Beberapa minggu sudah berlalu dan Ethan sudah resmi menjadi bagian corporate. Ia bahkan sudah diberikan kuasa atas beberapa klien. Ariana tidak akan menyia-nyiakan bakat Ethan. Lelaki itu cekatan dan juga rajin, sangat berpotensi. Ethan berada jauh di atas ekspektasi Ariana. Ia mulai paham kenapa para petinggi memasukkan Ethan ke dalam departemennya. Hal yang harusnya telah dilakukan sejak dulu.
Saat bekerja, waktu berlalu dengan cepat tanpa disadari. Jam istirahat sudah dimulai sejak tadi, sehingga hanya tertinggal Ariana, Adrian dan Ethan di dalam ruangan. Sementara Ethan sibuk mencari berkas yang ia butuhkan di lemari sudut ruangan, Ariana dan Adrian masih menatap komputer mereka masing-masing. Fokus dengan pekerjaan mereka yang masih memerlukan perhatian.
“Ary, aku butuh bantuan dengan ini.” Ariana dengan sigap menghampiri Adrian kemudian mereka membahas beberapa pesanan dari salah satu klien langganan mereka. Klien baru itu mengajukan untuk memperbaharui kontrak kerja sama, yang jelas saja Adrian membutuhkan Ariana untuk memberikan pendapatnya.
Keduanya berbincang cukup intens. Adrian dan Ariana sedang adu opini, memberikan alasan juga penguatan atas pendapat mereka masing-masing. Semata untuk menemukan pembaharuan terbaik yang sama-sama menguntungkan. Menguntungkan bagi perusahaan, dan juga bagi klien mereka tentu saja.
BRAK!
Ariana dikagetkan dengan suara pintu yang berdebum kasar. Konsentrasinya buyar seketika. Bukan hanya Ariana, begitu pula dengan Adrian yang ada tepat di sebelahnya. Bahkan Adrian sekarang sedang melotot marah setelah mengetahui siapa orang yang datang.
“Jadi ini yang kalian lakukan di kantor?! BERDUAAN?!” Teriakan yang memekakkan telinga. Ariana bahkan sudah menutup telinganya, refleks.
Adrian berdecak marah melihat istrinya, Clarissa, datang ke kantornya untuk membuat keributan. Benar-benar ribut dengan teriakan dan pekikan, ditambah dengan suara anaknya yang menangis kencang. Claire, balita manis yang dibawa Clarissa pasti kaget dengan suara dentuman pintu.
“Apa yang kamu lakukan di sini? Jangan membuat malu!” Adrian mencengkram tangan Clarissa hendak menarik wanita itu keluar, tapi sang istri memberontak dan malah berteriak kencang.
“Pasti kamu yang sering menghubungi suamiku tengah malam!” tuduh Clarissa sambil menunjuk Ariana. “Tidak puas menghubunginya di telepon, dan sekarang kamu mendekatinya di kantor?!”
Ah, Ariana sungguh ingin menampar wanita ini kalau saja ia tidak memiliki pengendalian diri yang baik. Ia sudah cukup bersabar dengan Adrian yang menghubunginya setiap malam. Masih mempertimbangkan status Adrian sebagai sahabatnya. Tapi wanita di hadapannya ini, tidak menghargai usahanya untuk bersabar sama sekali.
“Dasar wanita tua tidak laku! Bisa-bisanya menggoda suami orang! Jalang! Pelakor!”
Mata Ariana memerah, telinganya terasa panas, kemarahannya sudah mencapai ubun-ubun karena merasa harga dirinya diinjak-injak. Clarissa sungguh menguji dirinya. Dengan langkah menghentak, Ariana menghampiri wanita itu. Belum saja ia mengeluarkan suara, beberapa orang berdatangan.
“Ada apa ini Ariana?” Salah satu manajer besar yang kebetulan ruangannya ada di sebelah mereka menatap Ariana, meminta penjelasan atas apa yang terjadi. Sekarang mereka sudah resmi menjadi tontonan.
Ariana terpaksa mengubur emosinya. Ia menundukkan badan sopan. “Maaf, Pak. Saya akan mengurus semuanya.” Ariana melirik ke arah Adrian memberikan kode agar membawa Clarissa segera pergi dari sana. Hanya saja keadaan menjadi bertambah ricuh setelah Clarissa berteriak.
“PECAT SAJA ARIANA! Apa kalian tidak malu memiliki pegawai seorang pelakor?!” Adrian segera menutup mulut Clarissa rapat, tapi Clarissa terus berontak. Adrian menarik paksa Clarissa, membawanya sejauh mungkin, agar keadaan tidak menjadi lebih buruk lagi.
“Aku tidak suka ada masalah di sini, Ariana…”
Wajah Ariana berubah pasi saat melihat siapa yang berbicara. Anak sang bos, orang yang mengurus langsung perusahaan ini. Ia mengenal baik wakil direktur yang ada di hadapannya karena mereka bertemu beberapa kali saat rapat tahunan.
“Ini tidak seperti kelihatannya, Pak. Ada salah paham…” Ariana sudah memelas mencoba menjelaskan, tapi sepertinya sang wakil menjadi sedikit curiga padanya. Ariana bisa merasakannya dari tatapan.
“Setahuku kamu memang belum menikah dan tidak menjalin hubungan dengan siapapun.” Manajer itu menambah bensin ke api yang menyala. Membuat kobarannya semakin besar.
“Ada kabar tersebar kalau kamu juga sering menggoda pria.”
GOSIP SIALAN ITU.
Ariana merutuk dalam hati. Ia menyesal sudah membiarkan kabar tentang dirinya tersebar luas karena ia tidak perduli. Mulai sekarang, ia akan melabrak siapapun itu yang berbicara tentang dirinya. Ia plester saja semua mulut yang bergosip itu. Benar-benar membuat masalah.
“Itu karena dia berselingkuh dengan suami saya!”
Pak manajer terpaksa ikut menenangkan Clarissa karena Adrian kewalahan memegangi Clarissa dan juga putrinya.
Meski begitu, Clarissa tidak bisa tenang, ia dengan sengaja meneriakkan semua hal yang tentunya hanya dari sudut pandangnya saja.
“Mereka saling menelepon tengah malam, keluar kota bersama bahkan—“ Adrian membekap mulut Clarissa dengan sebelah tangan. Yang tentu saja berhasil lepas kembali. Hanya sesaat ia bisa membungkam Clarissa.
“Pecat dia kalau tidak saya akan menyebarkan ini ke seluruh negeri! Perusahaan tidak kompeten yang memperkerjakan pelakor!”
Lutut Ariana terasa lemas. Dipecat?
Ariana merasakan efek yang berbeda saat ia dicaci sendirian dibandingkan dengan dihina di depan para petinggi.
Kepala Ariana mendadak berdenyut kencang membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Wakil direktur menatap Ariana lekat. “Apakah itu benar Ariana?”
Ariana menggeleng kencang.
“Tentu saja itu benar! Bahkan baru saja mereka berduaan di dalam sini!”
“Tidak seperti itu!” Ariana akhirnya membantah keras. “Ada Ethan juga di sini!” Ariana menunjuk ke arah Ethan.
Ethan mengangguk mengiyakan. “Iya, Pak. Saya ada di sini sedari tadi.” Ariana bersyukur karena Ethan berani membelanya, karena Ethan mengatakan hal yang sebenarnya.
“Lelaki itu menutup mata!” Clarissa tidak menyerah. Sekarang ia menyerang Ethan. Bagi Clarissa, semua yang membantu Ariana adalah musuhnya.
“Tidak! Semua yang anda katakan tidak satupun benar! Semua itu tuduhan tanpa bukti!”
“Tentu saja aku punya bukti!” Clarissa mengangkat tinggi ponselnya. Sang manajer menghampiri mencoba melihat bukti dari Clarissa, dan benar saja ia melihat banyak foto Ariana dengan beberapa pria.
“Lihat, kan?” Clarissa tersenyum penuh kemenangan. “Wanita ini tidak cukup hanya dengan satu pria!”
“CUKUP!” Amarah Ariana sudah di ambang batasnya. Dia tidak bisa membiarkan Clarissa mengoceh, mengatakan hal yang sama sekali tidak masuk akal dan benar-benar salah.
“Anda mengatakan omong kosong! Mereka semua hanya kenalanku, tidak lebih! Karena aku sudah memiliki seorang pria untukku di sini!” Ariana menghampiri Ethan lalu merangkul lengannya.
“Dia pacarku. Kami akan menikah tahun depan.”