Sepeninggal Ariana dan Ethan, Adrian hanya bisa menyumpah. Ia tidak menyangka kalau Ariana akan meninggalkannya seperti ini. Dalam mimpi pun tidak pernah, apalagi kenyataan.
Ariana sudah berubah banyak. Sebelumnya Adrian tidak menduga kalau perubahan Ariana akan sedrastis ini. Ia tentu saja tahu kalau Ariana mencoba menjauhinya, tapi ia tidak menduga kalau sampai seperti ini, setega ini padanya.
Sebenarnya bukan hanya sekali dua kali Ariana mencoba menjauhi Adriana. Sahabatnya itu memang pernah mencoba melakukannya, tapi Adrian selalu bisa membuat Ariana kembali. Dan selama ini hal itu selalu berhasil. Ariana yang memang sebenarnya berhati lembut, bisa dengan mudah ia bujuk. Tapi sekarang berbeda.
Sekarang sangat berbeda.
Dan semua itu karena Ethan.
Saat awal Ethan masuk ke dalam ruangan mereka, Adrian memang merasa tidak asing. Terlebih setelah lelaki itu memperkenalkan diri, Adrian sedikit mengingat kalau ia memang mengenal Ethan. Namun karena menurut Adrian kehadiran Ethan tidak berbahaya sama sekali, maka ia memilih untuk mengabaikan lelaki itu.
Hanya saja sejak insiden kedatangan Clarissa, seolah pilihan yang dibuat oleh Adrian menjadi salah. Harusnya sejak awal ia menjauhkan Ethan dari Ariana, bukannya berpuas diri dengan hubungannya dan Ariana saat itu. Ia harusnya waspada dengan semua lelaki yang ada di dekat Ariana. Kalau saja Adrian tidak memandang Ethan sebelah mata karena menganggap level mereka jauh berbeda, Adrian tidak akan kecolongan seperti ini.
Awalnya Adrian mengira kalau Ethan hanyalah cowok pendiam karena memang dulunya lelaki itu adalah seorang kutu buku. Ia beranggapan kalau Ethan hanyalah cowok cupu yang tidak akan berbahaya untuknya, bukan saingannya. Tapi nyatanya lelaki itu lebih berbahaya dari yang ia kira. Air yang tenang memang lebih menghanyutkan. Ethan diam-diam menikamnya dari belakang, mengambil alih Ariana dari sisinya, merebut semua perhatian Ariana yang sebelumnya hanya untuknya.
Semenjak Ariana mengakui Ethan sebagai pacarnya, keadaan perlahan berubah untuk Adrian. Sebelumnya Adrian berpikir kalau Ariana butuh waktu untuk pulih dari syok karena ulah Clarissa. Ia memaklumi tindakan gegabah Ariana yang mengakui Ethan sebagai kekasih di depan para bos. Adrian mengira kalau hal itu tidak akan berlangsung lama, tapi sayangnya ia salah.
Semua terjadi di luar perkiraan Adrian, membuat kekacauan yang tak pernah ia bayangkan. Dan ia tahu penyebab semua itu, Ethan. Lelaki itu pasti dengan lihainya sudah mempengaruhi Ariana untuk menjauhinya. Entah apa yang dibisikkan si br*ngsek itu kepada Ariana, sampai-sampai Ariana segigih ini untuk menjauhinya.
“Awas saja kau, Ethan!” sungut Adrian kesal.
Dengan pikiran yang kalut ia meninggalkan ruangan, menuju ke lantai paling atas, ruangan terbuka yang menjadi smoking area kantor. Di sana, ia bertemu dengan sesama karyawan lain yang juga sedang menikmati waktu santai mereka. Salah seorang rekan kerja yang ia kenal menawarkan tembakau padanya, yang kemudian diterima Adrian.
Sebenarnya sudah sejak lama Adrian berhenti menghisap benda berasap itu. Tapi sekarang, sepertinya ia membutuhkan ketenangan, dan benda yang ada di tangannya saat ini bisa membantu.
“Ary….” Adrian menggumamkan nama Ariana sambil memutar otaknya. Ia sedang berpikir harus bagaimana caranya untuk mengembalikan Ariana seperti dulu, membuat Ariana selalu ada di dekatnya. Dan Adrian tahu caranya, ia harus segera menjauhkan Ethan dari Ariana, menyingkirkan akar dari masalah yang membuat hidupnya susah.
“Caranya…”
Adrian mulai berpikir keras. Setelah beberapa saat memutar otak, ia tersenyum miring. Sepertinya Adrian tahu apa yang harus ia perbuat. Ia memang tidak bisa menjamin kalau cara yang ia rencanakan akan berhasil seratus persen, tapi setidaknya Ariana tidak akan menjauh darinya lagi. Tidak akan seperti sekarang.
“Kemarin aku hanya membiarkanmu tenang sementara, Ariana. Tapi sekarang tidak lagi…” gumaman Adrian bisa membuat orang yang mendengarnya bergidik ngeri. Bukan hanya dengan nada dingin, tapi ia mengucapkannya dengan ekspresi licik. Raut wajah yang semua orang tahu pasti ada niat buruk di balik itu semua.
Hari kemarin Adrian memang sengaja tidak mengirim pesan dan melakukan panggilan. Ia hanya tidak ingin mendapati Ethan yang menjawab panggilannya atau mungkin saja membalas pesan-pesannya. Tapi hari ini tidak lagi. Mereka tidak akan bersama hari ini, Ariana dan Ethan tidak akan bersama. Adrian bisa memastikan hal itu. Ia hanya perlu menjalankan rencananya. Perlahan tapi pasti, Ariana akan kembali padanya, menjadi sahabat yang selalu ada untuknya, dan itu tidak akan pernah berubah. Ethan akan menundukkan kepalanya pada Adrian saat rencananya berhasil. Lihat saja bagaimana ia nanti bisa menaklukkan keangkuhan pacar bohongan Ariana itu.
***
Ariana sudah was-was dengan apa yang terjadi saat waktu istirahat mereka selesai. Di dalam kepalanya tengah terlintas bayangan-bayangan perkelahian yang mungkin terjadi saat dirinya dan Ethan kembali ke ruangan. Dan kali ini mungkin ada Jane dan Grace yang akan menonton. Suasana pasti menjadi lebih buruk dan mungkin tidak terkendali. Memikirkannya saja Ariana sudah merasa lelah.
Ethan tentu saja mengetahui hal itu. Ia berusaha meyakinkan Ariana bahwa tidak akan terjadi apapun. Ethan juga berjanji kalau ia tidak akan melakukan sesuatu yang mungkin memancing emosi Adrian lagi. Ia tidak ingin Ariana terkena masalah tentunya.
Dengan langkah berat akhirnya Ariana kembali ke ruangan. Sebelum masuk ia menarik nafas panjang, sambil berdoa dalam hati berharap kalau setelah ini tidak akan ada apapun yang terjadi.
Ternyata kekhawatiran Ariana sama sekali tidak berdasar. Ia bisa melihat Adrian yang terduduk diam menatap layar komputernya, bekerja. Lelaki itu bertindak seolah tidak ada apapun terjadi. Ariana merasa sangat aneh, ia bahkan sempat melirik ke arah Ethan sesaat, seolah menyalurkan kebingungannya. Tapi sepertinya Ethan juga tidak tahu kenapa, lelaki itu hanya menunjuk ke tempat Ariana, meminta Ariana untuk duduk lalu fokus dengan pekerjaannya saja.
Berjam-jam berlalu dan Adrian benar-benar tidak melakukan apapun. Pria itu hanya fokus bekerja. Ini membuat Ariana senang sekaligus khawatir. Apa Adrian akan terus seperti ini? Atau nanti lelaki itu akan tiba-tiba membuat masalah?
Sampai pada saat jam kerja berakhir, Adrian tetap tenang. Ia pun berpamitan pulang dengan normal.
Ethan menghampiri Ariana yang masih terbengong tak percaya. Hari ini berakhir tanpa drama, padahal Ariana sudah mengira mungkin akan terjadi sesuatu yang menghebohkan, tapi ternyata tidak ada. Tidak sampai separah itu.
“Ary…” Ethan mengibaskan tangannya di depan wajah Ariana, berusaha membuat wanita itu tersadar dari lamunannya.
Ariana mengerjap beberapa kali lalu memandang Ethan. “Ah, maaf. Aku sepertinya melamun..”
“Ya, aku tahu. Kau diam saja sedari tadi, padahal aku sudah memanggil namamu sampai suaraku serak.”
Keluhan Ethan membuat Ariana merasa tak enak hati. “Maafkan aku… Ayo kita pulang…” Dengan ringan Ethan menggandeng tangan Ariana, menuntunnya dengan mesra menuju tempat parkir, membiarkan semua orang yang berpapasan dengan mereka menyaksikan dengan jelas seberapa romantisnya dirinya dengan Ariana.
Selama di perjalanan Ariana hanya menyetir dalam diam. Ethan merasa itu sangat aneh karena Ariana selalu mengajaknya mengobrol. Ia memandang Ariana dengan tatapan menyelidik. Dilihatnya wanita itu hanya fokus, menatap jalan dengan pandangan lurus.
“Ary, kau bisa bercerita padaku…”
“Hm?” Ariana tidak mendengar ucapan Ethan karena sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia menoleh sebentar lalu bertanya, “Apa yang kau bilang barusan? Maaf aku—“
“Ariana…” Ethan berdeham beberapa kali. “Aku sudah berulang kali mendengar maafmu hari ini. Tapi sungguh, bukan hal itu yang aku butuhkan…”
“Ma—“ Ariana hampir saja mengucapkan maaf lagi. Menyadari hal itu, ia segera menutup mulutnya rapat.
“Bagus kalau kau paham..” Ethan terkekeh kemudian. “Jadi sekarang ceritakan saja kepadaku apa yang ada di dalam kepalamu itu?”
Ariana menghela nafas panjang, Ethan pun menunggu, tapi wanita itu tidak mengucapkan satu kata pun setelahnya.
“Jangan sampai aku ingatkan lagi tentang statusku, Ary…”
Ariana terdiam sejenak, berpikir. Ia sebenarnya tidak berharap banyak pada Ethan yang jelas-jelas hanya berstatus boyfriend by request, pacar yang ada karena permintaan. Tapi Ethan melakukan perannya sebaik itu. Ia bertindak seperti benar-benar perduli dan bertindak seolah Ariana adalah kekasih betulan.
“Aku pikir status kita hanyalah rekayasa, Ethan…”
Mendengar ucapan Ariana, wajah Ethan tampak terpukul. Ariana merasa ia sudah salah bicara. Ethan terdiam seketika, sehingga keadaan menjadi sunyi dan sangat canggung. Tidak ada lagi obrolan, apalagi canda tawa seperti yang sehari-hari mereka lakukan untuk mengisi waktu selama perjalanan. Keadaan menjadi sangat berbeda karena satu kalimat dari Ariana.
Ariana kehabisan kata. Ia ingin memperbaiki ucapannya, tapi ia sendiri tidak tahu harus berkata apa. Apakah ia harus meralat status mereka? Atau apa?
“Ethan, ma—“ Ariana menggeleng kemudian. Salah, ia harusnya tidak mengucapkan kata maaf lagi karena Ethan tidak ingin mendengarnya. “Itu… aku… hanya sedang memikirkan tentang Adrian…”
Karena tidak bisa melakukan apapun mengenai status mereka, Ariana berusaha untuk mengalihkan topik menuju ke permasalahan awal, yaitu pertanyaan Ethan.
“Aku hanya merasa aneh karena Adrian bisa setenang tadi. Aku kenal Adrian, dengan sangat baik. Kami sudah berteman selama bertahun-tahun, dan aku tahu ia bukan seseorang yang bisa langsung meredam kemarahannya. Aku hanya… sedikit khawatir…”
Ethan mendengarkan Ariana dengan seksama. Ia sedikit mengesampingkan keterkejutannya barusan. Ia tahu kalau ia sebaiknya tidak membahas masalah itu. Ia tidak mau membuat Ariana tidak nyaman dengannya.
“Aku mengerti…” Ethan mengangguk pelan. “Sebaiknya kamu lebih berhati-hati saja…”
Ariana mengangguk pelan.
Ethan ingin sekali mengatakan pada Ariana tentang seperti apa sebenarnya Adrian itu. Tentang masa lalu yang terjadi antara dirinya dengan Adrian. Hanya saja, sekarang belum waktunya. Ethan bisa menjamin kalau Ariana pasti akan lebih berpihak pada Adrian. Adrian yang jelas adalah sahabatnya, bukan dirinya. Ethan sadar kalau dirinya hanyalah seorang kenalan lama yang baru saja menjadi akrab belakangan ini.
“Kalau terjadi sesuatu, segera katakan padaku. Dan jangan menutupi apapun.”
“Baik, Ethan…” Ariana menjawab dengan raut wajah patuh sambil tersenyum. Ia membuat Ethan mengacungkan kedua ibu jarinya, memberikan kode bagus.
“Bisa kau ganti Ethan dengan kata ‘sayang’?” Ethan sengaja mengedipkan sebelah matanya genit, mencoba untuk membuat suasana canggung diantaranya dirinya dan Ariana memudar.
Ariana tidak langsung menjawab permintaan Ethan, ia hanya tersenyum simpul. “Mungkin nanti…”
***
Setelah Ariana mengantarkan Ethan, ia segera kembali ke apartemennya sendiri. Sebelum mereka berpisah tadi, Ethan sudah memberikan pesan macam-macam. Seperti jangan lupa makan malam dan tidak perlu terlalu banyak berpikir.
“Aku rasa aku memang terlalu banyak berpikir…”
Ariana meletakkan piring bekas makan malamnya ke wastafel. Ia baru saja menyelesaikannya setelah membalas beberapa pesan dari Ethan. Sekarang Ariana sedang bersiap untuk tidur. Dengan langkah pelan ia berjalan menuju ranjang.
Setelah merebahkan dirinya dengan nyaman di atas benda empuk tersebut, Ariana kembali mengecek ponselnya. Dan saat itulah pandangannya tertuju pada pesan terakhir dari Adrian. Kalau siang tadi ia merasa lega karena Adrian berhenti mengiriminya pesan dan menghubunginya, sekarang Ariana malah berubah khawatir.
Ariana tahu kalau harusnya ia tidak berpikir seperti ini, tapi Ariana merasa ada yang hilang. Apakah itu persahabatan mereka yang perlahan hancur?
“Apa aku telah melakukan kesalahan?” Ariana meragu sendiri. Ia tahu harusnya ia tidak begitu. Ethan sudah mengatakannya dengan jelas kalau Ariana lebih baik tidak terlalu dekat dengan pria beristri, meskipun orang itu adalah sahabatnya. Ariana tidak bisa menyangkal hal itu. Tapi di sisi lain ia juga merasa tidak terima. Kenapa tidak bisa? Bukankah selama hubungan mereka hanya sebatas pertemanan itu tidak mengapa?
Dilema mulai menguasai pikiran Ariana. Ia yang sebelumnya sudah yakin dengan keputusannya, sekarang mulai goyah. Mata Ariana tertuju pada pesan terakhir dari Adrian. Apa ia harus mengirimkan pesa? Setidaknya mengingatkan makan?
Mungkin tidak, batin Ariana. Setelah dipikir lagi, Adrian memiliki seorang istri yang pastinya akan mengingatkannya. Ariana tidak perlu repot-repot untuk melakukan hal itu.
Alhasil setelah bengong karena bingung sendiri mau mengirim pesan atau tidak, Ariana dikagetkan oleh notifikasi pesan, dari Adrian.
Astaga, apa sedari tadi Adrian tahu kalau ia sedang memperhatikan pesan dari lelaki itu? Apa Adrian sadar kalau ia sudah mulai merasa bersalah? Jangan-jangan lelaki itu sudah tahu kalau hati Ariana mulai goyah?
Ariana perlahan membuka pesan dari Adrian. Ia membaca pesan tersebut dalam waktu kurang dari sedetik kemudian ia mengernyitkan dahinya. Pesan yang sangat singkat, hanya ada tiga kata.
Selamat tidur, Ary.
Ariana sampai mengerjap tak percaya karena pendeknya pesan tersebut. Ini pertama kalinya Adrian mengirim pesan sesingkat itu. Ariana menunggu, dan tidak ada pesan-pesan berikutnya yang masuk. Pesan dari Adrian benar-benar hanya tiga kata yang ia baca barusan.
“Aku ini kenapa sih?” Ariana merutuki dirinya sendiri. Ia menyalahkan dirinya yang merasa kecewa, ralat, bukan kecewa tapi kaget. Kaget karena hanya mendapat pesan tiga kata. Ia tahu, ia harusnya senang jika Adrian memang benar-benar sudah tidak menerornya atau terus menempel padanya. Tapi entah kenapa perubahan yang tiba-tiba ini terasa begitu aneh. Seperti ada sesuatu di balik ini semua. Seperti akan terjadi sesuatu.