London, Inggris.
Walton Inc
Para pemegang saham Walton Inc sudah bergegas keluar setelah rapat selesai. Ryvero termasuk salah satunya, mengingat dia adalah CEO Walton Inc setelah sang kakak menolak untuk mengemban tugas berat tersebut.
Victor Walton–ayah Ryvero sedang duduk menunggu kehadirannya di ruang kantor. Tidak lama setelah berjalan beberapa menit, Ryvero tiba lalu duduk di seberang sang ayah yang sudah mempersilahkan.
“Kau memintaku datang kemari. Ada apa Ryvero?” tanya Victor ingin tahu. Tidak seperti biasa putra bungsunya meminta dia datang.
“Kenapa Daddy membiarkan Ezra menetap di Amerika?” Pertanyaan itu langsung lolos begitu saja tanpa basa-basi. Victor yang kala itu menatap anaknya, menangkap ada hal yang sedang dia sembunyikan.
“Dia bilang ingin masuk kemiliteran di sana. Tapi ternyata dia justru membangun usaha sendiri,” jawab Victor santai.
“Sedari awal aku sudah curiga mengapa dia harus keluar negeri sementara seluruh keluarganya di sini.” Ryvero menghembuskan napas kasar. “Dua agent CIA mendatangiku. Memberitahu hal mengenai Ezra yang tidak pernah kita ketahui.”
Kali ini Victor tidak lagi menanggapinya dengan santai. Pupil mata melebar dan keterkejutannya terlihat sangat jelas. “Apa? CIA? Untuk apa mendatangimu?”
“Untuk memberitahu siapa Ezra sebenarnya.”
Victor semakin tidak mengerti. “Apa maksudmu, Ryvero?!!”
“Ezra tidak seperti yang kita kira, Dad. Dia punya nama lain dan dia menyembunyikan banyak hal dari kita semua.”
Victor mendesak. “Jelaskan! Jelaskan padaku! Aku tidak mengerti.”
“Ezra...” Ryvero menggantung kalimatnya. Dia menghela napas panjang sebelum akhirnya mulai menceritakan apa yang CIA katakan padanya.
Cerita yang awalnya membuat Ryvero tidak percaya, namun pada akhirnya memercayai setelah melihat semua bukti yang CIA tunjukkan.
Setelah kegiatan panas yang terjadi begitu saja karena akal sehat terlahap habis oleh hasrat, baik Julie atau Ezra masih tertidur pulas. Saling memeluk dan menempelkan tubuh mereka tanpa sehelai pakaian di balik selimut yang menjadi penutup tubuh keduanya.
Cahaya matahari menembus masuk melalui celah jendela kaca yang tirainya lupa mereka tutup semalam. Bagusnya kamar hotel yang mereka tempati berada di puncak tertinggi sebelum mencapai atap, lalu seberang hotelnya tidak ada bangunan lain. Sehingga kegiatan panas mereka tidak akan menjadi tontonan apalagi sampai muncul di website situs p***o.
Julie bangun lebih dulu. Dia merasakan seluruh kulit tubuhnya menempel dengan kulit lain tanpa helai pakaian. Saat dia membuka kelopak mata, dia terbelalak. Oh, God!
Julie nyaris menjerit kaget, namun ingatannya akan kejadian semalam berhasil menahan suara itu keluar. Dia mulai meruntuki diri, memikirkan kenapa dia bersedia melakukan itu bersama Ezra setelah sekian lama dia sudah sering melakukan dengan Ken. Walau terakhir kali dia melakukan dengan Ken hampir dua bulan lalu.
Tetapi sungguh... permainan Ezra semalam termasuk luar biasa meski tidak sehebat Ken dalam b******a, tetapi pria itu punya ciri khas tersendiri dalam membawanya menuju kenikmatan langit ketujuh.
Cara Ezra menjamah seluruh tubuhnya masih terbayang dalam benaknya. Astaga... Julie hentikan pikiranmu itu! Julie berusaha menghilangkan bayangan akan kegiatan panas mereka. Rasanya cukup gila membayangkan hal semacam itu saat pagi hari yang cerah.
Daripada memikirkan yang tidak-tidak, lebih baik dia mandi. Julie mencoba menyingkirkan tangan suaminya pelan-pelan agar Ezra tidak terbangun.
Ketika tangannya masih bersusah payah melakukan, Ezra justru membuka mata. Pria itu tersenyum saat melihat Julie yang nampak terkejut.
“Good morning, Mrs. Walton,” sapa Ezra sambil mendaratkan kecupan pada kening istrinya. Cukup lama dan berhasil membuat Julie terperanjat.
“Ehm... good morning.” Sialnya berkat kecupan itu wajah Julie mendadak merah padam. Dia langsung memalingkan wajahnya.
“Tidak ada panggilan seperti biasa? Kenapa? Apa karena permainan semalam kurang?”
Julie menggeleng cepat. Semalam tidak kurang sama sekali. Justru sangat amat luar biasa. Julie mengakuinya. But wai–kenapa Ezra mulai terdengar m***m? Astaga... apa karena mereka sudah berhubungan intim lantas pria itu jadi... m***m?
Ezra mengusap kepala Julie. Dia menunjukkan tatapan hangat yang tak pernah dia perlihatkan sebelumnya. “Lantas kenapa kau melupakan panggilan yang biasa kau berikan untuk menyapaku? Ehm?”
“Memangnya penting? Sudahlah, aku ingin mandi. Bicara denganmu membuang waktuku!” cibir Julie.
Dia tidak mau membuang waktu lama dan segera bangkit dari tempat tidurnya. Berhubung pakaiannya tergeletak cukup jauh dari jangkauan jadi mau tidak mau dengan wajah menahan malu Julie turun tanpa mengambil pakaian. Julie mempertontonkan tubuh t*******g yang seksi. Tidak peduli Ezra akan melihatnya atau tidak karena semalam pria itu sudah melihat semuanya tanpa terlewat!
Tiap lekukan tubuh aduhai itu dapat Ezra lihat dengan jelas. Tanpa mau memberi kesempatan pada Ezra untuk menikmati tubuhnya, Julie langsung berlari menuju kamar mandi.
Ezra terkekeh geli. Bagaimana bisa dia segila ini akhirnya? Jatuh dalam pelukan Julie, menginginkannya, dan ingin hidup bersama selamanya. Tidak ada yang dapat memperkirakan hal yang akan terjadi. Seperti halnya perasaan dia untuk Julie.
Julie menatap Ezra seolah pria itu masih t*******g. Ya Tuhan... dia jadi kepikiran soal semalam. Bayang-bayang kegiatan mereka sialnya tidak dapat terlupakan begitu saja.
“Aku akan pergi sebentar. Lily dan Tim akan menjagamu. Jangan nakal ya.” Tangan kokoh Ezra mengusap wajah Julie yang berdiri di depannya. Senyum tak lupa dia tunjukkan untuk wanita yang dia cintai.
“Iya. Hati-hati,” sahut Julie seadanya.
“See you soon, Wife.” Kecupan singkat mendarat pada kening Julie.
Akhirnya Ezra pergi meninggalkan Julie sendirian. Dia memandangi punggung kokoh Ezra yang tegap ketika sudah pergi berlalu. Kenapa jadi aneh begini? Rasanya masih tidak percaya Ezra akan mengatakan semua hal seperti semalam. batin Julie.
Ezra duduk menunggu seseorang di salah satu coffee shop. Keanu nampak menemani dan berdiri tepat di belakangnya. Setelah satu jam menunggu, seorang pria hadir sambil menunjukkan senyumnya.
“My bro, Ezra!" sapa Edgar–sepupunya dari pihak sang ayah.
“Kau lama sekali,” balas Ezra kesal. Kebiasaan buruk Edgar tidak berubah, selalu saja terlambat setiap mengajak ketemu.
“Maaf, aku ada urusan sebentar. Oh ya, bagaimana Portland? Apakah seindah Amerika?” tanya Edgar seraya menarik kursi lalu duduk di depan sepupunya.
“Lebih indah dari yang aku pikirkan,” jawab Ezra.
“Baguslah. Daripada tinggal di Amerika lebih baik kau menetap di sini. Tidak akan ada yang mengganggumu. Semua aman.”
Ezra mengambil secangkir kopi hangatnya kemudian menyesap perlahan air kopinya. Selesai meneguk, barulah dia kembali bicara. “Bisa aku pikirkan. Oh ya, terima kasih atas bantuanmu. Semoga kau berhasil mengelabui makhluk s****n yang selalu membuntutiku.”
Alasan Ezra memilih Portland karena ada Edgar yang tinggal di sini. Pria itu bisa mengelabui siapa saja yang berusaha melacak jejak Ezra. Dia punya kepintaran dan kemahiran seperti Lily dan kakaknya–Justin.
Edgar tertawa kecil untuk beberapa saat. “Santai saja. Aku akan membantumu semampuku. Oh ya, omong-omong Julie benar hamil? Anak Ken? Lily memberitahuku.”
“Iya. Waktu itu aku meninggalkannya berdua dengan Ken di mansionnya. Saat aku menjemputnya dia ada di kamar Ken. Dokter mengatakan dia memang hamil, Ed. Aku tidak pernah melakukan hubungan intim dan Ken selalu melakukan dengannya,” jawab Ezra memberitahu. Dia tidak perlu mengatakan semalam sudah melakukannya dengan sang istri. Nanti Edgar meledeknya.
“Ada-ada saja manusia sepertimu. Tidak melakukan hubungan suami istri, tetapi istrimu melakukan dengan pria lain. Hamil anaknya pula. Kau unik, Ez,” ledek Edgar seraya mengambil cangkir kopi miliknya. Dia menyesap sambil melihat ke luar jendela yang kebetulan ada di sampingnya.
Ezra memang unik. Iya, dia baru menyadari perasaannya sekarang jadi apa yang telah terjadi sudah terlanjur. Dia tidak bisa mengubahnya karena bukan Tuhan. Anggap saja kehamilan Julie anugerah karena nanti akan hadir buah hati yang lucu meski bukan darah dagingnya.
“Tapi apa kau yakin aku aman disini? Tidak ketahuan oleh siapapun?” tanya Ezra.
“Tentu saja, Ezra. Seandainya ketahuan berarti orang itu lebih hebat dariku. Jangkuannya sudah lebih canggih dan mumpuni,” jawab Edgar sedikit ragu. Masalahnya dia tahu siapa musuh yang mengejar Ezra. Soal mereka di North Island saja bisa tahu, bagaimana Portland? Jelas-jelas pulau yang berada di North Island lebih pribadi.
“s**l! Jawabanmu meragukan, Ed. Minta bantuan kakakmu untuk membantuku. Aku kesulitan menghubunginya. Nomornya saja tidak tahu yang mana.” Ezra melirik arlojinya. Sudah cukup lama dia menetap di sini, sudah saatnya pulang menyapa sang mentari–Juliana.
“Kakakku banyak urusan jadi sering menghilang bagai hantu di malam hari. Kau sudah tidak sabar menyapa Julie di hotel ya? Pulang saja Ez, aku juga mau pulang.” Edgar paling paham dan mengerti kalau Ezra mulai melihat hal lain dan tidak memerhatikan sang pembicara tandanya dia ingin segera pulang. Seperti barusan contohnya.
“Kau sudah mengenalku dengan baik. Thank you atas pengertianmu, Edgar. Kau tidak ingin mampir menemui Julie atau Lily?”
“Sudah lama aku tidak bertemu Lily. Aku ingin menemuinya tapi,… nanti saja.” Ada sesuatu yang tersirat dari cara bicara Edgar ketika membahas soal Lily. Tentu kecurigaan akan hal yang aneh-aneh muncul dalam benak Keanu yang berada di sana.
“Ya sudah terserah kau saja. Ayo, kau juga ingin keluar kan?” Ezra bangkit dari duduknya. Dia segera beranjak pergi lalu di ikuti oleh Keanu di belakangnya.
Sementara Edgar ikut berdiri kemudian menyusul sepupunya yang sudah jauh di depan sana. Baik Ezra maupun Edgar sudah berdiri di depan coffee shop. Mereka sudah berpamitan, namun tak kunjung masuk ke dalam mobil masing-masing.
Edgar langsung menoleh ke samping ketika kaca jendela coffee shop pecah. Sontak pengunjung berhambur keluar. Ezra terkejut melihatnya.
“Ezra, get down!!!” Dengan cepat Edgar menarik tubuh Ezra agar merunduk. Dia mengeluarkan pistol berkaliber kecil miliknya yang selalu dia bawa kemana-mana. Beruntung di depan mereka ada mobil sehingga bisa terhalang olehnya.
Keanu ikut merunduk ketika Edgar berteriak. Dia juga mengeluarkan s*****a api miliknya.
“s****n! Ternyata pengikutmu itu tidak menyerah dalam mencarimu, Ez. b******k! Mereka benar-benar hebat!” Edgar menggerutu kesal. Tangannya semakin erat memegang gagang pistol. Wajahnya terlihat kesal.
“Lantas bagaimana sekarang?”
“Tunggu sebentar.”
Anehnya Edgar tidak mendengar suara tembakan lagi. Sedikit demi sedikit Edgar mencoba bangkit agar bisa mengintip darimana datangnya peluru tersebut. Dia melihat coffee shop sudah mulai sepi karena semua panik. Sampai akhirnya dia dapat berdiri lebih tegap sekarang.
Edgar memasukkan kedua tangan ke dalam saku coat biru yang dia pakai sejak keluar dari coffee shop. Matanya menatap tajam ke atas, bergerak melihat beberapa gedung tinggi yang dia yakini dari sana datangnya tembakan.
“Kau boleh berdiri sekarang,” suruh Edgar mengizinkan. Dia yakin tidak ada lagi tembakan karena dirinya sendiri baik-baik saja.
Ezra dan Keanu berdiri. Mereka berdua menatap Edgar yang masih melihat beberapa gedung untuk dia teliti.
“Aku rasa itu hanya peringatan, Ez. Anyway... Julie dan Lily menetap di hotel?” tanya Edgar setelah dia mengalihkan pandangan pada sepupunya.
“Oh, s**t!! Pembunuh bayaran tempo hari di North Island itu mantannya Lily! Ryan! Kau ingat Ryan kan? Damn! Dia bilang mengincarku dan Lily!” jawab Ezra. Dia baru ingat sekarang. Menjalani hari bersama Julie membuatnya melupakan fakta mengenai Lily yang terluka karena mantan tunangannya.
“Kau bodoh! Kenapa tidak mengatakan sedari tadi?! Aku yakin tembakan tadi hanya peringatan, bukan dari Ryan. Karena Ryan sendiri sniper handal seperti Lily. Lebih baik kita ke hotel sekarang!” seru Edgar.
Tidak mau menunggu lama, mereka segera pergi menghampiri kendaraan masing-masing. Edgar sudah melaju lebih dulu menggunakan motor besarnya sementara Ezra dan Keanu naik mobil yang mengikuti dari belakang.
“Keanu, cepat hubungi Lily dan Tim. Katakan pada mereka untuk berjaga-jaga,” perintah Ezra. Hatinya jadi tidak tenang sekarang. Dia benar-benar membawa bahaya bagi hidup Julie.
God... please keep her safe.