Adrian pulang dengan hati dongkol. Niat awalnya hanya ingin membalas Ariana saat hang out kemarin, nyatanya berbuah hal yang lebih buruk.
Saat itu, Adrian hanya mendapat sebuah ide yang melintas tiba-tiba saat ia melihat Ariana tengah sendirian. Muncul bisikan dalam benaknya untuk menghampiri wanita itu lalu memberikan pelajaran. Balasan singkat karena Ariana lebih memilih Ethan daripada dirinya tempo hari. Adrian masih saja kesal karena hal itu. Padahal ia sengaja meminta Khansa untuk mengadakan pertemuan agar ia bisa bebas bertemu dengan Ariana. Tentu saja ia sangat marah ketika Ethan juga datang. Lelaki itu pasti akan menghalanginya lagi.
Dan pagi tadi, saat Ariana sendirian, Adrian tidak menyia-nyiakan hal itu. Ia segera masuk ke dalam ruangan dimana ada Ariana di dalamnya. Tidak bisa dipungkiri kalau hatinya sedikit kecewa saat Ariana tetap saja menghindarinya walau tidak ada Ethan sekalipun, bahkan tidak ada siapapun saat itu. Meski tidak ada siapapun, Ariana tetap menjauh. Menjauh seolah Adrian adalah wabah penyakit menular yang sangat berbahaya.
Tidak terima dengan perlakuan Ariana padanya, Adrian menjadi gelap mata. Terlebih lagi saat wanita itu jatuh ke dalam pelukannya, entah kenapa Adrian jadi mendamba. Ia lupa rasanya sedekat itu dengan Ariana. Terbuai dengan rasa nyaman, Adrian tidak ingin melepaskan Ariana. Ia ingin terus mengurung wanita itu dalam pelukannya, tidak mau Ariana pergi jauh darinya.
Sayangnya Ariana tidak merasakan apa yang ia rasakan. Wanita itu terus saja meracau minta dilepaskan. Ariana sama sekali tidak ingin menghabiskan waktu lebih lama dengannya. Adrian menjadi semakin marah saat wanita itu malah mencoba berteriak agar bisa lepas darinya. Karena terlalu kaget dan panik, Adrian malah melakukan hal yang sangat salah.
Ia tahu harusnya ia tidak menutup mulut Ariana. Harusnya ia tidak bertindak kelewatan dan membiarkan wanita itu pergi. Tapi hatinya merasa tak rela. Ia ingin bersama Ariana lebih lama, tidak mau sandarannya yang paling nyaman pergi darinya.
Sayangnya semua sudah terlambat. Lagi, Ethan datang lalu mengganggu mereka. Adrian tentu saja ingin menghajar Ethan yang telah mengganggunya. Tapi karena keadaan Ariana sungguh buruk akibat ulahnya, ia menjadi syok sendiri. Tangannya bergetar dan lututnya terasa lemas. Adrian sangat merasa bersalah melihat Ariana yang terkulai tak sadarkan diri di hadapannya.
Ethan yang mengambil Ariana darinya tidak bisa ia cegah. Adrian sendiri merasa begitu ketakutan, takut kalau terjadi sesuatu pada Ariana karena dirinya. Ia menerima begitu saja saat Ethan mendorongnya. Adrian menjadi limbung dan menabrak lemari yang menyebabkan dirinya terluka. Tapi ia sendiri tidak keberatan, karena akibat ulahnya-lah Ariana menjadi seperti itu.
Sekarang pun ia masih merasa sangat bersalah. Dalam hati, Adrian mengutuk dirinya sendiri berkali-kali, menyesali apa yang sudah ia lakukan. Ingin rasanya ia menghubungi Ariana, menanyakan apakah wanita itu baik-baik saja. Sayangnya Adrian terlalu malu bahkan hanya untuk mengirimkan pesan.
“S*AL!” Adrian memukul setirnya beberapa kali. Sepanjang perjalanan pulang ia hanya bisa merutuk dan marah pada dirinya sendiri.
Adrian membuka pintu mobilnya setelah ia memarkirkan benda tersebut di tempat parkir rumahnya. Bentuknya saja rumah, tapi bagi Adrian ini adalah penjara. Penjara yang mungkin seumur hidup akan mengurungnya.
“Kau sudah pulang?” Clarissa menyambutnya dengan senyuman. Claire ikut menyambut Adrian. Balita itu tersenyum sambil memamerkan giginya yang rapi.
Lelaki lain mungkin akan merasa sangat beruntung. Disambut keluarga sepulang kerja adalah obat dari segala rasa lelah. Tapi tidak dengan Adrian. Ia lebih senang saat berada di kantor, bahkan ia lebih memilih menginap di sana jika saja itu memungkinkan.
Melihat Adrian yang sama sekali tidak menyahut dan terus berjalan masuk, Clarissa tentu merasa sedih. Tapi ia tidak ingin menyerah begitu saja. Dengan sigap, Clarissa menyusul Adrian lalu berjalan di samping lelaki itu, terus mengekornya.
“Kau pasti sangat lelah. Apa kau mau mandi? Atau mau makan dulu?”
Pertanyaan yang membuat Adrian jengah. Tidak bisakah wanita ini diam dan tidak mengganggunya? Itu akan membuatnya lebih bahagia.
“Diamlah…” Adrian mengangkat tangannya, menghempaskan tangan Clarissa yang sedari tadi menggelayut manja di lengannya. Dan pada saat itulah Clarissa berteriak histeris.
Adrian menggosok telinganya beberapa kali. Telinganya itu berdengung karena teriakan Clarissa yang begitu melengking.
“Apa yang terjadi dengan tanganmu?!” tanya Clarissa, masih berteriak. “Jangan bilang kalau semua ini adalah darah?!” Wanita itu menunjuk bagian-bagian kemeja Adrian yang dipenuhi bercak cokelat, bekas darah yang sudah mengering.
Meski Clarissa sudah berteriak, Adrian tetap berjalan mengacuhkannya.
“Adrian! ADRIAN! JAWAB AKU!!!”
Teriakan yang menyebalkan itu terjadi lagi. Adrian membiarkannya, tidak berniat untuk menjawab sama sekali. Ia menuju ke dapur untuk mengambil segelas air, memuaskan dahaganya. Adrian merasa tidak bisa makan kalau Clarissa terus berteriak. Ia kehilangan selera makannya. Rasa lapar yang menyerang seolah sirna begitu saja.
“Adrian, jawab aku! Apa yang terjadi padamu?! Jangan mengacuhkanku seperti ini!” Clarissa menarik tangan Adrian, membuat isi gelas yang ada di genggamannya itu tumpah ke lantai.
Bahkan hanya untuk minum saja ia tidak bisa melakukannya dengan tenang?! Adrian menjadi begitu marah. Dengan cepat, gelas yang sebelumnya ada di tangannya melayang dan mendarat di tembok dengan bunyi pecah yang nyaring.
Teriakan dan pertanyaan Clarissa terhenti seketika. Ia menutup mulutnya rapat, syok dengan apa yang baru saja terjadi di depannya. Sementara itu Claire, yang memang berada tak jauh dari mereka, sudah menatap dengan mata berkaca-kaca. Air matanya sebentar lagi tumpah dan ia mulai terisak.
“DIAMLAH!” Adrian membentak frustasi. Ia hanya ingin minum dan Clarissa terus saja menempel bagai lintah dan mengganggunya.
“Kau tahu aku tidak suka mengulang ucapanku!” desisnya marah. “Sekarang menjauhlah dan biarkan aku beristirahat!” Setelahnya Adrian hanya melangkah pergi, tanpa memperdulikan apapun.
Mendengar teriakan-teriakan Adrian, Clarissa terpaku. Belum pulih dirinya dari suara pecahan gelas yang baru saja terjadi, sekarang Clarissa harus mendapat teriakan penuh kebencian. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Adrian begitu marah? Kenapa apapun yang ia lakukan adalah kesalahan bagi Adrian?
Clarissa tersadar dari lamunannya saat mendengar tangisan Claire. Putrinya itu menangis keras sambil sesenggukan. Dengan naluri keibuannya, Clarissa segera menghampiri Claire lalu memeluknya, menenangkan Claire di sana. Lama-kelamaan, tubuh wanita itu meluruh ke lantai. Ia pun mulai menangis bersama putrinya. Lagi, menyalahkan takdir karena tidak tahu lagi siapa yang harus disalahkan atas semua yang terjadi pada dirinya…
***
Memerlukan waktu beberapa hari sampai Ariana bisa lepas dari kekangan kedua orang tuanya. Ayah dan ibunya seolah tidak rela melepasnya untuk hidup sendiri lagi. Mereka terus saja memaksa Ariana untuk kembali ke rumah. Sebagai anak satu-satunya memang harusnya sedari awal mereka tidak mengizinkan Ariana untuk pindah.
Ariana harus bertahan dengan telinganya yang sakit. Ia hanya mendengarkan saat kedua orang tuanya berbicara panjang lebar dan menasihatinya. Tapi sungguh, meeskipun sudah berjam-jam diceramahi, Ariana sama sekali tidak mendapat keinginan secuil pun untuk kembali ke rumah orang tuanya. Apa artinya menjadi dewasa kalau ia masih harus selalu bersama orang tua? Bebas adalah esensi menjadi dewasa, bukan? Bebas bertanggung jawab tentu saja.
Beberapa hari, Ariana diantar dan dijemput oleh ayahnya sebagai syarat karena Ariana bersikeras tidak ingin kembali ke rumah. Wanita itu terpaksa mengiyakan. Ibunya bahkan setiap hari membuatkan bekal dan makanan untuk Ariana, sambil terus-terusan mengatakan kalau Ariana begitu kurus bagai orang kurang gizi. Ia ingin protes, mengatakan kalau tubuhnya bukan kurus, tapi langsing. Yang tentu saja tidak akan digubris oleh ibunya.
Terpaksa memakan banyak makanan membuat Ariana sedikit kesal. Kalau begitu percuma saja ia rajin fitness, semua lemak itu akan berkumpul kembali saat ia memakan masakan ibunya. Ariana berdoa pada Tuhan agar kedua orang tuanya cepat bosan dan segera kembali. Dan akhirnya doa Ariana dikabulkan setelah lima hari.
“Ethan!” seru Ariana saat ia menjemput lelaki itu di tempat biasa. Seolah sudah bertahun-tahun ia tidak berjumpa dengannya. Padahal setiap hari mereka bertatap muka di kantor.
“Wah! Kau tampak senang!” Ethan membalas Ariana dengan senyuman lebar. Seolah tak mau kalah ceria dari wanita itu.
“Tentu saja! Akhirnya aku bisa lepas dari ayah dan ibu! Kau tidak tahu betapa cerewetnya mereka. Aku kasihan pada telingaku.”
Ethan terkekeh mendengar keluhan Ariana. Dipandangnya Ariana yang berbicara dengan mata berbinar. Ia sungguh menyukai Ariana saat wanita itu sedang seperti sekarang.
“Biarkan aku yang menyetir, Ary…” Mendengar ucapan Ethan, Ariana akhirnya menepi. Mereka bertukar tempat setelahnya.
“Jadi bagaimana harimu?” Sekarang gantian Ariana bertanya pada Ethan, sekedar mengisi waktu selama perjalanan.
“Sebenarnya aku merasa agak sedih,” jawab Ethan lirih.
“Kenapa? Apa yang terjadi?” Ariana memasang wajah cemas. Ia tidak tahu kalau selama ini Ethan sedang ada masalah. Harusnya ia lebih peka sedikit. Ariana memaki dirinya sendiri dalam hati.
“Itu karena kau jarang mengirimiku pesan.”
“ISH!” Sebuah pukulan ringan mendarat di lengan Ethan. Ariana merasa menyesal sudah khawatir pada Ethan barusan. Lelaki ini memang sepertinya tidak pernah memiliki masalah selama hidupnya.
“Itu benar, Ary…” ucap Ethan lagi. “Aku sungguh merasa kehilangan tidak mendapat pesan darimu. Apa kau tidak tahu kalau aku tersiksa selama ini?”
Ariana memutar bola matanya jengah. Ethan sudah berlebihan, belum lagi nada bicaranya dan ekspresi yang terlalu dibuat-buat. Konyol sekali.
Setelahnya, mereka terus bercanda sepanjang jalan. Tak henti-hentinya Ethan bergurau dan membuat Ariana tertawa. Sayangnya tawa Ariana terhenti seketika saat ia mengecek ponselnya yang baru saja berbunyi.
“Ada apa?” tanya Ethan. Ia melihat perbedaan yang begitu kentara pada wajah Ariana. Wanita itu tiba-tiba memasang wajah serius sambil terus menatap layar ponselnya.
“Ary, katakan padaku…” Ethan menyentuh pundak Ariana sedikit, menyadarkan Ariana akan pertanyaannya.
Menyadari hal itu, Ariana melengos panjang. “Khansa mengajak kami untuk merayakan ulang tahun Adrian…”
Ethan ingin menyumpah karena pesan perusak suasana tersebut. Tapi makiannya itu berhasil ia tahan dan telan kembali sebelum keluar dari mulutnya.
“Kau mau datang?” tanya Ethan. Ia tahu kalau Ariana pasti sedang bingung untuk memilih datang atau tidak. “Aku bisa menemanimu kalau kau mau…”
Usul Ethan terdengar menggiurkan, tapi Ariana menghela nafas panjang lagi. “Entahlah Ethan, aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi…”
Bingung, Ethan menautkan alisnya. “Maksudmu?”
“Belakangan ini aku bermimpi buruk, membuatku tidak bisa tertidur nyenyak.”
“Mimpi apa?” Ethan semakin penasaran karena Ariana bercerita sedikit-sedikit.
“Aku bermimpi sedang makan es krim—“
Ethan mengernyit, apa yang salah dengan es krim tersebut?
“—lalu seseorang mengambilnya dariku.”
Jadi Ariana sedih hanya karena es krimnya diambil? Sungguh Ethan tidak mengerti bagian mana firasat yang disebutkan oleh Ariana. Tapi Ariana tampaknya belum selesai, jadi Ethan memilih untuk menutup mulutnya dan lanjut mendengarkan cerita Ariana tentang mimpinya.
“Dia mengambil es krimku tapi ia yang tampak begitu marah.”
Oke, sekarang Ethan benar-benar bingung. Sebenarnya kemana arah cerita ini? Apa hubungannya es krim dengan firasat buruk? Dan dengan ulang tahun Adrian?
“Hm… Bisa kau jelaskan sedikit? Aku agak… sedikit… aku tak mengerti.”
Ariana menghela nafasnya panjang. “Maksudku… AH, sudahlah!” Ariana mengibaskan tangannya asal. “Kurasa ini hanya mimpi biasa saja.”
Ethan terkekeh akhirnya. “Kurasa begitu lebih masuk akal. Mimpi itu tidak lebih dari bunga tidur, Ary… Terkadang hal yang kau impikan adalah hal yang sebenarnya sedang kau inginkan atau kau pikirkan terus-menerus. Itu tercetak dalam benakmu dan terbawa sampai kau tidur. Jadilah mimpi…”
“Mungkin kau benar,” ucap Ariana lemas.
“Mungkin kau hanya ingin makan es krim. Mau kubelikan?” Ethan tersenyum ke Ariana.
Melihat senyum Ethan, Ariana membalasnya. “Ya, tolong. Berikan aku rasa cokelat.”