Ariana menyampirkan tasnya di bahu. Dengan sepotong roti yang masih setia di mulut, ia berjalan cepat menuju lift turun ke basement. Tangannya merogoh tas mencari kunci. Tak lama, sebuah suara dan tampilan cahaya dari lampu mobil menunjukkan dimana mobil Ariana berada. Ia melangkah cepat menuju ke sana. Ariana berusaha tetap berjalan stabil dengan high heels yang terpasang di kaki, akan sangat tidak lucu kalau sampai ia terjatuh.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu mobil yang tertutup. Ariana menghela nafas panjang. Ia memasang kunci lalu menarik rem tangan, bersiap untuk berangkat. “Another work day…”
Ariana Shaennette, seorang wanita berumur 28 tahun, masih melajang dan tidak memiliki pacar. Ia merasa nyaman dengan hidupnya, karirnya, keluarganya. Ia tidak merasa membutuhkan apapun lagi saat ini. Yah setidaknya itu yang ia pikirkan.
Perlu waktu hampir sejam untuk tiba di kantor. Tentu saja karena lalu lintas yang cukup padat saat matahari mulai meninggi. Semoga saja ia tiba tepat waktu.
Ariana kepayahan masuk ke lobi perusahaan. Pandangannya langsung tertuju pada mesin absen yang tertempel di dinding. Segera setelah sidik jarinya membuat bunyi ‘beep’ dengan indikator hijau, Ariana bisa menghela nafas lega.
Tidak lagi-lagi aku mendengarkan curhatan Adrian hingga dini hari, umpat Ariana dalam hati.
Lelaki itu membuatnya hampir terlambat masuk kantor dan kehilangan insentif. Awas saja kalau nanti ternyata Adrian sudah tiba lebih dulu daripada dirinya!
Ariana sungguh tidak mengerti dengan Adrian. Lelaki itu terus saja curhat mengenai perihal rumah tangganya. Dan untuk tadi malam, ia bahkan tidak segan-segan untuk menghubungi Ariana tengah malam! Kalau saja Adrian bukanlah sahabatnya, ia pasti sudah memblokir nomor Adrian sejak lama.
“Pagi…” Ariana menyapa beberapa orang saat ia hendak menaiki lift menuju lantai sepuluh, lantai teratas dari gedung itu.
“Pagi, mbak…” hampir semua orang yang menunggu lift balas menyapanya. Ariana memang cukup dikenal di kantor. Ia adalah supervisor yang membawahi bagian corporate, bagian elit yang mengurus kerja sama perusahaan dengan perusahaan lain. Saking tingginya derajat bagian corporate dibandingkan departemen lain, ruangan kerja mereka berada di lantai yang sama dengan para petinggi perusahaan. Ariana cukup berbangga diri atas pencapaian ini.
Keluar dari lift, Ariana berjalan sebentar menuju ruangan departemennya. Ariana menyempatkan diri melirik jam tangan, pasti anggotanya sudah lengkap di ruangan. Agak memalukan saat atasan datang lebih lambat, itu bagi Ariana.
“Hai, Ary…” Adrian menyapa Ariana saat mereka berpapasan di depan ruangan. Ya, mereka satu bagian.
“Hai, Ad.” Ariana menyapa Adrian singkat. Ia menggerutu dalam hati karena lelaki ini tidak terlambat seperti dirinya. Tapi ia segera mengurungkannya kembali setelah melihat kantung mata Adrian yang begitu tebal. Motif mata panda mungkin lebih baik. Diam-diam Ariana bersyukur karena dirinya adalah wanita, jadi ia bisa menutupi kantung matanya dengan foundation. Kasihan sekali Adrian.
Setelah saling menyapa, tidak ada hal spesial yang terjadi, hanya beberapa pertanyaan singkat mengenai para klien. Keadaan begitu hening, semua sibuk dengan PC masing-masing, sampai terdengar suara ketukan di pintu.
Ariana menatap ke arah tersebut kemudian melihat sang manajer HRD bersama seseorang di belakangnya. Buru-buru Ariana bangkit dari kursi lalu menghampiri manajer tersebut.
“Pagi, Ariana.”
“Pagi, Pak.” Ariana membalas dengan senyum lebar. Ia harus bersikap semanis ini. Tentu saja walaupun ia pemimpin bagian elit, posisinya masih satu tingkat di bawah jabatan manajer. Ia harus menghormati orang yang sekarang ada di hadapannya.
“Saya membawa orang baru untuk departemenmu. Namanya Ethan.” Ariana melirik melewati bahu sang manajer, melihat Ethan sekilas. “Mulai hari ini ia akan membantumu di sini.”
“Oh ya, Pak. Terima kasih…” Ariana mengantar manajer tersebut ke luar ruangan, lalu ia masuk kembali dengan dahi mengernyit.
Ada yang aneh. Itu semua karena anggota departemen Ariana sudah ada empat orang termasuk dirinya, dan itu sudah cukup. Kenapa perusahaan menambah satu orang lagi? Apa target mereka akan dinaikkan nanti?
“Ini tempatmu, Ethan.” Ariana menunjuk sebuah meja tepat di dekatnya. Selama ini meja itu kosong karena tentu saja anggotanya enggan berdekatan dengan Ariana, ada perasaan tidak bebas saat berdekatan dengan atasan.
“Untuk sementara kamu bisa menggunakan laptop ini, dan tugasmu adalah beradaptasi. Perhatikan bagaimana yang lain bekerja dan mungkin nanti aku akan meminta bantuanmu.”
“Baik, bu.”
Ariana terkekeh mendengarnya. “Jangan panggil aku seperti itu di ruangan ini. Panggil aku Ariana saja.”
“Bagaimana kalau di luar?”
Ariana mengelus dagunya. “Beberapa orang memanggilku dengan sebutan ‘mbak’ atau ‘kak’, kau bisa menggunakan yang mana saja. Tapi hanya Ariana tidak masalah buatku.”
“Iya, Kak Ariana…” Ethan terdiam sejenak tampak ragu untuk berucap.
Merasakan keanehan itu, Ariana bertanya. “Apa kamu membutuhkan sesuatu?”
Ethan menggeleng. “Tidak. Hanya saja… Apa Kak Ariana tidak mengenalku?”
Sambil berbisik, Ethan menunjuk wajahnya sendiri. “Aku Ethan Maxwell, Universitas Liberty angkatan 2012. Aku agak berisi dulu.” Ethan membuka kacamatanya, memperlihatkan wajah tak asing kepada Ariana. Tak lama kemudian wanita itu menjetikkan jarinya.
“Aku ingat! Ethan! Kamu anak paling rajin yang selalu masuk kelas pertama! Kita beberapa kali di kelas yang sama dan kamu sangat pintar. Tentu aku mengingatmu.” Balas Ariana ikut berbisik.
Ethan tersenyum lebar. “Ya, kak!” sambutnya bersemangat. “Aku senang sekali bisa sekantor dengan kakak!”
“Aku juga!” Ariana menepuk pundak Ethan beberapa kali. “Ah ya, ada Adrian juga di sini. Apa kamu mengingatnya?”
“Tentu!” Ethan meringis dalam hati. Adrian, tentu saja ia mengingat nama itu.
“Dan kau juga bisa berkenalan dengan anggota lain, ada Jane dan juga Grace. Bekerja samalah dengan baik.”
Usai berkenalan dan berbasa-basi sedikit dengan para senior, Ethan kembali ke mejanya karena Ariana memanggil dan memberikannya tugas untuk mengurus beberapa dokumen. Sekaligus ia ingin melihat bagaimana kerja Ethan, apakah sesuai atau tidak. Ethan sama sekali tidak canggung dengan Ariana yang mengawasinya dari belakang, ia mengerjakan semuanya dengan baik membuat Ariana kagum dengan adaptasinya yang sangat cepat.
Jam berlalu dan tiba waktunya makan siang. Di corporate, anggotanya membagi diri untuk berisitirahat, karena ruangan tidak bisa ditinggalkan kosong. Jane dan Grace pamit lebih dahulu untuk makan siang sekaligus beristirahat, karena memang selalu begitu. Ariana akan pergi bersama Adrian nantinya, tapi kali ini mungkin ia akan mengajak Ethan bersama mereka juga.
Di kantin kantor, Ariana, Adrian dan juga Ethan duduk bersama untuk makan siang. Mereka berbincang sambil sesekali tertawa. Saat berada di tempat terbuka seperti inilah, kadang Ariana merasa tidak nyaman. Ia seringkali menangkap basah beberapa orang yang memandangnya sambil tersenyum miring. Ariana hampir terbiasa.
Ariana selalu menjadi bahan gosip selama jam makan siang. Seringkali ia mendengar namanya disebut-sebut, disandingkan dengan istilah wanita tua tidak laku. Orang-orang juga menggosipkannya memiliki hubungan terlarang dengan beberapa manajer. Tentu saja itu karena ia mendapatkan promosi paling cepat. Baru dua tahun bekerja dan Ariana sudah diangkat menjadi supervisor. Bukan hanya satu dua orang yang menggunjingnya, jari-jari Ariana mungkin tidak akan cukup untuk menghitung mereka semua.
Mendengar itu, Ariana hanya bisa membuat cengiran lebar. Semakin tinggi pohon, semakin kencang pula anginnya. Itulah yang selalu Ariana percayai. Saat ini ia sedang berada di posisi yang tinggi. Pastinya banyak rintangan yang akan ia hadapi. Ia hanya akan bersikap tidak perduli.
Selesai makan, Ariana pamit sebentar menuju ke toilet. Adrian dan Ethan mengangguk sejenak lalu melanjutkan obrolan, mereka akan menunggu Ariana di sana.
Dalam bilik toilet, Ariana mendengar sayup-sayup suara dari luar.
“Tadi kulihat si wanita tua itu bersama dengan dua lelaki.” Ariana mencelos mendengarnya, pastilah gosip itu tentang dirinya.
“Keduanya tampan! Aku tidak habis pikir kenapa dia bisa dikelilingi banyak pria! Kupikir dia memakai mantra!” Ariana memutar bola matanya malas. Imajinasi mereka semakin tak terkendali.
“Kamu pasti benar! Lihat saja wajahnya yang biasa itu! Ia bahkan sama sekali tidak seksi! Kenapa para pria menempel padanya?! Ia pasti sengaja belum menikah agar bisa menggoda pria sebanyak-banyaknya!”
CUKUP!
Ariana memutar kenop, membuka bilik toilet. Ia mencuci tangan di wastafel sambil mematut wajahnya di cermin.
“Wanita tua itu… tidak cantik… tidak seksi… Tapi mungkin wanita tua itu pintar…” Ia bergumam sendiri, sengaja menunjukkan kalau sedari tadi ia memang mendengar gosip murahan itu.
“Ya, kan?” Kali ini ia sengaja menoleh untuk meminta persetujuan dari kedua wanita itu.
Melihat kehadiran Ariana, dan juga sindirannya, mereka segera angkat kaki dari sana. Ariana menghela nafas panjang.
“Apa salahnya belum menikah? Standarku memang terlalu tinggi sehingga belum ada satu lelaki pun yang pantas untukku.”