Ken mengusap wajahnya kasar. Dia tidak bisa tidur, masih ada beberapa kasus yang tertunda yang harus dia temukan kebenarannya. Mengemban tugas sebagai seorang jaksa cukup berat terutama ketika dia memikul nama Ackles. Dia tidak mau mencoreng nama keluarganya dan berusaha menjadi yang terbaik.
Alasannya tidak bersedia menjadi CEO bukan karena tidak kompeten, melainkan bisnis bukan bidang kesukaannya, melainkan hukum.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam dan matanya masih terbuka lebar menyapa berkas. Kegiatannya harus terhenti setelah mendengar bunyi bel rumah terdengar. Ken mengerutkan keningnya, dan bertanya-tanya. Siapa yang datang pada tengah malam begini?
Tidak mau menerka-nerka, Ken bangkit dari tempat duduknya menuju pintu utama. Para pelayannya sudah tidur sehingga dia harus membuka pintu sendiri.
“Ken ...,”
Pupil mata Ken melebar, menunjukkan keterkejutannya. Setelah tiga tahun hilang bagai tertelan bumi, sekarang sosok yang dia kenal muncul di hadapannya.
Julie. Ya, Julie!
“Jules ...? Apa–”
Kalimat Ken tertahan saat Julie memeluknya. Tangis perempuan itu pecah dalam pelukan rindu yang terpendam.
“Jules ...” Ken masih tidak percaya. Dia merasa semua hanya khayalannya. Tetapi sosok Ezra di belakang sana, memperjelas bahwa semua bukan mimpi. Kenyataan.
“Aku merindukanmu ...,” bisik Julie lirih bersama isakan yang terdengar menyakitkan. Ada nada rindu bercampur sakit disana.
Ken tidak bisa membohongi perasaannya. Dia masih mencintai Julie walau sudah menjalin hubungan dengan Lana. Hatinya masih terpaku untuk Julie, dan dia berusaha mencari titik perasaannya untuk Lana meski sampai sekarang belum menemukan hal itu.
“Aku juga merindukanmu, Jules ...” Ken berbisik balik sambil mengeratkan pelukannya. Tangannya menyentuh puncak kepala Julie lalu mengusapnya pelan.
Ezra yang berdiri berjarak beberapa langkah di belakang Julie dapat melihat kerinduan yang tertahan dari kedua orang yang sedang berpelukan.
“Aku akan pergi, kau juga harus ikut Julie,” usik Ezra menginterupsi kegiatan keduanya.
Julie dan Ken saling menarik diri. Tatapan mata Julie seakan menyatakan dirinya tidak setuju walaupun belum ada penolakan yang terdengar.
“Tidak bisakah Julie menetap di sini? Sebentar saja, Ez. Kau juga menetap di sini saja, aku akan menyiapkan kamar untuk kalian,” pinta Ken. Nada suaranya terdengar memohon.
Sebenarnya Ezra ingin menolak, tetapi air mata Julie yang mengalir membuatnya berpikir ulang.
“Ya sudah, Julie menetap disini. Aku akan pulang ke rumah orangtuaku. Beberapa bodyguard-ku akan berjaga di sini,” ucap Ezra akhirnya.
“Kenapa bodyguard-mu berjaga di sini? Aku punya bodyguard sendiri.” Ken memberitahu.
“Kau ingin Julie menetap di sini atau tidak? Kalau iya, jangan banyak komentar. Biarkan saja bodyguard-ku menetap di sini menjaga kalian. Lagi pula, bodyguard-ku pasti lebih kompeten dibandingkan pengawalmu yang seperti model berjalan itu,” ketus Ezra seraya memasuki mobil setelah kalimatnya selesai.
Ken mengepal tangannya kesal. Berani sekali Ezra meremehkan kehebatan para pengawalnya. Dapat dikatakan semua pengawal Ken berwajah tampan dan menarik tetapi, tubuh kekarnya bukan sekadar pajangan semata. Para bodyguard-nya memiliki kepiawaian dalam menjaganya dengan baik.
Julie mengamit tangan Ken berusaha menenangkan karena mimik wajah Ken menunjukkan kekesalan tertahan. Beruntung ada bidadari hatinya yang menenangkan kalau tidak, Ken sudah benar-benar akan menghajar sepupunya yang menyebalkan itu.
“Ayo kita masuk, Jules. Kau bisa kedinginan kalau diam disini,” ajak Ken seraya melingkarkan tangannya pada seputaran pinggang Julie lalu mengajaknya masuk ke dalam mansion.
Mereka sudah berada di dalam mansion. Bola mata Julie bergerak melihat seisi ruangan yang tidak berubah. Sudah lima tahun berlalu, mansion Ken masih tetap sama seperti sedia kala.
“Kenapa Jules?” Ken bertanya setelah menyadari Julie sibuk memerhatikan sekelilingnya.
“Tidak. Semua yang ada di sini tidak berubah. Masih seperti dulu,” jawab Julie seiring senyum manis yang tercetak jelas.
Ken menghentikan langkahnya begitu pula dengan Julie. Ken menarik tangannya yang kini berpindah memegang kedua sisi wajah Julie.
“Semua tidak ada yang berubah Jules. Sama halnya seperti perasaanku padamu, masih tetap sama,” ungkap Ken dengan penekanan penuh keseriusan.
Julie terkejut, tetapi tidak bisa dia sangkal dirinya teramat senang. Kesedihannya akibat Ezra berubah menjadi senyum sumringah berkat Ken.
“Bukannya Lana sudah menggantikan aku dalam hatimu?” Julie berusaha meyakinkan dirinya kalau dia tidak salah dengar. Dia takut dirinya menginginkan Ken berkata demikian namun nyatanya tidak.
Ken menggelengkan kepala pelan. Senyum terukir pada wajah yang memiliki dagu terbelah. “Tidak Jules. Aku masih mencari titik perasaanku padanya. Aku tidak mungkin melupakanmu begitu saja. Aku masih mencintaimu sampai detik ini, Juliana.”
Sekarang Julie mendapat jawaban yang telinganya ingin dengar. Kedua tangannya yang bebas meraih kedua tangan Ken yang masih menyentuh wajahnya. Air matanya mengembang, namun hatinya bergetar seperti biasa tiap bersama Ken.
Bibir Julie bergerak, mengatakan hal yang tidak Ken duga. “Aku juga masih mencintaimu, Kennedy. Aku takut kau melupakan aku.”
“Melupakanmu? Andai semudah itu pasti aku sudah mengajak Lana menikah. Hidup bahagia dan membangun keluarga bersama, tetapi nyatanya tidak. Aku tidak sebahagia itu, Julie. Tidak tanpamu.” Sorot mata serius milik Ken meyakinkan hal itu pada Julie.
Apa karena Julie terlalu senang atau dia merindukan semua hal tentang Ken bersamanya, tetapi yang pasti semua kalimat itu menimbulkan air mata kerinduan yang terpendam.
Ken mendekatkan diri, memberikan mencium untuk membungkam mulut Julie sebelum isakannya itu terdengar. Julie membalas ciuman pria yang kini sudah merengkuh tubuhnya dalam pelukan dengan air mata yang mengalir tanpa henti.
Permainan bibir keduanya semakin intim bersama tubuh yang semakin mendekat satu sama lain. Tangan Ken meraba punggung indah Julie, sementara wanitanya mengalungkan tangan pada leher sambil terus membalas ciuman tanpa henti. Hasrat yang bercampur dengan kerinduan menjadi awal keduanya semakin memperdalam ciuman yang saling mendominasi tanpa mau menyudahi permainan yang menyita akal sehat mereka.
Ken menggendong tubuh Julie ala bridal style, membawa wanita itu menuju kamar yang berada tidak jauh dari ruang tamu sambil terus mencium dengan saliva yang bertukar.
Setibanya di dalam kamar, Ken menjatuhkan tubuh Julie di atas tempat tidur. Hasrat yang menggebu-gebu sedang menjalar dalam tubuhnya sehingga dia membuka seluruh pakaiannya, begitu pula dengan Julie.
Ciuman yang akhirnya berakhir menjadi adegan mengambil napas sejenak. Mereka memulai kembali kegiatan sebelumnya setelah merasa yakin akan melanjutkan pada permainan yang lebih jauh. Permainan yang biasa mereka lakukan.
Tubuh yang saling menempel.
Milik yang saling menyatu dan memenuhi.
Desahan yang mengisi ruangan.
Jeritan yang menggema.
Semua bercampur dalam kenikmatan yang tidak dapat tergambarkan hanya sekadar kata-kata.
Malam ini, mereka menginginkan tubuh masing-masing. Mereka menginginkan kenikmatan yang telah mereka rindukan dari sang pujaan. Tentu kenikmatan yang tidak akan mereka dapat dari tubuh lain, selain dambaan mereka sendiri.
“Tuan, sepertinya ada yang mengikuti kita dari belakang,” ucap Keanu di sela kegiatan menyetirnya. Dia melirik kaca spion bagian belakang beberapa kali sebelum akhirnya memberitahu Ezra.
“Berhenti sekarang,” pinta Ezra dengan nada tegas.
Keanu menyetujui lalu dia menepikan mobilnya. Ezra segera turun, dia sudah melihat ke belakang, mobil yang mengikutinya masih tertinggal walau tidak terlalu jauh.
Ezra mengambil pistol revolver berkaliber 44 jenis colt peacekeeper lalu keluar dari mobil. Dia berdiri di tengah jalan, bersiap menembak kaca mobil yang semakin dekat. Dalam hitungan menit dan sekali tembak, peluru berhasil menembus kaca depan, mengenai bahu sang pengemudi yang kini mobilnya bergerak tanpa arah.
Dia menyingkir sebelum akhirnya berjalan santai menghampiri mobil yang menabrak pembatas jalan. Pria yang mengemudi itu terluka pada bagian bahu dan pelipisnya. Darah mengalir begitu saja.
“Siapa yang mengutusmu untuk membututiku?” tanya Ezra dingin sambil menodongkan pistol pada kepala pria yang tengah memohon meminta pertolongan karena rasa sakit pada bahunya.
“Ti-ti-tidak ada. Ku mohon, bawa aku ke rumah sakit ... bahuku, sa-sakit …” Pria itu mengucapkan kalimatnya terbata-bata.
“Katakan padaku lebih dahulu, setelah ini aku akan membawamu ke rumah sakit.” Ezra memaksa, pistol yang dia todongkan semakin menempel pada bagian samping kiri kepala pria itu.
“Ba-ba-bawa aku lebih dulu.” Pria itu tak berhenti meringis kesakitan. Bukan tipe pembunuh, hanya sekadar pesuruh yang rasanya mati belum siap, namun menjalankan perintah menjadi sebuah kewajiban.
“Ya, aku akan membawamu ke neraka paling bawah.”
Berakhirnya kalimat Ezra, berakhir pula hidup pria itu. Satu tembakan terakhir yang Ezra lancarkan mengakibatkan kematian dalam sekejap. Dia berjalan kembali menuju mobilnya. Keanu yang sudah berdiri di depan mobil, sigap mengambil pistol yang Ezra lemparkan padanya.
Sesudah itu, mereka berdua segera pergi dari sana, meninggalkan pria yang sudah tidak bernyawa dengan mobil rusak karena menabrak pembatas jalan. Beruntung saja jalanan yang mereka lalui sangat sepi, jadinya tidak ada saksi mata. Tak ada yang menyaksikan apa yang sudah terjadi, hanya ada kesunyian bersama angin yang menemani malam yang kelam.
Kelopak mata Ezra terbuka. Setiap pukul tiga pagi, dia terbangun tanpa alasan. Kebiasaan ini sudah terjadi sejak kepergian Violet, seperti menjadi kebiasaan rutin yang cukup melelahkan. Tangannya meraih ponsel yang dia taruh di atas nakas lalu membuka salah satu pesan teratas dari salah satu pengawal pribadinya.
Sebuah foto perihal mansion-nya yang rusak parah akibat tembakan dan granat yang meledak, membuat Ezra menghela napas kasar. Kalau sudah begini, dia tidak bisa tenang. Dia memikirkan Julie. Sayangnya wajah Julie terganti oleh sosok Violet–calon istrinya yang telah tiada karena kecelakaan yang menimpa. Seketika kepala Ezra terasa sakit, mengingat kenangan demi kenangan yang telah dia lalui bersama Violet selama tiga tahun menjalin hubungan. Jangka waktu yang tidak sebentar dalam rekor hubungan dengan seorang wanita. Ezra memukul pelipisnya berkali-kali seperti orang gila tiap mengingat bayangan Violetta Mclaine. Sepintas bayangan kecelakaan tragis yang terjadi muncul begitu saja. Penyesalan bersama rasa sakit yang Ezra tahan semakin menyakitkan setiap harinya.
Pernikahan yang akan terselenggara tiga minggu lagi harus kandas karena calon istrinya meninggal tanpa berpamitan. Kepergian Violet membuatnya begitu terpukul. Dia koma selama hampir sebulan dan tidak bisa melihat Violet saat prosesi pemakaman berlangsung. Sosok Violet yang dia dambakan hadir dalam sosok Juliet yang memiliki paras begitu mirip dengan pujaannya. Dia sampai tidak bisa membedakan yang mana Violet dan Julie setiap mengingat dua wajah yang penuh kemiripan identik seperti anak kembar.
Beruntung matanya kembali melihat pesan yang sudah dia buka, menatap gambar mansion tersebut berhasil mengingatkannya kembali akan sosok Julie.
I need to take her away from here.
Pagi menyapa. Cuaca cerah seperti senyum yang tercetak pada wajah Julie sekarang. Pasalnya dia dapat melihat kehadiran Ken yang menemani paginya, tertidur pulas di sampingnya.
Semalam mereka b******a hebat, menyerukan nama masing-masing dalam kegiatan yang sudah lama tidak mereka lakukan. Walau sesungguhnya Julie merasa bersalah melakukan itu dengan kekasih orang lain, tetapi hasratnya menguasai kontrol diri yang lenyap begitu saja semalam.
Ken mengatakan padanya dia tidak pernah melakukan hubungan intim bersama Lana karena wanita itu bukan dirinya. Julie merasa kasihan, tetapi juga senang mendengarnya.
Soal Ezra, Julie tidak peduli. Pria itu tidak pernah menyentuhnya. Sebelum Ken menjalin hubungan dengan Lana, dia masih sering melakukan permainan penuh kenikmatan seperti semalam saat dia dan mantan tunangannya pergi berduaan. Tentu Ezra tahu jika mereka sering pergi bersama sewaktu dulu, sebelum kepindahannya ke pulau pribadi selama tiga tahun belakang. Suaminya terlihat tidak peduli saat dia pergi bersama Ken dan memberi izin, tetapi yang pasti Ezra tidak tahu apa yang mereka lakukan di belakangnya.
Tangan Ken melingkar pada seputaran lingkar pinggang Julie, memeluknya seolah tidak ingin melepaskan. Julie merindukan kenangannya bersama Ken. Dia menginginkan kehidupan yang seperti ini, bukan terpenjara dalam fantasi gila milik Ezra.
“Good morning, Love,” sapa Julie seraya mencium hidung mancung Ken.
“Good morning, Sweet Heart,” balas Ken dengan senyum yang terlihat namun kelopak matanya belum terbuka.
“Kau sudah bangun?” tanya Julie seraya memainkan jari telunjuknya pada d**a bidang Ken.
“Sudah, termasuk bagian dibawah sana,” jawab Ken sambil tersenyum nakal.
“Apa permainan semalam belum memuaskanmu? Kau menginginkannya lagi?” tanya Julie dengan nada menggoda, terlebih tatapan genit yang wanita itu daratkan saat Ken sudah membuka kelopak matanya.
Ken tergoda ketika nada bicara Julie terdengar nakal. Dia segera mengubah posisinya yang kini sudah berada di atas Julie. Kedua tangan menahan bobot tubuhnya supaya tidak menindih Julie yang bertubuh lebih kecil darinya. Sekali smirk yang Ken tunjukkan, berubah menjadi kenikmatan pagi yang mereka sebut morning s*x.
Selesai melakukannya, mereka berdua mandi secara bergantian.
Baru saja Julie mengemas rambutnya dalam buntalan handuk yang melilit pada kepalanya, Ezra membuka pintu kamar Ken tanpa permisi. Bodohnya Ken lupa mengunci pintu sehingga Ezra bisa masuk sesuka hatinya.
“Kita pergi sekarang.” Ezra menarik tangan Julie dengan cepat.
Julie yang kala itu hanya mengenakan baju mandi berusaha menolak, namun cengkraman Ezra lebih kuat dari usahanya.
“Ez! Pamit dulu dengan Ken!” Julie terus mencoba melepas cengkraman Ezra yang sudah berhasil menariknya sampai ruang tamu.
“Tidak perlu. Kau sudah puas bertemu dengannya. Saatnya kau ikut denganku,” tolak Ezra tanpa melonggarkan cengkramannya.
“Ezra!! Kau tidak bisa begitu! Setidaknya biarkan aku–”
Secara mendadak langkah kaki Ezra berhenti yang menyebabkan Julie menggantung kalimatnya. Tatapan tajam nan dingin itu melihat Julie yang memasang wajah penuh permohonan.
“Kau ingin berganti pakaian? Kita bisa membelinya nanti. Yang terpenting kita pergi dari sini sekarang,” tegas Ezra.
Julie meneguk ludah ngeri melihat tatapan dan ketegasan yang Ezra tunjukkan. Dia tidak bisa menolak, terpaksa harus mengikuti kemauan suaminya.
“Ezra, izinkan aku pamit sebentar saja, supaya dia tahu aku sudah pergi.” Sekali lagi Julie berusaha meminta permintaan terakhirnya sebelum benar-benar meninggalkan mansion milik Ken.
Bukannya Ezra menuruti, dia justru mengendong tubuh Julie. Istrinya meronta, namun tenaganya yang kuat tidak mudah runtuh begitu saja.
Setibanya di dalam mobil, Julie kembali meneteskan air mata. Padahal baru sebentar dia melepas rindu sekarang dia harus pergi lagi. Tanpa pamitan.
“Cepat jalan, Keanu!” perintah Ezra.
Mobil melaju cepat setelah perintah terdengar. Beberapa mobil pengawal mengikuti mobil Ezra dari belakang.
“Kenapa kita pergi lagi?” Julie bertanya, isakannya terdengar ketika pertanyaan terlontar.
“Tidak apa-apa. Kita pergi dari sini dan berlibur. Kau ingin berlibur melihat Paris bukan? Kita akan kesana sekarang,” jawab Ezra dengan wajah datar tanpa senyum.
Seketika tangis Julie berhenti kemudian berubah menjadi kerutan heran pada keningnya. Dia bertanya-tanya mengapa mendadak berlibur? Apa ada hal yang terjadi sampai menyebabkan suaminya mendadak berubah menjadi malaikat? Apa manusia ini baik-baik saja?
Ezra menangkap raut bingung pada ekspresi wajah istrinya, tetapi tidak ada cara lain selain melarikan diri dari kejaran orang-orang yang tidak dia harapkan kehadirannya.
Aku pasti akan menemukan dalang dibalik kejadian kemarin!