“Pagi, Ethan…” Ariana menyambut Ethan dengan senyum terbaiknya saat lelaki itu membuka pintu mobil.
“Aku sudah bilang kakak tidak perlu menjemputku sampai seperti ini…” Ethan melangkah masuk ke dalam lalu duduk tepat di sebelah Ariana, di samping kursi kemudi.
“Dan aku juga sudah bilang, kalau kau tidak perlu memanggilku kakak lagi.”
Ethan terkekeh sebentar. “Maaf, aku lupa.” Memang selain sifat wanita yang tidak mau mengalah, Ethan lebih suka membiarkan Ariana menang.
“Dan maafkan kalau aku terkesan memaksamu. Aku hanya… tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi gosip-gosip kurang ajar itu.” Ariana melepas setirnya sebentar lalu memijit pelipisnya. Ia sungguh bingung dengan sikap orang-orang yang selalu saja mengurusi hidupnya.
Tadinya Ariana mau bersikap biasa saja setelah drama badai yang ia hadapi. Ia pikir hanya cukup dengan satu pengakuan, pengakuan kalau Ethan adalah kekasihnya, tapi sepertinya tidak.
Terlalu banyak mata yang mengawasi dan mulut yang berkomentar. Lidah tak bertulang yang kian kurang ajar itu terus saja membuat telinganya panas. Itulah kenapa hari ini ia mengambil langkah untuk pergi ke kantor bersama Ethan. Ia akan membungkam orang-orang usil tersebut. Ia akan menunjukkan pada dunia, ralat, menunjukkan pada semua pegawai yang ada di kantornya, kalau Ethan benar-benar adalah pacarnya.
“Tidak masalah.” Ethan mengangkat bahu sambil tersenyum kecil. “Aku malah senang karena bisa mendapat tumpangan gratis.”
“Hahaha… Kau jujur sekali…”
Inilah hal yang disukai Ariana dari Ethan. Ia selalu bersikap santai dan terkesan menanggapi semua hal dengan sikap positif. Tidak seperti Ariana, yang selalu saja berpikir yang tidak-tidak dan cenderung mencurigai apapun yang menurutnya aneh.
Perbincangan Ariana dan Ethan di dalam mobil berlangsung seru. Ariana yang senang membahas hal-hal berat akan disambut dengan guyonan ringan Ethan. Mereka berbicara tak tentu arah, apa saja, mulai dari cuaca, sampai ke pembahasan tentang teori bumi datar. Ariana baru menyadari kalau mengobrol bisa menjadi seasyik ini.
“Aku senang sekali bisa mendapat pacar sepertimu.”
Ethan tersedak seketika walau ia tidak sedang meminum atau memakan apapun. Ariana membuatnya kaget karena membelokkan obrolan bergitu cepat. Seingat Ethan, mereka baru saja membahas tentang naiknya harga minyak bumi.
“Aku… aku…” Ethan mengalihkan pandangannya keluar jendela. Ia salah tingkah. Ethan bisa melihat pantulan wajahnya yang tersipu di kaca yang ada di hadapannya.
“Aku juga senang…”
“Ah, kita sudah sampai!” Ucapan Ariana yang cukup lantang menenggelamkan suara Ethan. “Kamu bilang apa barusan?”
“Tidak..” Ethan menggeleng. “Aku tidak bilang apapun…” Diam-diam Ethan merasa senang karena Ariana tidak mendengar ucapannya barusan.
“Benar?” Ariana mendekatkan wajahnya ke Ethan, meneliti. “Yakin? Katakan saja?” Ariana memancing Ethan agar lelaki itu mengulang ucapannya, namun Ethan hanya menggeleng. Lelaki itu menutup mulutnya rapat.
“Ayo kita turun, kak…” Ethan sengaja melepas sabuk pengamannya cepat lalu membuka pintu mobil. Ia melangkah turun mendahului Ariana.
Ariana yang melihat Ethan beranjak segera menyusul lelaki itu. Ia berjalan mendekat lalu berhenti tepat di samping Ethan. “Berhenti memanggil kakak dan mulai panggil aku Ary…”
“Kalau kau memanggil aku kakak lagi, aku akan memberimu hukuman.” Ariana mengetuk dagunya dengan jari telunjuk beberapa kali, berpikir. “Aku belum bisa memikirkan hukumannya sekarang, akan kuberitahukan nanti…”
“Iya, hukumlah aku…” Ethan menarik tangan Ariana dalam genggamannya lalu mulai berjalan.
Ariana yang bingung dengan gandengan Ethan yang tiba-tiba, secara otomatis melirik ke sekitar. Ia mendapati Adrian dan beberapa pegawai lain berada tak jauh dari mereka. Rupanya Ethan yang sudah menyadari keberadaan orang-orang itu sengaja menggandengnya mesra.
Ariana menambahkan kesan sejoli dengan menarik Ethan mendekat lalu berbisik di telinganya. “Panggil aku Ary atau panggil aku sayang… Pilihlah..”
Ethan menjawab dengan senyum lebar, “Sayang…”
Mendengar hal itu spontan Ariana mencubit lengan Ethan gemas. Selalu saja bercanda, batin Ariana.
Adrian yang sedari tadi berjalan di belakang mereka sengaja berdeham keras, membuat tawa pasangan itu meredup. “Pagi, Ary…”
Ethan bisa merasakan Adrian yang kesal menyapa dengan wajah tertekuk.
“Pagi, Ad.” Balas Ariana riang, tampak sama sekali tidak menyadari ekspresi Adrian. Menyaksikan hal itu, Ethan tertawa keras. Dalam hati, tentu saja.
***
Waktu makan siang tiba. Ethan dengan sigap menghampiri Ariana yang masih fokus dengan layar di depannya. Ia sengaja menghampiri Ariana duluan, bukahkah memang seharusnya kaum lelaki yang mengejar kaum wanita?
“Ayo makan siang, sayang..”
Ariana melotot mendengar panggilan Ethan. Dengan panik ia melirik ke kanan kiri lalu sedetik kemudian menghela nafas lega. Tampaknya suara Ethan tidak terlalu kencang, jadi tidak ada yang menyadarinya.
“Jangan memanggilku seperti itu kalau sedang jam kerja di kantor,” desis Ariana. Ia ingin mencubit lengan Ethan, tapi lelaki itu berhasil menghindar.
“Aku hanya melakukan apa yang kau pinta,” Ethan terkekeh. “Kenapa kau begitu marah?”
Ariana memang ingin menunjukkan kepada semua orang kalau Ethan adalah benar-benar pacarnya, tapi ya tidak dengan memanggil sayang tanpa kenal waktu dan tempat juga. Apalagi mereka masih berada di dalam ruangan corporate. Ariana memang ingin label ‘wanita tidak laku’ miliknya terlepas, tapi dia juga tidak berniat untuk menggantinya dengan label ‘bucin’.
“CK!” Ariana menyadari kebodohannya. Ia yang sebelumnya berniat untuk bercanda dan ingin menggoda Ethan, malah mendapatkan hal sebaliknya. Lelaki itu yang terus-terusan menggodanya.
Ariana berdeham sekali lalu memandang Ethan dengan tatapan serius. “Panggil aku Ary saja, okay? Setidaknya saat jam kerja atau di ruangan ini.”
“As you wish…” Ethan menjawab mengiyakan sambil membungkukkan badannya sedikit, berperilaku sangat manis.
“Kau mulai berlebihan…” Ariana menggeleng lalu bangkit dari kursinya dan mulai berjalan keluar ruangan bersama Ethan.
“Aku hanya mendalami peranku…”
Ariana cuma bisa menanggapi jawaban Ethan dengan sebuah decakan lagi.
Sementara Ariana dan Ethan sibuk dengan dunia mereka sendiri, Adrian juga sama. Ia sibuk mengawasi keduanya.
Dalam diam, Adrian mengamati Ethan dan Ariana sampai keduanya menghilang. Dengan tatapan dinginnya, ia memandang pasangan itu lekat. Adrian jelas menganggap hubungan mereka sangat mencurigakan. Mengingat bagaimana dekatnya ia dengan Ariana, sangat aneh kalau Ariana tidak pernah sekali pun berbicara tentang Ethan. Lalu tiba-tiba saja Ariana mengatakan kalau ia akan menikah dengan lelaki itu?! Sungguh lucu. Adrian jelas bukan bocah ingusan yang akan percaya begitu saja saat diberikan permen oleh orang asing. Ia akan membongkar semua kebohongan ini.
Kalau biasanya Adrian akan langsung bergabung bersama Ethan dan Ariana pada saat jam makan siang, kali ini ia sengaja menjaga jarak. Ia ingin mengamati dari jauh, apakah sikap keduanya tetap sama atau berbeda saat tahu kalau tidak ada dirinya.
Adrian mengepalkan tangannya kuat melihat momen romantis Ariana dan Ethan yang sungguh menusuk mata. Ia di sudut makan sendirian, sementara Ariana sedang berduaan menyantap hidangan dengan senyum sumringah di sana. Adrian merasa dirinya dilupakan oleh Ariana untuk pertama kalinya, sejak begitu lama.
Adrian pikir dengan terus memperhatikan Ariana dan Ethan, ia akan menemukan titik terang, tapi nyatanya tidak. Tidak sama sekali. Tidak ada cela dalam pemandangan indah itu. Baik Ariana maupun Ethan memang terlihat romantis, tapi juga tidak berlebihan, alami sekali. Adrian hanya bisa memaki dalam hati.
Sampai saat jam kerja habis, Adrian sekali lagi harus menyaksikan bagaimana Ariana dan Ethan pulang bersama. Mereka hanya berjalan bersisian, tapi saat di tempat parkir, ia melihat Ethan menggandeng Ariana, lagi. Ia mengacak rambutnya kasar, memberikan sumpah serapah sambil menendang udara di depannya.
SUNGGUH MENYEBALKAN!!!
Sementara Adrian sibuk memaki, Ariana dan Ethan menghabiskan waktu mereka bersama dengan baik.
“Terima kasih untuk hari ini, Ethan…” Ariana mengucapkan salam perpisahan ketika mobilnya sudah menepi di jalan yang sama saat ia menjemput Ethan tadi pagi. Ethan memang tidak memberitahunya lokasi persis tempat tinggal lelaki itu. Ethan mengelak dengan mengatakan kalau kamar yang ia sewa ada di dalam gang, sehingga mobil Ariana tidak akan bisa masuk ke sana. Ariana memang sedikit kecewa, tapi ia memutuskan untuk percaya. Mungkin Ethan akan mengatakan padanya nanti.
“Sama-sama, Ary…” Ethan mengedipkan sebelah matanya menggoda.
Ariana yang melihat itu, tertawa lepas. “Tidak perlu begitu lagi. Kita bahkan sudah jauh dari kantor sekarang,” ucapnya. “Kamu tidak perlu berakting romantis lagi denganku…”
“Aku hanya berusaha menjadi pacarmu.” Ethan menatap Ariana, membuat wanita itu salah tingkah.
“Em…” Ariana melarikan pandangannya ke sudut. “Yah… Kau memang pacarku…” Ia berdeham beberapa kali, salah tingkah sendiri.
“Benar. Jadi jangan terus protes saat aku bersikap seperti ini. Aku sudah sah menjadi pacarmu, sejak beberapa hari yang lalu.” Ethan memberikan senyum lebarnya pada Ariana. “Kamu bisa mengandalkan aku. Hubungi aku kapanpun kau membutuhkan aku. Aku akan langsung ada di ssampingmu bahkan sebelum kau selesai menyebut namaku…”
Ariana terbahak mendengarnya. “Kamu lucu sekali.”
“Aku serius…” Ethan melangkah mundur dengan pandangan yang tetap tertuju pada Ariana. Senyum lebar terus menghiasi wajah lelaki itu. “Kabari aku kalau kau sudah sampai….!”
Ariana membalas lambaian tangan Ethan sambil tersenyum simpul. Harinya sungguh menyenangkan.