Setelah adegan romantis yang sengaja diumbar oleh Ethan, lelaki itu duduk di sebelah Ariana tanpa ragu. Ia pun memperkenalkan dirinya pada Khansa dan Hank. Keduanya tidak terlalu mengenal Ethan. Entah karena ingatan mereka yang terlalu dangkal atau memang keduanya tidak perhatian kepada lingkungan sekitar. Tapi, yang pasti, baik Khansa atau Hank tidak mengingat Ethan. Jadi mereka akan menganggap kalau ini adalah pertemuan mereka yang pertama.
“Jadi… Kau pacarnya Ariana?” Hank memulai pembicaraan. “Apa pekerjaanmu?”
Khansa heran sendiri mendengar pertanyaan Hank. Sekarang ia bertindak seperti ayah yang sedang menginterogasi pacar putrinya.
“Sekalian saja kau tanya pekerjaan orang tuanya!” sindir Khansa kemudian.
Hank mengangguk. “Apa pekerjaanmu dan apa pekerjaan kedua orang tuamu?”
Khansa sungguh ingin menendang orang yang duduk di sampingnya saat ini. Hank sungguh menyebalkan. Kalau saja tidak ada Ethan, Khansa pasti sudah menyemprot Hank.
“Kalian ini apa-apaan sih?!” Ariana mencoba menengahi. “Jangan bertindak memalukan!”
Ariana beralih ke Ethan. “Jangan mendengarkan mereka. Tidak usah perdulikan.”
Ethan sebenarnya ingin terbahak sedari tadi. Saat Hank dan Khansa bertanya padanya, ia sudah merasa seperti sedang diinterogasi pasangan suami istri, ayah dan ibu Ariana serta adik Ariana yang ada di pangkuan Khansa. Ini bisa dijadikan sebagai latihan nanti… Mungkin…
“Tidak apa, Ary…” Ethan memberikan senyum lebar. Senyum hasil dari dirinya yang menahan tawa. “Aku tidak keberatan menjawab itu semua. Asalkan aku mendapat restu dari teman-temanmu ini.”
“Demi Tuhan, dia terlihat begitu sempurna hanya untuk seorang pacar bayaran,” bisik Khansa di telinga Hank.
“Kau benar. Aku malah merasa rendah diri sekarang.” Hank balas berbisik.
“Apa kau merasakan apa yang kurasakan?” tanya Khansa.
“Apa yang kau maksud?” Hank balik bertanya. Ia tidak mengerti kemana arah percakapan mereka.
“Aku bisa melihat warna pink menyebar di sekitar mereka, bahkan aroma romantismenya pun bisa kucium.”
Hank menghadiahi Khansa sebuah jitakan di kepala wanita itu, membuat Khansa mengaduh lalu balas memukulnya berkali-kali.
Melihat kedua sahabatnya yang bertengkar, Ariana mencoba melerai. “BERHENTI!” pekiknya. “Kalian sungguh membuatku malu,” desis Ariana dengan nada super dingin.
“Maaf…” Khansa dan Hank berucap bersamaan sambil menundukkan wajah mereka. Terlihat Mike ikut-ikutan menggumam, seperti sedang ikut memarahi kedua orang dewasa itu.
“Kurasa sebaiknya kita pergi saja. Teman-temanku terlalu aneh untukmu…”
Ethan tidak bisa menahan tawanya lagi. Suara yang sebelumnya sudah ia tahan, sekarang keluar begitu saja. Ethan terbahak. “Tidak, Ary. Teman-temanmu sungguh lucu.”
“Yah… kami memang lucu.” Hank menjulurkan tangannya ke arah Ethan. “Selamat menjadi pacar Ariana, kuharap kau bisa menjaganya dengan baik.”
“Tentu saja aku akan melakukannya,” jawab Ethan mantap sambil menyambut jabatan tangan Hank.
Khansa yang menatap keduanya seolah mendapatkan kesan kalau Hank sudah mengakui Ethan sebagai pacar Ariana.
“Baiklah, kalau begitu, bisakah kita mulai dari awal lagi? Perkenalan kita?” usul Khansa. “Kurasa yang barusan agak aneh.” Ia mengangguk tengkuknya yang tidak gatal.
“Tentu saja,” jawab Ethan.
“Aku Khansa, dan ini putraku, Mike.” Khansa menjabat tangan Ethan sambil tersenyum, kemudian ia meminta anaknya untuk memberi salam pada Ethan.
“Namaku Ethan.” Ethan kemudian menjawil pipi Mike gemas. “Dan kau bisa memanggilku Om Ethan,” ucapnya pada Mike.
“Om Etan…” Mike mengikuti ucapan Ethan, ia kemudian tersenyum. Lalu, seolah sudah lama mengenal, Mike tanpa ragu bergerak, hendak pindah ke pangkuan Ethan.
Khansa tidak menyangka kalau Mike akan melakukan itu. “Maaf, biasanya ia tidak begitu pada orang yang baru ia kenal.”
Ethan menganggukkan kepalanya. “Tidak apa.. Aku suka anak-anak..” Ethan menyambut Mike ke dalam pangkuannya. Balita itu duduk manis di sana.
“Anakmu sok kenal, sama sepertimu.” Setelah melemparkan komentar pedas pada Khansa, Hank langsung beralih ke Ethan. “Aku Hank. Senang mengenalmu, Ethan…”
“Aku juga, Hank.”
“Jadi… Bisa kau ceritakan tentang dirimu?” Khansa memilih untuk tidak adu mulut dengan Hank karena komentarnya barusan. Ia lebih tertarik pada Ethan saat ini.
“Bagaimana bisa kalian pacaran?”
“Ah…” Ethan bingung harus menjawab bagaimana. Apa ia harus mengatakan yang sejujurnya? Atau versi karangan bebas?
Sekilas, Ethan melirik ke Ariana. Ia meminta petunjuk, takut kalau ia salah menjawab.
Ariana mengerti tatapan Ethan. Ia mengangguk pelan, “Katakan saja yang sebenarnya. Aku sudah menceritakannya sebagian. Kita bisa mempercayai Hank dan Khansa. Mereka sahabatku.”
Ethan mengangguk mengerti. Ia pun sekarang bisa dengan yakin menjawab. “Aku pegawai baru di perusahaan Ary. Kita kebetulan satu departemen…”
“Woahhh…!” Khansa memukul meja beberapa kali. “Sekarang aku tahu kenapa Adrian tidak ingin berrtemu denganmu!”
“Ya, kurasa ia sudah muak melihat wajahmu.”
Ariana sampai melotot ke arah Khansa dan Hank. Ucapan mereka sama sekali tidak disensor. Ingin rasanya ia memplester kedua mulut itu.
“Apakah Adrian di sini tadi?” tanya Ethan. Ia menatap Ariana, meminta jawaban, tapi Ariana malah memalingkan wajahnya, enggan menjawab.
“Iya, dia di sini tadi.” Khansa menjawab ringan, tanpa beban. Tidak perduli akan Ariana yang sudah memberikan tatapan dingin padanya. “Tapi dia bilang dia akan pergi jika kau datang.”
“Kalau begitu, aku mengganggu pertemuan kalian?” Ethan memasang wajah menyesal. “Aku minta maaf.”
“Tidak,” Hank mengibaskan tangannya. “Dia tidak jelas. Pergi begitu saja, sambil marah-marah.”
“Pastinya itu karena aku,” jawab Ethan. “Dia menganggap aku telah mengambil Ary darinya.” Ethan menggeleng pelan.
“Aku sengaja menjauhkan Ary dari Adrian. Aku tidak ingin Ary menjadi kambing hitam. Ary selalu disalahkan hanya karena dirinya.”
“Maksudmu?” Khansa melebarkan matanya.
“Ariana hampir dipecat karena Adrian.” Ethan mengangkat bahu. “Aku hanya mencoba menolong Ary.”
“Aku sedari tadi ingin bertanya hal ini pada kalian. Apa sebenarnya yang terjadi?”
Ethan meminta persetujuan dari Ariana, yang kemudian dibalas oleh anggukan dari wanita itu. Mendapat persetujuan, Ethan menceritakan semua hal yang terjadi. Mulai dari Clarissa yang membuat kehebohan di kantor, hingga yang terakhir saat Ethan sengaja memonopoli Ariana.
“Kurasa kamu sudah melakukan hal yang benar, Ethan…” Hank menepuk bahu Ethan bangga. “Kalau saja aku yang ada di sana saat itu, maka aku yang akan menolong Ariana.”
“Benar-benar! Aku tidak menyangka kalau selama ini ada kejadian semacam itu.” Khansa ikut berkomentar. “Aku juga seorang istri, tapi aku tidak bertindak seperti itu!” Ia mulai membanding-bandungkan dirinya sendiri dengan Clarissa.
“Sebenarnya,” Ethan mengoreksi ucapan Khansa. “Kita tidak tahu apa yang dirasakan istri Adrian. Malah kita tidak tahu bagaimana keadaan rumah tangga mereka sebenarnya. Maka dari itu sebaiknya kita tidak mencampurinya.”
“Kau benar!” Hank memuji Ethan lagi. “Hei… Aku suka padamu. Kau bersikap dewasa, berbeda dengan seseorang…”
“Kau terlalu memujiku.” Ethan membalas cengiran Hank.
“Ethan benar, Ariana.” Khansa menatap Ariana lalu memegang tangan sehabatnya itu, seolah memberi dukungan. “Kalau seperti itu yang terjadi, harusnya memang kau menjauh dari Adrian. Lebih baik daripada kau terus dipersalahkan.”
“Dan kau bisa meminta bantuan kami juga, jangan ragu.”
Ariana tersenyum lebar. “Terima kasih teman-teman!” Ia merasa sangat senang. Ia sudah mengungkapkan semua masalahnya kepada teman-temannya, dan mereka mendukung dirinya. Ia merasa ada sebuah beban terangkat darinya, dan semua itu berkat Ethan.
***
Ariana heran. Setelah pertemuan terakhir mereka bersama Khansa dan Hank, Adrian mulai berulah lagi. Sebelumnya ia bersikap kalem, tapi kemudian lelaki itu berubah. Entah apa yang terjadi pada Adrian. Dia begitu labil. Sekarang Adrian selalu mengiriminya pesan dan meneleponnya. Ariana menjadi risih. Apalagi terkadang lelaki itu mengancam kalau Ariana tidak membalas pesannya. Ariana bukannya takut, ia hanya menjadi tidak nyaman.
Pagi itu, Ariana berangkat kerja bersama Ethan seperti biasa. Sesampainya di kantor, ia membuat kopi terlebih dahulu. Ia merasa agak tertekan dengan semua isi pesan Adrian. Ariana merasa kalau ia membutuhkan asupan kafein untuk tubuhnya.
“Ary…”
Ariana tergagap saat melihat Adrian masuk ke dalam ruangan kecil tempat para karyawan biasa membuat kopi. Hanya ada mereka berdua di dalam ruang sempit ini. Menyadari keadaan yang mungkin bisa berbahaya, Ariana segera mengambil langkah. Ia bergerak menuju pintu keluar, tapi sayangnya Adrian menghalangi.
“Mau kemana?” Adrian bertanya dingin. “Aku tidak tahu kalau ternyata kamu begitu takut padaku…”
Setiap ucapan yang keluar dari mulut Adrian entah mengapa Ariana mendengarnya seperti ancaman. Otaknya memerintahkan dirinya untuk segera menjauh dari lelaki itu.
“Minggir, Adrian. Aku mau keluar. Aku punya banyak pekerjaan!” Ariana bisa mendengar kalau suaranya bergetar. Sejak kapan Adrian menjadi begitu seram di matanya. Benar kata Adrian barusan, ia takut pada lelaki itu.
“Jam kerja belum dimulai, Ariana.” Adrian melirik ke pergelangan tangannya. Masih ada lima belas menit.
“Ada sesuatu yang harus kukerjakan. Aku harus pergi.” Ariana nekat menerobos blokade dari badan Adrian yang besar. Ia bertaruh. Lebih baik berusaha daripada tidak sama sekali.
Sialnya, Ariana gagal. Adrian malah dengan mudahnya menangkap Ariana dalam pelukannya. Lelaki itu mengurungnya dengan kedua tangannya yang kekar.
“Adrian, lepaskan aku…” Ariana menatap Adrian tajam. Ia tidak bisa begini. Walaupun mereka dekat, tapi tidak sampai berpelukan seperti ini. Terlebih setelah Adrian berkeluarga, hubungan fisik mereka hanya sebatas berjabat tangan sejauh yang Ariana ingat.
“Tidak mau,” Adrian membalas dengan seringaian. “Susah payah aku bisa berbicara berdua denganmu. Aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah kali ini.”
Adrian menjadi terlihat kian mengerikan. Ariana sebenarnya ingin berteriak, tapi ia juga tidak bisa melakukan hal itu. Akan terjadi keributan nantinya, lalu apa kabar dengan nama baiknya? Gosip yang sebelumnya sudah mereda pasti akan meroket lagi.
“Adrian, tolonglah…” Ariana mencoba memohon. Ia ingin menyelesaikan ini baik-baik, jangan sampai ada yang mengetahuinya.
“Tidak bisa Ariana…” Adrian tersenyum miring. “Akhirnya aku punya kesempatan bersamamu.”
Ariana sadar kalau Adrian tidak akan mendengarnya. Ia harus melakukan cara lain. Sayangnya Ariana meninggalkan ponselnya di atas meja. Ia tidak bisa menghubungi siapapun saat ini.
“Adrian, kumohon…” Kali ini Ariana sudah sangat putus asa. Ia tidak ingin berpikir lebih jauh lagi, terlalu mengerikan. Ariana mulai membayangkan adegan-adegan yang sangat tidak ia harapkan terjadi. Mungkin setelah ini Adrian akan terus memojokkannya? Atau mungkin lelaki ini akan melakukan sesuatu yang lebih parah? Misalnya, menciumnya paksa?
Lihat, kan, betapa parahnya imajinasi Ariana.
“Adrian, kita kan teman. Kita bisa bicara baik-baik…” Ariana mencoba membujuk Adrian. Walaupun pikirannya sudah terbang jauh, ia percaya kalau Adrian tidak akan melakukan hal seburuk itu padanya. Ia percaya pada Adrian. Harus.
“Sekarang baru kau bawa istilah ‘teman’…” Adrian tertawa meledek. “Sebelumnya aku memohon padamu untuk mendengarku atas nama teman, tapi kau tetap mengabaikanku.”
Ariana menutup mulutnya rapat. Rupanya Adrian tengah membalas Ariana.
“Saat terdesak kau baru mengakui aku sebagai temanmu, heh?” Adrian memeluk Ariana semakin erat, membuat Ariana kian gelisah.
“Kemana kesombonganmu yang kemarin? Mengutamakan pacar dibandingkan aku? Temanmu yang sudah bertahun-tahun ada untukmu…” Adrian berdecak kesal. “Dahulu semua masalahmu aku yang membantu. Bahkan untuk keluar dari rumahmu dan pindah ke apartemen saja semua karena bantuanku. Setelah semua itu kau membuangku?!”
Adrian tertawa. Memang terdengar tawa, tapi bukan tawa kebahagiaan, melainkan tawa kepedihan.
“Kau terus saja menjauh dariku karena Ethan b*rengsek itu!” Emosi Adrian meninggi, dan Ariana tidak mau itu terjadi. Ia harus menenangkan Adrian.
“Adrian… Kita bicarakan ini lagi nanti. Jangan seperti ini. Kita sedang di kantor. Masalah pribadi sebaiknya dibicarakan di luar saja.” Mati-matian Ariana membujuk Adrian, tapi lelaki itu hanya menggeleng.
“Tidak mau,” jawabnya singkat. “Setelah ini pasti kau akan menendangku jauh-jauh, menjadikan Ethan sebagai tamengmu lagi. Kau pikir aku tidak tahu apa yang ada di pikiranmu, Ary?”
Ucapan Adrian terdengar tepat di telinga Ariana, membuat wanita itu bisa merasakan hangatnya nafas Adrian dari sana. Sungguh pose yang sangat berbahaya. Siapapun yang melihat mereka saat ini pasti akan salah paham. Ariana harus segera lepas dari Adrian. Apa ia harus menendang ‘Adrian kecil’?
“Aku sudah menjadi temanmu bertahun-tahun, Ary. Aku tahu apa yang kau pikirkan, bahkan apa yang kau rencanakan.”
Ariana memaki dalam hati. Baru saja ia membuat rencana, tapi Adrian sudah menuduhnya seperti ini. Apa memang tidak ada cara keluar lain?
Memutar otaknya cepat, Ariana menyerah kali ini. Tidak ada cara lain, ia harus melakukannya.
“Adrian, lepaskan aku. Kalau tidak aku akan teriak…” ancam Ariana. Ia yakin Adrian akan melepaskannya sebelum ia melakukan itu. Kalau sampai Ariana berteriak, Adrian juga pasti akan malu bukan? Setidaknya mereka akan susah bersama.
“Coba saja kalau kau berani…”
“S*AL!” Lelaki itu malah balik mengancamnya sekarang. Rupanya gertakan Ariana tidak berpengaruh. Adrian pasti sudah tidak waras.
“Hahaha… Sudah lama aku tidak mendengarmu bicara kasar, Ary. Mengingatkan akan masa lalu, heh?” Adrian tersenyum lebar mengingat kembali saat mereka masih sekolah dahulu.
Ariana tidak mau mendengar omong kosong Adrian. Dengan sekuat tenaga, ia berteriak. “TOLONG!!! TO--”
Adrian kaget bukan kepalang mendapati Ariana benar-benar berteriak. Ia segera menutup mulut Ariana erat.
“Mphhh!!!!” Ariana memberontak sekuat tenaga. Ia meronta dan menggeliat agar Adrian melepaskannya. Tapi lelaki itu makin memegangnya erat.
“Kenapa kau mengambil jalan yang sulit, Ary?” desis Adrian. “Aku hanya ingin bicara berdua denganmu… Tidak bisakah kau mendengarkanku dan menghiburku seperti dulu? Aku tidak sanggup menghadapi semuanya tanpamu…”
Ariana sudah tidak mendengarkan ocehan Adrian lagi. Ia terus menggeleng. Matanya melotot marah. Ariana melakukan apapun agar Adrian melepaskannya. Ia sudah hampir kehabisan napas.
“Diamlah Ariana… Karena apapun yang kau lakukan tidak berguna… Aku hanya ingin kau mendengarkanku. Jangan menghindariku lagi…”
Ucapan Adrian semakin lama semakin menghilang. Ariana semakin lemas. Adrian menutup mulut dan hidungnya terlalu erat, asupan oksigen yang semakin menipis membuat kesadaran Ariana perlahan menghilang.
Di ujung kesadarannya itulah, Ariana bisa melihat pintu terbuka. Sekelebat bayangan Ethan muncul sebelum ia tidak sadarkan diri.