Julie mengukir senyum bahagia saat dia menyaksikan kota Paris yang menghampar banyak keindahan melalui jendela mobil. Ezra yang berada di sebelahnya tersenyum tipis. Sangat tipis dan mungkin hanya Keanu yang menyadarinya, karena Julie sibuk memerhatikan sekitar.
Sudah lama Julie tidak berlibur dan secara mengejutkan Ezra membawanya ke Paris–kota romantis yang menjadi tujuan dambaan hampir semua wanita.
“Kita akan menetap berapa lama disini, Ezra?” tanya Julie penuh harap. Iya, berharap menetap di Paris sedikit lebih lama.
“Tidak lama,” jawab Ezra singkat.
Julie berniat protes, tetapi rasanya tidak perlu karena membawanya kesini saja sudah membuat mood-nya membaik.
Jarak antara Bandara dengan hotel yang akan mereka tempati tidak terlalu jauh, sehingga cukup menempuh waktu sekitar dua puluh menit untuk tiba di tujuan. Julie sudah mengganti pakaian sejak berada di dalam pesawat pribadi keluarga Walton. Beberapa pakaian yang Ezra belikan untuknya sudah masuk ke dalam koper kecil berwarna pink.
“Wah ... kamarnya luar biasa bagus!” Julie terkagum-kagum melihat desain interior yang mengesankan mata, bergaya mewah nan elegan.
Ezra merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia memejamkan mata karena kepalanya sakit. Dia belum tidur sama sekali sejak kemarin.
“Kenapa kau tidur di sana? Kembali ke kamarmu, Mr. Walton,” tegur Julie saat berjalan mendekati tempat tidur.
“Aku akan tidur di kamar yang sama denganmu,” ucap Ezra pelan.
Julie mengerutkan dahinya. Dia tidak salah dengar Ezra mengatakan hal itu bukan? Satu... kamar?
“Aku tidak mungkin tidur di atas sofa, Ez–apa kau–” Julie menghentikan kalimatnya sesaat menyadari Ezra tertidur lelap.
Julie tidak bisa melakukan apapun selain menghela napas pasrah. Suka tidak suka, jika suaminya berkeinginan begitu dia harus menuruti. Ya, anggap saja cobaan lain menjadi istri Ezra yang menyebalkan dan kejam.
Wait–bukannya kesempatan bagus jika dia pergi dari sini? Ezra tidak mungkin tahu kan? Toh, suaminya tidur dan dia bisa mengelilingi Paris tanpa Ezra. Kalau perlu, tanpa pengawalan. Dengan langkah mengendap-ngendap, Julie keluar dari kamar meninggalkan Ezra sendirian. Sialnya pengawal pribadinya berjaga di depan pintu.
“Nyonya Walton, anda mau kemana?” tanya Keanu.
“Sebelumnya Ezra sudah mengizinkanku untuk mengelilingi Paris dan katanya kau harus menemaniku,” kata Julie berbohong.
Keanu tidak percaya. Ezra tidak semudah itu memberi persetujuan jika menyangkut Julie. Pria itu tidak akan membiarkan Julie pergi walau pun dengan pengawalan. Tuannya sempat berpesan untuk tidak membiarkan Julie keluar kamar kecuali pergi dengan Ezra langsung.
“Kalau begitu saya akan menanyakannya pada Tuan Ezra. Tolong tunggu–”
“Tidak perlu, Ezra sedang tidur. Dia sudah mengizinkan. Ayolah, kau tidak percaya?” Julie menarik lengan Keanu ketika pria itu akan bersiap masuk ke dalam kamarnya.
Keanu berpikir sejenak. Dia melirik pengawal lainnya yang tampak menyerahkan semua keputusan padanya.
“Baiklah Nyonya Walton. Saya akan menemani anda mengelilingi Paris bersama pengawal yang lain,” kata Keanu akhirnya setuju.
Julie tersenyum lebar dan nyaris berlompat kegirangan kalau dirinya tidak menahan diri. Akhirnya... setelah sekian lama terkurung dan tidak bebas melakukan apa saja, dia bisa pergi menghirup udara segar! Sebelum Ezra bangun dari tidur dan menggagalkan niatnya, Julie buru-buru melangkah pergi. Keanu mengikuti dari belakang bersama ketiga pengawal lainnya. Sementara empat pengawal yang lain menetap di Hotel, memastikan Ezra terjaga dengan aman.
Menara Eiffel, Paris, Perancis.
Julie tak berhenti mempertahankan senyum lebarnya. Tidak pernah dia merasa sebebas ini.
Keanu yang berjalan di belakang, mengikuti Julie dengan hati-hati. Dia tidak ingin Julie luput dari pandangannya, kalau terjadi, bisa-bisa Ezra mengamuk dan memenggal kepalanya. Baginya yang merepotkan ketika Julie berlari di tengah kerumunan, seperti sekarang contohnya.
“Nyonya, tolong jangan berlari,” pinta Keanu setelah sudah berhasil menyamai posisi Julie.
Julie langsung menghentikan larinya. Dia menatap Keanu yang ada di sampingnya. “Tenang saja, aku tidak akan hilang. Seandainya hilang, aku pasti hanya main di sekitar sini,” kata Julie dengan senyum yang terus terlihat.
“Bukan begitu Nyonya, tapi Tuan Ezra pasti mengamuk kalau anda hilang. Bisa-bisa saya dan yang lain dipecat.” Keanu mencoba mengingatkan.
Julie kembali mengingat sewaktu dulu dia hampir tenggelam saat berenang dan Ezra memecat salah satu pengawalnya. Padahal bukan salah pengawal itu, tetapi karena Julie kurang pemanasan sehingga kakinya keram.
“Iya, aku tahu. Ya sudah kalian ikuti aku dari belakang,” kata Julie akhirnya. Keanu merasa berysukur Julie dapat memahami maksud ucapannya.
Saat ini Julie berjalan lebih lambat. Dia menikmati pemandangan sekitar menara Eiffel yang menarik mata. Sungguh, betapa indahnya kota romantis yang menjadi dambaan liburannya. Seharusnya dia pergi ke sini bersama Ken. Sayang suaminya Ezra–si egois.
Terkadang Julie iri dengan kehidupan orang lain yang bebas melakukan apa saja, tidak seperti dirinya terjerat dalam penjara yang Ezra ciptakan untuknya. Beruntung pria itu sedang tidur, sehingga dia dapat bebas walau tetap pergi bersama pengawalnya.
Namun... pikiran nakalnya mendadak muncul. Sekali saja, Julie ingin pergi tanpa perlindungan pengawalnya. Tetapi... bagaimana caranya? Julie memutar otak, mencari rencana untuk mengelabui keempat pengawalnya. Mungkin tiga di antara mereka cukup mudah terkena tipuan, tetapi tidak dengan Keanu. Pengawalnya yang satu itu sangat pintar dan sudah bekerja untuk Ezra dalam waktu cukup lama. Ehm... apa yang harus aku lakukan?
Dan... ketemu! Dia menemukan cara untuk kabur dari pandangan para pengawalnya.
“Keanu, aku ingin pergi ke kamar mandi,” kata Julie akhirnya mencoba cara yang mungkin dapat berhasil atau tidak sama sekali.
“Mari saya antarkan Nyonya.” Keanu menyahuti seraya memberi kode kepada ketiga pengawal lain untuk mengikuti.
Sesampainya di kamar mandi terdekat, semua pengawalnya berdiri di depan pintu. Ya sedikit menjauh, karena takut dikira mengintip. Julie segera memasuki kamar mandi yang sedang ramai-ramainya. Kebetulan hari ini adalah hari libur, jadi suasana cukup ramai.
Julie mengedarkan pandangannya, mencari sesuatu yang dia butuhkan. Hampir semenit meneliti, akhirnya ketemu. Dia menemukan seorang anak kecil mengenakan topi warna merah sambil m******t permen lollipop. Penyelamat kecilnya dibiarkan menunggu sang ibu di depan pintu kamar mandi. Dengan bahasa Perancisnya yang payah dan pas-pas-an, Julie melancarkan aksinya. Bukan untuk menculik anak kecil itu, tetapi untuk menukar permen lollipop yang Julie simpan dalam sakunya untuk dia tukar dengan topi. Semoga saja anak kecil itu bersedia dan semua berjalan sesuai harapan.
Tanpa pikir panjang, setelah memberikan empat buah permen lollipop dan gantungan kunci berbentuk boneka teddy bear berukuran kecil, Julie mangambil topi yang anak kecil tersebut serahkan padanya. Dia segera mengenakan topinya. Julie tidak langsung keluar, dia menunggu waktu yang tepat. Iya, seperti sekarang adalah waktu yang tepat setelah sekumpulan anak perempuan keluar bersamaan dan Julie menyamarkan dirinya di tengah mereka yang sibuk berbincang.
Setelah sudah cukup jauh, Julie melihat ke belakang dan tidak ada pengawalnya yang menyadari dirinya sudah keluar kamar mandi.
Yes!! I'm free!! teriak Julie dalam hatinya girang.
Kelopak mata Ezra terbuka secara tiba-tiba. Napasnya tersenggal-senggal, air keringatnya keluar dari sekitaran pelipisnya. Dia bermimpi buruk, mengingat kecelakaan yang menimpanya dan Violet.
Setiap dia jatuh terlelap, dia akan selalu memimpikan hal yang sama yakni, memimpikan kecelakaannya bersama Violet yang membuatnya terus mengulang kenangan buruk yang melekat dalam benaknya. Ezra mengatur napas. Tangannya mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas. Tiba-tiba pandangannya beralih, menyadari Julie tidak ada di sana. Dia segera turun dari tempat tidur dan mencari Julie di seluruh ruangan. Hasilnya tidak ada kehadiran istrinya.
Kemana Julie? Kenapa tidak ada di sini?
Ketika Ezra membuka pintu, bertepatan dengan salah seorang pengawalnya yang akan mengetuk pintu. Untung saja pengawalnya segera menahan tangannya sehingga tidak mengenai Ezra.
“Maaf Tuan ...” Pengawal bernama Andres itu menunduk. Perubahan ekspresinya membuat Ezra bertanya dengan nada dingin, “Ada apa? Cepat katakan padaku.”
“Nyonya Julie menghilang.”
Detik itu juga amarah Ezra terpancar dari wajahnya. Semua pengawalnya menunduk, takut Ezra akan murka setelah ini.
“Dimana terakhir kali Julie terlihat?” tanya Ezra. Ada nada penuh kemarahan yang siap meledak sebentar lagi.
“Di sekitar menara Eiffel, Tuan. Keanu yang menemaninya pergi keluar tetapi mereka kehilangan jejaknya saat Nyonya Julie pergi ke kamar mandi,” jawab Andres dengan nada bicara yang hati-hati.
Wanita itu benar-benar! Mengapa susah sekali untuk menurutiku!
“Kalian semua bodoh! Mengurus satu wanita saja tidak bisa! Kalau sampai Julie tidak ketemu hari ini, tamat riwayat kalian! Katakan juga pada Keanu!”
“Baik, tuan.”
Dengan langkah tergesa-gesa Ezra segera melangkah pergi. Keempat pengawalnya mengikuti dari belakang dengan lari kecil mengikuti tuannya.
Ezra berlari kesana kemari mencari Julie. Dia sempat salah mengira orang karena beberapa wanita yang berambut kecoklatan memiliki paras seperti istrinya. Hatinya tidak tenang. Bagaimana pun caranya, dia harus menemukan Julie. Tidak peduli walau harus mencarinya di seluruh penjuru kota Paris. Sudah hampir satu jam berlalu, dia tidak menemukan Julie di sekitaran menara Eiffel. Julie... kemana lagi aku harus mencarimu?
Mendadak ada hal yang muncul dalam benaknya saat matanya menatap menara Eiffel. Seingatnya Julie ingin naik ke atas puncak menara itu jika berlibur di kota impiannya. Tanpa banyak berpikir, Ezra mengajak beberapa pengawalnya termasuk Keanu untuk ikut dengannya naik ke atas puncak menara Eiffel.
Setelah naik dengan lift yang ada, akhirnya Ezra tiba di atas puncak menara Eiffel. Dia segera berkeliling dan menyuruh pengawalnya berpencar mencari Julie. Dia mencari baik-baik sampai akhirnya dia menemukan sesosok wanita yang tengah menutup kelopak matanya menikmati angin yang berhembus kencang.
Kali ini Ezra tidak salah. Wanita itu benar istrinya, karena dia melihat tato bergambar bulan sabit pada tangan sebelah kanan, seperti yang Julie miliki. Ezra bernapas lega. Dia segera menghampiri Julie dan melepas jaketnya. Setelah sudah berada di dekat Julie, dia menutup tubuh bagian sekitar pundak Julie dengan jaketnya karena angin benar-benar berhembus kencang.
Wanita itu yang ternyata benar adalah Julie segera menoleh. Matanya melebar ketika menyadari kehadiran Ezra.
“Ezra? Umm... aku bisa–”
Suara Julie tertahan karena secara tiba-tiba Ezra memeluknya. Sangat erat. Julie bingung saat merasakan pelukan itu.
“Tolong jangan pergi kemana-mana sendirian, Julie. Aku mohon... jangan membuatku takut,” bisik Ezra lirih.