Tubuh Julie membeku. Sekali dalam lima tahun tinggal bersama suaminya, dia baru mendengar Ezra mengatakan kalimat seperti itu. Terlebih nada bicaranya yang lembut. Apa Ezra baik-baik saja?
Dia masih mencerna kalimat yang terdengar dari mulut Ezra. Pelukan yang terasa hangat semakin membuatnya bertanya-tanya. Bukannya melepaskan, Ezra justru semakin mengeratkan pelukannya. Para pengawal mengalihkan pandangan, tidak mau nanti terkesan mau tahu urusan bos mereka.
“Umm... Ez? Are you okay? Kenapa mendadak aneh?” Julie memelankan bagian pertanyaan terakhirnya. Walau begitu Ezra yang telinganya masih berfungsi dengan baik dapat mendengarnya.
“Aku baik-baik saja,” jawab Ezra seraya menarik diri lalu membenarkan jaket yang melingkar pada sekitar pundak istrinya. “Jangan pergi sendirian tanpa aku.”
Julie menangguk. Mungkin Ezra takut kehilangan wanita yang menjadi obsesinya. Dia lupa kalau dirinya hanya sebatas bayangan Violet, bukan sebagai sosok Julie. Jadi tidak perlu memikirkan kalimat suaminya dengan serius.
“Jangan terlalu lama di sini, kau bisa sakit terkena angin kencang. Ayo kembali,” ajak Ezra setengah membujuk.
“Aku masih ingin menikmati indahnya kota Paris. Boleh kan kalau aku menetap di sini sebentar lagi? Umm... tapi kalau tidak boleh–”
“Ya, kita menetap di sini selama lima belas menit. Setelah itu kita kembali,” potong Ezra sebelum Julie menyelesaikan kalimatnya.
Julie merubah ekspresinya. Kedua alisnya mengerut hingga nyaris bertemu. Telinganya belum salah dengar kan? Mengapa Ezra sangat aneh hari ini? Apa selama tidur Ezra mendapat pencerahan supaya bersikap lebih baik padanya? Ah, terserah. Aku tidak peduli.
Julie tidak mau memusingkan Ezra yang bersikap aneh. Dia memilih menatap keindahan yang terhampar dari puncak teratas menara Eiffel. Dia dapat menangkap banyak objek bagus. Yang lebih menarik, bukan lagi pemandangannya, melainkan Ezra yang berdiri tepat di sampingnya. Suaminya nampak memikirkan sesuatu.
“Ezra, apa tadi saat kau bangun tidur kepalamu terbentur?” Julie menanyakan hal yang mungkin tidak akan suaminya jawab. Dia tahu Ezra, pria itu tidak akan sekurang kerjaan itu menjawab pertanyaan tidak penting.
“Setelah ini, kau ingin pergi kemana?”
Lihat kan, Ezra tidak menjawab pertanyaannya. But, wait–Ezra menanyakan hal apa tadi? Saking fokusnya pada jawaban Ezra atas pertanyaannya, dia sampai tidak mendengar pertanyaan baru Ezra.
“Kau bertanya apa, Ezra?”
“Bisakah kau memanggilku dengan panggilan yang selalu kau ucapkan ketika berada di rumah?”
Julie menghela napas. Hal semacam itu ternyata tidak Ezra lupakan. Padahal dia berharap dirinya bisa berbicara semaunya.
“Maksudku kau bertanya apa, Sayang?”
“Setelah ini kau ingin pergi kemana? Aku menanyakan itu, Julie.” Ezra mengulang pertanyaannya.
“Aku ingin pergi ke tembok cinta, dinding cinta, dan...” Julie mengutarakan banyak keinginannya yang sudah dia hafal seandainya berlibur ke sini.
“Pilih salah satu, kita tidak mungkin mendatangi semuanya. Pilih yang paling kau ingin datangi,” kata Ezra. Nadanya tetap dingin seperti biasa. Sudah kebiasaan Ezra bicara dengan nada datar tanpa ekspresi yang berlebihan.
“Ya sudah aku mau pergi ke dinding cinta saja. Lagi pula mengapa kau...”
Ezra nyaris menarik senyum namun tertahan. Kecerewetan Julie benar-benar seperti Violet. Tidak hanya wajah, beberapa sifat dan tindakan Julie hampir sama dengan Violetnya.
Violetta Mclaine–calon istrinya yang telah tiada akibat kecelakaan. Bentuk wajah, bibir, semua begitu mirip dengan Julie. Walau dia tahu sosok yang bersamanya bukan Violet, tetapi dia yakin bahwa diri Violet terdapat pada diri Julie. Seperti reinkarnasi. Karena sangat mustahil menemukan sosok yang begitu mirip, bagai kembar identik. Dari semua kemiripan, ada satu yang berbeda. Warna bola matanya. Jika warna mata Julie hijau, maka Violet memiliki mata berwarna coklat tua.
Pikirannya jadi mengingat kenangannya yang terjadi selama bersama Violet sewaktu wanita itu masih hidup.
- - - - - -
Violet mengulurkan tangannya, membiarkan Ezra menggapai tangannya.
“Dear Mr. Walton, would you dance with me?”
Ezra bukan tipe yang senang berdansa seperti yang lain. Dia tipe kaku yang tidak menyukai hal semacam itu. Tetapi bersama Violet, dia tidak bisa menolak. Hatinya sudah terpaku sempurna oleh sosok Violet yang selalu mengisi kesehariannya.
Dengan cepat, Ezra menggapai tangan Violet dan menariknya hingga wanita itu terhempas dalam dekapannya. Ezra melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Violet, sementara tangan lainnya menggenggam tangan Violet.
“Aku akan menyalakan lagu kesukaanku.”
Setelah lagu terputar, secara spontan mereka menggerakkan kaki bersamaan mengikuti irama. Senyum lebar Violet tampak begitu jelas dapat Ezra saksikan bersama mimik bibirnya yang mengikuti lagu yang terputar.
“High School Musical, right? Your favorite movie,” ucap Ezra di sela dansa mereka yang berlangsung.
“Yeah. Always be my favorite movie all the time. But... you are my favorite all the time too, Mr. Walton,” balas Violet dengan senyum yang semakin melebar.
Violet bersenandung, menyanyikan sedikit bait dari lagunya. Suara merdu Violet mengalun sempurna bagai sapaan bidadari surga. Ezra tidak mungkin meragukan suara lembut nan menghangatkan itu. Wanitanya senang bernyanyi dan dulunya pernah ikut kegiatan drama musikal di sekolah.
Bagi Ezra, bersama Violet seperti berada dalam dunia fantasi yang sempurna. Semua terasa begitu indah dan menyenangkan. Penuh warna dan selalu ada pelangi dalam setiap harinya.
Dan... dia berharap semua tidak akan cepat berlalu atau hilang untuk selamanya ...
- - - - - -
Sayang ...
... realita berkata lain.
Violet pergi untuk selamanya. Hati Ezra terluka setiap mengingat kepergian Violet yang terlalu cepat. Dia masih mengharapkan Violet menetap bersamanya sampai akhir hayat nanti. Namun takdir tetaplah takdir. Ezra tidak bisa mengubahnya.
Sekarang kehadiran Julie menjadi pengganti sosok Violet yang hilang. Walau dia tidak mencintai Julie, setidaknya wajah wanita itu akan terus mengingatkannya pada Violet dan akan selalu begitu selamanya.
Mengingat kenangannya membuat Ezra senyam-senyum sendiri. Julie yang menyadarinya merasa heran dan kali pertama dia melihat Ezra menunjukkan senyum yang sesungguhnya.
“Kau baik-baik saja, Sayang?” tanya Julie menyadarkan lamunan Ezra yang membuat pria itu menoleh padanya.
Dalam sepersekian detik, senyumnya terganti dengan ekspresi datar yang biasa dia tunjukkan. “Iya. Ayo kita pergi, sudah lewat lima belas menit.”
Julie tidak ingin menolak, dia setuju dengan ajakan suaminya. Yang membuat Julie tidak percaya ketika Ezra menggenggam tangannya. Tangan pria itu terasa hangat.
“Aku tidak mau kau lari atau pergi. Tetaplah bersamaku, Julie.”
Penjelasan itu sudah menjawab pertanyaan Julie perihal tangan yang tergenggam. Julie tidak menjawab, dia mengangguk sebagai respons karena kebetulan Ezra meliriknya. Tidak perlu bicara Ezra pasti tahu maksud anggukan kepalanya.
Le mur des je t'aime
Julie tidak berhenti menarik senyumnya ketika mendapati tempat yang menjadi daftar destinasinya. Dia melihat ukiran kata cinta pada dinding dari berbagai bahasa di dunia terpampang disana.
“Ah, seharusnya aku mengajak Ken ke sini. Pasti akan lebih romantic,” gumam Julie tanpa sadar.
Ezra terusik mendengar nama sepupunya. Dia menoleh pada Julie lalu kembali melihat dinding di depannya.
“Tidak bisakah sekali saja kau tidak membahas Ken?” tegur Ezra yang entah mengapa dia mulai gerah dengan nama sepupunya. Biasanya dia tidak peduli, tetapi sekarang dia mulai risih.
Awalnya Julie tersenyum, namun mendadak pudar karena teguran Ezra. Dia pun menoleh dan menatap tajam suaminya. “Kau juga selalu memanggilku Violet, calon istrimu yang aku tidak pernah tahu wujudnya! Jadi seharusnya aku boleh menyebutkan nama Ken, dia calon suamiku. Kalau saja–”
Ezra langsung memotong kalimat Julie. “Kalau saja aku tidak menikah denganmu, kau akan menikah dengannya. Iya kan?”
“Iya! Kalau begitu terserah aku mau menyebutkan namanya atau tidak. Dulu kau juga–”
Untuk kedua kalinya, Ezra kembali memotong. “—sekali ini, aku ingin kau berhenti menyebutkan namanya. Aku juga akan berhenti menyebutkan nama Violet. Cukup membahas tentang kita saja, bisa kan?”
Julie terperanjat. Pupil matanya melebar mendengar kalimat Ezra yang menurutnya sangat aneh. Aku rasa otaknya Ezra bermasalah!
“Kenapa hari ini kau aneh sekali? Seperti bukan suamiku yang aku kenal.”
“Memangnya suamimu yang kau kenal seperti apa?” Ezra berjalan mendekati Julie, langkah demi langkah.
Julie melangkah mundur, menatap wajah Ezra yang tetap datar namun ada unsur menggoda dari sorot matanya. “Umm... Ezra yang aku kenal menyebalkan, dingin, kasar, cuek, dan masih banyak lagi hal buruk tentangmu.”
Ezra menarik senyum tipis yang membuat Julie semakin tidak percaya. Tanpa mau membuang waktunya hanya untuk mendekati Julie, tangan Ezra segera meraih seputaran pinggang Julie yang membuat wanita itu akhirnya mendekat padanya.
“Anggap saja hadiah bulan madu dariku. Kita tidak pernah bulan madu kan?”
Julie menaikkan satu alisnya. “Apa kau mulai berperan menjadi suami yang baik untukku, Mr. Walton? Kau benar-benar aneh.”
“Iya, aku ingin mencoba menjadi suami yang baik untukmu. Jadi tolong jangan menyebutkan nama Ken begitu juga dengan aku. Bisa kan kita memerankan peran masing-masing dalam status pernikahan yang ada?”
Julie tidak mau berdebat. Melihat perubahan Ezra saja sudah membuatnya geleng kepala. Dia pun menyanggupi hal itu. “iya, bisa. Terserah kau saja. Lepaskan aku sekarang.”
“Aku tidak mau melakukannya.”
Bukan melepas rengkuhannya dari pinggang sang istri, Ezra justru semakin menarik tubuh Julie. Kemudian dia memeluk sang istri dengan sangat erat. Ada bisikan yang keluar dari mulutnya. “Jangan berontak, biarkan aku memelukmu sebentar saja.”
Niat Julie untuk berontak gagal karena suaminya meminta dengan nada bicara yang lembut.
Entah aku masih bisa berdua denganmu atau tidak, Julie...
Kalimat dalam hatinya tidak keluar begitu saja tanpa alasan. Sejak datang di sekitaran menara Eiffel, dia telah menyadari seseorang mengikutinya. Dia yakin Keanu pun merasakan kehadiran orang tersebut. Pemikiran untuk berdua dengan Julie, muncul begitu saja. Entah mengapa dia ingin membuat Julie tersenyum, mungkin untuk terakhir kali kalau seandainya nyawa dia tidak terselamatkan nantinya. Ezra sadar bahaya sudah datang mengancam kehidupannya setelah persembunyian terakhirnya ketahuan.
Dari jauh, seseorang memerhatikan Ezra memeluk istrinya. Orang itu menarik senyum licik sambil meremas foto. Iya, foto Ezra.