“Jangan pernah pergi dari sisiku. Tetaplah bersamaku selamanya.”
Suasana mendadak hening setelah kalimat itu keluar dari mulut Ezra. Julie sempat diam, namun lama-kelamaan bibirnya mulai bergerak.
“Bukannya aku selalu bersamamu? Kapan aku tidak berada di sisimu? Aku minta kau menceraikan aku juga tidak pernah.”
“Tidak pernah? Kau lupa kalau kau pernah minta bercerai dariku? Kau pernah mencoba bunuh diri karena tidak sanggup hidup denganku. Kau pernah melakukan semua hal guna menyudahi hubungan kita. Jangan lakukan itu semua mulai detik ini. Aku tidak mau seandainya suatu saat harus kehilanganmu.” Ezra menjelaskan. Dia ingat bagaimana dulu Julie tersiksa hidup bersamanya dalam benteng rumah penuh larangan. Wanita itu menyerah dan selalu menangis.
Apakah dulu Ezra sudah mencintai Julie sampai tahu hal seperti itu? Belum. Dia mengetahuinya dari beberapa pelayan dan pengawal pribadi. Bodohnya dia tidak peduli. Menurutnya sikap dia pada Julie biasa saja, sedangkan kenyataannya Julie tersiksa atas semua pengekangannya.
Ezra ingat bagaimana Julie ingin mengakhiri hidupnya dengan cara yang tidak terpikirkan olehnya. Wanita itu tidak cerewet seperti sekarang. Lebih banyak diam dan memendam semua rasa yang telah menyiksanya. Mungkin karena telah terbebas dari mansion tanpa ponsel akhirnya kecerewetannya muncul.
Julie tersenyum miring. “Kau hanya merasakan kehilangan Violet. Jadi jika suatu saat aku meninggalkanmu, kau tidak akan kehilanganku sebagai Julie, melainkan sebagai pengganti Violetmu.”
Kalimat Julie sukses menghentikan langkah dansa mereka. Alunan musik sudah berganti menjadi lagu milik Ed Sheeran yang berjudul Thinking Out Loud. Lagu tersebut seolah menjadi backsound percakapan mereka.
Ezra melepas semua tangan yang bertaut pada tangan serta pinggang sang istri.
“Berhenti membahas Violet. Aku serius. Mulai detik ini, jangan pernah menghubungi dan bertemu dengan Ken.”
Julie mendelik tajam. “Memangnya kenapa?”
“Karena kau istriku, Juliana. Untuk apa kau menemui pria lain sementara kau sudah bersuami? Aku tidak akan mengizinkanmu menemuinya.”
Julie mendesis kesal. “Mengapa tiba-tiba mengatakan hal itu? Biasanya kau menginzinkan. Sekarang tidak boleh.”
“Karena aku tidak mau istriku menemui pria lain. Kau hanya boleh melihatku, dan bersamaku. Tidak ada yang lain.” Suara Ezra yang lantang penuh penekanan itu membuat Julie mengernyitkan dahi.
“Aku semakin tidak mengerti. Sikapmu berubah-ubah dan makin kesini kau terlalu banyak melarangku. Sikapmu bertambah satu yakni, posesif. Apa kau semakin takut kehilangan pengganti Violetmu?”
Cukup sudah bagi Ezra. Istrinya benar-benar kelewat bodoh. Kalau pekanya tinggi mungkin sudah tahu dia cemburu dan takut kehilangan. Tetapi rasanya Julie bukan tipe yang memiliki kepekaan itu.
Ezra mengamit satu tangan Julie lalu menaruhnya pada posisi detak jantungnya. “Kau dapat merasakan detak jantungku yang tidak karuan bukan? Itu karena aku sedang berdua denganmu, Julie. Kalau kau hanya pengganti Violet, apa aku merasakannya? Tidak. Debaran ini terjadi karena aku bersama wanita bernama Julie bukan Violet.”
Julie dapat merasakannya. Apa semua yang suaminya katakan sungguhan?
“Aku melarangmu bertemu dengan Ken karena aku takut kehilanganmu. Aku takut karena aku mencintaimu, Juliana Walton.”
Kalimat itu mengagetkan Julie. Kaki dan lututnya mendadak lemas. Apakah yang dia dengar barusan benar-benar kalimat Ezra untuknya? Bukan sebagai pengganti Violet? Bagaimana mungkin?
“Kau bercanda,” elak Julie masih tidak percaya. Dia menarik tangannya yang mampir pada d**a Ezra.
Ezra menatap intens Julie. Mata wanita itu berusaha menghindar namun dengan cepat Ezra menguncinya dalam ketidakmampuam Julie untuk menolak.
“Aneh? Memang. Aku pikir Violet tidak akan pernah tergantikan oleh wanita lain. Ternyata, takdir berkata lain. Aku bukan mencintaimu sebagai pengganti Violet, tetapi sebagai wanita bernama Juliana. Wanita yang awalnya bukan siapa-siapa, sekarang telah berhasil menggantikan posisi wanita yang aku yakini akan selalu ada dalam hatiku. Aku benar-benar mencintaimu, Julie.” Nadanya terdengar tulus. Begitu pula tatapannya yang semakin meyakinkan.
Julie diam seribu bahasa. Bibirnya tidak mampu bergerak. Anehnya dia percaya Ezra mengatakan dengan sungguh-sungguh. Apalagi pria itu sudah tak pernah lagi memanggilnya Violet. Sekali saja tidak setelah insiden mabuk itu.
“Aku sangat mencintaimu, Julie.”
Pelan-pelan Ezra menarik tubuh Julie hingga tubuh mereka menempel. Kemudian wajah Ezra semakin mendekati wajah sang pujaan sampai bibir yang sudah beberapa kali bersentuhan menyatu dalam ciuman tanpa penolakan. Ezra mencium, melumat, dan menggigit bibir penuh kenikmatan yang Julie miliki. Sementara sang empunya bibir menikmati dan membalas bertahap ciuman itu.
Ciuman kali ini tidak seperti biasanya yang hanya sebentar. Tidak terasa bibir mereka sudah bertaut selama hampir tiga menit. Kehabisan oksigen? Sudah pasti. Secepatnya mereka menarik diri untuk mengambil oksigen yang sekiranya sudah hampir habis tertelan oleh ciuman tanpa jeda sebelumnya.
Lalu setelah itu, mereka saling bertatapan. Selanjutnya Ezra kembali menyambar bibir milik Julie. Kali ini penuh hasrat dan keinginan kuat untuk memiliki istrinya. Tangan Ezra memeluk punggung bagian belakang Julie. Secara spontan Julie mengalungkan tangan pada leher Ezra.
Ciuman yang Ezra berikan sukses melenyapkan semua akal sehat mereka. Cara pria itu mencium dan memanjakan bibir Julie begitu luar biasa hingga Julie lupa bahwa Ezra adalah pria yang sering membuatnya kesal.
Dalam ciuman memabukkan penuh hasrat yang tertahan, tangan Ezra menelusup masuk, meraba punggung sang istri untuk membuka pengait b*a. Dia mungkin sudah gila membiarkan tangannya melakukan hal itu. Setahap demi setahap, ciuman itu membawa mereka pada hasrat yang semakin menggebu-gebu. Keinginan untuk mendapatkan kepuasan akhirnya muncul di sela kegiatan mereka.
Helai demi helai pakaian terlepas dari tubuh mereka. Ciuman itu terhenti setelah masing-masing menatap dan melihat tubuh indah yang tersuguh sempurna. Kekaguman dan gumaman penuh kata 'luar biasa' terucap begitu saja.
“Aku menginginkanmu, Julie.”
Dalam hitungan menit, Ezra kembali mendekat lalu mencium bibir sang istri sambil menggendong tubuhnya ala bridal style. Beberapa langkah terlewati hingga mereka saling menjatuhkan diri di atas tempat tidur berukuran besar.
Kegiatan mereka berlanjut pada tahap yang lebih tinggi, tak hanya sekadar ciuman. Ezra pernah mencium dan meninggalkan bekas kemerahan pada leher Julie dalam keadaan setengah mabuk. Untuk sekarang, dia melakukannya dalam keadaan sadar dan keinginannya untuk mencumbu Julie semakin besar.
Sentuhan demi sentuhan terjadi. Akal sehat mereka lenyap seolah dikuasai oleh hasrat yang semakin tinggi. Mereka terus melanjutkan kegiatan sampai mencapai kegiatan inti yang menjadi puncak tertinggi dari hasrat mereka. Tidak ada penolakan dari kedua belah pihak, karena mereka ingin mendapatkan satu hal: kepuasan sesungguhnya.
Pelan-pelan Ezra mencoba memasuki Julie dengan miliknya. Ada pekikan nyaring dari Julie ketika sesuatu yang menegang dan mengeras itu berhasil masuk. Beberapa menit Ezra mendiamkannya, mengecup kening Julie lalu turun mencium bibirnya untuk mengalihkan rasa sakit yang wanita itu terima. Ezra mulai menggerakkan miliknya setelah Julie sudah kelihatan tidak begitu kesakitan.
Sekali hujam, dua kali, tiga kali, lama-lama hujaman itu menjadi gerakan tidak beraturan. Ezra tahu Julie sedang mengandung sehingga dia tidak bermain kasar. Semua dia lakukan dengan lembut dan pelan, namun tidak menghilangkan esensi dari kegiatan panas yang mereka lakukan.
Jeritan.
Desahan.
Semua menggema menjadi satu menciptakan kenikmatan yang tidak bisa dijelaskan.
Ezra tidak peduli soal 'telat' menyetubuhi istrinya sendiri. Yang terpenting sekarang, dia menginginkan Julie seutuhnya.
Kegiatan mereka berlanjut sampai mencapai titik k*****s dari kenikmatan yang mereka inginkan. Malam telah menjadi saksi atas kegiatan panas yang baru pertama kali mereka lakukan setelah enam tahun pernikahan. Tentu setelah Ezra menyadari, Julie bukanlah Violetnya melainkan Julie–istrinya, wanita yang kini dia cintai.