Ariana tidak bisa menghindar lagi. AKHA akan mengadakan perayaan untuk ulang tahun Adrian. Meskipun hubungan mereka tengah tidak baik, tapi pertemanan bertahun-tahun tidak bisa dianggap remeh. Lagipula Adrian sudah berubah kalem lagi sekarang. Semenjak insiden kejadian di kantor, jumlah pesan dari Adrian berkurang drastis. Lelaki itu bahkan meminta maaf berkali-kali pada Ariana. Ariana tidak bisa tidak memaafkannya. Memaafkan itu mudah, melupakan yang sulit.
“Mungkin saja ini bisa menjadi waktu yang tepat untuk memperbaiki semuanya…” Ariana menarik nafas dalam. “Khansa juga Hank sudah tahu dengan keadaan kami, mungkin saja mereka bisa membantu. Aku juga tidak perlu khawatir akan terjadi hal yang tidak-tidak karena kita hanya berdua.
“Aku harus mengabari Ethan terlebih dahulu.” Ariana mengambil ponselnya, ia mengetikkan beberapa kata lalu mengirimnya ke nomor Ethan, sekedar mengabari kalau sebentar lagi ia akan berangkat.
Ariana memang sudah memberi tahu Ethan tentang rencananya. Awalnya Ethan tidak menyetujui rencana Ariana untuk datang. Tapi Ariana menjelaskan bahwa Adrian sudah meminta maaf padanya. Ethan tentu saja menyangsikan permintaan maaf Adrian. Mengingat bagaimana lelaki itu dengan mudahnya berubah arah dan terbawa emosi. Ia merasa kalau Ariana harusnya tidak begitu saja mempercayai Adrian.
Dengan perdebatan yang cukup panjang, akhirnya Ethan mengiyakan. Bagaimanapun ia tidak bisa terlalu mengekang Ariana. Ia ingin Ariana menjalani apa yang ia inginkan. Jika Ariana mempercayai Adrian, maka Ethan juga akan berusaha melakukan hal yang sama.
Untuk perayaan ulang tahun Adrian, Ethan juga setuju untuk tidak ikut serta bersama Ariana. Ia tidak ingin merusak pesta ulang tahun Adrian, karena Ethan yakin Adrian tidak akan senang kalau ia ikut. Apa rasanya kalau musuhmu datang ke pesta ulang tahunmu? Tentu saja tidak akan menyenangkan lagi.
Ethan harus bersabar untuk setengah hari ini. Ia janji akan bertemu Ariana lagi setelah acaranya selesai. Lelaki itu bahkan sudah berencana untuk menunggu Ariana di tempat yang tak jauh dari acara. Yah, sekedar untuk berjaga-jaga saja.
Usai membaca pesan masuk dari Ethan, Ariana memasukkan ponselnya ke dalam tas. Memastikan kalau apartemennya aman, dan mengunci pintu apartemen. Ia melangkahkan kaki sambil berdoa agar semuanya baik-baik saja nanti.
Perjalanan Ariana berlangsung tanpa hambatan. Ia tiba di tempat janjian tepat waktu. Meski begitu, Khansa dan Adrian sudah datang. Dengan kedatangan Ariana, berarti hanya tinggal menunggu Hank saja.
Saat berjalan mendekat, Ariana bisa merasakan kalau Adrian menatapnya intens dari atas hingga bawah, membuatnya risih. Apa ada yang salah dengan penampilan Ariana hari ini? Ia hanya menggunakan setelan seperti biasa, celana denim panjang dengan kaos putih polos. Ariana menggunakan flat shoes yang nyaman untuk dirinya. Rambutnya sendiri ia biarkan tergerai alami, wajah Ariana pun hanya terpoles make up tipis.
Hanya begitu saja, apa ada yang salah?
Ariana yakin kalau tidak ada yang salah dengan penampilannya. Tapi kenapa sekarang Adrian menatapnya seperti itu?
“Kau terlihat cantik, Ary…”
Khansa memicingkan mata ke Adrian saat lelaki itu berucap. Memang hari ini Ariana terlihat cantik, tapi entah kenapa pujian biasa dari Adrian terdengar berbeda di telinga Khansa. Seperti pujian dari seorang lelaki yang mengagumi.
“Tentu saja! Ariana memang cantik sedari dulu. Begitu pula aku!” Khansa sengaja menyela. “Kami berdua cantik karena kami wanita. Tidak mungkin kami tampan.”
Adrian mencelos. Khansa telah merusak momen yang sengaja ia ciptakan untuk membuat Ariana senang. Adrian tidak tahu kalau Khansa sengaja melakukan itu semua. Seperti yang telah mereka bahas sebelumnya, baik Khansa ataupun Hank akan membantu Ariana, membantunya untuk menjauh dari Adrian dan memperbaiki hubungan mereka seperti semula. Hubungan pertemanan saja.
Ariana terkekeh mendengar komentar Khansa. “Aku memang selalu cantik,” ia menimpali komentar Khansa lalu bergabung. Ariana sengaja memilih tempat duduk di sebelah Khansa, tidak di smaping Adrian seperti biasa. Hanya sebagai usaha pencegahan.
Dan untungnya, tempat mereka merayakan ulang tahun Adrian adalah sebuah tempat karaoke. Tempat duduk di sana memanjang, jadi jika Ariana tidak duduk di samping Adrian, dia juga tidak harus duduk berhadapan dengan lelaki itu.
“Jadi… dimana si playboy cap kelingking itu? Kenapa dia lama sekali? Ini jarang terjadi.” Khansa menggerutu pelan. Ia mengomel sambil mengawasi Mike yang sedari tadi menonton layar besar di depannya. Putranya sibuk memainkan banyak barang yang ada di sana. Khansa membiarkan mengacak semua benda asalkan Mike tetap tenang.
“Mungkin macet?” Ariana mengambil buku menu yang ada di depannya. Ia ingin memesan minuman karena merasa haus.
“Pesankan aku juga.”
Ariana kaget bukan kepalang saat Adrian tiba-tiba saja ada di sampingnya. Ia duduk di sana tanpa suara. Ariana saja bahkan tidak menyadarinya.
“Kamu mau apa?” Ariana berusaha bersikap tenang walaupun jujur ia tidak nyaman. Selama Adrian bisa menjaga sikap dan tidak melakukan apapun, ia bisa menerimanya.
“Apapun yang sama denganmu,” jawabnya ringan.
Ariana mengernyit. “Yakin? Tapi aku hanya ingin memesan cola.” Ariana tahu kalau Adrian biasanya memesan kopi atau semacamnya.
“Ya, tidak apa.”
Ariana mengangkat bahu mendengar jawaban Adrian. “Oke.” Ia tidak merasa keberatan kalau Adrian memesan yang sama dengannya, tidak ada pengaruh untuknya juga.
Selain memesan minuman, Ariana juga ingin beberapa cemilan. Usai menandai apa yang ia inginkan, Ariana berjalan ke luar ruangan, menuju ke meja pemesanan. Sesekali Ariana menoleh ke belakang, takut-takut kalau Adrian mengikutinya, tapi sepertinya tidak. Mungkin saja Khansa menahannya atau membuatnya sibuk.
“Kenapa tidak sedari dulu aku jujur pada Khansa dan Hank?” Ariana menggelengkan kepalanya sendiri. Kalau ia tahu segalanya akan lebih mudah seperti saat ini, harusnya ia melakukan hal itu sejak lama.
“Bicara dengan siapa kau ini?” Ariana dikagetkan dengan sebuah suara juga tepukan di pundaknya. Ia hampir saja melemparkan tasnya. Untung saja hal itu belum terjadi.
“Heyyy….! Kenapa kau jadi sekasar ini?!” Itu adalah Hank yang baru saja datang. “Kau hampir merusak kuenya tahu!”
Berdecak kesal, Ariana memukul lengan Hank sekali. “Kau mengagetkan aku. Untung saja jantungku tidak lemah…” Ariana mengusap-usap dadanya sendiri, menenangkan jantungnya yang berdentam.
“Haha… Maaf…” Hank memberikan senyum lebar. “Tapi itu pasti karena kau melamun sambil bicara sendiri. Sebenarnya kau ini bicara apa?”
“Mau tahu saja!” Ariana enggan menjawab. “Jadi, kau bawa kuenya? Mau disiapkan sekarang? Selagi kita di luar. Kita bisa masuk bersama dan membuat kejutan.”
Hank mengangguk setuju. “Ide yang bagus.”
“Good. Aku akan menghubungi Khansa dan memintanya untuk menjaga Adrian tetap pada tempatnya.”
“Ya… ya…” Aku akan menyiapkan kue ini…” Hank menuju ke kursi yang tak jauh dari mereka. Ia duduk di sana lalu meletakkan kue yang ia bawa di atas meja yang ada di hadapannya. Dengan berhati-hati ia membuka kotak kue tersebut.
“Apa kau butuh bantuan?” Ariana menghampiri Hank setelah ia selesai memesan makanan dan minumannya.
“Tentu saja! Jangan hanya menonton. Kau kira aku ini televisi?”
“Astaga… begitu saja kau mengomel. Padahal kau bukan ibu-ibu seperti Khansa.”
Hank memandang Ariana horror. “Benarkah aku begitu? Pasti aku tertular Khansa. Lebih baik aku menjauh darinya. Aku akan menjaga jarak aman satu meter setelah ini.”
Perkataan Hank membuat Ariana terbahak. Temannya itu memang pandai berguyon.
“Jangan hanya tertawa, dan cepat bantu aku.” Mendengar protes dari Hank, Ariana segera menggerakkan tangannya. Ia membantu Hank menancapkan beberapa lilin.
“Aku akan menyalakan lilinnya, nanti kau yang membawa kue ini ke dalam, ya?”
Ariana mengacungkan ibu jarinya tanda kalau ia setuju.
Hank dan Ariana berjalan bersisian. Di tangan Hank sudah ada sebuah terompet ulang tahun yang ia genggam, sementara confetti dan juga yang lainnya ada di dalam kantung plastik di tangannya yang lain. Ia memberi kode pada Ariana untuk berjalan di belakangnya, membiarkan dirinya yang masuk lebih dulu untuk memberi kejutan. Ariana mengangguk mengerti. Tiba di depan pintu, Hank menghitung mundur.
“Tiga… Dua… Satu….!” Hank membuka pintu lalu meniup terompetnya. Sementara Ariana berteriak.
“KEJUTAN!!!!”
Hank segera menutup pintu agar tamu lain tak terganggu. Mereka kemudian bertepuk tangan riuh dan bernyanyi selamat ulang tahun. Hank membagikan terompet dan confetti yang ia bawa. Mereka beenyanyi dengan bahagia.
“Make a wish…” ucap Ariana saat ia sudah tiba tepat di hadapan Adrian.
Ruang karaoke yang sudah dibuat lebih redup penerangannya oleh Khansa, membuat lilin kue yang dipegang Ariana menyala terang. Khansa segera mengambil ponselnya untuk mengabadikan momen tersebut.
Adrian menatap Ariana lama sebelum ia memejamkan matanya untuk berdoa dan mengucap permohonan. Ariana bukannya terlalu percaya diri atau bagaimana, tapi dari tatapan Adrian sepertinya lelaki itu meminta sesuatu yang berkaitan dengan dirinya. Ariana hanya bisa berharap kalau itu doa yang baik.
Lilin-lilin pun ditiup oleh Adrian sampai semuanya padam. Setelah padam mereka bersorak lagi. Lampu pun dinyalakan kembali ke keadaan semula, membuat suasana menjadi terang benderang. Mereka pun duduk setelah lelah berteriak dan bersorak. Adrian duduk di tengah-tengah. Hank dan Khansa sengaja mengapit pria itu, memberi jarak antara Adrian dengan Ariana.
“Mau potong kuenya sekarang?” Ariana menyodorkan pisau kue ke Adrian. Adrian menyambut pisau tersebut dan bersiap untuk memotong kue yang ada di hadapannya.
“Tunggu! Kita perlu mengambil foto sebelum kuenya dipotong.” Hank mengambil foto lengkap mereka dengan kue yang masih utuh. Ia juga mengambil beberapa foto setelahnya. Dan seperti yang sudah diduga, potongan kue pertama diberikan untuk Ariana.
“Kenapa harus Ariana? Padahal aku ada tepat di sebelahmu! Kenapa tidak berikan padaku dulu?” Khansa menghela nafasnya kasar. Tangan Adrian melewatinya begitu saja langsung ke Ariana.
Adrian terkekeh. “Aku akan memberikannya padamu setelah ini,” ucapnya. Dan setelah itu Adrian benar-benar memberikan potongan kuenya pada Khansa, lalu Hank, terakhir pada Mike. Anak itu menatapnya sedari tadi, seolah meminta jatah juga.
Setelah puas mencicipi kue dan bergurau, mereka memberikan hadiah masing-masing. Adrian membuka hadiahnya dengan tidak sabar. Ia membuka hadiah dari Khansa terlebih dahulu, tidak ingin kena protes karena membuka hadiah Ariana yang pertama lagi.
“Wah… terima kasih…” Adrian mendapati sepasang dasi berwarna marun dan juga navy.
“Maaf tidak bisa memberimu sesuatu yang mewah… Kau tahu kan isi dompet ibu rumah tangga…”
Adrian terkekeh mendengar keluhan Khansa. “Tidak masalah,” jawabnya dengan senyum lebar. “Aku menyukai ini…”
Selanjutnya Adrian membuka hadiah dari Hank. Itu adalah sebuah tas pria bermerk. “Wah, kau memang tahu seleraku,” puji Adrian pada Hank. Model tas favorit Adrian. Tas selempang kecil berwarna gelap terbuat dari kulit.
“Tentu saja!” Hank berbangga diri. “Yakinlah kalau aku adalah teman baikmu.”
“Pastinya!” Adrian mengangguk mantap.
Dan sekarang adalah hadiah yang paling ia tunggu. Hadiah dari Ariana. Perlahan, ia membuka bungkusnya, dengan sangat hati-hati seolah itu adalah barang paling rapuh di dunia.
Mata Adrian tertuju pada benda berkilau di hadapannya. Itu adalah sebuah jam tangan. “Terima kasih, Ary…” ucap Adrian penuh haru. Barang yang diberikan oleh Ariana adalah yang paling ia sukai. Adrian ingin langsung memeluk wanita itu sebagai ucapan terima kasih, tapi tentu saja tidak bisa, karena ada Khansa di antara mereka.
Ariana sendiri memang sengaja memberikan benda itu, karena ia tahu kalau Adrian menginginkannya. Sudah cukup lama memang Adrian mengatakan kalau ia ingin membeli jam dari brand tersebut, hanya saja Adrian belum sempat. Dan kebetulan Ariana mengingatnya, jadi ia memberikannya pada Adrian sebagai hadiah ulang tahun.
Tapi tidak seperti itu yang Adrian rasakan. Ia merasa kalau dirinya istimewa untuk Ariana. Ariana dengan baik mengingat apa-apa yang ia inginkan. Adrian tidak tahu, kalau Ariana membelikan jam tersebut atas saran dari Ethan. Jam, menurut Ethan agar Adrian lebih menghargai waktu, menikmati waktunya dengan keluarganya. Sayang sekali, lelaki itu menangkap pesan yang salah. Adrian kelewat senang dengan hadiah dari Ariana.
Setelah selesai membuka semua kado, acara ulang tahun pun berlanjut dengan mereka yang bernyanyi bersama lalu dilanjutkan dengan berfoto. Waktu berlalu cepat hingga akhirnya mereka mengakhiri pertemuan hari itu dan pamit.
Khansa pulang lebih dulu karena suaminya sudah menjemput. Tertinggal Ariana, Hank dan Adrian. Hank tahu kalau ia sebaiknya tidak meninggalkan Ariana hanya berdua dengan Adrian. Jadi ia sengaja menunggu hingga salah satu dari mereka pergi.
“Ary, kau pulang dengan siapa?” tanya Adrian. Lelaki itu berniat mengantar Ariana.
“Ah, aku ingin pergi lagi,” jawab Ariana dengan senyum lebar. Tak lama, sosok yang ia tunggu sedari tadi tertangkap penglihatannya. Ethan melambai padanya dari seberang jalan.
Ariana balas melambai pada Ethan, kemudian ia menoleh ke arah Adrian lalu Hank. “Aku duluan ya.. Bye, Adrian… Bye, Hank…”
“Bye, Ary...” Hanya Hank yang menjawabnya.
Adrian terdiam tanpa kata. Ia menatap kesal Ethan yang sedang menyeberang jalan untuk sampai ke tempat mereka. Mata Adrian terasa perih saat Ethan tiba di tempat mereka lalu langsung merangkul Ariana tanpa ragu.
Ethan menyapa Hank dan juga Adrian. Lagi, hanya Hank yang menjawab, sementara Adrian langsung berbalik badan dan pergi tanpa kata.