“Maafkan aku yang tidak bisa merahasiakan ini lebih jauh. Kupikir tidak apa, karena tidak ada larangan untuk berpacaran di kantor ini.”
Semua mata sekarang tertuju ke arah Ethan, meminta klarifikasi.
“Tentu saja. Aku senang karena kita tidak perlu menutupinya lagi. Aku juga sudah tidak tahan dengan semua perlakuan orang lain padamu.” Ethan memberikan senyum kepada Ariana. Aktingnya luar biasa. Ia bisa bersikap natural sehingga semua orang langsung percaya padanya.
Ethan beralih menatap Clarissa. “Jadi mulai sekarang ibu tidak perlu khawatir, karena saya akan menjaga calon istri saya dengan baik. Silahkan ibu menjaga suami ibu sendiri.”
Ia menyambungnya dengan menatap Adrian, memberikan tatapan dingin kepada lelaki itu. “Dan untukmu, lebih baik kamu mengurus istri dan anakmu lebih baik lagi.”
Setelahnya, Clarissa baru bersedia mundur. Keadaan menjadi tenang kembali. Adrian menggendong anaknya kalau menyeret paksa istrinya itu keluar kantor. Kali ini dibantu oleh beberapa satpam.
“Saya harap kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi.” wakil direktur memberikan tatapan tajam kepada Ariana. “Saya mengagumi kemampuanmu yang luar biasa, tapi kalau kamu membuat keributan seperti tadi, tidak akan ada lagi kesempatan.”
“Baik, Pak. Maafkan saya…” Ariana menundukkan badan sedikit. Ia meminta maaf beberapa kali sampai wakil direktur dan manajer keluar ruangan. Sedetik setelah itu, Ariana kehilangan tenaga. Ia bertumpu pada meja yang ada di sebelahnya. Ethan membantunya.
“Kakak tidak apa-apa?” Tanya Ethan khawatir.
“Tentu saja aku kenapa-kenapa!” Mata Ariana sudah berkaca-kaca. Ia menunjukkan sisi rapuhnya di depan seorang Ethan. “Aku tidak tahu kenapa semua orang begitu membenciku, padahal aku tidak pernah mengganggu mereka sama sekali.”
Ethan hanya mendengarkan sambil memberikan usapan di punggung Ariana. Ia menopang wanita itu dengan tangannya, merangkulnya lalu membiarkan Ariana mengeluh sampai wanita itu puas.
^^^
Kabar tentang kehebohan itu tentu saja bergulir cepat. Situasi di kantor semakin panas, Ariana terpaksa meminta Ethan untuk pulang bersamanya. Selain untuk mendinginkan situasi dan membuat orang lain percaya, ia juga perlu mengucapkan terima kasih.
“Maaf kalau aku mengganggu waktumu.” Ariana berucap dengan nada penuh rasa bersalah. Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil Ariana, wanita itu hendak mentraktirnya makan malam terlebih dulu.
“Tidak perlu khawatir, kak. Aku senang bisa membantumu.”
Ariana mengernyit sedikit. “Hm… Bisakah kamu berhenti memanggilku, kak? Panggil saja aku Ariana. Akan sedikit aneh kalau sampai orang mendengarnya.”
Ethan mengangguk mengerti. “Tentu saja.”
Tak lama mereka tiba di sebuah café. Ethan merasa tidak enak, tapi Ariana memaksa untuk mentraktir sebagai ucapan terima kasih. Ia terpaksa mengancam Ethan sedikit agar pria itu menerima niat baiknya.
“Aku sangat berterima kasih, Ariana. Kamu tidak perlu sampai melakukan hal seperti ini.”
“Aku lelah mendengarnya, Ethan. Kamu sudah mengulangnya berkali-kali. Jadi diamlah dan makan saja.”
Mereka makan malam dalam hening. Meski begitu, Ariana merasa senang karena selama ini ia selalu makan malam sendirian. Semenjak keluar dari rumah orang tua dan pindah ke apartemen, ia menjalani hidupnya seperti itu. Kenapa Ariana rela keluar rumah meskipun ia harus menelan kesendirian? Jawabannya tentu saja karena ia sudah bosan dengan kedua orang tuanya yang mempermasalahkan status lajang Ariana.
“Ethan, aku mau bertanya sesuatu padamu.”
“Tanyakan saja.”
“Apakah tidak apa seperti ini? Apa kamu tidak memiliki kekasih?”
Ethan terkekeh mendengar pertanyaan Ariana. “Tenang saja. Aku tidak memiliki seorang kekasih. Bahkan sudah terlalu lama sejak aku memilikinya.”
Terdengar helaan nafas lega dari Ariana.
“Apa kamu takut akan dilabrak lagi?” goda Ethan dengan senyum miring.
“Yah…” Ariana mengangkat bahu. “Aku hanya tidak tahan dengan tuduhan orang-orang padaku. Kenapa mereka begitu rajin mengurusi hidup orang lain? Kalau aku, lebih baik aku menanam cabai di teras. Itu akan lebih berguna.”
Ethan tergelak spontan. “Kau membandingkan cabai dengan gunjingan mereka.”
Ariana menggeleng pelan. “Itu beratus kali lebih parah. Aku pernah merasakannya, asal kau tahu.”
“Yah, aku rasa aku sedikit mengerti. Lantas kalau begitu kenapa kamu tidak memiliki pacar sampai saat ini?”
“Ehm!” Ariana berdeham pelan. “Kau tahu, mencari pacar tidak seperti membeli sayur di pasar. Tentu saja aku tidak bisa sembarangan.”
“Lagipula, memang belum ada lelaki yang mendekatiku…” Ariana sengaja memalingkan wajahnya karena malu.
Yah, kadang ia merasa mungkin yang dikatakan orang lain benar, ia tidak cantik dan juga seksi. Wajahnya terlihat biasa dengan badan yang normal pula, tidak ada yang spesial.
“Tidak ada salahnya kamu mendekati lelaki duluan…”
“Yang benar saja! Aku tidak pernah memikirkan hal itu.”
“Tapi kurasa kamu membutuhkan seorang pacar, Ariana. Ia bisa membantumu dan membuatmu merasa lebih baik…”
“Aku belum menemukan yang sesuai dengan kriteriaku.” Ariana menatap Ethan kemudian. “Tapi, kurasa mungkin kamu sesuai?”
“Maksudmu?”
“Aku yakin kalau kau akan menertawakanku setelah ini. Aku menyukai lelaki mandiri, yang bisa memasak dan melakukan pekerjaan rumah tangga sendiri. Aku sangat tidak suka dipatri kalau harus wanita yang melakukan semua hal. Aku adalah wanita karir dan aku ingin terus melanjutkan pekerjaanku. Tidak berarti jika lelaki itu menjalin hubungan denganku maka ia bisa mengatur segala hal tentang hidupku!”
Melihat Ariana yang melipat kedua tangannya di depan d**a dengan wajah kesal, Ethan mencoba mencairkan suasana. “Hm.. Kurasa kamu tipe dominan…”
Ariana melotot ke arah Ethan. “Tidak begitu!” bantahnya dengan wajah sedikit memerah.
“Kamu imut saat kamu tersipu, Ariana.”
Ucapan Ethan membuat wajah Ariana semakin semerah tomat. “Jangan menggodaku, Ethan.”
“Apa kamu pernah melihat cermin saat kamu tersenyum? Cobalah, dan aku yakin kamu akan mendapati kalau dirimu itu manis.”
“Kamu semakin mengada-ada.”
“Mau kutunjukkan?” Ethan berdiri sedikit menggapai Ariana. Ia menggelitik leher wanita itu pelan membuat Ariana kegelian.
“Apa yang kau lakukan, Ethan?”
Ethan menunjukkan layar ponselnya kepada Ariana, menunjukkan foto Ariana yang baru saja ia ambil. “Menurutku kamu sangat manis dan imut Ariana…”
“Apa benar kamu berpikir begitu?” Tanya Ariana.
“Tentu saja.”
“Kalau begitu, kamu saja yang menjadi pacarku,” tembak Ariana langsung.
“Bantu aku menghapuskan semua gosip sialan itu. Aku hanya percaya kalau orang itu adalah kau.”
“A.. aku…” Ethan tampak bingung dengan reaksi Ariana yang spontan.
“Tidak perlu khawatir. Aku bisa membayarmu. Atau aku bisa memberikan apapun yang kamu mau…”
Ethan menggeleng. “Tidak bisa begitu Ariana…”
Ariana menggenggam tangan Ethan. “Kumohon?” pintanya dengan mata memelas. “Please?” lirihnya lagi dengan nada yang lebih menyedihkan.
“Will you be my boyfriend?”
Pertahanan Ethan runtuh kalau sudah melihat Ariana seperti ini. “Sure…”
“Wah.. Thank you!” Ariana tanpa ragu memeluk Ethan. Ia seperti melihat jalan keluar atas semua masalahnya saat ini.