“Ya… ya…” Hank mengangguk malas. “Adrian memang beruntung mendapatkan seorang wanita cantik dan super kaya serta seorang putri yang manis. Aku sungguh iri.”
Ariana terdiam saat Hank berceloteh. Apalagi saat Hank membicarakan Adrian beserta istri dan putri sahabatnya itu. Mulut Ariana seolah tertutup rapat. Hank dan Khansa memang tidak tahu apa-apa mengenai keluarga Adrian, tentang bagaimana Clarissa, tentang hubungan Adrian dan Clarissa sebenarnya.
Hank dan Khansa memang jarang sekali bertemu Adrian. Kalaupun bertemu, Adrian tidak pernah bercerita masalah pribadi. Khusus tentang kehidupannya, Adrian hanya mengadu kepada Ariana saja. Dan Ariana tentu merasa ia tidak memiliki hak untuk mengungkap cerita itu lebih dahulu. Bagaimanapun itu adalah privasi Adrian.
Hank meneguk latte dari cangkirnya lalu menatap Ariana dengan senyum tipis. “Setidaknya masih ada Ariana yang single.”
Ariana merasakan firasat tidak enak dari raut wajah Hank.
“Ariana, kita sama-sama single. Kenapa tidak jadian saja?”
Khansa segera menyembur Hank dengan hujatan. “Enak saja!” Sinisnya. “Aku tidak akan mengizinkan Ariana bersanding denganmu. Temanku ini terlalu baik untukmu,” cibirnya.
“Astaga.. Padahal aku ini temanmu juga!” protes Hank. “Apa aku seburuk itu di matamu?!” Hank memekik tak percaya.
“Bahkan lebih buruk lagi,” jawab Khansa tanpa ragu.
Ariana dan Adrian terkekeh mendengar pertengkaran itu. Dan saat mereka sibuk dengan pertengkarannya, pelayan datang ke meja mereka, mengantarkan pesanan Ariana. Ariana memang sengaja hanya memesan sepotong vanilla cake dengan secangkir teh Earl Grey, karena mungkin Mike ingin ikut mencicipi.
“Kue…” gumam Mike saat melihat kue itu ada di dekatnya.
Nah, kan, benar. Untung saja Ariana sudah bisa menduga hal itu. Ia segera mengambil garpu kecil yang datang bersama kue tersebut, menggunakan garpu itu untuk mengambil potongan kecil kue lalu mulai menyuapi Mike.
“Lihat!” Khansa menunjuk ke arah Ariana. “Ariana terlalu istimewa untukmu yang biasa saja. Ia wanita baik yang tidak banyak tingkah dan sangat kalem. Bahkan anak-anak pun suka padanya.”
Hank memutar bola matanya kesal. “Ya karena itulah. Aku ingin dia menjadi pasanganku. Kan sudah kubilang tadi kalau aku ingin wanita baik-baik…”
“Terlalu banyak bicara, kau!” Khansa menyumpalkan segenggam french fries ke mulut Hank, agar lelaki itu berhenti mengoceh.
Setelahnya, Khansa beralih ke Ariana. “Kuharap levelmu lebih tinggi dari Hank.”
Ariana terbahak mendengarnya. Ia bisa melihat raut wajah Hank yang berubah masam. Meski begitu, ia tetap membalas guyonan Khansa. “Ya, tentu saja lebih tinggi,” balasnya tanpa ragu.
“Yah, terus saja…” Hank mengangkat tangannya kesal. “Lanjutkan saja memojokkan aku!” ungkapnya kesal.
“Tidak begitu! Aku hanya mengatakan pada Ariana kalau ia harus memilih lelaki yang lebih baik.” Khansa menjawab Hank santai. “Setidaknya, harus selevel dengan Adrian…”
Mendengar hal tersebut, Adrian tersenyum simpul. Memang begitulah seharusnya, batin lelaki itu.
***
Beberapa tahun yang lalu…
PENERIMAAN SISWA BARU TAHUN AJARAN 20XX-20XX.
Adrian melirik sekilas spanduk sekolah barunya. Ini adalah hari pertamanya di high school. Ia baru saja datang terlambat dan sekarang seperti anak hilang, tidak tahu dimana kelasnya, dan bahkan ia belum memiliki seorang pun teman.
Adrian berjalan berkeliling. Di depan sekolah, sudah tidak ada siapapun. Tampak sepi sekali. Adrian terpaksa mencoba peruntungannya untuk masuk ke gedung yang pertama ia lihat. Yah, mudah-mudahan saja kelasnya ada di situ.
Gedung yang ada di sebelah kiri menjadi pilihan pertamanya. Adrian berjalan menyusuri lorong sepi. Ia ingin bertanya pada siapapun yang ada, tapi tidak ada seorang pun yang lewat. Bahkan lalat pun tidak terbang melewatinya. Sungguh sekolah yang sangat sepi. Adrian sampai berpikir kalau ia salah hari, salah jam, atau mungkin salah masuk sekolah. Ia tidak percaya gedung sekolah sebesar ini yang harusnya ramai dengan siswa malah lebih sepi daripada pemakaman.
Tadinya Adrian ingin menaiki tangga yang ada di gedung kiri, tapi ia mengurungkan niat. Sebaiknya ia memeriksa gedung lain terlebih dahulu. Saat berjalan berkeliling, ia mendapati seseorang yang sedang berjalan menuju ke arahnya.
“Kamu kelas berapa?” Seorang yang berpapasan dengan Adrian tersebut tampak memakai badge panitia. Adrian menghela nafas lega. Sepertinya ia memang datang di hari yang benar, waktu yang tepat dan gedung yang sesuai.
“Aku belum tahu, kak.” Adrian menjawab jujur. Ia memang belum tahu, entah kemana catatan pendaftarannya. Sepertinya sang adik yang membuatnya hilang atau musnah. Memiliki adik yang masih kecil memang menyulitkan. Mereka adalah biang masalah, monster tanpa hati tapi dibela tanpa syarat oleh para ibu. Adrian sebagai anak pertama harus banyak bersabar dan mengalah.
“Harusnya kau tahu!” Lelaki di hadapannya berdecak kesal sesaat. “Kalau begitu, katakan siapa namamu.”
“Adrian, Adrian Kenneth.”
Panitia yang sepertinya adalah kakak kelasnya, mencari nama Adrian di ponselnya. Dalam beberapa detik ia berhasil menemukan nama Adrian lalu berucap, “Kelas A.”
Adrian mengekor setia kakak kelas tersebut. Lelaki itu memimpin jalan menuju gedung kanan lalu menaiki tangga menuju lantai 3 dimana suasana sangat ramai, sungguh berbeda saat Adrian ada di lantai dasar.
Setelah menyusuri lorong, mereka tiba di sudut. Ada sebuah pintu bertempelkan huruf A besar di depannya. Rupanya itu adalah kelas Adrian. Sang kakak kelas mengetuk pintu beberapa kali lalu setelah terdengar sahutan dari dalam, ia masuk. Adrian menunggu aba-aba darinya.
“Masuklah,” ucap lelaki itu.
Adrian mengangguk lalu melangkahkan kakinya. Ia berdiri tepat di depan kelas. Adrian berusaha tersenyum saat dirinya dikenalkan oleh sang guru yang sebelumnya sudah ada di dalam kelas. Dengan senyum tipis, Adrian lalu menyapa teman-teman barunya. Setelah dirasa cukup sesi perkenalan mereka, sang guru mempersilahkan Adrian duduk.
Menatap isi kelas, Adrian hanya mendapati satu buah kursi kosong. Kursi di sebelah seorang perempuan. Karena tidak ada pilihan lain, ia pun melangkah ke sana.
“Hai…” sapa teman sebelahnya, sang perempuan.
“Hai,” jawab Adrian singkat, ditatapnya perempuan tersebut dari atas hingga bawah. Sepertinya orang yang ramah, batinnya.
“Aku Ariana, salam kenal.” Ariana mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Adrian. Diberikannya senyum lebar pada teman barunya itu.
Saat itulah Adrian merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Perasaan senang dan juga malu-malu. Perasaan ingin memiliki dan perduli. Ia merasakan semua itu untuk Ariana. Sayangnya dahulu ia tidak tahu, kalau perasaan semacam itu yang sering orang sebut dengan ‘jatuh cinta’.
***
“Yah, kau memang benar…” Adrian menyunggingkan senyum. “Ariana setidaknya harus bersama seorang pria sepertiku, itu baru sesuai.”
Ariana ingin protes, tapi yang keluar hanyalah sebuah senyuman.
“Apa aku harus mengenalkan beberapa temanku padamu?” Khansa menatap Ariana. “Mungkin saja kamu bisa mendapati orang yang sesuai dengan kriteriamu.”
“Ya, setidaknya pilihlah orang seperti aku, karena Adrian sudah sold out,” ucap Hank tanpa ragu. Mempromosikan dirinya sendiri pada Ariana memang seringkali ia lakukan, meski Ariana tidak pernah menganggapnya serius.
“Diam sajalah!” Khansa hendak menyumpal mulut Hank lagi, kali ini dengan chips yang ada di hadapan mereka. Tapi tidak berhasil, lelaki itu dengan sigap menangkisnya, menjauhkan tangan Khansa dari dirinya.
Setelah berhasil mengurus Khansa, Hank memulai lagi gurauannya pada Ariana. “Ayolah, Ariana… Kita bahkan belum pernah mencoba. Siapa tahu kita cocok….?”
Mulai lagi masalah seperti ini. Biasanya Ariana akan menolak dan mengatakan kalau ia bisa mngurusnya sendiri. Tapi kali ini mungkin berbeda. Ia bisa melakukan sesuatu yang lebih meyakinkan.
Ariana memberikan senyum lebarnya. “Maaf, Hank.” Ia menggeleng pelan. “Tapi aku sudah punya pacar.”
“Benarkah?!” Khansa melotot tak percaya, begitu juga dengan Hank. Ariana mengangguk menjawab keterkejutan Khansa dan Hank.
“Benarkah?!” Kali ini Khansa dan Hank juga menoleh ke Adrian, menatap lelaki itu, seolah meminta jawaban. Khansa dan Hank tahu kalau Ariana dan Adrian bekerja di tempat yang sama. Pastinya Adrian tahu mengenai kabar ini.
“Tentu saja itu bohong…”
Sekarang gantian Ariana yang melotot tak percaya mendengar jawaban Adrian. Apa maksud dari lelaki ini? Kenapa dengan santainya ia mengatakan kalau Ariana berbohong?
Mendengar jawaban Adrian, Khansa berdecak. “Yaaahhh…” serunya kecewa. “Kupikir itu benar! Aku baru saja mau meminta Ariana untuk mengundang lelaki beruntung itu!”
Hank mengangguk cepat. “Ya, aku juga mau melihat pacar Ariana! Sebaik apa lelaki itu. Apa ia lebih baik dariku yang selalu ditolak oleh Ariana?”
Khansa terbahak mendengar kesalnya Hank. Mereka kemudian saling adu argumen lagi. Argumen tidak penting yang hanya berisi gurauan dan candaan.
Khansa dan Hank yang tertawa sambil tersenyum lebar sangat berbeda dengan Ariana dan Adrian yang ada di hadapan mereka. Ariana dan Adrian saling bersitegang. Ariana menunjukkan wajah kesalnya karena Adrian menuduhnya berbohong, tapi wajah lelaki itu malah terlihat lebih marah darinya. Ariana tidak habis pikir, bukankah seharusnya ia yang marah?
“Aku akan menyuruhnya datang,” ucap Ariana. Ia ingin membuktikan pada Khansa dan Hank kalau ucapannya benar. Ia juga tidak suka dengan jawaban Adrian barusan. Ariana ingin membuktikan kalau apa yang ia tidak berbohong.
“Wah, hebat!” Khansa berseru senang, tidak tahu kalau perang dingin tengah terjadi antara Adrian dan Ariana.
“Cepat panggil! Minta dia datang sekarang!” Khansa tidak sabar ingin bertemu dengan lelaki yang disebut-sebut sebagai pacar Ariana. Walaupun ia sedikit bingung karena sebelumnya Adrian mengatakan kalau Ariana berbohong. Khansa menganggap ucapan Adrian sebagai angin lalu saja, mungkin Adrian hanya ingin menggoda Ariana.
“Ya, benar! Cepat minta dia datang!” Hank menyusul Khansa. Sama seperti Khansa, ia juga tidak terlalu menyadari apa yang terjadi antara Adrian dan Ariana. “Aku ingin melihatnya!”
Baik Hank ataupun Khansa sama-sama tidak sadar kalau Adrian sudah memberikan tatapan dinginnya kepada Ariana. Ariana sendiri mengabaikan tatapan Adrian lalu dengan santai mengambil ponselnya dari dalam tas. Ia mencari kontak Ethan lalu melakukan panggilan.
Ariana baru tersadar beberapa saat kemudian. Harusnya ia tidak melakukan hal ini. Harusnya ia janjian dulu dengan Ethan. Bagaimana kalau Ethan saat ini sedang sibuk? Bagaimana kalau lelaki itu tidak bisa datang?
Sudah terlanjur, batin Ariana. Ia meneruskan panggilannya, menunggu orang di seberang menjawab.
Ariana bersyukur saat ia mendengar suara Ethan di seberang.
“Halo..” Sekarang ia malah ragu mau meminta Ethan datang. Tetapi saat dilihatnya wajah Hank dan Khansa yang berbinar tak sabar, ia menyerah.
“Emm… Apa kau sedang sibuk sekarang?” tanya Ariana berhati-hati. Jantungnya berdegup kencang. Ia sungguh tegang. Takut, kalau-kalau Ethan menolaknya.
“Tidak. Ada apa, Ary?”
Jawaban Ethan di seberang membuat Ariana menghela nafas lega.
“Aku sedang berkumpul bersama teman-temanku. Bisakah kau datang kesini dan bergabung bersama kami?”
Pertanyaan yang terdengar biasa, tapi Ariana sungguh malu mengucapkannya. Ini adalah pertama kalinya bagi Ariana melakukan hal seperti ini. Meminta Ethan datang hanya untuk memamerkannya.
Terdengar hening sesaat sebelum akhirnya Ariana mendengar kekehan. “Oh, aku mengerti. Apa kau mau mengenalkanku pada teman-temanmu?”
Pertanyaan Ethan tepat mengenai ulu hati Ariana. Ia tertohok. “Be.. benar.” Jawabnya sambil tergagap.
“Baiklah, kirimkan alamatnya. Aku akan berpakaian rapi agar kau tidak malu.”
“Kutunggu, terima kasih…” Ariana menghela nafas panjang. Rasanya seperti mengangkat beban ratusan kilo.
Setelah panggilan selesai, Khansa bertepuk tangan heboh. “Hebat! Akhirnya aku bisa melihat pacar Ariana!”
“Benar! Aku hampir tidak pernah melihat Ariana berpacaran! Aku ingin tahu sehebat apa pacarnya itu.” Hank ikut berseru antusias.
Mereka sudah tidak sabar bertemu dengan Ethan. Khansa dan Hank terus-terusan bertanya pada Ariana tentang bagaimana sosok Ethan, apa yang membuat Ariana menyukai Ethan, dan banyak lagi. Ariana hanya mengarang bebas saat pertanyaan-pertanyaan itu menyerangnya. Ia membiarkan jawabannya mengalir. Saat dirasa pertanyaan yang ditanyakan tidak bisa ia jawab, Ariana hanya tersenyum simpul lalu beralasan untuk menanyakan langsung pada Ethan saat orangnya tiba nanti.
Di tengah kehebohan itu, Adrian memasang wajah paling muram. Ia tiba-tiba memukul meja membuat keheningan tercipta.
“Aku akan pergi kalau dia datang!” serunya. Adrian terlihat kesal dan marah, benar-benar marah. Adrian tadinya berpikir kalau AKHA bertemu, ia bisa bersama Ariana tanpa dijauhi. Tapi kalau Ethan datang juga, apa bedanya dengan keadaan mereka saat di kantor? Ariana akan menjauh darinya, atau Ethan akan menghalanginya untuk mendekat ke Ariana. Semua akan menjadi sama saja!
Melihat Adrian yang begitu marah, Khansa dan Hank saling bertatapan bingung.
“Kenapa kau begitu kesal?” Khansa bertanya dengan polosnya.
Sementara Hank, mengamati raut wajah Ariana lalu Adrian, bergantian. “Apa kamu tidak akur dengan pacar Ariana?” Untuk sementara, hal itulah yang bisa Hank simpulkan.
Adrian tidak menjawab. Tidak pertanyaan dari Khansa, tidak pertanyaan dari Hank. Ia tidak menjawab kedua pertanyaan itu. Ia hanya menoleh lalu memandang ke arah Ariana.
“Kalau dia datang, aku pergi.” Ucapan Adrian seolah ingin mengancam Ariana. Secara tidak langsung meminta Ariana memilih dirinya atau Ethan, sahabat atau pacar?