Ariana gelisah, pikirannya melayang kemana-mana. Sejak saat sebelumnya Ethan menjawab panggilan dari Adrian, hatinya bagai naik roller coaster. Ia merasa lega sekaligus cemas. Sedari tadi Ariana hanya melirik ke kanan-kiri, mengamati orang yang berlalu-lalang di restoran hotel. Beberapa kali orang yang ia kenal saat pertemuan tadi siang menyapanya, Ariana hanya tersenyum lalu balas menyapa singkat. Tentu saja ia melakukan itu semua sebagai bentuk formalitas semata.
“Makan saja dulu, Ary…” Ethan yang tatapannya tidak pernah teralih dari Ariana, seolah tahu keresahan wanita itu. Ia mencoba membuat Ariana lebih tenang.
“Maaf… Aku hanya..” Ariana menggeleng sesaat. “Entahlah… Kurasa ini hanya pikiranku yang selalu negatif. Aku terlalu banyak membuat praduga… atau menyimpulkan kemungkinan terburuk…” Ariana tampak tak bersemangat. Ia menundukkan kepala lalu mencoba fokus pada hidangan makan malamnya yang masih tersisa setengah. Tapi ia sungguh tak bisa melakukan itu. Ariana pun diam-diam melirik ke piring Ethan, dan mendapati milik lelaki itu sudah kosong.
“Kau kembali saja duluan, tidak perlu menungguku,” ucap Ariana kemudian. Ia tidak enak pada Ethan. Harusnya lelaki itu sedang menikmati waktu istirahatnya, tapi yang ada sekarang Ethan malah menungguinya.
Ethan mengernyit tidak senang. “Apa kau sedang mengusirku saat ini?”
Ekspresi dan mimik wajah Ethan yang terkesan dibuat-buat dan berlebihan membuat Ariana terkekeh pelan. “Kau tahu kalau aku tidak mungkin melakukan itu…”
“Kalau begitu jangan bicara apapun dan makan saja…” Ethan mendesis kesal. “Kau terlalu berpikiran macam-macam. Jangan terlalu banyak berpikir, lanjutkan saja besok berpikirnya.”
Ariana terkekeh lagi mendengar omelan Ethan yang seperti ibu-ibu arisan bersanggul tinggi.
“Makanlah… Makan atau makananmu akan menangis karena tak dihabiskan…”
Nasihat khas ibu-ibu ditambah perilaku Ethan yang sengaja dibuat semirip mungkin dengan wanita paruh baya, mau tak mau membuat Ariana tertawa.
Tidak ingin Ethan berakting semakin aneh, Ariana menuruti Ethan. Ia menyelesaikan makanannya hingga tandas.
“Nah, begitu lebih baik…” Ethan mengangguk beberapa kali melihat piring Ariana yang sudah bersih.
“Ya, bu…” Ariana sengaja menggodanya. Ia memanggil Ethan dengan sebutan ‘bu’, membuat lelaki itu melotot tak percaya.
“Kau bilang apa barusan?” Ethan mengulurkan tangan meraih kedua pipi Ariana lalu mencubitnya gemas. “Coba ulangi sekali lagi yang kau katakannn…” Ia sengaja menggerakkan tangannya, memainkan pipi Ariana sehingga bibir wanita itu melebar lalu mengerucut seperti ikan.
“Hyentikyan Ethyaannnn…!” Ariana mencoba melepaskan wajahnya dari tangan Ethan.
“Apa? Kau bicara apa? Aku tidak mengerti?” Ethan semakin menjadi. “Coba ulangi sekali lagi…” Ethan terus saja memainkan pipi Ariana membuat pemilik pipi tersebut kesal.
“Lyepyaskannnn….!”
Meski sudah menggerutu dan mengomel, Ethan masih betah dengan pipi Ariana. Ia terus mengunyel pipi kenyal itu sampai Ariana secara tiba-tiba menghempaskan kedua tangannya dengan cepat.
Tatapan Ariana berubah serius dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah menjadi seformal mungkin.
Penasaran ingin tahu apa yang terjadi, Ethan menoleh ke arah pandangan Ariana. Rupanya para petinggi perusahaan sponsor sedang berjalan menuju tempat mereka.
Ethan mengikuti Ariana yang berdiri lalu menyapa kedua petinggi perusahaan rekanan tersebut, sang direktur dan wakilnya. Kedua pria berumur itu membalas sapaan mereka dengan senyum yang tak kalah lebar dari Ethan dan Ariana.
“Bagaimana kamarnya? Apakah kalian nyaman?” tanya sang wakil direktur ramah.
Ah, Ariana sungguh menyukai kepribadian sang wakil. Tata krama yang selalu dijaga, sikap yang lembut dan sopan, serta senyum beliau yang menghangatkan. Tidak heran banyak perusahaan lain yang berlomba ingin menjalin kerja sama dengan perusahaan mereka. Dan perusahaan Ariana termasuk salah satu yang beruntung karena bisa melakukan itu.
“Kamarnya luar biasa!” Ariana menjawab antusias. “Sangat nyaman dan kami berterima kasih untuk itu…”
“Tidak perlu sungkan….” Wakil direktur membalas dengan senyum ramah.
Saat sang wakil ingin melanjutkan obrolan mereka, direktur memanggilnya dan berbisik di telinga wakil tersebut. Ariana dan Ethan yang melihat pemandangan tersebut menautkan alis penuh tanya. Kira-kira hal apa yang sedang mereka perbincangkan?
Setelah beberapa detik yang terasa seperti berhari-hari, akhirnya Ariana bisa melihat perhatian sang wakil kembali tertuju padanya.
“Nona Ariana… Sepertinya kita akan berjumpa lagi besok..”
Dahi Ariana berkerut. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
“Besok kita akan membicarakan kontraknya.” Suara bass sang direktur yang terdengar berwibawa sedikit mengejutkan Ariana dan Ethan. Keduanya butuh beberapa saat untuk mencerna ucapan tersebut.
“Saya tunggu jam delapan…”
Ethan menjadi orang pertama yang tersenyum lebar, Ariana menyusul setelahnya. Ya, ucapan sang direktur barusan menandakan bahwa ada titik terang untuk perjanjian mereka. Diterima.
“Terima kasih, Pak!” ucap Ariana dan Ethan hampir bersamaan.
Dan setelah perbincangan singkat tersebut, direktur dan wakil direktur itu meninggalkan Ariana dan Ethan, lanjut berjalan.
“YES…!” Kali ini Ariana memekik kegirangan. Ia tanpa sadar menarik kedua tangan Ethan dan mengajaknya untuk merayakan dengan gerakan-gerakan tangan naik turun. Ethan mengikuti Ariana, ikut memekik senang sambil meloncat kecil.
“Kita berhasil!” Ariana berujar senang.
“Ya, tentu saja..” Ethan menghentikan Ariana dengan menggandengnya lalu menariknya perlahan meninggalkan restoran.
“Kok…?” Ariana bertanya heran, karena Ethan terus menuntunnya, ke lorong yang sepertinya menuju ke kamar mereka. “Kenapa? Kemana?”
Ariana yang protes membuat Ethan menoleh. Langkah mereka terhenti sesaat. Ethan berbalik lalu menatap Ariana. “Aku tahu kamu senang, tapi…” Ethan menarik nafas sebentar.
“Tapi..?”
“Tapi tadi itu semua orang memperhatikan kita. Jadi sebaiknya kita melanjutkan selebrasinya di kamar saja.”
Mendengar hal itu, Ariana tertunduk malu. Kali ini ia melangkah cepat mendahului menuju kamar mereka. Ingin cepat-cepat mengubur wajahnya dengan bantal.
Ethan menutup pintu kamar sambil tersenyum miring melihat Ariana yang lebih dahulu sudah melemparkan dirinya ke atas ranjang. Wanita itu mengambil bantal lalu menutup wajahnya.
“Apa aku tadi bertindak sangat memalukan?”
Ethan memandang Ariana lalu mengangkat bahunya, sengaja memberikan jawaban yang tak pasti pada Ariana. “Yah… kalau kau melihatnya dari sisi seorang anak kecil yang baru saja mendapat hadiah ulang tahun, itu sangat normal.”
Tak lama, sebuah bantal mendarat di bahu Ethan. Sayang sekali, padahal Ariana menargetkan wajah lelaki itu, ia meleset.
Ethan berjalan mendekat ke arah Ariana sambil membawa bantal yang baru saja dilempar wanita itu. Ariana sudah terduduk di atas tempat tidurnya dengan pose siap menghadang. Apapun yang akan Ethan lakukan setelah ini, ia pastikan ia siap. Entah menangkis, menghindar atau menyerang balik.
Tapi sayangnya belum saja Ethan melakukan apapun, Ariana sudah memukulnya lagi dengan bantal yang sudah siap berada di tangannya.
“Hei! Itu curang! Aku bahkan belum membalas!” Ethan berusaha menghindari pukulan dari Ariana yang datang bertubi-tubi. Ia mengelak ke kanan dan kiri, namun sayangnya gerakan Ariana begitu cepat.
Setelah mendapatkan beberapa kali pukulan, Ethan merasa Ariana mungkin sudah cukup puas. Iya, dia memang sengaja menerima serangan-serangan dari Ariana, dengan lapang. Kemudian dalam satu buah gerakan, Ethan menangkap bantal yang digunakan Ariana untuk memukulnya.
“Jangan curang, sayang…” nada bicara Ethan terdengar berbeda, tatapannya yang mengarah langsung ke arah Ariana membuat wanita itu terpana untuk beberapa saat.
“Tidakkk…!” Ariana berusaha sekuat tenaga menarik kembali bantal yang direbut Ethan. Tapi, Ethan jelas lebih kuat darinya, dan alhasil Ariana pun gagal mendapatkan kembali alat tempur miliknya.
“Kembalikan!” protes Ariana. “Kamu sendiri yang curang…!”
Ethan memberikan sebuah senyum miring. Ia melempar bantal yang ada di tangannya asal sehingga benda itu jatuh tergeletak begitu saja di lantai. “Ambillah kalau kau bisa.” Selain bantal yang ada di genggamannya, Ethan juga menjauhkan semua bantal dari Ariana. Sekarang, kalau Ariana ingin mengambil salah satunya, ia harus melewati Ethan terlebih dahulu.
“Coba ambil,” Ethan menantang Ariana. Ariana yang sedari tadi membaca keadaan, sudah memilih target incarannya. Ia akan mengambil bantal terdekat, yang paling mudah yang bisa ia dapatkan.
Menghitung dalam hati, Ariana membuat aba-aba sampai pada hitungan ke-tiga lalu bergerak ke sisi kiri Ethan, mencoba meraih bantal yang ia inginkan, yang tentu saja tidak berhasil. Ethan sudah menangkap Ariana dalam pelukannya sebelum wanita itu bisa menyentuh benda yang ia inginkan.
“Wah… Kamu gagal sayang…” Bisik Ethan di telinga Ariana. Lelaki itu memeluk tubuhnya erat, membuat Ariana tidak bisa bergerak.
“Jangan curang, Ethan…”
Ethan menaikkan sebelah alisnya. “Aku tidak curang, begini baru curang!”
Ariana hanya merasakan kalau tubuhnya melayang, dan sedetik kemudian ia mendapati dirinya sudah berada di atas tempat tidur yang berantakan dengan kedua tangannya yang ditahan oleh Ethan.
“Ethan…” Ariana menjadi was-was dengan pose yang terjadi saat ini. Tubuh Ethan berada tepat di atas tubuhnya. Satu tangan Ethan menahan memegangi kedua tangan Ariana, sementara tangan yang sibuk menahan bobotnya, memberi jarak antara mereka.
“Ethan, lepaskan aku…” lirihan Ariana membuat Ethan semakin terpancing.
“Kenapa? Apa kau takut?”
Ucapan Ethan membuat Ariana merinding. Ia baru menyadari kalau hanya berdua dengan seorang lelaki di dalam kamar pada malam hari adalah ide yang buruk. Logika yang sebelumnya berteriak kalau ia mempercayai Ethan sepenuhnya sekarang terdiam membisu. Ariana menelan salivanya payah.
“Ethan, jangan bercanda…”
Ethan memamerkan senyum lebarnya. Tubuh Ethan yang memang sedari tadi berada di atas Ariana, sekarang kian mendekat. Wajah mereka bahkan hampir tak berjarak. Ariana bisa merasakan hembusan nafas Ethan di pipinya.
“Ethan…!” Kali ini ini Ariana sudah bergerak tak nyaman. Ia berusaha membebaskan diri dari Ethan, tapi tidak berhasil. “Ethan….”
Ariana ingin mempercayai Ethan, tapi dengan keadaannya yang sekarang membuat kadar kepercayaannya itu berkurang. Ia menatap Ethan dengan pandangan kecewa.
Ethan yang melihat tatapan Ariana kemudian merubah raut wajahnya. Wajah yang sebelumnya tersenyum menyeringai, kini melunak.
“Selamat tidur, sayang!” ucapan yang disertai dengan sebuah kecupan kilat di dahi Ariana membuat wanita itu tercengang.
Sedetik kemudian, Ethan sudah berpindah posisi. Lelaki itu sudah berada di ranjangnya sendiri, mengambil tempat untuk bersiap tidur, menyisakan Ariana yang masih mengerjap tak percaya.
Jantung yang bertalu, wajah yang memerah, pikiran yang sudah melayang entah kemana. Semuanya akibat ulah Ethan, dan sekarang Ariana berusaha menormalkan kembali dirinya. Ia harus segera masuk kembali ke dalam kenyataan.
***
Pagi hari, Ethan terbangun lebih dahulu. Ariana baru bisa terpejam lewat tengah malam. Ia terus-terusan was-was. Wanita itu baru bisa terlelap setelah Ethan berpura-pura mendengkur halus. Kenyataannya, semalam memang merupakan malam tersulit bagi Ariana maupun Ethan. Sulit untuk menahan diri dan juga gejolak dalam diri masing-masing. Terutama bagi Ethan. Tanpa Ariana ketahui, lelaki itu hampir terjaga sepanjang malam, mencegah keinginannya untuk mendekat ke Ariana. Ia sebisa mungkin hanya menatap Ariana dari kejauhan, mengagumi wajah damai wanita itu saat tidur. Wajah yang akhirnya ia abadikan tanpa sepengetahuan sang pemilik.
“Ary…” Ethan menggoyangkan tubuh Ariana pelan. Wanita itu belum bergerak.
“Ary sayang… Bangunlah, sudah siang…” Kali ini sedikit berhasil, karena Ariana bergeming sedikit.
“Ary… Bangunlah kalau tidak kita akan terlambat menemui bos nanti…”
Kata ‘bos’ membuat Ariana membuka matanya. Tepat saat kedua bola mata itu menangkap sinar, Ariana mendapati wajah Ethan yang begitu dekat.
“Selamat pagi, sayang~~” Ethan menyapa Ariana riang. “Apa tidurmu nyenyak?”
Gelagapan, Ariana segera bergerak untuk bangun dan duduk. Namun karena ia melakukannya terlalu cepat, badannya menjadi oleng sehingga Ethan harus menopangnya.
“Hati-hati…”
Ariana membalas senyum Ethan. “Terima kasih…”
Beberapa detik mengumpulkan nyawa, Ariana baru tersadar kalau penampilannya pasti sangat mengerikan saat itu. Wajah baru bangun tidurnya sudah pasti buruk rupa, belum lagi rambut panjang yang semrawut. Segera Ariana menggerakkan tangannya memperbaiki penampilan, setidaknya agar tidak membuat Ethan sakit mata.
“Tenang saja, kamu tetap cantik…”
Ariana ingin mengumpat saat Ethan mengatakan hal itu. Sungguh lelaki yang bermulut manis. Ariana mulai menyangsikan jangan-jangan Ethan memang tipe playboy yang terbiasa bermain bersama wanita. Saat ini saja, ia bisa mencium bau harum parfum maskulin dari tubuh Ethan. Membuatnya terbuai. Belum lagi lelaki itu sudah sangat bersih dan rapi. Wajah tampannya tampak bersinar terutama saat sedang tersenyum.
“Aku akan segera bersiap-siap.” Ariana memalingkan wajah cepat sebelum ia terpana lebih jauh.
Setelah menyambar handuk, Ariana masuk ke kamar mandi. Ia membersihkan dirinya secepat mungkin, mengingat Ethan sedang menunggu. Lagi-lagi ia yang ditunggui. Ariana benar-benar merasa tidak profesional belakangan ini. Ingatkan dirinya untuk menaikkan standar kerja lebih tinggi nanti. Ia tidak ingin dilampaui oleh Ethan.
Dalam hitungan menit, Ariana sudah siap dengan pakaian juga pulasan make-up. Ia melakukannya secepat yang ia bisa, dan ia berhasil. Mereka sudah siap setengah jam sebelum waktu yang ditentukan. Dengan wajah tenang, Ariana dan Ethan mengunyah sarapan mereka di restoran hotel. Setelah ini mereka akan menghampiri kedua bos besar, yang sudah tertangkap penglihatan mereka. Mereka memang berjanji untuk bertemu di resto tersebut. Ariana dan Ethan akan menemui sang direktur dan wakil direktur setelah mereka selesai dengan hidangan mereka.
Penyerahan kontrak baru bisa dibilang berjalan sangat lancar. Ariana menerima salinan file yang nantinya akan ia sampaikan kepada atasan untuk diproses lebih lanjut. Pertemuan diakhiri dengan keempatnya yang saling berjabat tangan bergantian. Business trip kali ini selesai sudah. Ariana bisa kembali ke perusahaan dengan tenang.