.
Tiba-tiba tubuh Julie menghadap belakang kemudian berjalan mundur sambil mengutarakan apa yang dia pikirkan. “Ezra, kapan-kapan kita piknik ya? Aku ingin merasakan piknik, sepertinya menyenangkan.”
“Julie, jangan berjalan mundur begitu. Bahaya.” Secepat mungkin Ezra mengejar langkah Julie yang menjulurkan lidahnya jahil saat Ezra memperingatkan.
Ketika sudah berhasil menyamai, Julie memutar tubuhnya kembali seperti semula. Ezra langsung mengamit tangan Julie. Wanita itu sempat menolak, namun Ezra semakin mempererat genggamannya.
Dia menahan tangan Julie sehingga memaksa wanita itu menghentikan langkahnya. Wajahnya terlihat serius ketika menatap Julie yang menunggu apa maksud tindakannya. “Aku tidak mau kau menghilang. Jangan melepas tanganku.”
Kening Julie berkerut nampak heran. “Aku bukan anak kecil lagi, Ezra. Tidak mungkin aku menghilang!”
“Tidak ada yang tahu Julie. Taman ini luas dan kau tidak mengenal daerah yang bukan tempat asalmu. Berhenti membantahku atau kita akan pulang ke Hotel sekarang juga,” ucap Ezra penuh ketegasan.
Julie merasakan sikap Ezra seperti dulu, dingin dan penuh aturan yang harus dia patuhi. Dia jadi kesal karenanya. “Terserah! Kau memang definisi pria menyebalkan yang tidak tahu caranya menikmati hidup! Sebentar marah, sebentar melarang, kau gila!”
Ezra tidak membalas. Dia memilih kembali berjalan ketimbang berdebat dengan Julie. Suka tidak suka Julie mengikuti suaminya karena tangannya terkunci dalam genggamannya.
“Dasar pria menyebalkan. Hidupku s**l sekali bertemu dengan manusia sepertinya. Dingin, kasar, sering mengatur, apa yang membuat Violet betah dengannya? Heran. Aku saja sudah muak,” gerutu Julie dengan nada pelan. Sepelan-pelannya suara itu Ezra dapat mendengarnya.
Detik itu juga Ezra melepas genggaman tangannya. Dia melihat Julie dengan tatapan kesal. Kenapa wanita ini selalu saja membuatku kesal?
Julie buru-buru menutup mulutnya dengan tangan. Dia takut ketika Ezra bersikap seperti itu.
“Kalau kau mau jalan sendiri, silahkan. Jangan menangis kalau nanti kau nyasar.” Tanpa permisi, Ezra langsung meninggalkan Julie sendirian.
Wanita itu mengikuti cara bicara suaminya yang menyebalkan. “Jangan menangis kalau nanti kau nyasar. Ck! Suami macam apa begitu? Gila!”
Baru Julie akan mengejar Ezra, mendadak ide jahilnya muncul. Julie terkekeh geli membayangkan kejahilan yang akan dia lakukan nanti.
“Aduh! Perutku sakit...” Dengan sengaja, Julie sedikit meninggikan suaranya. Kebetulan Ezra belum terlalu jauh. Tidak lupa agar aktingnya semakin bagus, dia memegang perutnya dengan raut wajah merasa kesakitan.
Telinga Ezra belum rusak. Dia dapat mendengar suara Julie yang mengatakan perutnya sakit. Dia segera berbalik arah lalu berlari menghampiri Julie yang terlihat memegangi perutnya.
Wajah penuh kekhawatiran tercetak jelas pada wajah Ezra. Dia menyentuh pundak istrinya sambil bertanya lembut, “Julie, dimana perutmu yang sakit? Katakan padaku. Kita ke rumah sakit sekarang ya.”
Julie masih berusaha bertahan pada aktingnya. Dia semakin memegangi perutnya dengan wajah tersiksa menahan sakit.
“Kita ke rumah sakit sekarang.”
Berakhirnya kalimat Ezra itu berbarengan dengan tangan yang hampir menggendong tubuh Julie. Sayang usaha itu tertahan karena Julie menolak sambil meloloskan tawa yang keras.
“Aku bercanda. Hahaha...” Julie tertawa keras sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya menciptakan tanda 'peace'.
Ezra mengepal tangannya semakin kesal. Sungguh, lelucon Julie sangat tidak lucu. Dia sudah takut setengah mati dan wanita itu ternyata mengerjainya!
“Kau...” Ezra kehabisan kata-kata. Rasanya dia ingin marah namun tidak tahu pada siapa. Semua yang Julie lakukan sekadar lelucon gilanya!
“Kenapa Tuan menyebalkan? Kau pantas mendapatkannya! Dasar pria yang mudah ditipu!” ledek Julie sambil menjulurkan lidahnya. Sebelum Ezra menahannya, dia sudah lebih dulu berlari secepat mungkin.
Ezra tersenyum miring. Ternyata hal seperti ini yang justru membawanya pada rasa lain yang tidak pernah Violet berikan padanya. Julie yang lebih jahil, berhasil mengaduk perasaannya dalam satu waktu. Kau benar-benar luar biasa, Julie.
Tidak lama, Ezra ikut berlari mengejar Julie. Senyum miringnya berubah menjadi senyum senang. Dalam sekejap dia dapat menyamai langkah istrinya. Secepat kilatan cahaya petir, Ezra menggendong tubuh wanita itu dalam dekapannya. Sebagian orang terkekeh melihat mereka berdua. Ada pula yang menggumamkan kata 'serasi' untuk mereka.
“Karena kau sudah mengerjaiku maka kau akan mendapat hukuman, Mrs. Walton.”
“Nooooo!!”
Berkali-kali Julie mengerucutkan bibirnya. Tidak ada tontonan bagus yang dapat dia tonton. Dia melingkarkan tangannya pada lengan Ezra yang kebetulan sedang duduk bersampingan dengannya di atas sofa. “Bisakah kita membeli es krim, Suamiku?”
Ezra yang kala itu sedang membaca berita dari salah satu website yang biasa dia kunjungi, tidak terusik. Hanya jawaban yang terdengar tanpa bersedia menoleh padanya. “Kau sudah minta es krim berulang kali sejak tadi. Tim masih dalam perjalanan membelikannya. Tunggu saja. Diam saja di sini.”
Julie semakin mengeratkan pelukan pada lengan suaminya. Bibirnya mengerucut sempurna menciptakan wajah cemberut yang menggemaskan. “Ayolah, kita pergi sendiri saja. Sekalian melihat indahnya malam. Siapa tahu ada bintang kecil di langit sana. Please...? Aku bosan.”
Ezra tetap tidak menoleh. Dia masih sibuk men-scroll bacaannya. Lagi dan lagi hanya suaranya yang terdengar. “Cuacanya sedang tidak bagus. Sudahlah, diam di sini saja. Anggap ini hukumanmu karena tadi mengerjaiku.”
Spontan Julie menoleh ke samping kanannya, melihat kaca jendela yang tirainya belum dia tutup. Cuaca di luar sangat bagus. Ezra tukang bohong! Julie mendengus sebal. “Cuacanya bagus! Kau memang tidak pengertian. Katamu aku istrimu lantas aku ingin pergi keluar saja tidak boleh. Padahal perginya bersamamu. Apa kau tidak tahu...”
Julie berceloteh panjang lebar. Ezra segera menghentikan kegiatannya mendengar celotehan sang istri yang semakin hari semakin cerewet. Dia belum mengenal semua sifat Julie, namun rasanya semakin kesini Julie semakin manja. Entah hormon kehamilan atau memang sifat asli Julie agak manja. Entahlah, yang pasti Ezra semakin gemas. Rasanya dia ingin mencium bibir istrinya agar diam.
“Kau bisa berdansa?” tanya Ezra memotong celotehan Julie yang tidak ada habisnya.
“Bisa. Tapi aku sedikit lupa karena selama enam tahun, suamiku mengurung aku di dalam istananya. Tidak pernah mengajak keluar dan masih banyak hal lainnya yang terlupakan olehku karena ulahnya,” jawab Julie setengah menyindir.
Tidak perlu Julie sindir, dia mulai sadar. Tangannya melepas tangan Julie darinya lalu berdiri. Dia mencari lagu yang tepat sebelum akhirnya mengulurkan tangan pada Julie.
“Maukah kau berdansa denganku, Mrs. Walton?”
Julie kaget mendapati Ezra mengajak dia berdansa. Beberapa menit Julie hanya diam sambil memandangi Ezra yang menampilkan senyumnya dengan sabar. Sampai akhirnya Julie menyambut uluran tangan suaminya.
“Aku akan mengajarimu kalau kau lupa.”
Satu tangan Ezra meraih tangan Julie lalu menautkan jari jemari mereka hingga tergenggam erat. Sementara satu tangannya melingkar pada seputaran pinggang sang istri. Julie ikut melingkarkan tangannya pada sekitaran leher suaminya sementara satu tangannya sudah tergenggam dengan milik Ezra.
Lagu milik John Legend yang berjudul Stay With You mengalun indah mengiringi langkah demi langkah yang mereka lakukan. Bukan asal memilih lagu, tetapi Ezra sengaja memilih lagu ini karena sesuai harapannya untuk kebersamaan mereka nanti. Terutama perasaannya untuk Julie. Bola mata mereka saling beradu. Tatapan dingin Ezra berubah hangat. Kemana iris hijau Julie bergerak, Ezra mengikutinya dan mengunci dalam tatapan yang dalam. Tangan dingin Julie menjadi hangat dalam genggaman suaminya.
Degup jantung Ezra berdetak cepat. Hatinya menghangat melihat iris hijau sang istri yang menyiratkan segudang pertanyaan yang belum dia temukan jawabannya.
Julie tidak dapat mengalihkan matanya setiap berpaling dari Ezra. Pria itu terus mengejar gerakan matanya.
“Julie?” Suara Ezra mulai terdengar di tengah dansa mereka.
Julie menggerakkan bibirnya untuk menjawab, “Ya?”
“Jangan pernah pergi dari sisiku. Tetaplah bersamaku selamanya.”