Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Ariana membuka matanya. Ia mendapati wajah Ethan pertama kali. Lelaki itu tampak lega melihat Ariana sadar.
“Kamu tidak apa-apa?” Ethan segera membantu Ariana duduk.
“Kepalaku sedikit sakit,” jawab Ariana sambil memijat pelipisnya perlahan. Pandangannya terasa berputar padahal ia sedang duduk diam.
“Sepertinya kau pingsan karena anemia tadi. Harusnya kau lebih menjaga pola makan dan waktu tidurmu.” Ethan mengelus Ariana sekali.
Mendengar jawaban Ethan, Ariana merasakan ada yang aneh. Ia mengingat lagi apa yang terjadi sebelum ia tidak sadarkan diri. Harusnya, saat itu dia dan Adrian…
ADRIAN!
Otak Ariana memerintahkan dirinya untuk segera mencari keberadaan lelaki itu. Mengingat apa yang terjadi di antara mereka, harusnya Adrian juga tidak baik-baik saja.
Ethan menyadari pandangan Ariana yang menyapu ruangan. Wanita itu sedang mencari sosok lain. Tatapan Ariana berhenti pada Adrian. Sekarang Ethan tahu kalau Ariana mencari sosok Adrian. Setelah melihat Adrian yang duduk tenang, Ariana menghela nafas lega.
Ethan sedikit kesal melihat Ariana tampak mengkhawatirkan Adrian padahal lelaki itulah yang membuat keadaannya seperti ini. Walaupun keadaan Adrian juga lebih menyedihkan. Luka akibat pecahan kaca pastinya lebih parah.
“Apa kamu mau minum sesuatu? Mau teh hangat?” Ethan sengaja menarik perhatian Ariana kembali. Ia tidak ingin Ariana menatap Adrian terlalu lama.
“Mmm.. Boleh…” Ariana mengangguk.
“Tunggulah sebentar.”
Selepas Ethan pergi, Jane dan Grace mendekat. Sebenarnya mereka sudah menyadari sejak awal Ariana terbangun tadi. Tapi keduanya tidak ingin mengganggu momen Ariana dengan Ethan, jadi mereka memutuskan untuk menghampiri Ariana setelah Ethan pergi.
“Kak Ariana baik-baik saja?” tanya Grace.
“Kakak sebaiknya pulang saja kalau merasa sakit…” Jane memeriksa Ariana dari atas ke bawah, meyakinkan dirinya kalau Ariana memang benar tidak apa-apa.
“Iya, kak. Istirahatlah di rumah. Kami bisa menangani pekerjaan di sini.”
Grace dan Jane keduanya mengangguk bersamaan, seolah membujuk Ariana. Tapi Ariana malah menggeleng. Pulang lalu membiarkan kedua lelaki itu berada di tempat yang sama tanpa dirinya? Entah apa yang akan terjadi nanti? Baku hantam? Perkelahian? Ariana tidak bisa membayangkan keduanya babak belur. Tidak Adrian, tidak Ethan. Jangan sampai terjadi.
“Aku tidak apa-apa.” Ariana memberikan sebuah senyum, mencoba meyakinkan kedua wanita di depannya kalau ia baik-baik saja. “Aku akan menyelesaikan pekerjaanku hari ini. Kurasa aku mampu melakukannya. Kalian tidak perlu khawatir…”
“Padahal sebaiknya Kak Ariana dan Adrian pulang saja. Kami tidak mengapa.”
Jane menyambut dengan anggukan. “Benar, tangan Adrian juga terluka. Lebih baik kalian pulang. Bukankah tidak banyak deadline hari ini?”
Ariana membulatkan matanya terkejut. “Apa yang terjadi?”
“Saat kakak pingsan tadi, Adrian kembali dengan tangan terluka dan kemeja penuh bercak darah. Menyeramkan sekali,” Jane sampai bergidik saat menceritakan kembali hal itu.
“Ya, dan ia tidak mengucapkan apapun. Ia hanya bilang kalau dia terpeleset. Aneh sekali terpeleset sampai berdarah sebanyak itu.” Grace mengangkat bahu, menunjukkan seolah ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Adrian. Ya, tentu saja. Siapa pula yang percaya akan hal itu?
“Tapi dia baik-baik saja, bukan?” tanya Ariana kemudian. Ia khawatir. Apa sesuatu terjadi antara Adrian dan Ethan selama ia tidak sadar? Tapi sepertinya Ethan baik-baik saja barusan.
“Sepertinya begitu. Ia sedang bekerja sekarang.” Jane dan Grace melirik ke arah Adrian yang sedang fokus ke layar. Seperti tidak ada hal menarik di dunia ini selain pekerjaan yang ada di hadapannya.
Diam-diam Ariana bersyukur. Setidaknya tidak terjadi hal yang luar biasa. Tampaknya Ethan bisa mengendalikan semuanya.
“Makanya… Kak Ariana pulang saja. Kami tetap akan bekerja dengan baik walau tanpa diawasi oleh Kak Ariana…”
“Ya, benar. Kami akan menyelesaikan pekerjaan kami. Tidak perlu khawatir.:
Ariana terkekeh mendengar ocehan polos Jane dan Grace. Tentu saja ia khawatir dengan pekerjaan. Tapi dirinya lebih mengkhawatirkan Ethan dan Adrian. “Aku benar-benar tidak apa…”
Jane dan Grace saling memandang. Sebenarnya mereka akan lebih senang kalau Ariana kembali dan beristirahat. Tapi kalau memang atasan mereka itu berkata kalau dirinya tidak apa-apa, mungkin mereka akan mencoba mempercayai hal itu.
“Ini tehmu,” Ethan datang di antara mereka. Ia duduk di sebelah Ariana lalu menyodorkan cangkir teh tersebut setelah meniup isinya yang berasap beberapa kali.
Merasa tidak ingin mengganggu lebih lama, Jane dan Grace beranjak kembali ke tempat mereka masing-masing setelah pamit kepada Ariana. Mereka senang kalau Ariana sudah baik-baik saja.
Ethan menatap Jane dan Grace yang berlalu. Ia kemudian mengatakan hal yang sama seperti kedua wanita itu. “Apa kau tidak ingin pulang saja?”
Kedua bola mata Ariana melebar. Ia berbisik sangat pelan, berusaha agar hanya Ethan yang mendengarnya. “Kau tahu aku tidak bisa melakukan itu,” desisnya.
Helaan nafas panjang yang diberikan Ethan padanya. “Apa kau khawatir akan terjadi sesuatu? Tidak akan terjadi apapun, tenang saja.”
Ariana balas menatap Ethan dengan tajam. “Setelah apa yang terjadi?” Ariana menarik nafas dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
“Aku tentu saja khawatir. Dan aku benar-benar tidak ingin terjadi apapun. Jadi jangan paksa aku untuk pergi. Aku tidak bisa meninggalkan kalian berdua.”
Melihat tatapan sungguh-sungguh dari Ariana, Ethan akhirnya mengalah. Ia mengangguk. “Kalau kau memang benar-benar tidak ingin pulang. Kau bisa menunggu di sini.” Pandangan Ariana teralih ke tangan Ethan yang sekarang sudah menggenggam jari-jarinya hangat. “Tapi, jangan bekerja terlalu keras…”
Ariana menjawab persetujuan Ethan dengan senyum manis. “Tentu saja,” ujarnya senang.
***
Ethan benar saat ia berjanji pada Ariana kalau tidak akan terjadi apapun. Hingga jam kerja berakhir, tidak ada yang terjadi. Hal yang dikhawatirkan oleh Ariana sama sekali tidak terwujud. Ariana bersyukur akan hal itu.
Setelah berpamitan pada yang lain, Ariana dan Ethan berjalan bersisian menuju tempat parkir. Mereka akan pulang bersama seperti biasa. Ariana, Ethan, serta Adrian sepanjang hari ini seolah saling menghindar satu sama lain. Mereka tidak banyak melakukan interaksi selain satu-dua kata yang berkaitan dengan pekerjaan.
“Aku yang akan menyetir,” Ethan menadahkan tangannya meminta kunci mobil dari Ariana. Wanita itu tidak bisa menolak. Ia merogoh tasnya lalu mengambil sebuah kunci dari sana. Ia memberikan kunci tersebut yang kemudian disambut oleh ucapan terima kasih dari lelaki itu.
Ethan benar-benar memanjakan Ariana. Ia bahkan sampai membukakan pintu mobil untuk wanita itu. Saat ingin membantu mengenakan sabuk pengaman, Ariana mencegahnya. Ia memberikan kode kepada Ethan kalau dirinya bisa melakukan hal itu sendiri, tanpa bantuan.
Mengangguk, Ethan pun membiarkan Ariana melakukannya sendiri. Setelah itu ia masuk ke dalam mobil kemudian melajukannya tanpa ragu.
“Dimana apartemenmu?” Ethan bertanya pada Ariana tanpa menoleh. Pandangannya tetap terfokus ke jalan. Mereka baru saja keluar dari wilayah kantor.
Ariana terkesiap. “Kenapa kau menanyakan hal itu?” Ia menatap Ethan meminta jawaban.
Melihat Ariana yang curiga, Ethan balas menatapnya sambil tersenyum. “Tenang saja. Aku hanya ingin mengantarmu.”
Balasan Ariana hanyalah sebuah gelengan. “Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri.”
Ethan sudah menduga kalau ini akan sulit. Mereka memang dekat, tapi Ethan masih merasa kalau Ariana membangun tembok tinggi di antara mereka. Ia tidak mau begitu saja terbuka pada Ethan, tampak masih berhati-hati padanya.
“Kamu harus melihat wajahmu yang pucat sedari tadi.”
Perkataan Ethan membuat Ariana segera mengacak isi tasnya untuk mengambil cermin kecil miliknya. Ia segera memandang benda tersebut untuk melihat pantulan dirinya. Ethan tidak berbohong ternyata. Wajah Ariana memang tidak terlihat begitu baik. Karena Ethan mengatakannya, sekarang Ariana malah merasa pusing.
“Aku akan mengantarkanmu pulang dan meyakinkan diriku kalau kau baik-baik saja…” Ariana masih belum memberikan jawaban, jadi Ethan mencoba membujuknya lagi.
“Aku tidak akan melakukan apapun. Kau boleh melaporkanku ke polisi kalau sampai aku berani melakukan sesuatu tanpa izin darimu.”
Ariana menggigit bibir bawahnya, tampak meragu.
“Apa kalau aku bersumpah kau akan percaya?” Ethan menatap serius. “Demi Tuhan, aku bersumpah.”
Ariana berpikir, menimbang. Tapi memaksakan otaknya bekerja membuat kepalanya terasa semakin sakit. Ia merasa heran sendiri, kenapa ia merasa baik-baik saja saat bekerja tadi? Kenapa baru terasa sekarang?
“Aku benar-benar tidak akan melakukan apapun, Ary…” Ethan masih tidak menyerah membujuk Ariana. “Aku yakin kamu juga merasa tidak enak badan sekarang, kan? Apa kepalamu terasa pusing?”
Ucapan Ethan membuat Ariana langsung menoleh padanya, menatapnya curiga. “Kenapa kau bisa tahu?” tanyanya penasaran.
Mendengar pertanyaan Ariana, Ethan hanya terkekeh. “Entahlah. Tadi aku hanya mengarang alasan kalau kau terkena anemia sampai pingsan. Tapi sepertinya kau memang benar-benar dalam kondisi yang tidak baik.” Ia tidak menyangka kalau itu benar-benar terjadi pada Ariana.
“Apa kau sulit tidur belakangan ini, Ary?”
“Yah… Sedikit…” aku Ariana.
“Kau harus beristirahat dengan baik. Aku akan membuatkan makan malam untukmu. Kau harus makan dengan baik juga. Setelah yakin kau makan dan istirahat, aku akan langsung pulang.”
“Jangan….!” Ariana tanpa sadar memekik setelah mengetahui kalau Ethan berencana untuk masuk ke dalam apartemennya.
“Kenapa? Apa berantakan?” sindir Ethan.
Tepat sasaran, membuat Ariana salah tingkah.
“Tidak apa. Tidak perlu sungkan. Aku melakukan semua ini karena kau sedang sakit. Jadi kumohon, terimalah niat baikku ini, Ary…”
Dan tiba-tiba kepala Ariana berdenyut hebat. Ia sampai refleks memegangnya begitu saja.
Ethan yang melihatnya sekarang sudah berdecak. “Ary, tolonglah! Aku tidak bisa melihatmu seperti ini.”
Ariana akhirnya menyerah. Ia menganggukkan kepalanya. Ini pertama kalinya ada seorang laki-laki berkunjung sendirian ke apartemennya.
***
Sesampainya di apartemen, Ariana membuka kunci pintunya dan mempersilahkan Ethan masuk. Ethan mengira kalau apartemen Ariana berantakan sehingga wanita itu enggan mempersilahkannya masuk. Tapi di luar dugaan, tempat Ariana tampak normal. Memang ada beberapa barang yang berceceran, tapi semuanya tampak cukup bersih dan rapi.
Atau tidak…
Ethan terkejut saat melihat dapur Ariana. Yang ini sangat berantakan. Banyak piring bertumpuk di wastafel dan kompornya tampak sangat kotor. Seperti perang baru saja terjadi.
“Maaf, aku belum sempat merapikan dapurnya.” Ariana ikut menatap sedih ke arah dapurnya sendiri. Ini karena ia sering terburu-buru memasak entah makan malam atau sarapan. Setelahnya ia terlalu lelah atau terlalu telat untuk membereskan semuanya. Jadi Ariana meninggalkannya begitu saja sampai bertumpuk seperti sekarang.
“Tidak masalah. Aku akan merapikannya. Kau istirahatlah. Gantilah baju dan bersihkan dirimu. Aku akan memanggilmu kalau sudah selesai.”
“Terima kasih dan maaf sudah merepotkanmu.” Ariana dengan cepat mengiyakan Ethan. Selain karena ia merasa sangat pusing, kaki-kakinya terasa lemas. Ariana merasa kalau dirinya perlu duduk secepatnya. “Anggap saja seperti rumahmu sendiri. Ambillah apa yang kau butuhkan.”
“Baik…” Ethan menjawab patuh.
“Dan maaf malah tidak bisa menjamumu padahal kau adalah tamu. Aku—“
Melihat Ariana oleng lagi, Ethan segera menangkapnya. “Tidak usah dilanjutkan. Istirahat saja.”
Mengangguk pelan, Ariana membiarkan Ethan menggunakan dapurnya. Ia benar-benar butuh duduk atau merebahkan dirinya sebentar.
Ariana berjalan ke sofa di ruang televisi. Ia merasa kamarnya terlalu jauh. Sofa menjadi tempat tujuannya saat ini. Ariana terduduk di sana, dan sesaat kemudian ia merebahkan diri. Sekarang lebih nyaman.
Ethan melirik sekilas ke Ariana. Ia mendapati Ariana sedang beristirahat di sofa. Sekarang ia tinggal melakukan tugasnya. Dengan cepat, Ethan merapikan dapur Ariana. Setelahnya, ia segera memeriksa isi kulkas Ariana mengambil beberapa bahan yang bisa ia jadikan makan malam yang bergizi untuk wanita itu. Ethan tersenyum mendapatkan sepotong daging beku serta kentang dan wortel di sana. Semua bahan tersebut masih layak masak.
Saat sedang asyik memasak, pintu apartemen Ariana berbunyi. Ethan tidak menyadarinya karena bunyi wajan saat ia memasak membuat suara itu tidak jelas. Ia tidak tahu kalau sudah ada dua orang yang masuk ke dalam apartemen Ariana dan menatapnya heran.
“SIAPA KAU?!”
Ethan terkejut mendapat teriakan dari seorang wanita paruh baya yang menunjuk-nunjuk dirinya. Lelaki berumur yang datang bersama wanita tersebut pun sama kagetnya.
“Aku hanya…” Ethan menunjukkan apronnya, berusaha menjelaskan. Kedua orang tua itu sekarang sudah mengepungnya, menatapnya tajam dan mencurigainya.
Mendengar suara ribut, Ariana membuka matanya. Ia terduduk pelan lalu menghampiri dapur dengan langkah terseok. Betapa kagetnya ia melihat tiga orang yang sedang berseteru di dapurnya yang sempit.
“Ary…!” Ketiganya berseru hampir bersamaan saat melihat Ariana datang.
“SIAPA DIA?!”
Teriakan pasangan yang seperti suami istri itu membuat telinga Ariana berdengung, membuat kepalanya semakin sakit.
“Ayah, ibu, kalian terlalu berisik…”