Setelah semalam Ariana tidak bisa tidur nyenyak karena menyusun banyak dugaan, sekarang ia merasa sedikit mengantuk. Beberapa kali ia menguap saat sedang menyetir. Ethan yang hari ini melihat kantung mata tebal Ariana di balik polesan make up, meminta Ariana untuk menepi.
“Tolong berhenti di sana.” Ethan menunjuk sebuah tempat. Ariana melihat arah yang ditunjuk oleh Ethan. Ia mengangguk lalu memarkirkan mobilnya di depan sebuah minimarket.
“Aku tunggu di sini saja.” Ariana pikir Ethan berniat membeli sesuatu di toko tersebut. Maka dari itu ia mengatakan kalau ia akan menunggu di dalam mobil saja, karena memang Ariana tidak ingin membeli apapun
Ariana mengira Ethan akan mengangguk lalu segera beranjak pergi, tapi hal itu tidak terjadi. Ethan malah mengulurkan tangannya ke arah Ariana, membuat wanita itu bingung.
“Kenapa? Apa yang mau kamu lakukan?” Melihat Ethan yang tidak menghentikan pergerakannya, Ariana menangkap tangan Ethan yang sekarang sudah ada tepat di depan tubuhnya. “Kamu mau apa?” tanya Ariana lagi. Ia tidak bisa menduga apa yang ingin dilakukan Ethan, kenapa lelaki ini seolah ingin menyentuh badannya? Apakah Ethan berniat jahat padanya?
Mendengar kepanikan Ariana dan juga ekspresi kecurigaan dari wanita itu, Ethan terkekeh. “Aku tidak akan melakukan apapun!” jawabnya dengan senyum lebar yang mengembang. “Aku hanya ingin melepaskan sabuk pengamanmu..”
Ariana menjadi salah tingkah. Ia mengalihkan pandangan untuk menutupinya. “Ke… kenapa mau buka sabuk pengaman?” Tanyanya kemudian, masih dengan mata yang tidak mau memandang Ethan. Ariana masih mencoba mengandalikan raut wajahnya. Ia tidak ingin Ethan melihatnya dengan pipi merona karena malu, malu dengan otaknya yang tidak bersih padahal hari masih pagi.
“Aku mau menggantikanmu menyetir karena kamu sepertinya mengantuk sekali…”
Ariana semakin malu saja mendengar jawaban Ethan. Sungguh jauh meleset dari apa yang ada dalam benaknya.
“Aku tidak ingin terjadi sesuatu. Kalau kau mengantuk, biarlah aku yang menyetir.”
Karena tidak memiliki alasan untuk menolak, Ariana mengangguk. “Biar aku lepaskan sendiri.” Dengan cepat Ariana menggerakkan tangannya untuk melepaskan sabuk pengaman. Setelah lepas, ia memandang Ethan sekilas lalu membuka pintu mobil. Ethan yang melihatnya, ikut melakukan hal yang sama seperti Ariana.
Keduanya keluar dari mobil lalu berjalan berpapasan untuk bertukar tempat. Ariana dan Ethan pun masuk kembali ke dalam mobil, tapi kali ini dengan posisi yang berbeda. Ethan ada di kursi kemudi, sedangkan Ariana ada di kursi penumpang yang ada tepat di samping Ethan.
Setelah memasang sabuk pengaman masing-masing, Ethan mulai menjalankan mobil Ariana. “Harusnya aku melakukan hal ini sejak hari pertama..”
“Hm?” Ariana menanggapi ucapan Ethan dengan gumaman. “Melakukan apa?” pertanyaannya datang menyusul.
“Harusnya aku yang menyetir saat kau menjemputku.” Ethan memberikan ungkapan menyesal saat menatap Ariana. Ia merasa tidak peka dengan membiarkan wanita itu menyetir untuknya selama ini.
“Dan juga saat pulang. Aku yang akan mengemudi. Jadi kamu bisa beristirahat.”
Tak bisa dipungkiri, Ethan memang perhatian. Ariana memberikan senyumnya, “Baiklah…” jawabnya kemudian.
“Bagus kalau begitu.” Ethan membalas senyum Ariana sekilas lalu kembali fokus pada jalan yang ada di hadapannya. “Kau tidurlah, akan kubangunkan saat kita tiba nanti.”
“Ide yang bagus,” Ariana menyetujui usulan Ethan. Ia memang merasa begitu mengantuk, matanya sungguh berat. Ariana pun mencari pose yang nyaman untuk memejamkan matanya.
Ariana merasa baru sedetik ia tertidur, tapi nyatanya mereka sudah hampir tiba di kantor. Ethan bahkan sudah memasuki lahan parkir gedung perusahaan mereka. Ia sedang mencari tempat kosong untuk memarkirkan mobil Ariana.
Menguap sekali, Ariana mengecek ponselnya. Hal yang membuat ia terbangun. Sebuah pesan dari grup AKHA, kelompok eksklusif saat dirinya masih sekolah dulu. Geng yang berisikan empat orang; Adrian, Khansa, Hank dan Ariana.
AKHA, merupakan nama grup yang dibuat dari inisial huruf pertama nama masing-masing anggotanya; A pertama untuk Adrian Kenneth yang waktu itu bertindak sebagai ketua mereka, K untuk Khansa Nelson, H untuk Hank Hugh, dan A yang terakhir untuk Ariana Shaenette. Sebenarnya kelompok ini terbentuk begitu saja, ketika di high school tingkat akhir, ketiga teman semeja Ariana menghampirinya dalam waktu yang bersamaan. Adrian adalah teman semeja Ariana ketika di tingkat pertama, Hank di tingkat kedua, dan Khansa di tingkat ketiga. Kedatangan mereka yang bersamaan membuat keempat remaja itu saling menyapa, kemudian mengobrol tanpa canggung. Saat itulah Khansa mengusulkan mereka untuk membuat kelompok saja.
Semasa sekolah mereka sering berkumpul bersama, hanya sekedar untuk mengobrol ataupun jalan-jalan. Kian hari mereka semakin dekat. Masa sekolah mereka habiskan dengan bermain bersama, hingga akhirnya kuliah. Keempat sahabat ini memilih untuk melanjutkan pendidikan di universitas yang sama. Persahabatan mereka kian erat, dan tidak terpisahkan. Hal itu berlanjut sampai saat ini. Keempatnya masih sering bertukar kabar lewat chat dan juga sesekali bertemu jika ada waktu luang.
Ariana membaca pesan masuk dari Khansa, ia mengajak ketiga temannya yang lain untuk bertemu akhir pekan ini. Pikiran Ariana terbang sejenak, ia mengingat lagi apakah ada sesuatu yang perlu ia lakukan hari Sabtu nanti? Sepertinya tidak ada.
Khansa: Ayo meet up Sabtu nanti.
Hank: Jam?
Khansa: Pagi
Hank: Okay
Khansa: @Ariana @Adrian
Khansa: Datanglah kalian nanti aku share lokasinya
Hank: Kenapa hanya aku yang tidak ditag?
Khansa: Kau kan sudah menjawab
Hank: Kau pilih kasih
Khansa: @Hank @Hank @Hank @Hank @Hank @Hank @Hank @Hank @Hank @Hank
Hank: HEY!
Ariana tersenyum simpul melihat chat antara Khansa dan Hank. Sedari dulu memang mereka yang paling ribut kalau sedang berkumpul. Hank yang seringkali cari perhatian sering adu mulut dengan Khansa yang cerewet. Mereka tidak bisa diam, tapi kalau mereka tidak ada justru tidak seru. Biasanya Adrian dan Ariana hanya menonton mereka berseteru.
Jari Ariana sudah siap di keyboard, ia ingin menjawab. Tapi, belum sempat ia menekan tombol kirim, Ariana melihat kontak Adrian yang masih mengetik. Gerakannya otomatis tertahan.
Apakah Adrian akan datang juga? Apa sebaiknya dia tidak datang kalau Adrian datang?
Memilih untuk menunggu balasan dari Adrian muncul terlebih dahulu, Ariana menahan ibu jarinya. Beberapa detik kemudian balasan dari Adrian tampak di layar ponselnya.
Adrian: Tentu saja aku akan datang.
Ariana menggigit bibir bawahnya. Adrian datang. Sekarang ia menjadi semakin ragu untuk datang. Kalau ia juga datang bukankah keadaan akan menjadi ccanggung antara dirinya dan Adrian? Tapi kalau tidak datang ia merasa tidak enak pada Khansa dan Hank. Apalagi mereka memang sudah jarang sekali berkumpul. Kalau ia menolak sudah bisa dipastikan yang lain akan mengecap dirinya sombong. Sementara Ariana masih sibuk menimbang, pesan beruntun masuk di grup tersebut.
Khansa: @Ariana kau juga harus datang
Khansa: Aku tahu kau sudah membaca pesan ini
Khansa: Awas saja kalau kau tidak datang, aku akan mengebom rumahmu
Terkekeh geli Ariana membaca pesan dari Khansa barusan. Mengebom dengan apa coba? Diapers anaknya?
Khansa memang sudah lama menikah dan memiliki seorang putra. Ia seringkali mengajak putranya ikut serta. Putra Khansa memang lebih menyukai Ariana dibanding Adrian atau Hank. Malah Ariana sudah mengundang Khansa untuk berkunjung ke apartemennya, tapi Khansa saja yang masih sungkan. Khansa bilang ia tidak ingin merepotkan Ariana, yang langsung dibalas dengan tampang mual oleh Ariana. Takut merepotkan memang bukan gaya AKHA. AKHA justru dibuat untuk bisa merepotkan satu sama lain, karena itulah gunanya teman.
Sepertinya, Ariana harus mengesampingkan sejenak masalah pribadinya dengan Adrian. Ia akan ikut berkumpul. Ia sendiri sudah rindu dengan ocehan Khansa dan gurauan Hank yang garing. Pasti akan seru nanti.
Me: Iya, aku akan datang
Ariana mengirimkan pesan persetujuannya yang langsung dibalas oleh emoticon kiss dan hati oleh Khansa. Sekarang, Ariana hanya bisa berharap, mudah-mudahan Adrian tidak bersikap menyebalkan saat mereka hang out bersama Sabtu nanti.
***
Hari berlalu dengan cepat. Tidak ada hal khusus yang terjadi, hanya beberapa pertemuan dengan para bos dan juga perusahaan rekanan. Adrian tidak banyak bertingkah di kantor karena kebetulan saja tugas mereka sedang sangat banyak. Ada tumpukan deadline dan juga request yang harus diselesaikan segera. Kadang untuk bersantai setelah makan siang saja mereka tidak punya waktu.
Pesan dari Adrian juga menjadi lebih sedikit. Ia lebih kalem dalam mengirimkan pesan, tidak bertubi-tubi dan juga tidak melakukan panggilan terus-menerus. Ariana mulai merasa kalau mereka sudah memiliki hubungan pertemanan yang normal saat ini. Lelaki itu hanya mengirimkan beberapa pesan dalam sehari, terkadang hanya mengucapkan selamat pagi atau selamat malam atau selamat tidur. Beberapa kali ia menanyakan apa yang tengah Ariana lakukan. Kalau sedari awal pesan Adrian hanya sebatas itu, mungkin Ariana tidak perlu menjauhinya seperti sekarang.
Selain hubungannya dengan Adrian yang semakin membaik, hubungan Ariana dengan Ethan juga sangat baik. Ethan menjalani perannya sebagai pacar Ariana dengan baik. Mereka juga masih berangkat dan pulang kerja bersama. Ethan masih sama perhatiannya pada Ariana. Sekarang, pesan dari kedua cowok itulah yang memenuhi kotak masuk di ponsel miliknya.
Sekarang sudah hari Sabtu, Ariana sedang bersiap untuk berangkat hang out dengan AKHA. Ia sudah selesai mandi dan memilih untuk mengenakan setelan kasual, celana panjang denim dengan kaos polos. Ia tidak ingin menggunakan rok atau dress. Sudah terlalu sering Ariana menggunakannya untuk urusan pekerjaan.
Usai memulas dandanan natural, Ariana meraih tas dan juga kunci mobilnya. Khansa sudah mengirimkan tempat janjian mereka sejak setengah jam yang lalu. Ariana harus berangkat sekarang kalau ia tidak ingin mendapatkan omelan dari wanita itu. Khansa memang selalu datang lebih awal.
Tapi sayang sekali, tampaknya keberuntungan belum berpihak pada Ariana. Hari ini adalah akhir pekan yang sangat ramai. Jalanan begitu sibuk dan menyebabkan kemacetan dimana-mana. Ariana terlambat lebih dari 30 menit.
“Lama sekali!” gerutuan Khansa adalah hal pertama yang Ariana dapatkan saat ia tiba.
Dengan sebuah cengiran Ariana membalas Khansa. Ia mengucapkan maaf lalu mengatakan kalau jalan sedang sangat macet.
Karena datang terakhir, tinggal tersisa tempat duduk di sebelah Adrian, Ariana pun duduk di sana setelah mengucapkan halo pada Adrian yang ada di sampingnya dan Hank yang ada di hadapannya.
“Apa kamu mau memesan sesuatu?” Adrian menyodorkan menu café kepada Ariana. Ariana menerimanya tanpa menjawab. Ia merasa canggung saja sedekat itu dengan Adrian.
“Yang datang terakhir yang mentraktir,” ujar Hank sambil melirik Ariana.
Ariana terkekeh lalu berucap, “Baiklah… Pesan sebanyak yang kau mau…”
“Tentu saja!” jawab Hank bersemangat. “Aku akan memesan sangat banyak lalu memakannya sampai perutku terasa seperti ingin meletus!”
“Memalukan!” Khansa menepuk lengan Hank yang kemudian disusul oleh balita yang ada di pangkuannya, memukul lengan Hank juga.
“Astaga…” Hank memasang raut wajah tak percaya yang dibuat-buat. “Bagaimana ini? Bahkan baby Mike juga ikut memarahiku!”
Baby Mike adalah nama panggilan yang dibuat Hank untuk putra Khansa. “Memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya!” seru Hank. “Mike galak sepertimu.”
“Atau galak karena menirumu,” Adrian ikut berbincang.
“Kalian semua salah. Dia seperti itu hanya kepadamu!” tunjuk Khansa tepat di depan wajah Hank. “Dia baik-baik saja dengan Ariana…”
Mike sekarang sudah merangkak menuju ke pangkuan Ariana. Ia kemudian duduk manis di sana. Ariana tampak mengajak Mike berbincang sambil menunjuk buku menu, seolah mengajaknya memilih pesanan.
“Andai saja Mike adalah anak Ariana, pasti ia akan bersikap lebih baik..”
Mendengar ucapan Hank, Khansa mengumpat lalu mencekik leher lelaki itu. Perdebatan pun dimulai seperti biasa. Adrian dan Ariana hanya menonton sambil sesekali menimpali.
“Mulutmu berisik sekali!” Khansa memberikan sebuah cubitan ke Hank, yang dijawab dengan sebuah pekikan karena saking sakitnya. “Lihat saja kalau kau sudah punya anak nanti. Aku yakin anakmu akan sama sepertimu, playboy menyebalkan!”
Hank tertawa renyah mendengar kutukan Khansa. “Akan kupastikan itu tidak terjadi. Calon istriku nanti haruslah seorang gadis baik-baik. Dan anakku akan mengikuti ibunya..”
“Cih!” Khansa berdecak tak percaya. “Mana ada gadis baik-baik yang mau dengan cowok mata keranjang sepertimu? Kalau saja yang berbicara barusan adalah Adrian mungkin aku akan sedikit percaya.”
Adrian membuat sedikit lengkungan di wajahnya. Ia tersenyum simpul. Wajah Hank memang lebih menarik darinya, makanya lelaki itu lebih mudah mendapatkan wanita. Para wanita mendekatinya dengan sukarela, membuat Hank tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Alhasil, Hank menjadi seorang playboy.
Kalau Adrian, ia sedikit berbeda. Ia memang cukup menarik, dengan badan berpostur besar dan tegap, wajah Adrian yang terlihat dewasa membuat tidak sedikit wanita yang meliriknya.
“Ya… ya…” Hank mengangguk malas. “Adrian memang beruntung mendapatkan seorang wanita cantik dan super kaya serta seorang putri yang manis. Aku sungguh iri.”