Ezra berbaur bersama kerumunan pejalan kaki. Dia sudah merasakan dirinya di ikuti sejak pergi dari hotel. Ternyata secanggih itu seseorang dapat mengetahui keberadaannya setelah pergi dari London dan datang ke Paris.
Setelah beberapa menit berjalan kaki, Ezra memasuki sebuah flat dan masuk ke dalam dengan mudahnya. Dia memiliki salah satu flat tidak terpakai yang sengaja dia beli jika sewaktu-waktu akan mampir ke Paris. Namun bukan itu tujuannya sekarang. Dia hanya ingin naik ke atas puncak tertingginya–atap.
Ezra sadar ada yang mengikutinya dan cara terbaik memancing sosok itu adalah mengajaknya bertemu. Face to face. Setelah Ezra sudah berada di atas atap, dia bersembunyi di balik pintunya. Langkahnya lebih cepat sehingga dia dapat lebih leluasa mencari celah untuk mengalahkan musuhnya.
Tidak memerlukan waktu yang cukup lama karena hanya berselang dua menit pintu menuju atap terbuka. Sontak Ezra diam menunggu sampai akhirnya sosok itu menyadari keberadaannya yang mengakibatkan Ezra harus melancarkan pukulan.
Lawannya tidak sebodoh itu. Pukulan Ezra dapat ditangkis dengan mudah dan bergantian melancarkan pukulan balik. Ezra pun menahan pukulan itu dengan menyilangkan kedua tangannya ke depan seperti posisi bertahan dalam ilmu beladiri.
“Oh, ternyata kau yang mengikutiku selama ini,” kata Ezra setelah mengetahui sosok pria di hadapannya.
“Well, ternyata kau belum berubah Ezra,” balas pria itu. Kegiatannya sedikit terhenti namun posisinya tetap bersiaga jika sewaktu-waktu Ezra melancarkan pukulan.
Ezra menarik senyum miring. “Tentu saja, Dimitri. Aku masih hebat dan masih mengingat luka yang aku buat pada pipi mulusmu itu.” Ada nada menyindir yang terselip di dalamnya.
“Luka ini hanya ketidaksengajaan karena aku mengalah padamu. Bagaimana kalau kita buat luka yang sama pada wajah istrimu?”
Ezra geram mendengarnya. Matanya mangisyaratkan api membara yang siap membakar pria di hadapannya dalam sekali tatap. Rahangnya mengeras menahan emosi yang akan meluap. Menit berikutnya Ezra ingat kalau Julie bersama Lily. Dia tidak perlu khawatir.
“Kau tidak akan mampu melakukannya karena istriku bersama Lily. Wanita yang nyaris membunuhmu, Dimitri.” Ada senyum penuh kemenangan yang Ezra tampilkan.
Sekarang Dimitri yang nampak geram.
“Pria hebat sepertimu dapat dikalahkan oleh Lily. Kau payah.”
Detik itu juga, Dimitri tersulut emosi. Dia segera melancarkan pukulan pada Ezra namun dengan cepat Ezra menangkisnya.
“Kita lihat saja apakah Lily mampu menghindar dari maut yang aku kirimkan,” ujar Dimitri. Ada senyum miring penuh kesombongan tercetak pada wajahnya.
Ezra semakin marah. Dia merasa bodoh sekarang. Dia tidak menyuruh para pengawalnya mengikuti Lily melainkan menjalankan tugas lainnya yang dia perintahkan. Terkecuali Keanu, pengawalnya yang satu itu berada di tempat yang sama dengannya hanya saja belum waktunya untuk muncul.
Keduanya saling melancarkan serangan. Mengeluarkan pukulan demi pukulan dari ilmu beladiri yang mereka kuasai. Masalah yang terjadi di masa lalu berhasil menguasai mereka dalam kekesalan yang semakin meluap dan tidak segan-segan membunuh satu sama lain. Tentu masalah lainnya hanya sekadar pemanis.
Dalam emosi dan kekesalan yang melekat, mereka masih terus melancarkan serangan. Keduanya saling terkena pukulan oleh masing-masing, mengeluarkan darah pada bagian tertentu, seperti hidung dan bibir yang pecah. Pertarungan keduanya semakin sengit. Ezra sempat jatuh, namun dapat bangkit lagi untuk melawan Dimitri. Begitu pula sebaliknya. Ketika Dimitri jatuh, Ezra hampir menginjak bagian dadanya namun pria itu berhasil menghindar lebih dulu dari dugaannya.
Mereka tidak berhenti melancarkan pukulan sebelum ada yang lenyap dari muka bumi. Sampai akhirnya Dimitri menghantam tubuh Ezra dengan keras hingga tubuh mereka jatuh dari atap, menembus atap kaca yang ada di sebelah bangunan. Tubuh keduanya terjatuh sampai menghantam penyangga kayu sebagai penopang untuk mengecat dinding dan sebagainya yang ada di dalam bangunan tersebut.
Tubuh Dimitri jatuh menghantam kayunya dengan keras. Tubuhnya terasa remuk seketika dan bagian tubuhnya penuh luka lecet akibat kaca yang pecah.
Sementara Ezra, setelah punggungnya menghantam kayu, tubuhnya justru melewati beberapa penopang kayunya. Beruntung Ezra sigap meraih pegangan besi yang ada sehingga tubuhnya menggantung. Sedikit saja dia tidak kuat menahan bobot tubuhnya atau tangannya terlepas, maka dia bisa jatuh ke bawah, tepatnya lima meter ketinggian yang dapat meremukkan tulang atau fatalnya kepala dia bisa menghantam lantai dengan keras.
Ezra meringis kesakitan. Namun dia masih berjuang untuk tetap bertahan pada pegangan tersebut.
Dimitri masih sanggup untuk memutar tubuhnya setelah sudah menghantam kayu. Dia melihat Ezra sedang berjuang menahan bobot tubuhnya dalam pegangan yang sewaktu-waktu bisa lepas kapan saja. Perlahan, Dimitri mengambil pistolnya. Dia sudah bersiap menarik pelatuknya. Ezra menyadari pandangan Dimitri yang berada jauh di atas sana, tepat bagian kanannya.
“Selamat tinggal, Mr. Walton,” ucap Dimitri yang kemudian menarik pelatuk dengan senyum penuh kemenangan.
Lily menarik senyum mendengarkan Julie bersenandung menyanyikan lagu milik The Corrs yang berjudul Breathless. Walau suaranya tidak bagus, tetapi Lily membiarkan wanita itu bernyanyi sesuka hati karena dia lihat Julie merasa senang. Mungkin karena terbebas dari Ezra atau senang karena akan belanja bersamanya.
Ketika Lily tengah menikmati nyanyian Julie, matanya menyadari satu motor besar mengikuti dari belakang melalui kaca spionnya.
“Julie, mungkin kau perlu merunduk,” kata Lily memperingatkan.
“Hah? Apa maksud–”
Kalimat Julie harus terhenti karena peluru dari s*****a api menembus kaca belakang mobil Lily hingga menimbulkan bunyi 'duar!'. Beruntungnya peluru itu meleset sampai kaca depan sehingga tidak mengenai Julie atau Lily.
Sialnya bagi Lily, dia lupa membawa mobil berkaca anti pelurunya. Dia pun segera menginjak gas dengan kecepatan penuh. Menyalip beberapa mobil dengan nekat yang tinggi. Tangan satunya meraih pistol yang tersimpan di bawah jok mobil.
“Merunduk sedikit, Julie. Kau perlu mengencangkan safety belt-mu. Kita akan bersenang-senang.”
Kalimat Lily dengan wajah serius yang tidak pernah Julie lihat itu membuatnya terkaget-kaget. Dia masih berusaha mencerna, termasuk apa yang sedang terjadi sehingga ada yang menembak mobil Lily. God!! What happened?
Sekali lagi, tembakan melesat dari motor yang berada di belakangnya. Julie buru-buru merunduk ketakutan. Tangannya gemetaran. Lily semakin kesal karena tembakan yang membuat amarahnya memuncak.
“Sudah cukup main-mainnya,” gumam Lily.
Dengan sengaja, Lily menginjak rem mobilnya secara mendadak sehingga motor yang berada di belakangnya terhantam oleh tubuh mobil bagian belakang. Pengendara motornya terlempar jauh, sementara motornya rusak akibat hantaman itu. Setelahnya, Lily kembali menginjak gas mobil. Dia melajukan kembali mobilnya.
“Who the hell is that??! Mengapa ada yang menembaki kita, Lily?” Julie mulai panik. Suaranya meninggi dengan ekspresi penuh rasa takut.
Baru akan Lily menjawab, matanya menyadari kehadiran mobil dari samping yang bersiap mengarahkan s*****a apinya.
“Get down, Julie!” Suara teriakan Lily berbarengan dengan tangannya yang menarik kepala Julie agar merunduk.
Dan... letupan dari pistol tersebut berhasil menembus kaca mobil tempat Julie berada. Julie beruntung terbebas dari letupan yang nyaris membunuhnya kalau saja Lily tidak menariknya. Bagusnya Lily sedikit membelokkan stir sehingga letupan itu gagal mengenai dirinya atau Julie.
“Oh My God... who the hell is that?” Sekali lagi Julie berteriak panik dan ketakutan. Tangannya terus gemetaran sejak insiden sebelumnya.
Lily tidak menggubris pertanyaan Julie, dia sibuk mengendarai mobilnya, menghindari mobil lain yang berisi seorang wanita yang tidak dia kenal.
Mobil itu menyamai laju mobil yang Lily kemudikan. Senyum licik dari wanita itu terlihat bersama satu tangan yang bersiap meletupkan kembali peluru yang tersisa. Namun sebelum wanita itu melakukannya, Lily telah lebih dulu menembakkan peluru dari pistol yang dia genggam.
Kecepatan tangan dan kemahirannya mengenai sasaran, berhasil melumpuhkan wanita itu hingga mobilnya hilang arah dan menabrak mobil lain dari arah sebaliknya.
Julie melongo menatap Lily yang dengan mudahnya melumpuhkan lawan. For God’s Sake! Dia benar-benar berharap ada yang menjelaskan sebenarnya apa yang telah terjadi.
Masalah tidak berhenti sampai di sana, karena nyatanya ada dua motor besar mengejar mereka.
“Julie, jangan panik. Kau akan baik-baik saja dan setelah ini kita akan pergi dari sini.” Lily mengucapkan kalimatnya bersama senyum manis yang terukir sedikit guna menenangkan Julie yang terlihat kaget.
Motor itu mengejar mobilnya. Tangan dari pengendara itu menembakkan berkali-kali peluru dari s*****a api yang mereka pegang. Julie terus merunduk sementara Lily waspada dengan mata jelinya.
Ketika salah satu motor sudah hampir menyamai posisi mobil, Lily langsung membelokkan stir dan mengenai motornya. Kontan motornya menabrak mobil lain yang terparkir di pinggir jalan dan tubuh sang pengendara melayang jauh hingga akhirnya menghantam jalanan aspal yang keras.
Hanya tinggal satu lagi dan Lily perlu menuntaskan semuanya. Dia memilih lewat jalanan kecil. Motor satunya masih mengejar mobil Lily dari belakang.
“Julie, pegang kendali stirnya. Tolong jangan sampai mobil ini berbelok arah. Tetap jalan lurus.” Lily mengamit tangan Julie kemudian dia letakan pada pegangan stir kemudi mobil.
Julie yang masih kebingungan berusaha mengusahakan dirinya untuk melakukan apa yang Lily perintahkan.
Setelah memastikan Julie telah memegang kemudinya, Lily memutar tubuhnya sedikit. Mencoba fokus, Lily mengincar ban motornya. Sialnya saat dia menarik pelatuk, pelurunya meleset karena Julie tidak sengaja membuat stir mobilnya sedikit berbelok.
“I'm sorry…”
Sekali lagi, Lily kembali fokus. Sampai akhirnya letupan kedua berhasil mengenai ban bagian depan motor tersebut sehingga sang pengendara tidak mampu mengontrol motornya sendiri dan menghantam tembok bangunan yang ada.
Tubuh pengendara motor tersebut jatuh tersungkur menghantam aspal sementara Lily menginjak remnya dengan tiba-tiba. Nyaris saja kepala Julie menghantam stir mobil, namun Lily menahan tubuh Julie dengan tangannya sebelum hal itu terjadi.
“Tunggu sebentar di sini, Julie. Ada yang harus aku selesaikan.”
Julie belum menjawab, sedangkan Lily sudah keluar dari mobil. Kaki jenjang wanita itu melangkah menghampiri sang pengendara motor yang berusaha mengambil pistol dari dalam sakunya.
Lily lebih dulu sampai dan menginjak bagian perut pria itu dengan keras. Tatapan bengis, dingin dan tanpa pengampunan terlihat jelas dari sorot mata Lily ketika menatap pria itu.
“Siapa yang mengutusmu?” tanya Lily masih dengan nada pelan.
“No one,” jawab pria itu berusaha berani walau sorot matanya menunjukkan ketakutan yang dalam.
“Then, see you.” Kalimat Lily berakhir bersama pelatuk yang dia tarik dan pelurunya mengenai kepala sang pengendara.
Julie menutup mulutnya melihat pemandangan tersebut. Dia masih tidak percaya dengan apa yang telah terjadi termasuk Lily yang menjadi sosok berdarah dingin tanpa ampun seperti yang dia lihat sekarang.
God... sebenarnya ada apa? Aku butuh kejelasan! teriak Julie dalam hatinya.
Tidak lama kemudian, Lily memasuki mobil. Kali ini dengan senyum manis yang biasa wanita itu tunjukkan.
“Sebenarnya... kau siapa? Mengapa...”
“Tentu saja aku sepupu Ezra. Ayo kita pergi dari sini. Aku akan menjelaskan padamu nanti.” sahut Lily masih dengan senyumnya kemudian dia menyimpan kembali pistolnya. Dia mulai melajukan mobilnya.
Jawaban Lily meninggalkan banyak tanda tanya. Termasuk, bagaimana Lily bisa sehebat itu. Tidak Julie sangka di balik wajah cantik nan anggun, tersimpan hal yang luar biasa mengejutkan.
Apa Lily pembunuh bayaran?