Semenjak Ezra memeluknya, Julie merasakan keanehan yang hadir pada diri suaminya. Tumben sekali suaminya berlaku seperti tadi. Apa mungkin suaminya bukan Ezra? Seperti dalam cerita alien, siapa tahu Ezra adalah Alien. Ya ampun... tetapi mereka tidak hidup dalam dunia film, ini dunia nyata. Bagaimana juga, Julie masih menganggap Ezra yang tengah bersikap manis bukanlah suaminya.
“Ayo kita pergi makan. Kau tidak lapar?” Ezra menyisipkan sehelai rambut Julie yang menghalangi pandangannya pada daun telinga sang istri.
Belum sempat Julie menjawab, Ezra sudah lebih dulu menggenggam tangan serta menariknya dengan cara yang halus, menariknya pergi dari sana. Entah ke mana yang pasti Julie hanya bisa mengikuti.
Mereka sudah berada di dalam mobil. Julie menguap berkali-kali. Matanya nyaris terpejam namun dia tetap memaksakan untuk tidak jatuh terlelap. Siapa tahu Ezra akan membawanya ke tempat romantis. Dalam keadaan Ezra bersikap manis, banyak kemungkinan yang akan terjadi bukan?
“Tidurlah, Julie. Jangan memaksakan matamu yang mengantuk itu,” ucap Ezra secara tiba-tiba.
Julie tersentak dan dia buru-buru memaksakan diri menahan kantuknya. Dia memasang wajah seakan dirinya tidak seperti yang suaminya katakan.
“Tidak aku tidak mengantuk. Kita akan pergi kemana setelah ini? Aku lapar,” elak Julie seraya melihat Ezra di sampingnya.
“Suatu tempat. Tidur saja dulu, aku akan membangunkanmu kalau kita sudah sampai.”
“Ya sudah,” kata Julie akhirnya seraya melihat pemandangan dari dalam mobil. Dia memilih tidak bertanya lagi karena percuma saja. Ezra tidak akan memberitahu.
Dalam hitungan menit, Julie memejamkan matanya. Ezra langsung menarik tubuh Julie, membiarkan kepala istrinya bersandar pada pundaknya. Tangannya memeluk seputaran pinggang sang istri supaya tubuh mereka berdekatan.
Ezra diam sebentar memandangi wajah Julie yang begitu mirip dengan Violet. Rasanya seperti pergi bersama calon istrinya itu. Beruntung tato yang melekat pada Julie kembali menyadarkannya bahwa Julie bukanlah Violetnya.
“Tuan, sepertinya ada yang mengikuti kita dari belakang.” Keanu memberitahu. Sebagai kepercayaan Ezra, dia merangkap semua pekerjaan, seperti; pengawal dan sopir pribadi. Sudah sembilan tahun dia mengabdi pada Ezra.
“Aku tahu. Manusia itu sudah mengikuti sedari kita berada di menara Eiffel. Tolong hubungi Lily, sepupuku. Dia sedang berada di sini. Katakan aku membutuhkan bantuannya.”
“Baik, saya akan menghubungi Lily setelah kita tiba di restoran, Tuan.”
“Tolong suruh Lily datang ke restoran,” ucap Ezra lagi. Sesekali tangannya mengusap kepala Julie yang terlelap dalam dekapannya.
“Baik, Tuan.”
Perbincangan singkat mereka berakhir. Ezra kembali memandangi Julie. Dia menyunggingkan senyum tipis di sela kegiatannya. Tidak tahu mendapat dorongan darimana, tetapi Ezra mendaratkan kecupan pada puncak kepala Julie. Tentu pemandangan itu dapat di saksikan oleh Keanu dari kaca spion untuk melihat bagian belakang.
Keanu pernah menjadi saksi bisu perjalanan kisah cinta Ezra dan Violet. Mungkin sekarang, dia akan menjadi saksi bisu lagi. Iya, mungkin.
Julie melahap santapan makan malamnya dengan lahap. Seperti tidak makan beberapa hari. Sementara Ezra hanya memerhatikan. Dia tidak terlalu bersemangat makan dalam keadaan yang tidak bisa dia jelaskan.
“My Ezra!” Suara itu terdengar bersama wujud cantik yang menggoda mata pria di luar sana.
Wajah cantik babyface, kulit kecoklatan, mata hijau indah, serta t**i lalat di sekitar atas bibirnya. Wanita cantik itu memeluk lingkaran leher Ezra dan mencium pipinya dengan mesra. Tidak ada yang bisa melakukan hal semacam itu pada Ezra kecuali wanita itu, Lily Walton.
Lily Walton adalah sepupu Ezra dari pihak sang ayah. Lily anak dari kakak ayahnya, Wyle Walton dan sang istri, Kathlyn Walton. Putri semata wayang yang umurnya lebih tua lima tahun dari Ezra.
“After a long time, kau ingin menemuiku lagi baby boy?”
Ezra mengangguk. Dia menarik senyum seraya mengusap punggung tangan Lily yang masih melingkar pada seputaran lehernya.
Julie yang menangkap pemandangan itu merasa takjub dan ingin bertepuk tangan karena Lily berhasil memperlakukan Ezra seperti anak kecil. Walau dia sudah pernah melihat kedekatan Ezra dan Lily seperti itu, tetapi rasanya dia tidak bisa berhenti takjub.
“Hey, Julie! Senang bertemu denganmu. Bagaimana Ken?” tanya Lily seraya menarik diri, kemudian duduk di seberang Ezra tepatnya di samping Julie. Sengaja, dia memang ingin membuat Ezra cemburu. Yah, itu pun kalau sepupunya cemburu.
“Umm...” Julie melirik Ezra. Seperti permintaan Ezra tadi, dia tidak boleh membahas perihal Ken. Apalagi sorot tajam dari suaminya sudah terlihat walau dia belum menjawab.
“Ah, pasti Ezra marah ya? Kalau begitu lupakan. Bagaimana kabar keluarga Ackles?” Lily bertanya, mengubah topik yang sebelumnya sudah memancing amarah Ezra.
“Baik, Lily. Mereka semua baik,” jawab Julie sambil tersenyum. Terkadang dia merasa aneh, mengapa Lily selalu saja menanyakan kabar keluarga Ackles setiap bertemu. Apa ada yang Lily suka? Pada akhirnya dia memilih tidak mau peduli. Mungkin sekadar bertanya saja. Begitu pikirnya.
Ezra tentu tahu alasan Lily menanyakan hal tersebut, tetapi tidak mau memberitahu. Jika tidak ada yang tahu mengenai Ezra atau rahasianya, maka Lily tahu. Begitu pula sebaliknya. Mereka begitu akrab sehingga tahu hal kecil tentang mereka. Jika Ezra hanya dekat dengan keturunan Walton–Lily, maka adiknya, Ryvero lebih akrab dengan keturunan Ackles.
“Julie, kau tunggu disini sebentar. Aku ingin berbincang dengan Lily. Jangan kemana-mana.” Ezra mengingatkan seraya bangkit dari tempat duduknya. Matanya bermain, seolah memberi kode pada Lily untuk mengikutinya.
“Sebentar ya Julie, aku pinjam dulu suamimu,” ucap Lily sembari menepuk bahu Julie lalu selanjutnya mengikuti Ezra yang sudah melangkah jauh di depan sana.
Setelah meninggalkan Julie sendirian bersama Keanu dan para pengawal lainnya, Ezra dan Lily segera masuk ke dalam lift. Ezra tidak mau berbincang di tempat yang ramai, apalagi dapat terdengar mengenai pembahasan mereka. Beberapa menit akhirnya mereka tiba di salah satu kamar yang kebetulan memang restoran yang dia datangi berada di sebuah hotel. Ezra segera duduk di atas sofa, sedangkan Lily meneguk air putih yang baru saja dia tuang dari botolnya.
“Mulai besok, aku ingin kau menjaga istriku, Lily.”
Kalimat itu membuat Lily tersedak. Matanya melebar seolah tidak percaya atas apa yang Ezra katakan.
“Mengapa kau tiba-tiba mengatakan hal itu? Ada apa, Ez?”
Lily memilih duduk di dekat Ezra. Dia ingin tahu ada cerita apa dibalik permintaan gilanya.
“Ada seseorang yang mengikutiku. Terakhir kali sewaktu pulang ke London, ada seseorang yang mengikutiku seperti sekarang. Ya walaupun sudah tiada, ternyata ada yang lainnya. Suruhannya kali ini tidak seperti yang aku bunuh. Dia kelihatan profesional dan berhati-hati dalam bertindak. Aku takut Julie tidak akan selamat jika bersamaku. Ku mohon, jagalah Julie untuk sementara waktu sampai aku bisa melenyapkan sosok misterius itu,” cerita Ezra panjang lebar.
Lily manggut-manggut mengerti. “Kau yakin menitipkan Julie padaku? Kau tahu kan...?” Dia menggantung kalimatnya yang kemudian Ezra membalasnya, “Iya aku tahu. Aku mengatakan ini karena hanya kau yang dapat aku andalkan. Kalau tiba-tiba aku hilang, kau bawa Julie pergi dari sini.”
“Baiklah, aku mengerti. Kau tidak perlu khawatir, aku akan menjaga Julie.”
Ezra mengukir senyum pada wajahnya. Tentu senyum tulus. Ada tiga wanita yang dapat menikmati senyum tulusnya. Satu; ibunya, dua; Violet dan terakhir Lily. Tanpa aba-aba dia memeluk Lily.
“Terima kasih kau selalu membantuku sejak dulu, Lily. Aku bersyukur memilikimu,” bisik Ezra. Nada bicaranya lembut dan tidak terkesan dingin.
“Tidak perlu berterima kasih, Ezra. Aku akan selalu berada di sampingmu jika kau membutuhkan bantuanku. Keluarga akan selalu berbuat seperti itu, Ez.”
Ezra dapat bernapas lega. Paling tidak dia sudah menitipkan Julie pada seseorang yang dapat dia percaya selain Keanu.
Julie memutar badannya, berguling ke kanan dan kiri. Tidak bisa tenang. Dia tidak dapat tidur sementara Ezra mungkin sudah tertidur pulas di atas sofa.
“Arrrghh! Aku tidak bisa tidur!” Julie berdialog sendiri sambil mengacak rambutnya. Tidak tahu mengapa dia tidak bisa tidur padahal waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Ezra yang saat itu belum tidur dan memang terjaga, melirik istrinya. “Jangan teriak-teriak kau bukan sedang di hutan. Ada apa?”
Julie mendengus kesal. “Ck! Lihat, manusia itu sudah mulai berubah.”
Ezra dapat mendengar gerutuan istrinya dengan baik. Karena jarak sofa dan tempat tidur mereka hanya berseberangan dan berada dalam satu ruangan. Tidak bersuara lagi, Ezra justru bangkit dari sofa. Dia berjalan menghampiri istrinya yang terduduk di atas tempat tidur dengan rambut berantakan.
“Paksa matamu untuk tidur atau aku yang akan menidurkanmu dengan caraku.”
Pupil mata Julie melebar. Nada bicara Ezra terdengar dingin, namun ada unsur m***m yang terselip di dalamnya. Dia buru-buru menarik selimut dan membelakangi Ezra. Takut suaminya benar akan melakukan hal aneh. Sepanjang hari manis, lantas malamnya m***m, lalu besok apalagi? Astaga... Ezra benar-benar bukan seperti biasanya, sangat aneh!
Ezra nyaris tertawa. Dia menahan diri untuk tidak menertawakan istrinya yang mungkin sudah menangkap unsur negatif dari kalimatnya barusan. Ah, lucu sekali…
Tiba-tiba sekelibat bayangan sosok Violet melintas dalam benaknya. Ezra merindukan pujaannya. Hatinya menjadi sesak. Cara Julie memunggunginya mirip dengan Violet kalau wanita itu tidur.
“Good night. Thank you for always be by my side, Violet.”
Akibat bayang-bayang yang terlintas, nama yang seharusnya tidak dia sebutkan justru keluar. Beruntung, Julie sudah tertidur, jadi tidak perlu mengamuk karena dia memanggil nama lain. Sebelum kembali ke sofa, Ezra memandangi Julie sebentar. Tangannya menyentuh kepala Julie lalu mengusapnya lembut.
Kau dan Violet begitu mirip. Aku sampai tidak bisa membedakan mana Julie dan Violet.
Hari ini bukan hari yang Ezra inginkan. Sebenarnya dia masih ingin menghabiskan banyak waktu bersama Julie, sayangnya dia harus merelakan istrinya pergi menetap bersama Lily untuk sementara waktu. Dia masih memiliki urusan penting. Demi dirinya dan juga Julie.
“Ez–” Julie buru-buru mengatup mulutnya kemudian meralat setelah melihat tatapan tajam dari suaminya. “Maksudku, Sayang. Kenapa aku harus menginap di rumah Lily?”
“Lily kesepian, Julie. Kebetulan aku ada urusan mendadak dan aku tidak mungkin mengajakmu bersamaku. Mungkin aku tidak akan bertemu denganmu dalam waktu seminggu atau dua minggu lagi.” Suaranya bergetar. Ezra takut tidak akan bertemu Julie bukan hanya seminggu atau dua minggu, tetapi untuk selamanya.
“Oh, begitu... baiklah. Aku harap urusanmu cepat selesai. Jangan lupa membawakanku oleh-oleh kalau kau pergi keluar negeri,” balas Julie sambil tersenyum manis.
“Hey, love birds! Cepat berpisah, aku ingin mengajak Julie belanja!” teriak Lily dari dalam mobil, mengusik keduanya yang saling terdiam.
“Kalau begitu, aku pamit. Sampai jumpa lagi, Sayang,” kata Julie akhirnya. Dia melangkah pergi untuk memasuki mobil.
Ezra menahan lengan Julie sebelum istrinya masuk ke dalam mobil. Kontan hal itu membuat Julie menoleh dan berbalik badan menghadap suaminya.
“Ada apa, Sayang?”
“Kalau urusanku selesai, maukah kau berlibur bersamaku ke Portland?”
Julie sempat terdiam mendengar ajakan Ezra, namun beberapa menit setelah hanya diam, akhirnya dia menjawab, “Tentu saja. Aku akan menunggu kau pulang.”
Ezra tersenyum tipis lalu bertanya lagi, “Bolehkah aku menciummu? Sebagai seorang suami pada istrinya?"
Julie mengerutkan keningnya karena pertanyaan Ezra cukup mengejutkan. Ezra berjalan mendekat pada Julie yang hanya membutuhkan dua langkah untuk saling berdekatan. Setelah sudah berada di depannya, tanpa aba-aba, Ezra memegang kedua sisi wajah Julie dan mendaratkan kecupan pada keningnya.
Julie tertegun sebentar ketika Ezra melakukannya. Dia tidak bisa mengatakan apapun, pikirannya mendadak kosong akibat ulah Ezra.
“I'll coming back to you, soon. Take care, Mrs. Walton.” Kalimat itu terdengar setelah Ezra menyelesaikan kecupannya. Senyum miring turut terselip pada wajah datar tanpa ekspresinya.
Julie mengangguk mengiyakan ucapan Ezra. Dia tidak bisa berkata-kata. Dirinya masih perlu mencerna tindakan Ezra yang mengagetkannya.
“See you, Mr. Walton. Take care yourself.”
Akhirnya Julie masuk ke dalam mobil. Dia duduk tepat di samping Lily yang mengendarai mobilnya sendiri tanpa jasa sopir. Setelah memastikan Julie memakai sabuk pengaman, Lily melajukan mobilnya meninggalkan Ezra dalam senyum pahit.
“Keanu, kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?”
Keanu mengangguk. Dia memerintahkan semua pengawal untuk segera memasuki mobil. Sementara Keanu menetap bersama Ezra di luar mobil.
“Ayo kita pergi dan lihat apa yang akan manusia itu lakukan sekarang.”