Ariana terdiam. Ia mengulang kembali ucapan Adrian di benaknya. Kalau Ethan datang, maka Adrian akan pergi. Ariana harus memilih. Tapi, ia baru saja mengundang Ethan. Belum saja lelaki itu datang, Ariana sudah harus menyuruhnya kembali? Apa itu tidak terlalu kejam?
Tapi… kalau bukan Ethan, berarti Adrian yang pergi? Sedangkan ini adalah hang out AKHA. Jika tidak ada Adrian maka tidak akan lengkap.
Khansa melihat kebimbangan Ariana. Ia yang sebelumnya tidak menyadari hal tersebut, sekarang merasakannya dengan sangat jelas. Seperti kata Hank, kemungkinan pacar Ariana dengan Adrian tidak akur. Mungkin masalahnya separah itu sampai-sampai Adrian tidak ingin bertatap muka sama sekali dengan pacar Ariana. Khansa sungguh penasaran dan ingin bertanya pada Ariana langsung, tapi sepertinya tidak bisa sekarang.
“Hei, jangan begitulah…” Hank rupanya memutuskan untuk turun tangan duluan. Ia mencoba membujuk Adrian.
“Kenapa kau mau pergi? Kupikir kita sudah lama tidak bertemu.” Hank menepuk-nepuk pundak Adrian, berusaha menenangkan sahabatnya yang sedang emosi. “Santai saja, tidak akan terjadi apapun,” sambung Hank.
“Iya…” Khansa ikut membujuk Adrian. “Santai saja. Kita kan cuma akan mengobrol.” Khansa tidak ingin curiga, tapi entahlah, Adrian sepertinya emosi karena kesal. Wajahnya menunjukkan kecemburuan yang amat sangat. Lelaki itu bahkan sekarang sudah memandang Ariana dengan penuh amarah. Seolah Ariana telah selingkuh darinya, padahal kan…
“Tidak mungkin…” Khansa menutup mulutnya agar hal yang ada di pikirannya tidak meloncat keluar dari bibirnya. Adrian cemburu pada Ariana.
Ia mengulang-ulang kalimat itu dalam hatinya. Adrian cemburu pada Ariana, dan itu terlihat jelas. Jelas sekali dari setiap gelagatnya. Sedari dulu, Khansa memang tahu kalau Adrian dan Ariana sangat dekat, tapi ia belum pernah mendapat bukti sejelas ini kalau Adrian menyimpan rasa pada Ariana. Pasti lekaki itu menyukai Ariana, Khansa yakin betul. Tapi kalau memang begitu, kenapa ia menikah dengan wanita lain? Kenapa tidak menjalin hubungan dengan Ariana? Ariana jelas-jelas masih available hingga sekarang. Yah, walaupun Ariana mempunyai pacar, tapi itu kan masih pacar. Ariana belum sepenuhnya sold out, masih ada kesempatan.
“Hei, ayolah Adrian!”
Khansa asyik dengan pikirannya sendiri sampai-sampai tidak menyadari kalau Adrian sudah merapikan barangnya dan siap beranjak dari sana.
“ADRIAN!” Hank sudah berteriak. Ia ikut bangkit dan berusaha mengejar Adrian yang sudah angkat kaki. Sementara itu, Khansa dan Ariana hanya bisa terdiam. Ariana tidak terlihat ingin mengejar Adrian. Khansa merasa kalau Ariana sendiri bingung dan tidak tahu harus melakukan apa. Dilihatnya Ariana hanya memandang Adrian yang semakin lama semakin menjauh.
“Ariana!” Sebuah teguran dari Khansa menyadarkan Ariana. Ia sebelumnya sedang fokus memperhatikan Hank yang sibuk mencegah Adrian pergi melalui kaca jendela café. Ariana melihat Hank berusaha keras untuk menghalangi Adrian pergi, tapi lelaki itu malah semakin emosi dan mendorong Hank menjauh. Sepertinya Hank tidak berhasil menahan Adrian.
“Kenapa, Sa?” tanya Ariana kemudian setelah ia usai menyaksikan perdebatan Hank dan Adrian. Adrian sudah berlalu dengan mobilnya, meninggalkan Hank yang sekarang berjalan masuk kembali ke café.
“Katakan padaku apa yang terjadi di antara kalian,” Khansa menatap Ariana lekat. “Katakan dengan jujur, tidak usah berbohong apalagi menghindar.”
Ariana ingin mengabaikan pertanyaan Khansa. Ia menyibukkan dirinya bermain dengan Mike, tapi Khansa yang penasaran mengambil alih putranya lalu menatap Ariana lagi.
“Ariana, jujur saja!” Khansa sudah mendesaknya sekarang. “Jawablah…”
Ariana menjadi semakin gelisah. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan tersebut, benar-benar tidak ingin.
“Sebenarnya ada apa dengan si br*ngsek itu?” Hank datang sambil mengomel. Ia segera duduk kembali lalu meneguk minumannya hingga habis. “Ia membuatku kesal!”
“Dia benar-benar pergi?” Khansa teralihkan sesaat. Ia bertanya pada Hank sekarang, membiarkan Ariana bebas sementara.
“Benar-benar pergi!” Hank masih dongkol dengan kejadian tadi. “Padahal aku sudah membujuknya baik-baik! Dia malah bersikap kasar dan marah-marah! Aku malas, jadi kubiarkan saja dia pergi. Dasar emosian!”
“Ya sudah, biarkan saja dia pergi,” gentian Khansa yang menenangkan Hank. “Dia memang begitu kalau sedang emosi. Wajahnya saja yang dewasa, tapi terkadang sikapnya sungguh kekanakan.”
Apa yang dikatakan Khansa memang benar. Adrian memang cenderung lebih mudah terbakar emosi dibandingkan Hank atau para perempuan. Ia bisa tiba-tiba bersikap impulsif dan tidak berpikir panjang. Waktu masih sekolah dulu Adrian yang paling sering adu tinju dengan siswa lain, terkadang karena masalah sepele. Meski begitu, ia sebenarnya pria yang baik, kalau saja ia bisa lebih menahan emosinya.
“Benar. Kasihan istrinya.” Kini Hank menatap Ariana. “Beruntung kau tidak menjadi pasangannya.”
Khansa refleks memukul lengan Hank. “Mulutmu suka asal bicara!” tegurnya.
“Ingat Ariana, aku lebih baik dari Adrian.” Hank mulai lagi dengan gurauannya. “Aku memang playboy, tapi aku bisa berhenti bermain dengan wanita kalau kau mau jadi pacarku.”
Kali ini Khansa berhasil menyumpal mulut Adrian dengan chips. Lelaki itu sampai terbatuk-batuk karena tersedak. Akhirnya Hank bisa diam dan tidak mengoceh.
“Jangan berbicara begitu tentang Adrian. Bagaimanapun dia tetap teman kita!” seru Khansa mengingatkan.
“Ya, maafkan aku…” ucap Hank setelah batuknya berhenti. “Aku hanya kesal karena ia berteriak padaku dan hampir memukulku. Astaga… Bisa kalian bayangkan itu?!”
“Tolong maafkan Adrian…” Akhirnya Ariana membuka suara. “Ia mungkin sedang emosi…”
Khansa dan Hank seketika beralih ke Ariana. Keduanya seperti saling memandang, memberikan kode.
“Sebenarnya kenapa dia begitu emosi?” tanya Hank.
“Benar.” Khansa mengangguk mengiyakan. “Ada apa antara kau dan Adrian? Kenapa dia sebegitu tidak sukanya dengan pacarmu?” tanya Khansa.
“Iya betul. Adrian terlalu berlebihan. Aku saja tidak begitu,” celetuk Hank. Setelahnya, tentu saja Khansa memukulnya lagi tanpa ragu. Hank sudah tidak berniat untuk menghindar, ia membiarkan saja Khansa berbuat semaunya.
Melihat Ariana yang terus diam, Khansa melanjutkan pertanyaannya. “Apa Adrian dan pacarmu saling mengenal?”
Ariana masih diam, membuat Khansa berdecak kesal. “Setidaknya katakan sesuatu, Ariana…. Jawablah pertanyaanku!” serunya. “Aku sudah memberi banyak pertanyaan tapi tidak satupun kau jawab.”
Mendengar keluhan Khansa, akhirnya Ariana menjawab. “Ya benar, Adrian memang mengenal pacarku.”
Khansa dan Hank menunggu lanjutan jawaban Ariana. Tapi hasilnya nihil, Ariana bungkam kembali.
“Ya ampun!” Khansa berseru-seru kesal. “Dia benar-benar hanya menjawab satu pertanyaan!” keluh Khansa. Hank pun mengangguk menyetujui keluhan temannya itu.
“Ariana ternyata sepelit itu,” timpal Hank sambil menggelengkan kepala.
Meskipun sudah dipancing, Ariana tetap diam. Khansa hampir menyerah, ia sudah menggerutu dan mengomel. Hank setia menemani Khansa mengoceh.
“Ceritanya panjang,” lanjut Ariana kemudian. Kedua temannya itu berhasil membuatnya buka mulut. Telinganya terasa gatal karena mendengar sindiran dari Khansa dan Hank terus-menerus.
“Tenang saja, kami punya banyak waktu.” Khansa menjawab cepat. Hank juga ikut mengangguk. “Kalau perlu, aku akan menelepon suamiku untuk menjemput putraku pergi. Jadi tidak usah khawatir mengenai waktu. Ceritakan saja semuanya.”
Hank terkejut sedikti saat Khansa menjawab.
“Dasar ibu yang jahat! Tega sekali kau menyuruh anakmu pergi. Istri yang tidak tahu diri juga, malah menyuruh suamimu yang mengurus anak?!”
Mendengar komentar Hank, Khansa tidak tahan untuk tidak menggebrak meja. “HEI!” Ia menunjuk Hank tepat di wajahnya. “Kalau kau sadar, anak itu adalah hasil campuran dari ayah dan ibu.” Khansa memperagakan adegan suami-istri dengan tangannya, “Lalu kenapa hanya ibunya saja yang berkewajiban merawat anaknya?!”
Hank menjadi seram sendiri mendapati Khansa yang melotot padanya. Sekarang telunjuk Khansa sudah ada di pelipis lelaki itu.
“Pikirlah! Ayah juga harus merawat anak! Ia ikut menanam saham!”
Ariana jadi terkekeh melihat perdebatan di depannya. Hank sudah melempem karena dimarahi Khansa. Wanita itu sudah mengomel layaknya ibu-ibu paruh baya yang menegur anaknya.
“Ya, ya!” Hank mengalah lalu menyingkirkan telunjuk Khansa dari pelipisnya. “Ambil saja! Biarkan si ayah mengambil anaknya! Lagipula apa perngaruhnya buatku?! Itu kan anak kalian!”
“Kau benar juga,” desis Khansa kemudian. Ia kembali ke akal sehatnya.
“Tentu saja aku benar!” Hank balas memaki Khansa. “Lagipula kita kan sedang bertanya pada Ariana! Kenapa malah jadi menyerangku?!”
Khansa menarik nafas pelan. “Itu juga benar.” Ia memukul meja sekali, lalu menatap Ariana. “Jadi, jawab sekarang Ariana!”
Tawa Ariana seketika berhenti. Ia jadi salah tingkah sendiri. Bibirnya menutup rapat, sementara otaknya berputar cepat, berusaha mencari jawaban yang tepat.
“Aku tidak bisa menjawab itu. Itu berkaitan dengan kehidupan pribadi Adrian…”
Khansa dan Hank menepuk dahinya hampir bersamaan. Setelah panjang lebar berbicara dan bertanya, hanya itu yang Ariana katakan?!
Karena tidak ada cara lain, Khansa terpaksa mengatakan sesuatu yang tadinya tidak ingin ia katakan.
“Biar aku katakana satu rahasia,” ucapnya pelan. Mendengar suara Khansa yang semakin pelan, secara otomatis, Hank dan Ariana mendekat. Mereka sudah seperti kumpulan karyawan yang menggosipkan bosnya diam-diam.
“Apa itu?” Hank berbisik.
“Sebenarnya, Adrian yang memintaku untuk membuat pertemuan ini.”
“HA?!” Ariana menganga tak percaya. “Kenapa? Bagaimana? Kok?”
Khansa mengangkat bahu. “Aku tidak tahu. Yang pasti ia menghubungiku tiba-tiba. Lalu menanyakan kapan kita akan kumpul-kumpul lagi. Setelah itu ia memintaku untuk mengajak kalian hang out.”
“Apa tujuannya?” tanya Hank kemudian. “Kalau dia yang merencanakan ini, kenapa dia sendiri malah pergi? Dasar tidak jelas!”
“Dia sih hanya bilang kalau ia sebentar lagi berulang tahun. Tapi setelah kucek lagi, masih sekitar dua minggu ke depan.”
“Itu, kan memang sebentar lagi!” Giliran Hank yang memprotes Khansa. Ia menyumpal mulut Khansa dengan chips. Balas dendam.
Khansa mengunyah lalu menelan chips yang ada di mulutnya sebelum menjawab. “Yang kukira sebentar lagi itu besok atau lusa. Jadi hari ini kita berkumpul untuk merayakannya. Tapi nyatanya masih selama itu!”
Hank menjetikkan jarinya. “Mungkin dia ingin kita menyiapkan hadiah?”
“Yang benar saja!” Khansa memutar bola matanya tak percaya. “Kita sudah setua ini. Apa hadiah itu sangat penting?”
“Yah, kau benar.” Hank mengalah lagi. “Wanita selalu benar. Apalagi kau sudah ibu-ibu. Kau seribu persen benar.”
“Ini serius.” Khansa menautkan alisnya. “Aku pikir Adrian merencanakan ini untuk bertemu dengan Ariana. Jadi, katakan Ariana, kenapa Adrian sampai harus seperti ini? Bukankah kalian sekantor? Seingatku kalian satu departemen? Tidak mungkin kalian tidak pernah bertemu?”
“Bukankah kita sudah berteman selama bertahun-tahun? Apa kau tidak percaya dengan kami?” bujuk Khansa. “Kalau kau memang tidak ingin menceritakan kehidupan pribadi Adrian, setidaknya katakan saja alasan hubungan kalian sampai seperti ini. Tidak perlu sedetil itu, tidak mengapa. Beritahulah kami sedikit, siapa tahu kami bisa membantu. Aku yakin kau tidak mau kalau hubunganmu dengan Adrian seperti sekarang.”
Mendengar penjelasan panjang lebar dari Khansa, Ariana menghela nafas pelan. Sepertinya Khansa benar. Ia setidaknya harus memberitahu apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Adrian.
“Sebenarnya aku sedang menjauhi Adrian,” Ariana menjawab lirih.
“Apa?! Kenapa?” Khansa berseru tak percaya.
Sementara Hank, menanggapi Ariana dengan lebih kalem. “Itulah kenapa dia begitu marah tadi.” Sekarang semua menjadi sedikit jelas.
“Kukira kalian berteman baik. Kenapa kamu jadi setega itu padanya?”
Tuduhan Khansa membuat Ariana tidak berkutik.
“Diam dulu.” Hank menutup mulut Khansa. Itu karena ia bisa merasakan kalau Ariana juga merasa berat hati dan pastinya terpaksa menjauh dari Adrian. “Pasti ada alasan Ariana melakukan hal itu.”
“Itu karena…” Ariana menarik nafas panjang. “Itu karena… Aku dituduh sebagai perebut suami orang…”
Kali ini bukan hanya Khansa yang menutup mulutnya yang menganga karena terkejut, Hank juga melakukan hal yang sama. Saking terkejutnya, Hank tidak sadar kalau ia mengikuti Khansa.
“IH! Kenapa kau mengikutiku, b*doh!” Khansa mendorong tubuh Hank hingga oleng, lalu memukulnya juga. Mike menyusul.
Hank menatap Mike sebentar lalu memberikan tatapan kasihan. “Ibu yang berkata kasar di depan anaknya… Ck.. Ck…” Hank menggelengkan kepala. “Aku khawatir dengan masa depan anak ini nanti…”
Sebelum Khansa mengomel lagi, Hank segera bertanya pada Ariana, mengalihkan pembicaraan. “Jadi istri Adrian menuduhmu merebut Adrian darinya?”
Karena penasaran, perhatian Khansa teralih. Ia tidak jadi menguliti bibir Hank yang sok tahu itu.
“Benar,” Ariana mengangguk pelan. “Makanya aku sedang menjauhinya sekarang.”
“Lalu pacarmu?” Khansa mengernyitkan kening. “Jangan bilang kau punya pacar hanya untuk menjauh dari Adrian.”
“Kau berbohong?” tanya Hank langsung ke intinya.
“Aku tidak berbohong!” Ariana menjawab dengan salah tingkah. “Dia benar-benar pacarku!” pekiknya.
Khansa dan Hank menggeleng bersamaan.
“Apa dia benar-benar menyukai lelaki itu?” Khansa berbisik di telinga Hank.
“Benar, aku sungguh kasihan pada siapapun pacarnya Ariana sekarang.” Balas Hank.
Saat Khansa dan Hank sibuk menggosipkan Ariana tepat di depan orangnya, seseorang mendekat ke arah mereka. Itu Ethan.
“Hai, Ary,” Ethan mengulas senyum lebar saat menyapa Ariana. Ia kemudian memberikan sekuntum mawar merah yang sangat indah kepada Ariana. “Apa kamu menunggu lama?”
“Ti… tidak…” Ariana menerima bunga dari Ethan dengan senyuman canggung.
“Syukurlah. Aku datang secepat mungkin, tak mau kau menunggu.” Ethan mendekatkan wajahnya ke Ariana lalu mengecup pipi Ariana tanpa aba-aba. “Kau terlihat cantik dengan pakaian santai.”
Mendapat serangan tiba-tiba, pipi Ariana merona, menciptakan blush on alami, secara mendadak.
Khansa dan Hank yang megamati apa yang terjadi di depannya kemudian mengangguk bersamaan. “Dia menyukainya…” Mereka tahu isi hati Ariana dengan jelas.