Ariana tidak juga kembali ke mejanya padahal jam kerja sudah dimulai. Entah kemana wanita itu, membuat Ethan khawatir. Ia melirik sekilas ke meja Adrian, yang juga masih kosong. Pikirannya mulai campur aduk. Ia curiga kalau ada sesuatu yang terjadi.
“Apa Adrian sudah datang?” tanya Ethan pada Grace dan Jane yang sudah duduk di tempat mereka masing-masing, bersiap untuk memulai pekerjaan mereka.
“Hm… Aku belum melihatnya.” Grace menjawab lebih dahulu.
“Tapi tasnya sudah ada. Pasti dia sudah datang, mungkin ke toilet…” Jane menambahkan.
Ethan memandang ke bawah meja dan benar saja tas Adrian sudah duduk manis di sana, balas menatapnya. Ia tidak sadar sedari tadi karena memang tas berwarna gelap itu tidak terlihat jelas dengan cahaya remang di sudut bawah meja.
Memaki dalam hati, Ethan meraih ponselnya. Ia mencoba menghubungi Ariana. Mudah-mudahan saja tidak ada hal buruk yang terjadi. Setelah akhir pekan kemarin, Ethan semakin mengerti watak Adrian. Hank dan Khansa menceritakan segala hal padanya, mulai dari hal-hal penting sampai hal yang paling sepele. Ethan bisa menyimpulkan kalau Adrian bisa menjadi berbahaya kalau ia sedang emosi.
Tidak ada jawaban meski Ethan sudah menghubungi ponsel Ariana berkali-kali. Dengan langkah besar ia berjalan menuju meja Ariana, berharap kalau ini tidak seperti yang ia pikirkan.
“SH*T!!” teriaknya marah saat mendapati ponsel Ariana tergeletak di atas meja kerja wanita itu. Ariana tidak membawa ponselnya, dan sekarang entah ia berada dimana. Kekhawatiran Ethan semakin menjadi.
“Bisakah kalian menghubungi ponselku kalau Ariana kembali?” tanya Ethan pada Grace dan Jane.
Meskipun bingung, mereka mengangguk. Banyak dugaan muncul dalam pikiran kedua wanita itu. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi antara Ethan, Ariana dan Adrian.
Ethan berlari menyusuri lorong menuju ke toilet, memeriksa setiap bilik yang ada di sana. Departemen mereka memang ada di lantai eksklusif, jadi dia bisa dengan leluasa masuk ke toilet wanita karena yang menggunakannya di sana hanyalah Jane dan Grace serta para sekretaris bos, yang kebetulan semuanya sedang tidak ada di dalam sana. Toilet itu sangat sepi.
Tidak mendapatkan hasil, Ethan menuju ke toilet lelaki. Ia memeriksa setiap bagian, tapi tidak menemukan apapun. Sepertinya baik Ariana ataupun Adrian tidak ada di sana. Saat itulah Ariana mendengar suara dari lorong. Tidak terdengar jelas karena memang seluruh lantai tertutup karpet sebagai peredam. Setiap suara akan menjadi tidak jelas. Meski begitu, Ethan yakin ia mendengar sesuatu.
Langkahnya terus terpacu, semakin cepat dan semakin cepat. Apalagi setelah ia mendengar suara perempuan. Ia yakin kalau itu adalah Ariana. Sebuah teriakan tertahan tertangkap pendengaran Ethan. Kali ini ia tidak ragu lagi dan langsung lari menuju pintu tertutup yang ia yakin Ariana ada di baliknya.
“Ary…!” Ethan membuka pintu yang merupakan ruang dapur kecil tempat membuat kopi tersebut. Selain dipakai untuk menyeduh kopi dan menyiapkan makanan kecil, biasanya para petugas kebersihan berkumpul di sana untuk sekedar mengobrol.
Tapi kali ini tidak. Tidak ada petugas kebersihan. Hanya ada Ariana yang sudah terkulai lemas di tangan Adrian. Sungguh membuat Ethan murka.
“Apa yang kau lakukan?!” Ethan segera menarik Ariana ke dalam pelukannya. Ia mendorong kuat-kuat Adrian hingga jatuh menabrak lemari berisi cangkir dan piring-piring kecil, membuat suara ribut.
Dua petugas kebersihan datang mendengar suara cangkir dan piring kecil yang berjatuhan lalu pecah. Mereka sungguh kaget melihat apa yang tengah terjadi. Baru sebentar saja mereka ke lantai bawah untuk mengambil stok peralatan kebersihan, dan sekarang mereka sudah disuguhi pemandangan seperti ini.
“Kenapa, Pak? Apa yang terjadi?” tanya salah satu petugas kebersihan cemas. Ia melihat Ariana yang tidak sadarkan diri di pelukan Ethan.
“Dia hanya pingsan, mungkin terlalu lelah dan tidak enak badan.” Ethan terpaksa berbohong, ia tidak ingin nama Ariana terlibat dalam skandal.
“Bapak tidak apa-apa?” Sementara petugas lain menghampiri Adrian, membantunya berdiri.
“Tidak,” jawab Adrian. “Aku hanya terpeleset saja… Maafkan aku, aku akan mengganti barang-barang yang rusak itu,” tunjuk Adrian ke arah lusinan piring dan cangkir yang sudah tak berbentuk.
Kedua petugas tersebut sebenarnya curiga kepada mereka bertiga, seolah yakin kalau apa yang terjadi tidak sesederhana itu. Bagaimana mungkin ada seorang wanita pingsa lalu yang lainnya terjatuh tanpa sebab. Sepertinya sebelumnya terjadi perkelahian, atau setidaknya perdebatan.
“Tolong bantu saja Adrian, aku akan membawa Ariana ke ruangan,” Ethan segera melangkah secepat kilat keluar dari sana dengan Ariana di tangannya meninggalkan Adrian dengan kedua petugas tersebut.
Adrian mungkin belum menyadari, kalau dirinya juga terluka. Beberapa pecahan kaca berhasil menggoresnya. Aliran darah bahkan sudah mulai menetes dari tangannya, membuat noda pada kemejanya yang kebetulan hari ini berwarna biru cerah.
“Pak, sini biar saya obati dulu…” Adrian menurut saat salah satu dari petugas tersebut menuntunnya untuk duduk di kursi terdekat. Petugas itu segera mengambil kotak yang berisi obat-obat untuk pertolongan pertama.
Adrian hanya menatap kosong orang yang sedang mengobati lukanya. Ia bahkan tidak sadar sama sekali kalau dirinya terluka, seolah tubuhnya sudah mati rasa.
Dengan hati-hati sang petugas mencabut potong beling yang menancap di telapak tangan Adrian. Ia menggunakan penjepit untuk mengeluarkan benda itu. Tadinya sang petugas khawatir kalau Adrian akan kesakitan, tapi wajah Adrian malah tidak menunjukkan ekspresi sama sekali.
Usai mencabut serpihan-serpihan tajam tersebut dari tangan Adrian, sang petugas membersihkan lukanya lalu meneteskan obat. Setelah itu, dengan berhati-hati ia membalutkan perban. Melihat tangannya sudah selesai diobati, Adrian mengucapkan terima kasih lalu pergi begitu saja. Petugas tersebut pun kemudian membantu temannya merapikan kekacauan yang telah mereka buat.
***
Ethan yang datang sambil menggendong Ariana dalam pelukannya membuat Jane dan Grace terkaget-kaget. Mereka segera menyediakan tempat yang nyaman untuk Ariana di atas sofa yang tersedia di ruangan mereka. Dengan hati-hati, Ethan merebahkan tubuh Ariana di sana.
“Apa yang terjadi?” Jane bertanya khawatir.
“Apa Kak Ariana sakit?” Dengan hati-hati, Grace memeriksa kening Ariana.”Tidak demam,” ucapanya kemudian.
“Ia hanya pingsan,” jawab Ethan singkat. Ia duduk di sebelah Ariana, menunggu wanita itu sadar.
“Kenapa bisa pingsan? Apa Kak Ariana sedang menderita sakit parah?” Jane mulai menduga-duga. “Bukankah selama ini ia terlihat sehat?”
Ethan tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Ia terpaksa memutar otaknya untuk mencari kebohongan lain.
“Sepertinya anemia. Tadi dia tampak pusing lalu tiba-tiba saja terjatuh.” Ethan harus menceritakan jawabannya pada Ariana nanti, jangan sampai mereka memberikan jawaban yang berbeda.
“Ini pasti karena Kak Ariana terlalu sibuk bekerja. Ia harusnya lebih memperhatikan kesehatan…”
“Kau benar, Jane.” Grace mengangguk. “Aku juga akan mulai memperhatikan itu mulai sekarang. Kurasa aku akan rajin berolahraga dan mengkonsumsi vitamin secara teratur.”
“Iya benar. Pekerjaan kita memang memiliki banyak tekanan—“
“Kalian bekerjalah,” Ethan memotong gosip kedua wanita di depannya. “Jangan sampai pekerjaan kalian terbengkalai. Biar aku yang menjaga Ariana..”
Jane dan Grace saling berhadapan. Mereka tertegun sejenak, kemudian mengangguk. Tentu saja karena mereka ingat kalau Ethan adalah kekasih Ariana, jadi wajar kalau lelaki itu lebih khawatir dibandingkan mereka.
Baru saja berbalik, Jane dan Grace sekarang malah berpapasan dengan Adrian yang baru saja masuk ke ruangan mereka. Perban yang melilit di tangan Adrian menarik perhatian kedua rekan kerjanya.
“ASTAGA! Apa yang terjadi denganmu, Adrian?” Grace menutup mulutnya tak percaya.
“Apa kau terluka parah? Kemejamu penuh dengan darah!” Jane menunjuk-nujuk ke lengan dan beberapa bagian kemeja Adrian yang berwarna merah. Ia menggeleng ngeri melihat pemandangan itu.
“Aku hanya terjatuh,” jawab Adrian singkat. Lalu, tanpa ba-bi-bu, ia duduk di tempatnya dan mulai bekerja.
Awalnya Adrian berniat seperti itu, sampai setelah beberapa saat Ethan menghampirinya. Ia menunduk sedikit, menyamakan tinggi mereka. Sengaja Ethan melakukan hal itu, agar Adrian bisa tetap mendengarnya meski ia berbisik nanti.
“Kau sudah keterlaluan,” desis Ethan, pelan tapi penuh tekanan. Ia setengah berbisik agar Jane dan Grace tidak bisa mendengar pembicaraan mereka.
“Apa maumu?” Adrian balas menjawab dengan jengkel. Ia sudah sangat kesal. Sebenarnya ia pun marah pada dirinya sendiri karena membuat Ariana menjadi seperti ini. Tapi ia sadar kalau dirinyalah penyebab semua itu. Maka dari itu tadi Adrian hanya diam saat Ethan membawa Ariana pergi darinya. Meski begitu, tetap saja Adrian tidak bisa mengalah dari Ethan. Egonya tidak mengizinkan hal tersebut.
“Kalau sampai hal seperti ini terjadi lagi, aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah…” Ethan menatap Adrian tajam, mencoba mengancam lelaki di hadapannya itu.
Sayangnya, Adrian tidak terpengaruh sama sekali. Ia malah balas menatap Ethan dengan sama dinginnya. Menumpahkan seluruh kebencian yang ia miliki kepada lelaki di hadapannya itu. “Seolah aku takut padamu…”
Ingin rasanya Ethan memberikan satu saja tinjunya untuk Adrian. Mengingat bagaimana tadi lelaki itu menyekap Ariana. Pasti begitu! Adrian tidak membiarkan Ariana pergi sampai terjadi hal seperti sekarang. Lelaki ini pasti telah melakukan sesuatu yang buruk pada Ariana. Lihat saja jika Ariana sadar nanti, Ethan akan bertanya pada Ariana. Kalau sampai Ariana mengatakan apa yang sesuai dengan perkiraannya, Ethan bisa memastikan, ia akan membalas perbuat Adrian dengan sesuai.
“Aku hanya memperingatkanmu. Dan ini hanya akan terjadi sekali. Kedua kalinya, meskipun kau memohon, aku tidak akan melepaskanmu.”
Mendengar ancaman Ethan, Adrian malah tersenyum miring. “Coba saja,” balasnya singkat, seolah tidak takut sedikitpun.
Ethan merasa kalau pembicaraan mereka tidak perlu dilanjutkan. Ia berdiri tegak, berniat untuk kembali ke sofa tempat Ariana masih berbaring. Di saat itu, Ethan bisa melihat Jane dan Grace yang berdiam diri, duduk mematung. Ah, sepertinya mereka bisa mendengar semua percakapan tadi. Mudah-mudahan saja kedua wanita ini tidak suka bergosip.