Ariana menatap Ethan, tatapan meminta pertolongan. Ethan melirik ke arah ponsel Ariana, yang sekarang sudah berbunyi nyaring sambil bergetar di genggaman wanita itu.
“Apa sekarang kau sedang bertanya padaku kau harus melakukan apa?”
Ariana mengangguk antusias. Ia sungguh tidak tahu harus bagaimana. Apakah ia harus mengabaikan panggilan tersebut atau menjawabnya?
“Ethan…” Ariana sudah memasang wajah memelas. Ia sungguh bingung, dan suara deringan itu membuatnya semakin gila.
“Kau yakin mau mengikuti caraku?” Ethan bertanya saat Ariana sudah putus asa dan menyerahkan ponselnya ke tangan Ethan. Ia sudah pasrah.
“Aku tidak bisa menjamin hubunganmu dengan Adrian akan sama…” Ethan memperingatkan Ariana sekali lagi, dilihatnya wanita itu menganggukkan kepalanya cepat, pertanda kalau ia sudah setuju dengan segala resiko yang akan terjadi nanti.
“Bantu aku,” lirih Ariana.
Senyum Ethan mengembang seketika, ia mengedipkan sebelah matanya, bertindak menggoda. “Tentu saja, sayang… Apapun untukmu…”
“Halo…”
Ethan menjawab panggilan itu dengan satu sentuhan. Ia dengan sengaja menyalakan speaker ponsel Ariana sembari jari telunjuknya ada di bibir wanita itu, memberikan kode agar Ariana tidak membuat suara.
“Siapa kau?!” Terdengar nada dingin dari seberang. Adrian pastinya sangat kesal saat ini. Sebelumnya foto profil Ariana sudah membuatnya naik darah, dan sekarang yang mengangkat panggilannya juga adalah seorang lelaki. Suara yang sama sekali tidak ia harapkan.
“Aku Ethan.” Ariana kagum kepada Ethan yang menjawab dengan kalemnya, padahal lawan bicaranya itu jelas-jelas sudah seperti akan melemparkan bom ke arah mereka.
“DIMANA ARIANA?”
Ethan mengernyit tidak suka mendengar teriakan Adrian. Sungguh lelaki emosian. Ingin rasanya ia mengerjai Adrian sedikit, membuat lelaki itu semakin terluka, tapi sepertinya masih terlalu awal untuk itu. Perlahan tapi pasti akan lebih baik.
“Berikan ponselnya kepada Ariana sekarang! Suruh Ariana menjawab teleponku!”
WOW! Ethan berdecak dalam hati. Padahal ia sudah memutuskan untuk bersabar dan tidak terburu-buru, tapi sepertinya Adrian ini berubah menjadi orang yang sangat menyebalkan. Ingin rasanya Ethan membalas kesombongan itu.
Ethan menatap Ariana sekilas, lalu ia mengulurkan tangannya, membawa Ariana ke dalam rangkulannya yang mesra.
Ariana sedang berada dalam pelukanku, dan ia tidak berniat untuk berbicara denganmu.
Andai saja Ethan bisa mengatakan hal itu.
Ariana mengguncangkan tubuh Ethan tidak sabar. Ia tampak cemas karena Ethan tak juga memberikan jawaban saat Adrian di seberang sana sudah menggertak dan menggeram dalam kata-kata yang tidak jelas artinya apa.
“Ariana sedang berada di toilet.” Ethan tidak tega menyaksikan wajah Ariana. Karena itu, ia sengaja mengungkapkan alasan yang paling lembut, yang sebisa mungkin tidak menyebabkan pertengkaran hebat antara Adrian dan Ariana.
“Aku akan menunggunya kembali.”
Ethan berdecak kesal mendengarnya. Pria ini diberi hati malah semakin menjadi. “Kau tidak perlu mengganggu privasinya.”
“Berikan saja ponselnya pada Ariana!”
Serius, saat ini Ethan sudah menyumpah dalam hati. Kalau saja Ariana tidak ada di sampingnya ia sudah memaki Adrian, atau kalau saja Adrian yang ada di sebelahnya ia akan memberikan pukulan langsung ke wajah lelaki itu. Sungguh orang yang keras kepala.
“Ini sudah malam, sebaiknya urusi saja keluargamu!” Ethan menggeretakkan gigi menahan emosi. “Dan Ariana itu pacarku, aku tidak ingin ada lelaki yang mengganggunya malam-malam begini.”
“Tutup mulutmu, jangan bicara omong kosong. Aku tidak ingin mendengarnya. Aku hanya ingin berbicara dengan Ariana.”
ASTAGA! Benar-benar bebal. Ethan sampai kehabisan kata untuk memaki saking tidak berotaknya Adrian ini.
“Bicara dengannya besok. Sekarang bicara saja dengan istrimu yang sudah ada di belakangmu!” Ethan pun memutuskan panggilan itu sepihak, sebelum ia menjadi lebih emosi lagi.
***
Adrian berteriak kesal saat panggilan itu terputus. Ia menendang kursi balkon sehingga benda tidak bersalah itu terjungkal dengan tragis. Belum puas, ia juga mengacak meja yang berada di dekatnya dan membuat benda meja tersebut memiliki nasib yang sama seperti kursi tadi.
“SIAL*N!”
Saat sibuk dengan emosinya, Adrian berbalik kemudian mendapati Clarissa yang sedang menatapnya sedih. Ethan benar dengan ucapannya. Clarissa entah sejak kapan sudah berada di belakangnya, berdiri kaku dengan air mata yang hampir tumpah.
“Kenapa…” lirih Clarissa sedih. Ia berjalan mendekat ke Adrian, menatap lelaki itu dengan mata berkaca-kaca.
Bukannya iba, Adrian malah berdecak kesal. Amarahnya karena Ariana yang tidak membalas pesan juga menjawab panggilannya rasanya sudah menggunung dan ingin ia tumpahkan sekarang juga. Lalu di depannya, malah ada wanita yang membuatnya semakin kesal. Benar-benar tidak mengerti situasi.
“Kenapa kamu selalu begitu?” Clarissa mulai meraung.
Adrian menutup telinganya. Ia tidak mau mendengar drama yang Clarissa buat. Sudah sangat bosan selama ini ia menyaksikan air mata juga jerit tangis wanita itu, seolah tidak ada habisnya. Tidak lelahkan wanita ini menangis?
“Diamlah!” bentak Adrian tak kalah keras. Ia berjalan menjauh dari Clarissa hendak pergi meninggalkannya. Tapi Clarissa dengan cepat menarik lengan Adrian, membuat lelaki itu tetap tinggal.
“Kenapa selalu saja Ariana?!” Jerit Clarissa tak percaya. “Kenapa Ariana??!” teriakan Clarissa semakin menjadi. Suara keras itu bahkan membuat telinga Adrian berdengung.
“KENAPA SELALU ARIANA?! KENAPA BUKAN AKU?! AKU INI ISTRI SAHMU!!”
“Aku sudah memberikan segalanya untukmu! Kenapa tidak sedikit saja kamu melihatku?!” jeritan itu kini berubah menjadi isakan serta tangisan pilu. Air mata Clarissa sudah membanjir, mengalir di pipinya. Wajah yang sebelumnya riang saat makan malam barusan, sekarang berubah menjadi menyedihkan.
“Aku selalu mencintaimu, Ad… Kenapa kamu seperti ini padaku?” Clarissa masih terus saja menangis sambil menggoyangkan lengan Adrian. Wanita itu menatap Adrian, meminta jawaban. Sayangnya, orang yang ditatap sama sekali tidak berniat untuk membuka mulutnya.
Meskipun Clarissa menunggu, Adrian sama sekali tidak bergeming. Ia tampak tidak perduli meski Clarissa menangis, menjerit atau meraung-raung bagai orang kesetanan. Di mata Adrian, semua itu hanyalah drama yang dibuat oleh Clarissa. Clarissa memang senantiasa berlebihan, dan selalu begitu.
Melihat Adrian yang sama sekali tidak berniat menjawab, membuat Clarissa meradang. Ia sekarang menangis, menjerit lebih keras, meminta perhatian Adrian.
“KENAPA ARIANA?!!! KENAPA BUKAN AKU?!! JAWAB!!”
Adrian bisa melihat wajah Clarissa yang memerah. Wanita itu sudah sepenuhnya emosi sekarang. Ia marah sambil menangis sekencang yang ia bisa. Sesuatu yang sangat menyebalkan bagi Adrian. Sangat menyebalkan dan sangat tidak ia sukai.
“JAWAB ADRIAN!!!”
Sekarang bahkan Clarissa memaksanya untuk bicara. Adrian tidak suka dipaksa. Ia sudah mencapai batasnya. Benar-benar muak. Adrian juga tidak mau mendengar jeritan lagi. Itu membuat telinganya sakit. Dengan satu sentakan kencang, Adrian menghentakkan lengannya, membuat Clarissa yang sebelumnya bergelayut di lengannya terpental seketika. Wanita itu mendarat di lantai yang dingin dan keras.
Perlakuan kasar itu membuat Clarissa semakin tersedu. Ia terduduk di lantai sambil terus menangis. Sementara Adrian tetap pada tempatnya, berdiri tegak tanpa bergeming, tak berniat bergerak apalagi membantu istrinya.
Clarissa masih meracau sambil terus tersedu, mempertanyakan kenapa selalu saja Ariana yang dicari Adrian, bukan dirinya. Adrian yang mendengar hal itu menjadi jengah. Ditatapnya Clarissa tajam, dengan suara dinginnya, Adrian menjawab pertanyaan Clarissa. “Kenapa Ariana? Kenapa bukan kau? Kau sungguh ingin tahu jawaban pertanyaan itu?”
Dengan air mata masih mengalir dan isak tangis yang terus bersahutan, Clarissa mengangguk. Ia ingin tahu apa yang membuat Adrian lebih memilih Ariana, kenapa selalu saja Ariana dan Ariana. Seolah di dunia ini hanya ada Ariana yang terlihat di mata Adrian.
Apakah karena Ariana lebih cantik? Apa karena mandiri? Atau karena Ariana lebih baik darinya? Yang manapun jawaban yang diberikan Adrian, akan Clarissa pastikan kalau ia merubah dirinya menjadi lebih dari Ariana. Ia akan melakukan apapun itu agar Adrian melihat ke arahnya.
“Itu mudah. Karena kau bukan Ariana.”
Jawaban ketus dengan nada dingin dari Adrian membuat hati Clarissa jatuh sampai ke dasar perutnya. Karena dia bukan Ariana. Bukan Ariana.
Air mata Clarissa mengalir semakin deras. Apakah ini berarti ia tidak punya kesempatan sama sekali? Tidak adakah hal yang bisa ia lakukan? Apakah ia tidak bisa berusaha atau mencoba? Apapun itu, apa saja…..?
Dengan pandangan kabur karena air mata, Clarissa menatap sosok Adrian yang berjalan semakin menjauh. Clarissa bisa melihat Adrian berhenti sejenak sambil memandang ke sudut pintu tempat ia akan berlalu. Ada Claire di sana.
Adrian yang sempat terhenti sesaat ketika melihat Claire, hanya menghela nafas panjang lalu kembali berjalan, berlalu tanpa mengucapkan satu patah kata.
Claire, yang sebelumnya ternyata sudah menyaksikan semua hal yang terjadi di antara kedua orang tuanya hanya terdiam. Ia tidak berani mendekat, bahkan menangis pun tidak. Entah karena sangat terguncang dengan teriakan-teriakan barusan atau mungkin karena terlalu terbiasa. Ini memang bukan pertama kalinya bagi Claire melihat Adrian dan Clarissa bertengkar.
Gadis kecil itu sempat menatap ke arah ayahnya sebentar, namun karena sang ayah terus berjalan sambil lalu, ia memilih untuk menghampiri ibunya.
Dengan langkah kecil yang tertatih-tatih, Claire berjalan mendekat menuju Clarissa. Ia berhenti tepat di hadapan ibunya, menatap dengan wajah polosnya, sang ibu yang kini masih berlinang air mata sambil terus tersedu.
“Mama…”
Clarissa bisa merasakan tangan kecil Claire meraihnya. Ia menyambut tangan tersebut lalu berusaha sekuat tenaga untuk tersenyum. Lengkungan kecil muncul di wajah Clarissa.
“Mama sakit….?” Tangan Claire meraih pipi Clarissa, mencoba menghapus air mata yang masih terus mengalir meskipun wanita itu sudah tersenyum.
“Kenapa Claire bangun? Mama terlalu berisik ya?”
Claire menatap Clarissa lekat, ia memperhatikan air mata ibunya yang menetes satu-persatu. “Sakit sekali ya ma?” Claire mengabaikan pertanyaan Clarissa. Seolah ia mengetahui kalau itu bukanlah hal yang penting. Kesedihan Clarissa-lah yang bisa ia rasakan saat ini. Dengan lengan kecilnya, Claire memeluk Clarissa, berusaha menghibur ibunya.
Clarissa tergugu sejenak, ia akhirnya menjawab pertanyaan Claire dengan jujur. “Iya, nak… Sakit sekali…”
Air mata Clarissa turun lagi tanpa bisa ia kendalikan. Isakan yang sebelumnya sudah ia tahan, sekarang terdengar kembali. Ia merasa begitu lemah, bahkan di hadapan anaknya sendiri.
Seorang anak kecil saja bisa memahami kesedihannya, tetapi kenapa Adrian tidak? Kenapa hati lelaki itu sedikitpun tidak terbuka untuk Clarissa?
“Cup.. cup…” Claire memeluk Clarissa semakin erat. “Hilang sakitnya… Cup…”
Clarissa menahan haru yang menyeruak di d**a. Ia bisa merasakan betapa Claire mengkhawatirkan dirinya. Clarissa melonggarkan pelukannya, ia menatap Claire sesaat lalu mengecup pipi anaknya, menciumi wajah Claire beberapa kali. “Mama sayang Claire…” ucapnya sambil terisak.
Setidaknya, saat ini, Clarissa masih memiliki Claire di sisinya. Dan untuk ke depannya nanti, ia akan pastikan akan ada Adrian juga bersama mereka. Tunggu saja, takdir tak akan selamanya jahat pada dirinya. Clarissa yakin akan hal itu.