Sekembalinya dari business trip sebelumnya, Ariana merasa lebih baik. Ia merasa ada yang berubah, serius. Ia merasa lebih tenang dan pikirannya lebih rileks. Saat tiba di apartemen, Ariana segera beristirahat. Ia tertidur hingga sore menjelang. Dan karena terlalu malas untuk melakukan apapun, Ariana hanya merebahkan diri menonton acara TV yang ia tidak ingat apa sambil memakan beberapa cemilan.
Malam hari ia disapa oleh pesan singkat dari Ethan yang menanyakan apakah dia sudah makan malam atau belum. Karena terlalu asyik bersantai, Ariana bahkan tidak menyadari hal itu. Bersyukur Ethan mengingatkannya. Setelah itu, Ariana segera memesan makanan secara online. Usai makan, Ariana tidak ingat apapun lagi, sepertinya ia tertidur begitu saja, tanpa beban.
“Kau tampak segar hari ini…” Ethan memuji penampilan Ariana yang terlihat cerah saat menjemputnya di tempat biasa.
Ariana tersenyum simpul. “Ya, memang. Aku tidur nyenyak semalam. Kurasa aku beristirahat dengan baik.”
“Baguslah kalau begitu.”
Ariana menoleh sesaat kemudian ketika melihat Ethan sibuk mengacak isi tasnya. “Ada apa? Apa ada barangmu yang tertinggal?”
“Tidak.”
“TIdak usah sungkan. Aku bisa memutar balik mobilku. Lagipula kita belum terlalu jauh dan masih ada cukup waktu—“
Ucapan Ariana terputus saat sesuatu menyambut mulutnya. Ethan yang melakukan hal itu.
“Hmenghapahh…?” Ariana mengunyah lalu merasakan makanan yang dimasukkan Ethan ke dalam mulutnya. Itu adalah telur yang disuapi oleh Ethan. Ia menelannya, rasanya enak.
“Apa itu yang barusan?” tanya Ariana saat mulutnya sudah kosong.
“Omelette. Aku membuatnya tadi pagi, karena aku yakin kau belum sarapan.”
Astagaaaaaa…. Sekarang Ethan mulai memenuhi kriteria cowok Ariana. Ia sangat suka lelaki mandiri yang bisa memasak.
“Buka mulutmu lagi,” kali ini Ethan menyodorkan sesendok penuh.
“Serius Ethan, kau tidak perlu melakukan ini semua.” Ariana takut sendiri dengan perasaannya. Kalau begini terus-terusan, ia bisa jatuh. Benar-benar jatuh. Jatuh hati.
“Ini hanya ungkapan terima kasihku karena kau selalu menjemput dan mengantarku pulang. Ayolah, setidaknya biarkan aku mengucapkan terima kasih dengan benar.”
“Lagipula aku memang bangun lebih pagi tadi, jadi bisa menyiapkan semua ini.”
Ariana menyerah, ia membuka mulutnya lagi, membiarkan Ethan memasukkan makanan enak itu ke dalam mulutnya. Ethan terus melakukannya hingga semua makanan itu tandas.
“Terima kasih,” ucap Ariana saat Ethan membereskan tempat makan ke dalam tasnya.
“Iya, sama-sama.” Jawab Ethan. Tapi saat itu sepertinya lelaki di sampingnya bahkan belum selesai.
“Minumlah,” Kali ini Ethan mengeluarkan sebuah botol berwarna biru muda dengan sedotan. Ia mendekatkan sedotan itu ke Ariana, meminta wanita itu meminumnya.
Ariana pun menyesap minuman tersebut. Air yang dicampur potongan lemon, sangat menyegarkan dan membuat tenggorokannya terasa nyaman.
“Kau terlalu memanjakan aku.”
Ucapan Ariana yang blak-blakan membuat Ethan terkekeh. Ariana sangat serius saat ia mengatakan hal itu. Ethan terlalu baik padanya. Sebagai seorang pacar dengan perjanjian, harusnya Ariana yang memberikan kompensasi kepada Ethan, tapi kalau begini malah Ethan yang melakukan hal tersebut.
“Kau bisa mengandalkan aku…”
Ariana menoleh sebentar memandang Ethan, lalu pandangannya kembali lurus menatap jalan yang ada di hadapannya. Ia menarik nafas panjang. “Okay….” Ariana memutuskan untuk mengikuti jalan yang Ethan pilih. “Tapi setidaknya beritahu aku apa yang kau inginkan…”
Ethan memiringkan kepalanya sedikit mendengar pertanyaan Ariana. Ia tampak berpikir. “Hmmm….” Gumaman panjang saja yang keluar dari mulut Ethan.
“Apa ada sesuatu yang kau inginkan?” Ariana bertanya lagi. “Tidak perlu ragu, katakana saja. Aku akan mengiyakannya karena aku sudah berjanji.”
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Ethan menggeleng. “Tidak ada,” jawabnya singkat.
“Belum ada,” Ariana meralat jawaban Ethan. “Beritahu aku saat kau sudah menginginkan sesuatu…”
“Tapi aku memang benar-benar tidak menginginkan apapun—“
“Katakan padaku nanti jika kau sudah tahu. Berjanjilah.” Ariana mengabaikan jawaban Ethan. Ia sendiri yakin pasti ada hal yang diinginkan lelaki itu, mustahil kalau sama sekali tidak ada.
“Promise me, Ethan…”
Karena Ariana begitu ngotot, Ethan terpaksa mengiyakan. “Iya, baiklah… Aku akan mengatakan padamu. Aku berjanji…”
“Good!”
***
Ethan dan Ariana berjalan di lobby kantor bersisian. Mereka tampak berbincang dengan senyum mengembang. Kebersamaan Ethan dan Ariana memang secara perlahan mengikis gosip yang menimpa Ariana. Sudah tidak ada yang menggosipkan Ariana seperti sebelumnya. Entah benar-benar sudah tidak ada, atau memang Ariana sudah tidak begitu memperhatikannya. Yang jelas, Ariana sudah merasa lebih nyaman dengan kehidupan kantorannya yang sekarang.
“Pagi Jane, pagi Grace…” Ariana menyambut Jane dan Grace yang sudah duduk manis di meja mereka. Memang keduanya belum mulai bekerja, mereka hanya berbincang santai sambil minum kopi.
“Pagi,” ucap Ethan menyusul sapaan Ariana.
“Pagi, Ethan. Pagi, kak Ariana…” balas Jane dan Grace hampir bersamaan.
Ethan berjalan menuju tempat duduknya lalu meletakkan tasnya di sana. Ia menyalakan komputernya namun masih setia menyimak pembicaraan yang terjadi. Jam kerja belum dimulai, dan ia sedikit tertarik dengan obrolan para gadis.
“Kakak tampak senang hari ini…?” Jane bertanya lebih dulu, ia tidak tahan untuk tidak bertanya, melihat wajah Ariana yang begitu bersinar. Lebih dari biasanya.
“Benarkah?” Ariana memegangi pipinya sendiri.
“Apa ada sesuatu yang baik terjadi?” Grace masuk ke dalam obrolan mereka. “Apa karena perjalan kemarin?”
Ariana memberikan senyum lebarnya. “Ah, tentu saja! Itu karena perjalanan kemarin…”
Jane dan Grace berdecak tak percaya. Mereka terkekeh lalu heboh sendiri. Yang menjadi dugaan Jane dan Grace adalah Ariana dan Ethan yang menghabiskan malam bersama, sementara yang ada dalam benak Ariana hanyalah dirinya dan Ethan yang berhasil memenangkan kontrak baru bernilai fantastis. Sebenarnya apa yang ada di dalam otak mereka tidak sinkron sama sekali.
“Pagi…” Adrian masuk dengan tatapan lurus.
“Pagi…” jawab mereka berempat hampir bersamaan.
Tanpa basa-basi lanjutan, Adrian lanjut berjalan menuju tempatnya lalu bersiap untuk bekerja. Ariana mengernyit merasakan ada yang berbeda dari lelaki itu. Sepertinya Adrian sedang dalam suasana hati yang buruk.
Ariana kemudian teringat kembali kejadian sebelumnya yang terjadi antara dirinya dan Adrian. Pantas saja ia merasa lebih ringan, semua ini karena Adrian berhenti mengiriminya pesan sejak kemarin. Ternyata itulah sumber masalahnya, ia merasa tidak ada beban saat ini. Tidak ada panggilan memaksa, pesan beruntun atau perasaan bersalah.
Aku merasa tidak enak pada Adrian, tapi kurasa ini lebih baik. Ariana hanya bisa membatin lalu melangkah menuju tempatnya sendiri, mulai bekerja.
Waktu berlalu sangat cepat, hingga tak terasa waktu makan siang sudah tiba. Jane dan Grace sudah pergi ke kantin lebih dahulu, seperti biasa. Di dalam ruangan tertinggallah tiga orang, Ethan, Adrian dan Ariana.
“Ary…”
Ariana sedikit terkejut saat Adrian sudah berdiri di hadapannya. Pria itu berdiri sambil melipat kedua tangannya, menunjukkan aura dominan dari dirinya.
“Ada apa?” Ariana mencoba bersikap seperti biasa. Ia tahu kalau Adrian cepat atau lambat akan membahas masalah kemarin. Sekejap, Ariana melirik ke meja Ethan, lelaki itu ada di sana, seolah tahu kalau Ariana membutuhkannya. Ariana berharap Ethan akan membantunya nanti, untuk sekarang ia akan mencoba untuk mengatasinya sendiri.
“Kamu pasti tahu aku mau bicara tentang apa…” Adrian berjalan mendekat, kemudian duduk di depan kursi kosong yang ada di hadapan Ariana. Mereka hanya terhalang oleh meja.
“Tentang apa?” Ariana tidak ingin memancing kemarahan Adrian, tapi ia juga ingin Adrian mengatakan dengan jelas. Hal apa yang ingin temannya itu bicarakan.
“Kenapa kau tidak membalas pesan-pesanku? Bahkan orang lain yang menjawab panggilan dariku?!” Adrian menatap Ariana tajam, menunjukkan emosinya lewat kedua manik mata gelapnya.
Ariana tahu harusnya ia sudah siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Adrian. Tapi ia malah kebingungan sekarang, belum menemukan alasan yang tepat untuk itu semua.
“Apa kau tidak menganggapku teman lagi?”
Mulai lagi dengan pertanyaan seperti ini. Ariana memijit pelipisnya. Adrian seolah tahu betul kalau kata pertemanan dan sahabat adalah hal yang bisa membuat Ariana tersentuh. Ia selalu tidak bisa mengelak.
“Sekarang kau sudah membuangku?” Adrian memicingkan matanya, menunggu jawaban dari Ariana, orang yang sudah membuatnya kecewa.
“Hanya sampai sini persahabatan kita? Kupikir kau lebih mampu menghargai aku!”
Ariana semakin bungkam. Ia seolah kehabisan kata. Otaknya tiba-tiba saja mandek, tidak bisa berpikir sama sekali. Tidak ada satu kata pun yang muncul di sana, tidak ada yang bisa ia gunakan untuk menjawab pertanyaan dan keluhan dari Adrian.
“Seorang teman harusnya bisa menghargai privasi temannya yang lain,” Ethan akhirnya maju untuk membantu Ariana. Dia tidak bisa menyaksikan Ariana yang terpojok terus-menerus.
“Aku kira ini pembicaraan pribadi antara diriku dengan Ariana,” Adrian meninggikan dagunya, mencoba membuat Ethan sadar kalau ia tidak ingin lelaki itu mencampuri masalahnya dengan Ariana.
“WAH! Ternyata kamu mengerti mengenai istilah ‘pribadi’.” Ethan sengaja menekankan nada pada kata pribadi. Dia menggunakan kata tersebut untuk menjadi sebuah ejekan tersendiri bagi Adrian.
“Jangan ikut campur!” Adrian bangkit dari kursinya lalu menghampiri Ethan. Ia berdiri tepat di depan lelaki itu, memberikan tatapan menusuk bagai es. Tatapan berisi amarah dan kekesalan yang diiringi dengan kebencian.
Ariana terduduk di kursinya, tegang. Ia menyaksikan kedua pria di hadapannya. Bingung harus bagaimana melerainya, harus membela pihak yang mana.
“Aku berhak untuk ikut campur, karena Ariana adalah calon istriku…” Ethan tidak berniat mundur sama sekali. Ia sedikit pun tidak merasa takut.
Kedua pria itu berdiri berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Walaupun belum ada yang bergerak, dan mereka hanya saling tatap, Ariana sudah cemas bukan main. Ia khawatir kalau sampai terjadi adu tinju antara keduanya.
“Berhentilah berpura-pura!” Dalam sekejap tangan Adrian sudah mencengkram erat kerah kemeja Ethan, berdesis dengan nada mengancam. “Aku tahu kalau kalian hanya berpura-pura pacaran!” Adrian berbicara tepat di telinga Ethan, suaranya begitu pelan hingga hanya Ethan yang bisa mendengarnya.
“Hentikan, Adrian!” Ariana akhirnya memiliki kekuatan untuk bangkit dari kursi. Ia harus menghentikan kedua lelaki ini. Jangan sampai ada drama lagi di corporate. Drama yang sebelumnya terjadi sudah cukup mencoreng namanya, Ariana merasa tidak perlu untuk menambah corengan tersebut.
Tangan Ariana sudah memegang pergelangan tangan Adrian, menarik tangan besar tersebut untuk melepaskan Ethan. Ia tidak ingin terjadi keributan lebih dari ini.
“Adrian, lepaskan sekarang juga!” Ariana sudah menatap Adrian dengan ekspresi marah. Ia harus bertindak tegas dan menunjukkan kuasanya. Sebagai atasan dari kedua lelaki ini, ia tidak bisa membiarkan perkelahian terjadi apalagi saat dirinya sendiri yang menjadi penyebabnya.
Sayangnya, kemarahan Ariana dianggap angin lalu oleh Adrian. Tangannya tetap memegang erat kerah Ethan sambil terus menatap tajam lelaki itu. Mungkin berharap kalau Ethan takluk dengan dominasinya, walaupun nyatanya tidak sama sekali.
“ADRIAN!” Nada Ariana meninggi. Pekikan yang cukup keras tersebut berhasil membuat Adrian menoleh lalu menatap Ariana. Sekarang Ariana sudah mendapat perhatiannya sepenuhnya.
“Ini di kantor,” desis Ariana. “Aku tidak bisa membiarkanmu membuat masalah di sini. Tidak selama aku menjadi atasan kalian.”
Adrian masih belum bergerak. Sepertinya ia belum puas kalau tidak melakukan apapun kepada Ethan.
“Adrian, lepaskan Ethan.” Ariana menghela nafas panjang. “Lepaskan atau aku terpaksa harus memanggil petugas dan memulangkanmu lebih cepat,” ancam Ariana.
Mendengar hal itu, Adrian mengernyit sesaat. Sepertinya ucapan Ariana berhasil membuat lelaki itu sedikit sadar.
“Kau tahu kalau aku bisa melakukan itu.” Ariana membuat nada bicaranya semakin mengancam. Ia juga menarik tangan Adrian. “Cepat lepaskan…”
Akhirnya Adrian mengendurkan cengkramannya. Ia membiarkan tangan Ariana menarik tangannya dari Ethan.
“Aku melepaskannya karena aku mengingat jabatanmu di sini.” Adrian menujukan ucapannya untuk Ariana, meski begitu tatapannya masih terfokus pada Ethan, memberikan tanda kalau ia belum selesai dengan lelaki itu. Ethan yang mengerti tatapan Adrian, membalasnya dengan pandangan mengejek, seolah menunjukkan kalau ia tidak takut sama sekali dan siap untuk berhadapan dengan Adrian kapan saja.
“Itu bagus, jadi sekarang kembalilah ke tempatmu,” bujuk Ariana. Setidaknya ia harus memberi jarak kepada kedua lelaki ini, paling sedikit 1 meter jauhnya. Ariana mendorong tubuh kedua lelaki tersebut hingga jarak di antara mereka bertambah.
“Setelah kau menjawab pertanyaanku, Ariana.” Adrian memandang Ariana lekat. “Setelah kau menjawab pertanyaanku.”
Ariana memutar otaknya cepat. Kali ini ia harus menjawab. Harus. Tidak bisa tidak kalau ia ingin menghindari perkelahian di ruangannya.
“Kau masih temanku, Adrian.” Adrian menyunggingkan senyum penuh kemenangan di wajahnya. Ia kemudian memandang Ethan dengan tatapan meledek.
“Tapi, tidak lebih dari itu.” Sekarang gantian Ethan yang tersenyum puas.
“Ada kalanya aku tidak bisa terus-terusan membalas pesanmu atau menjawab panggilanmu.” Wajah Adrian berubah masam seketika. Ia ingin mengucapkan protes kepada Ariana, tapi wanita itu sudah mengangkat tangannya, memintanya untuk tidak memotong.
“Aku tidak bisa seperti dulu, karena sekarang aku punya Ethan. Dia adalah pacarku. Aku harus menjaga perasaannya…”
Dalam sekejap Adrian merasa limbung. Ariana memberikan pukulan telak padanya, secara mental. Kali ini selain merasa dijauhi oleh Ariana, ia merasa kalau dirinya bukan prioritas lagi bagi wanita itu.
“Maaf Adrian, kalau aku harus mengatakan ini. Tapi sepertinya, kau juga harus menjaga perasaan Clarissa.”
Ariana tahu mungkin ia terlihat sangat jahat, tapi yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah meninggalkan Adrian. Ariana menarik tangan Ethan dengan cepat lalu segera menggandeng Ethan keluar ruangan. Untuk sekarang, ia harus membuat keduanya sejauh mungkin.