“Ayah, ibu, kalian terlalu berisik…”
Ethan terkejut mendengar panggilan Ariana untuk kedua orang itu. Ia buru-buru mematikan kompor, mengelap tangannya lalu menyalami keduanya.
“Maaf saya tidak menyapa sebelumnya. Saya Ethan…”
“Ary, siapa dia?” Ibu menunjuk ke arah Ethan masih bingung. “Apa dia pacarmu?”
“Apa yang ia lakukan di sini?” Ayah menatap marah ke Ethan. “Apa kalian tinggal bersama?”
Ethan segera menggeleng menyatakan kalau itu tidak benar. “Saya hanya—“
Jawaban Ethan terpotong. “Mengapa ia menggunakan apronmu?” Telunjuk ibu mengarah pada apron pink yang dipakai Ethan. “Kenapa dia memasak di dapurmu? Kenapa dia memasak dengan memakai apronmu?”
Ariana memutar bola matanya jengah. Kenapa pula ibu mengungkit masalah apron miliknya? “Memangnya kenapa dengan apron itu?”
“Tidak ada yang boleh menggunakan apron milikmu selain anggota keluarga atau suamimu…”
Ethan sampai melotot mendengar jawaban ibu Ariana. Ia tidak tahu kalau apron ternyata sepenting itu.
“Siapa pula yang membuat teori semacam itu?” Ariana sendiri ternyata merasakan hal yang sama seperti Ethan. Apa yang dikatakan ibu memang aneh dan belum pernah ia mendengarnya dimanapun.
“Ibu yang buat!”
Ariana berdecak kesal. Andai saja beliau bukan ibunya, ia pasti sudah memaki.
“Sekarang jawab siapa lelaki ini?” Ibu menunjukkan wajah marahnya ke arah Ethan, membuat lelaki itu salah tingkah.
Tentu saja Ariana yang melihat hal tersebut tidak bisa membiarkannya begitu saja. Ia harus menolong Ethan, karena pasti Ethan tidak berani menjawab. Ia terkadang sangat sopan kepada orang yang lebih tua.
“Dia hanya temanku, bu!” seru Ariana. “Aku sedang tidak enak badan, jadi ia mengantarku dan memasak sesuatu untuk aku makan.” Entah ibunya akan percaya hal ini atau tidak, yang pasti Ariana sudah berkata jujur, hampir.
“Kalau ia hanya temanmu harusnya kau tidak membiarkannya menggunakan apron milikmu!!” Ibu Ariana masih kukuh dengan teori apronnya, membuat putrinya berdecak kesal.
“Akan kubuang apron itu setelah ini,” umpat Ariana pelan. “Sudahlah bu, aku sangat pusing. Bisakah ibu tidak terlalu berisik?”
Ibu Ariana akhirnya mengalah saat ia melihat putrinya memijit keningnya sendiri. Wajah Ariana memang terlihat pucat. Ia sendiri masih merasa kalau kepalanya berputar.
“Kamu sakit apa?” Ayah yang cemas pada keadaan putri satu-satunya tersebut menghampiri Ariana lalu mengecek kening putrinya. Tidak demam, dan Ariana tampak baik-baik saja selain kepalanya yang pusing.
“Aku tidak apa,” Ariana melepaskan tangan ayahnya. Ia merasa sudah terlalu tua untuk diperhatikan seperti ini. Ayah masih saja menganggapnya sebagai gadis kecil, padahal Ariana jelas sudah besar. Tapi mau bagaimana lagi? Semua orang tua memang begitu, kan? Mengkhawatirkan anak-anak mereka dan menganggap kalau anak mereka selamanya berumur sama.
“Harusnya kau bilang pada kami kalau kau sakit.” Ibu mengomel sendiri. “Kalau saja kami tidak mampir karena ingin mengajakmu keluar makan malam, kami pasti tidak tahu kalau kau sakit.”
“Ibumu benar. Kabari kami setidaknya sehari sekali.” Ayah mengelus kepala Ariana sayang. “Dari tadi pagi ibumu sangat cerewet. Ia terus merasa gelisah dan mengingatmu. Ternyata karena kau sakit.”
“Tentu saja, ini firasat seorang ibu!” Ibu meninggikan dagunya bangga.
“Ya, ya…” Ayah tidak membantah karena tidak ingin melanjutkan perdebatan yang sia-sia. Untuk apa? Lagipula pada akhirnya tetap ibu yang akan menang. “Sekarang biarkan Ary istirahat…”
Ibu mengangguk lalu mengantar Ariana ke kamar. Melihat keadaan yang sudah lebih tenang, Ethan melanjutkan masaknya. Daging yang baru saja ia masak sudah hampir matang. Sekarang ia tinggal mengolah sayurannya lalu menatanya di piring agar bisa Ariana cicipi.
“Siapa namamu tadi?”
Spatula yang ada di tangan Ethan terlempar tinggi ke udara saking kagetnya ia. Untung saja Ethan bisa menangkapnya kembali. Suara yang tiba-tiba membuat ia terkejut bukan main. Ethan seketika mempertontonkan atraksi dadakan.
Ayah terkekeh melihat Ethan. Ia menunggu lelaki itu menormalkan kekagetannya. “Maaf. Aku tidak menyangka kau akan sekaget itu,” ucapnya. “Aku hanya ingin tahu siapa namamu. Aku tidak mendengarnya terlalu jelas tadi.”
“Saya Ethan, Pak,” jawabnya sopan.
“Ah… Ethan…” Ayah mengangguk mengerti. “Lalu, kau adalah teman Ariana?”
Ethan mengangguk lagi. Jika Ariana mengatakan seperti itu, maka ia hanya perlu mengiyakannya.
“Seingatku teman lelaki Ariana waktu itu bernama… Hm… Adi… Rasanya salah… Siapa ya namanya?” Ayah memang sudah cukup berumur, dan kelemahan terbesarnya saat ini adalah ingatan tentang nama.
“Adrian,” ibu datang entah darimana lalu ikut masuk ke dalam percakapan mereka.
“NAH!” Ayah mengacungkan telunjuknya. “Benar, Adrian.” Ia mengangguk kemudian. “Tapi rasanya kau berbeda dengan orang itu. Apa kau teman baru Ariana? Dimana kau bertemu dengan putriku?”
Sebenarnya Ethan ingin bilang kalau mereka adalah teman sekampus, tapi daripada menimbulkan pertanyaan lebih jauh, Ethan memilih untuk tidak mengucapkannya. “Saya teman kantornya…”
“Ah, begitu…” Ayah mengangguk lagi. Ethan sedikit lega melihat raut wajah ayah yang puas dengan jawabannya. Ia pikir sesi pertanyaan ini sudah selesai. Ethan ingin segera menyajikan makanannya lalu memberikannya pada Ariana.
“Lalu sudah seberapa jauh hubunganmu dengan Ary?”
Ethan menoleh seketika ke arah suara. Itu adalah ibu Ariana yang bertanya. Ethan memandang wanita itu bingung. Bagaimana ia harus menjawab? Bukankah tadi Ariana sudah bilang kalau mereka hanya berteman? Akan aneh jika Ethan mengatakan hal yang berbeda.
Ibu memicingkan mata. “Tidak usah banyak berpikir, jawab saja. Aku tahu kalau hubungan kalian lebih dari teman.”
“Ya, benar.” Ayah mengangguk kemudian. “Apa kau adalah pacarnya? Ariana tidak pernah membiarkan seorang lelaki masuk ke dalam apartemennya sendirian.”
Mendengar hal itu, Ethan jadi tersanjung sendiri. Ia tidak menyangka kalau Ariana sebaik itu menjaga dirinya. Dia memang menawan sejak dulu, anggun dan cantik, tegas dan memiliki prinsip, sungguh tipenya. Dan ia adalah lelaki pertama yang menginjakkan kaki di sini? Woah, Ethan harus mengingat momen bersejarah ini tentu saja.
“Jujur saja pada kami…”
Ethan mengatupkan mulutnya rapat. Ia tidak bisa menjawab walaupun yang bertanya adalah ibu dan ayah Ariana. Justru karena itu adalah orang tua Ariana, kalau orang lain pasti Ethan sudah menjawabnya sedari tadi.
“Lagipula masakanmu lumayan… Aku akan mempertimbangkanmu menjadi menantuku…” Ibu ternyata sudah mengambil garpu dan sendok lalu mencicipi makanan yang dibuat Ethan.
“Rasanya enak. Kupikir hanya aromanya saja.” Ibu menoleh ke ayah, menunjukkan ketidak percayaannya.
“Bagaimana bisa kamu memasak sebaik ini?” Ibu mengambil sesendok lagi lalu membiarkan ayah mencicipinya. Tumis daging dengan sayur sederhana yang dibuat oleh Ethan.
“Wah, benar. Ini enak,” seru ayah. “Aku bahkan ragu Ariana bisa memasak sebaik ini.” Bukannya ayah meragukan putrinya, hanya saja Ariana lebih suka menjadi wanita karir. Wanita itu jarang sekali memasak. Terkadang ia memang melakukannya kalau sedang ingin, tapi rasanya sungguh standar. Hanya makanan yang bisa dimakan. Beda dengan buatan Ethan. Walaupun sederhana, ini sangat menggugah selera.
Ayah ingat dahulu saat Ariana masih remaja, putrinya itu pernah mencoba membuat kue. Hasilnya? Tentu saja tidak karuan. Kue itu tidak mengembang sama sekali, rasanya pun selaras dengan penampilannya. Semenjak saat itu, Ariana trauma dengan memasak kue. Ia tidak pernah berusaha untuk mencoba membuatnya lagi.
Sementara ayah dan ibu fokus mengomentari masakan Ethan, Ethan sendiri masih tidak percaya dengan telinganya. Mempertimbangkan jadi menantu. Entah kenapa mendengarnya saja membuat Ethan bangga. Dirinya yang seperti ini bisa masuk dalam kriteria.
“Datanglah ke rumah kami kapan-kapan,” ucap ayah kemudian. Ethan hampir melotot. Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya! Datang ke rumah? Apa ini adalah undangan personal? Ayahnya Ariana sendiri yang mengundangnya? Ia harus menjawab apa?!
“Ya…” Ibu mengangguk setuju. “Datanglah dengan Ariana…” Ibu mendelik sedetik kemudian. “Dan saat kalian datang, pastikan kalau kalian jujur dengan hubungan kalian…”
***
Ethan keluar dari apartemen Ariana dengan hati yang bagai naik roller coaster. Ia bersiul senang sepanjang jalan. Petugas keamanan yang ada di lobby memandangnya heran saat Ethan mengambil kartu identitasnya di sana. Lelaki itu tampak begitu sumringah dengan wajah yang cerah ceria.
Sedikit sedih memang saat Ethan terpaksa pulang tanpa melihat wajah Ariana. Seusai memasak tadi, ia seolah tidak memiliki alasan untuk tetap tinggal. Tidak dengan statusnya yang diakui Ariana hanya sebagai teman. Jadi setelah kedua orang tua Ariana mencicipi masakannya serta mengundangnya untuk datang ke rumah mereka, mohon dicatat kalau ia diundang secara pribadi dan eksklusif langsung oleh tuan rumah, Ethan memilih untuk pamit saja. Lagipula ia tidak mau tetap tinggal. Berjaga kalau kedua orang tua Ariana terus menanyayainya. Ia bisa menjadi bingung sendiri nanti.
“Semoga Ariana menyukai masakanku…” Ethan hanya bisa berharap kalau setidaknya Ariana mencoba masakan yang ia buat sepenuh hati itu.
Setelah berjalan beberapa blok menuju tempat pemberhentian bus terdekat, Ethan menaiki bus di sana. Masih dengan wajah senang, ia duduk di kursi yang kosong. Karena perjalanan masih cukup jauh, Ethan memilih mengeluarkan headset miliknya lalu menancapkan benda itu ke telinga. Ia akan mendengarkan beberapa lagu dari ponselnya.
Ethan tersenyum simpul saat ia mengaktifkan layar ponsel. Sebuah pesan dari Ariana sudah masuk.
Kenapa kau pulang tanpa pamit padaku?
Sepertinya Ariana sedikit kesal saat ia terbangun dan tidak menjumpai Ethan di tempatnya. Tapi mau bagaimana lagi? Ia sungkan dengan kedua orang tua Ariana.
Ethan berpikir sejenak, harus bagaimana ia membalas pesan wanita itu. Setelah beberapa detik, jarinya dengan lincah mengetikkan kalimat balasan di atas layar ponselnya yang menyala.
Aku tidak mau mengganggu waktu istirahatmu. Apa kau sudah baikan?
Semoga saja Ariana sudah merasa lebih baik. Harusnya tadi Ethan tidak mengarang bebas dengan mengatakan kalau Ariana sakit, karena seperti karma, hal itu benar-benar terjadi.
Ibu memberiku beberapa vitamin, dan aku sudah lebih baik. Oh ya, terima kasih untuk makanannya. Masakanmu sangat enak!
Ethan tidak bisa berhenti tersenyum mendengar pujian Ariana. Yah, ia tahu kalau Ariana memang menyukai masakannya. Dan ia sangat senang karena hal itu.
Sama-sama… Aku senang kau menyukainya. Kalau begitu istirahatlah. Kalau perlu, kau tidak perlu bekerja besok. Tenang saja, tidak akan terjadi apapun.
Balasan Ethan mungkin sedikit memaksa, tapi ia sungguh ingin Ariana berisitirahat lebih banyak. Bisa saja Ariana sakit karena stress. Wanita itu pasti terlalu banyak berpikir.
Tentu saja aku akan masuk besok.
Ethan berdecak mendapati balasan Ariana. Memang seperti hal tabu bagi Ariana untuk tidak masuk kantor. Jika tidak ada gempa bumi, hujan badai atau banjir bandang, Ariana akan tetap bekerja.
Kau ti--
Belum selesai mengetikkan balasan sebuah pesan dari Ariana masuk lagi. Ethan menghapus balasannya dan memilih untuk membaca pesan dari Ariana terlebih dahulu.
Dan maafkan aku kalau kita tidak bisa berangkat kerja bersama besok.
Ethan ingin bertanya kenapa, tapi sebuah pesan masuk lagi dari Ariana.
Ayah akan mengantarku untuk besok. Mungkin selama beberapa hari ke depan. Aku akan meyakinkannya kalau aku sudah baik-baik saja secepat mungkin, jadi kita bisa berangkat bersama lagi.
Ah, Ethan terharu melihat balasan dari Ariana. Wanita itu begitu pengertian. Ia bahkan berusaha sebisa mungkin agar mereka bisa pergi ke kantor bersama seperti biasa. Sepertinya Ethan tahu kenapa Adrian bersikap seenaknya pada Ariana. Ariana terlalu pengertian. Ia lebih mengutamakan perasaan orang lain dibandingkan perasaannya sendiri. Yang tentu saja hal ini membuat Adrian jadi kurang ajar.
Kalau mengingat Adrian, Ethan ingin memberikan sebuah hadiah untuk lelaki itu. Satu tinju mungkin? Karena tadi ia hanya mendorongnya saja. Baru didorong, dan lelaki itu sudah penuh luka. Apa jadinya nanti kalau mereka berkelahi?
Ethan menggelengkan kepalanya kemudian. Itu salah. Dia harusnya bersikap lebih waras daripada Adrian. Jangan sampai ia menjadi emosian seperti lelaki itu. Sungguh tindakan yang tidak patut untuk dicontoh. Tadi saja ia kelepasan karena mendorong Adrian begitu kuat. Siapa pula yang tidak kesal kalau keadaannya seperti tadi? Ethan sendiri sudah termasuk lembut dengan hanya mendorong Adrian. Kalau lelaki lain mungkin sudah menghajar Adrian sampai babak belur karena ia menyekap kekasih orang.
Semakin lama Ethan semakin merasa kalau sebenarnya Adrian memiliki perasaan pada Ariana. Ia memang melihat keduanya dekat saat masa kuliah, sangat dekat sampai tidak bisa terpisahkan. Harunya mereka menjadi pasangan, tapi entah apa yang membuat Adrian malah menikahi wanita lain.
Hank dan Khansa pun mengucapkan hal yang serupa saat pertemuan terakhir mereka. Adrian tiba-tiba saja mengabari mereka kalau ia memiliki seorang kekasih, dan lelaki itu menikah beberapa bulan kemudian. Sungguh tiba-tiba. Kenapa juga Adrian menikahi Clarissa di saat ia begitu menyukai Ariana? Apa Adrian terpaksa melakukan itu semua? Keadaan apa yang kiranya membuat ia melakukan hal itu?